Kenapa kalian berubah? Aku lebih menyukai kalian yang dulu!
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
Namaku Mirai Tatsuki, usia empat belas tahun, aku masih kelas 3 SMP. Saat ini, kehidupanku sedikit membingungkan. Sahabat-sahabatku, mereka ke mana? Aku selalu sendiri sejak satu tahun terakhir ini.
Semua berawal ketika aku masih kelas 1 SMP. Disaat aku masih belum kenal siapa-siapa di sekolah ini. Selesai pendaftaran, aku melihat seorang perempuan seusiaku yang terlihat pendiam. Dia sedang duduk termenung di dekat parkiran, aku pun menghampirinya.
"Kon'nichiwa," sapaku. "o namae wa? Watashi wa Tatsuki Mirai desu." ucapku mengajaknya berkenalan.
"Kon'nichiwa, watashi wa Hanami desu." jawabnya. Namanya adalah Hanami. Sekarang, kami sudah saling kenal, di sana kami duduk bersebelahan.
"Kenapa kau sendirian, Hanami?" tanyaku lagi.
"Tidak apa-apa. Aku tak kenal siapa-siapa di sini." ucapnya pelan. Dia senasib denganku.
"Kalau begitu, kenapa kita tidak bersama saja? Kita kan sudah saling kenal."
"Benarkah? Kau mau berteman denganku?"
"Tentu saja, kenapa tidak? Mulai sekarang, kita adalah teman ya." jawabku sambil tersenyum. Dia balas tersenyum.
Mulai saat itu, aku dan Hanami pun semakin akrab, ditambah aku dan dia juga sekelas. Sama-sama kelas 1 C. Di kelas, kami juga duduk bersebelahan di bangku paling belakang. Di depan kami adalah anak laki-laki, mereka sering sekali mengganggu kami. Menyebabkan sekali! Tapi, aku masih bersyukur karena aku tidak sendiri di kelas ini.
Bagaimana dengan teman-teman dari SD yang sama denganku? Mereka lain kelas. Aku dan mereka jarang bertemu, tapi kami masih berangkat dan pulang sekolah bersama-sama. Selain itu, kami jarang bertemu dan jarang menyapa. Mereka beranggapan bahwa lain kelas lain teman. Apalagi mereka diterima di kelas yang lebih baik dari kelasku, kelas A dan B.
Beberapa pekan aku menjalani kehidupan di sekolah. Awalnya, pertemananku dan Hanami baik-baik saja. Hingga setelah ujian tengah semester ganjil, aku mendapatkan nilai tertinggi di kelasku. Mata pelajaran kewarganegaraan, aku nyaris mendapatkan nilai seratus.
Berita itu bahkan menyebar dengan sangat cepat. Banyak siswa-siswi mencari tau tentang identitasku yang sebenarnya. Bahkan kakak kelas pun juga. Apakah saat itu, nilaiku tertinggi di sekolah?
Ah iya, saat itu juga ada lomba dalam perayaan hari ulang tahun sekolah, aku mengenal seseorang, dan perlahan tapi pasti, benih-benih cinta mulai tumbuh pada perasaanku. Kudengar dari beberapa orang, bahwa nama dia adalah Haruki, dari kelas 3 B. Hah, kenapa aku bisa jatuh cinta dengannya?
Dan setelah dua kejadian itu, list temanku bertambah. Ada Harumi, Keiko, Shiroi, dan Aiko. Kami sudah seperti satu squad. Ke mana-mana kami selalu bersama ketika di sekolah. Ke kantin, perpustakaan, bahkan ke kamar mandi pun pernah untuk mengganti pakaian.
Saat itu adalah puncak dari keakraban kami. Kami saling berbagi cerita tentang perasaan kami. Begitupun denganku, mereka sudah tau kalau aku menyukai Haruki. Mereka sudah berjanji tidak akan membocorkan rahasiaku.
Ya, mereka menepati janji mereka. Mereka sering menggodaku ketika kami tak sengaja bertemu Haruki. Dia juga bersama dengan squadnya, squad OSIS. Apalagi saat Haruki mengarahkan pandangannya padaku, aku langsung mengalihkan pandanganku. Mereka makin suka menggodaku saat itu, sehingga wajahku mulai memerah akibat menahan malu.
Aku akan menceritakan sedikit kisah yang lainnya. Setelah tahun baru, saat awal semester genap, artinya kami semua sudah selesai ujian semester ganjil. Aku mendapat peringkat pertama, Harumi kedua, Aiko keempat, Keiko keenam, Hanami kedelapan, dan Shiroi kesepuluh. Hanya aku yang peringkatnya ganjil.
Sekarang, aku tak lagi diremehkan karena aku adalah orang yang termasuk pendiam. Ya, meskipun aku duduk di belakang, bukan berarti aku orang yang tak bisa apa-apa.
Setelah kejadian itu, aku makin aktif belajar di sekolah. Semakin banyak orang yang mengenaliku. Dan begitupun dengan Haruki. Sepertinya dia juga sudah tau tentang diriku. Saat aku melewatinya, dia menatapku. Aku selalu memalingkan pandanganku ketika bertemu dengannya. Jika sudah jauh, baru aku curi-curi pandang dengannya, haha. Apalagi beberapa teman sekelas Haruki adalah kakak kelasku sewaktu SD juga, jadi mereka bisa saja menceritakan tentang diriku pada Haruki.
Suatu saat, ketika aku tak berangkat ke sekolah. Kenapa? Aku sedang demam dan flu saat itu. Suaraku mendengung. Tubuhku panas. Aku sampai satu pekan tak masuk sekolah. Kemudian, lain dari dugaanku, teman-teman sekelasku datang untuk menjengukku. Meskipun ada beberapa yang tidak ikut. Intinya semua perangkat kelas ikut untuk menjengukku. Aku senang sekali, teman-temanku mempedulikan aku.
Saat mereka akan pulang, Shiroi berbisik padaku, "Mirai, kak Haruki kangen loh."
"Yang benar?" tanyaku tak percaya.
"Iya, dia ngelihatin kita terus dari waktu kamu nggak berangkat. Dia nyariin kamu. Cepat sembuh ya." itulah hal yang dikatakan Shiroi. Aku sangat senang, ada orang yang diam-diam mengamati aku. Tunggu, kenapa aku senang? Seharusnya aku harus berjaga-jaga.
Konflik dimulai ketika datangnya masa pandemi Covid-19. Kegiatan yang tadinya bisa dilakukan di luar rumah dan bisa bertemu langsung, kini harus berubah menjadi online, salah satunya adalah sekolah. Mau keluar rumah pun harus pakai masker penutup hidung dan mulut.
Saat aku sudah naik ke kelas 2, teman-temanku mulai berubah. Ketika kami diminta untuk datang ke sekolah, mereka sudah tak terlalu mempedulikan aku. Aku tau saat itu sedang pandemi, tapi sikap mereka padaku itu sangat tak biasa.
Mereka sudah dikendalikan oleh gawai mereka. Saat itu, mereka hanya foto-foto terus, dan.. tak mengajakku. Mereka bahkan membuat grup chat baru tanpa sepengetahuanku dan tanpa menambahkan nomor ponselku. Ya, aku memang sedikit tak suka eksis, tapi bukan begitu juga cara memperlakukan seorang teman. Apakah mentang-mentang aku tak punya banyak media sosial seperti mereka, jadi mereka menganggapku kurang pergaulan? Kurang update?
Aku pun hanya diam tak terlalu menanggapi. Seperti itu terus ketika kelas 2. Bahkan mereka saat itu sangat cuek padaku. Aku bahkan hampir tak berkomunikasi dengan mereka satu katapun dalam satu hari. Aku mencoba bersikap dingin, apalagi mendengar kabar bahwa mereka sudah tidak single lagi. Akulah satu-satunya anak di kelas 2 C yang masih single sejak lahir!
Ketika itu, aku hanya akan berbicara ketika ada yang bertanya. Begitupun dengan jawaban yang singkat. Aku hanya akan bertanya jika ada yang benar-benar penting dan mendesak.
Hingga beberapa bulan kemudian. Ada seorang murid baru yang masuk ke kelas 2 C. Namanya adalah Izumi. Banyak yang bilang kalau dia itu cantik dan berasal dari keluarga ternama. Setelah itu, mereka jadi akrab juga dengan Izumi, namun tidak denganku. Biarkan dia kenal sendiri denganku.
Aku bersikap seperti biasanya. Lama kelamaan, Izumi pun makin akrab dengan mantan sahabat-sahabatku. Bahkan tak perlu waktu lama, mereka bisa dekat. Aku tambah kesepian. Satu-satunya teman yang masih bersamaku adalah Erika. Kami berdua mulai dekat ketika aku kesepian. Dia lumayan baik, pintar tapi masih di bawahku, dan juga tidak pendiam seperti diriku.
Begitulah, mereka mulai melupakan aku, seakan aku sudah bukan lagi menjadi bagian dari squad mereka. Rasanya sakit dan tidak nyaman tentunya. Mengingat kebersamaan yang telah kami lalui bersama. Cerita-cerita lucu dan menarik yang mereka bagikan saat jam istirahat.
Sekarang aku sudah kelas 3. Saatnya aku belajar dengan keras untuk masuk ke SMA impianku. Tapi, ketika aku lelah, aku sepertinya sudah tak punya support system. Hanya kakakku yang setia mendukungku, meskipun hanya tindakan baik yang biasa dia lakukan untukku. Pelukan hangatnya, aku sangat menyukainya.
Suatu hari, ketika kami diminta untuk datang ke sekolah, lagi untuk mengurus sesuatu. Sebelum bel masuk, kami duduk di dekat parkiran. Ada aku, Harumi, Hanami, Aiko, Keiko, Shiroi, Izumi dan Erika.
Aku hanya duduk termenung dan tenggelam dalam imajinasi yang menjadi teman terbaikku. Aku mempunyai cita-cita sebagai kreator cerpen dan juga novelis. Aku berhalusinasi untuk melupakan hal-hal di sekelilingku. Tapi, tetap saja tidak bisa. Kenapa?
Sebab mereka bertujuh membuat video menggunakan suatu aplikasi yang sedang populer. Erika yang memegang ponselnya untuk merekam dengan kamera depan. Sedangkan ponselnya milik Izumi yang mempunyai empat kamera.
Aku tak ingat siapa, tapi yang pasti salah satu dari mereka ada yang meminta untuk menghadapkan ponselnya ke arahku, tentu saja untuk merekam diri mereka sendiri. Dan yang terparah, mereka juga meminta untuk mengeraskan suaranya, mana diriku sangat tak suka akan kebisingan.
"Erika, ke arah sana, suaranya kerasin!" ucap salah satu dari mereka. Tanpa pikir panjang, Erika pun menghadapkan ponsel itu, tepat di depan wajahku, hanya berjarak beberapa sentimeter saja dan itu sangat menggangguku.
"Mirai, gomennee.." ucap Erika. Dan ternyata, mereka juga mengambil sahabatku satu-satunya saat itu. Attiude Erika sedikit lebih baik dari yang lain. Aku tak menanggapi, aku mencoba untuk meredam amarahku. Ingin rasanya aku berteriak dan memarahi mereka.
•=•=•=•=•=•=•
Saat ini, tanggal tujuh Oktober. Adalah hari ulang tahunku yang keempat belas. Aku memutuskan untuk bersenang-senang dahulu hari ini.
Kehidupan di sekolah yang biasa saja. Sepulang dari sekolah, aku menemui teman-teman yang pernah satu squad denganku.
"Teman-teman! Hey, apa kalian ingat kalau hari ini hari ulang tahunku?" tanyaku ketika menghampiri mereka.
"Hmm, iya. Dan ulang tahunmu hampir sama dengan Keiko, hanya beda sehari. Selamat ulang tahun ya." jawab Harumi.
"Arigatou, Harumi. Jadi, hari ini aku ingin mengajak kalian ke kafe. Aku akan mentraktir kalian." aku menyampaikan niatku yang sebenarnya. Sebelumnya, ayahku sudah berpesan seperti itu padaku, aku boleh-boleh saja untuk mentraktir mereka.
"Kapan?" Hanami bertanya.
"Sekarang." jawabku sambil tersenyum.
"Gomennee, Mirai. Setelah ini, kami akan membuat vlog di tempatnya Erika. Maaf ya." ucap Izumi yang seketika memporak-porandakan perasaanku. Mataku seketika berkaca-kaca.
"Jadi.. kalian lebih mementingkan vlog kalian daripada perasaanku? Vlog lebih penting ya, daripada aku? Hiks.. Baiklah. Terserah kalian saja. Hiks.. Aku tidak akan memaksa kalian. Kalau kalian tak mau berteman denganku lagi. Hiks.. Aku akan pergi saja. Sayonara!" ucapku sambil berlari meninggalkan mereka, dengan air mata yang membasahi pipiku.
Hatiku terasa sakit, dadaku terasa sesak. Teganya mereka. Apakah mereka sudah lupa, kenangan-kenangan kita sewaktu masih menjadi squad dulu? Pikiranku terasa semrawut. Ingin rasanya aku berteriak sekencang-kencangnya sambil berlari di bawah hujan. Tapi, sekarang tidak hujan, aku juga tak mau berteriak jika nanti pada akhirnya, aku akan terkena masalah.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk saja. Mengabaikan kakakku yang sedang istirahat dari berlatih katana. Sedari tadi, dia memanggil-manggil aku, tapi aku tak mempedulikannya. Aku benar-benar marah dan sedih menjadi satu.
Aku memutuskan untuk mandi dan berendam di bak mandi. Merilekskan tubuh dan pikiran.
Tapi, ada saja yang menggangu pikiranku, membuat aku teringat lagi dan membuatku ingin menangis. Kata-kata manis yang mereka ucapkan ketika hendak meminta sesuatu dariku. Misalnya, mereka meminta diajari, mereka bertanya tugas, mereka bertanya tentang kegiatan yang akan diadakan di sekolah. Pokoknya, mereka hanya akan menghubungi aku ketika ada maunya saja. Selebihnya, tidak. Berbeda seperti dulu. Kenapa kalian berubah? Aku lebih suka kalian yang dulu.
Hingga beberapa saat kemudian, aku berhenti memikirkan hal itu, sebab..
Tok! Tok! Tok!
"Mirai-chan! Apa yang kau lakukan di dalam?!" Itu suara kakakku, namanya Ryusei Tatsuki.
"Mandi!" jawabku setengah berteriak.
"Tolong cepat sedikit! Aku sudah tidak tahan!" ucap kakakku lagi. Kamar mandi pribadinya baru akan diperbaiki, jadi untuk sementara, dia menumpang di tempatku. Mengacau saja. Baiklah, tidak apa-apa. Begitupun, dia juga kakakku yang terbaik dan satu-satunya.
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
Jam delapan malam, satu jam setelah makan malam. Aku mencoba untuk tidur saja. Aku sudah terbebas dari beban PR. Tapi, ketika aku memejamkan mataku, air mataku kembali menetes.
Tidak lama kemudian, ada seseorang yang mengetuk pintu.
"Mirai-chan, kau sudah tidur?" suara kakakku lagi. Dia juga membuka pintu kamarku. Refleks, aku terbangun, namun aku lupa untuk mengelap air mataku.
"Mirai-chan, kenapa kau menangis?" tanyanya sambil duduk di sebelahku. Aku pun mengelap air mataku.
"Tidak apa-apa." jawabku sambil tersenyum, senyum yang dipaksakan.
"Jangan bohong. Aku tau kau sedang menyimpan masalah. Ada apa?" tanyanya lagi sambil mengusap punggungku. Mataku semakin berkaca-kaca.
Saat air mataku mulai menetes, aku langsung memeluk erat kakakku. Menangis sejadi-jadinya.
"Hiks! Ryu nii-chan! Hiks!" ucapku di sela isak tangis.
"Ada apa, Mirai? Kenapa? Adikku tersayang ini kenapa menangis?" ujar kakakku sambil balas memelukku.
"Mereka.. Mereka tidak mau berteman denganku lagi.. Hiks! Mereka melupakan aku.. Hiks! Sejak mereka punya teman baru. Hiks! Mereka juga lebih mementingkan vlog mereka daripada aku." aku menjelaskannya. Kakakku mengusap punggungku. Menyandarkan aku pada bahunya.
"Kalau kau tidak punya sahabat, bukan berarti kau sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Setidaknya, kau masih punya teman dan tidak sendirian di sekolah." kakakku berucap.
"Mereka selalu cuek padaku kak.. Hiks!"
Setelah aku berucap, kakakku terdiam. Apakah dia sudah kehabisan kata-kata? Tidak lama kemudian, dia berkata, "kau masih punya kakak yang selalu ada untukmu. Anggap saja, kakak adalah sahabatmu. Bagaimana?"
Aku mengangguk pelan, setidaknya tinggal satu tahun lagi aku harus tetap bersekolah, dan setelah itu aku akan lanjut SMA dan mendapat teman baru.
"Oh iya, Mirai-chan, kalau kau menganggapku sebagai pacarmu pun tak apa."
Aku membelalakkan mataku mendengar perkataannya. Menganggapnya sebagai pacar?
"Tidak mungkin!" jawabku sambil tersenyum. Ya sebenarnya, kakakku itu tidak kalah tampan dari Haruki-san. Bahkan kakakku lebih senior darinya.
"Haha.. Hanya bercanda kok, Mirai-chan." ucap kakakku sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurku. Otomatis, tubuhku sudah berada di atas tubuhnya.
"Hey kak, jangan berbaring! Nanti tempat tidurku jadi berantakan!"
Itulah akhir dari kisahku. Semenjak saat itu, aku makin akrab dengan kakak. Pesan dariku, kalau kau tak punya teman, cobalah untuk lebih akrab dengan saudaramu, orang tuamu. Setelah itu, perasaanmu akan menjadi lebih baik.
-Tamat-
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
- Diadaptasi dari pengalaman pribadi author, dengan ditambah imajinasi.
- Ambil baiknya, buang buruknya.
- Tolong koreksi kalau ada typo ya.
- Jangan lupa like dan komen
- Cover: Pinterest