Aku berjalan di lorong sendirian sebelum seseorang memanggil namaku,suara yang tak asing,terdengar begitu lembut dan hangat.
"Nana...."
Aku menoleh ke belakang,mencoba mencari sumber suara tersebut,mataku langsung tertuju pada gadis bermata cokelat yang senada dengan warna rambutnya,bibirnya mungil dan kulit putih membuat wajahnya seperti boneka.
"Hai Yumi,pagi..."
Aku kembali menyapanya,dia Yumi sahabat baruku,dia baru pindah ke SMA ini tiga bulan yang lalu,kami menjadi dekat setelah aku tak sengaja menjatuhkan bukunya.
Sekitar dua bulan yang lalu,ketika aku berniat kembali ke tempat dudukku setelah pergi ke kantin,tanganku tak sengaja menjatuhkan buku tebal milik gadis pendiam yang bahkan tak pernah ku dengar suaranya.
Dengan rasa bersalah,segera ku ambil buku itu dan aku kembalikan ke tempatnya semula,hari itu adalah hari dimana untuk pertama kalinya aku mendengar suara dan melihat senyum manis terukir di wajah si gadis pendiam tadi,seolah ditaburi bubuk ajaib oleh seorang peri,aku pun mulai tertarik kepadanya dan menjadi sahabatnya,begitulah cerita singkat bagaimana aku bersahabat dengan Yumi.
Sejak saat itu,Yumi selalu dekat denganku,mengingat tidak ada seorangpun yang mau berteman dengannya,mereka menganggap Yumi aneh karena dia terlalu pendiam dan bahkan melebihi orang paling pendiam dimanapun,mereka berkata tatapannya misterius dan sangat menyeramkan,tapi menurutku dia tidak seperti itu,dia sangat hangat ketika bersama denganku,aku tau,mereka tidak akan bisa mengenal seseorang hanya dengan tau namanya saja bukan?
.
.
Kini kami berjalan bersama menuju kelas,dari depan pintu aku melihat beberapa anak,bukan beberapa tapi banyak yang berkumpul di meja paling depan,mereka saling berbincang seolah sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting.
"Ada apa sih? Kok rame rame di depan?" tanyaku yang membuat beberapa mata yang semula tertuju pada tengah meja berbalik menatapku.
"Lo gak tau ya?"
"Enggak" jawabku menggeleng ringan.
"Aish...masa sih gak tau"
"Ya kan emang gak tau,kan baru dateng"
"Duh kudet deh,sini gue kasih tau"
"Vina meninggal,dibunuh!" ucap Caca dengan mata yang terbuka lebar hingga membuatku takut itu terjatuh dari tempatnya.
"Hah serius!?" tanyaku terkejut.
"Serius! Tadi pagi pagi banget ada Ambulance sama polisi dateng kesini"
"Mana? aku gak lihat tuh,dimana mana?" tanyaku yang membuat raut wajah Caca berubah.
"Ya elah,kan tadi 'pagi pagi banget'" ucapnya dengan penekanan di beberapa kata.
"Ya terus kok udah ilang? Lu tipu kali" tanyaku yang meragukan beritanya.
"Sumpah Nana gue gak bohong,demi menegakkan undang undang pergosipan gue ceritain yang sebenernya"
"Polisi sama Ambulance udah pergi bawa jenazah Vina dan katanya mau diotopsi sama jenazah lainnya" ucapnya yang seolah ada orang lain yang mengalami kejadian yang sama.
"Jenazah lainnya?"
Teng...
Teng....
Teng.......
Teng......
Bel masuk berbunyi,membuat seluruh kelas menjadi gaduh,suara bising tercipta dari kepanikan para siswa yang buru buru menuju ke tempat duduk masing masing sebelum guru masuk ke dalam kelas.
"Nanti lagi ya.." ucap Caca yang juga kembali ke tempat duduknya,dan itu membuatku sedikit kesal.
Cerita Caca yang belum selesai membuatku sangat penasaran akan kelanjutannya,dengan rasa penasaran yang masih menghantui,akupun menyusul Yumi yang sudah duduk di bangku yang terletak di samping tempat dudukku.
Ku letakkan ranselku di tempat duduk dan membiarkan tubuhku menyusul tasku untuk duduk disana,setelah guru masuk dan mengajar akupun memperhatikannya seperti biasa,bedanya beberapa kali otakku tergoda untuk memikirkan cerita Caca yang belum selesai,bak ingin segera melengkapi cerita rumpang di soal bahasa Indonesia.
Setelah sekian lama,bunyi bel yang kutunggu pun datang,hampir semuanya pergi meninggalkan kelas saat jam istirahat,begitupula dengan Caca,namun dengan segera aku menahannya untuk menagih cerita yang belum selesai tadi.
"Apa?" tanya Caca ketika aku menahan tangannya.
"Katanya mau lanjutin cerita"
"Oh iya yuk duduk" ucapnya sangat antusias,makhluk satu ini memang sangat senang jika disuruh menceritakan sesuatu,sepertinya dia akan menjadi pendongeng yang sukses.
"Jadi..." ucapnya menggantung.
"Hn?" gumamku mencari penjelasan.
"Lo ingat gak beberapa kasus kematian siswa dua bulan terakhir ini?" tanya nya.
"Emm tentang beberapa siswa siswi yang ditemuin meninggal di sekolah?"
"Yapp betul!! Lo gak tau ya gosipnya?"
"Kita cuma tau kalo mereka ditemukan meninggal,tapi kebenarannya gak cuma itu"
"Mereka ditemukan kehabisan darah dengan beberapa luka kayak digigit binatang buas,mereka diotopsi untuk mencari penyebabnya,dan polisi sedang mencari tau siapa 'pembunuhnya!'" jelasnya dengan sangat dramatis.
"Jangan jangan ada serigala liar,kan lo bilang ada luka digigit"
"Gak mungkin!! Kalo serigala liar gak mungkin"
"Pertama!! Kenapa cuma menyerang sekolah?"
"Kedua!! Korbannya gak cuma satu"
"Itu memperkuat fakta kalo pembunuhnya pasti manusia serigala!! Iya kan??" ucapnya mulai mengada ngada.
"Gak mungkin,mana ada yang kayak gitu"
"Dih yaudah kalo gak percaya,gue mau ke kantin" ucapnya kesal.
Akupun kembali ke tempat duduk,melihat Yumi yang masih duduk di tempatnya seperti biasa.
"Yumi..."
"Ya?" sahutnya lembut.
"Percaya gak sih kalo yang ngelakuin ini semua manusia serigala?" tanyaku.
"Eh...emm... entahlah saya tidak tau" ya itulah Yumi,terkadang menggunakan bahasa formal saat berbicara,dan itu membuatku merasa sedikit aneh saat berbicara kepadanya.
"Iya juga ya,mana ada manusia serigala di dunia nyata hahaha"
"Iya hihi" jawabnya dengan sedikit tawa di akhir.
.
.
Sepulang sekolah aku dan Yumi berjalan bersama keluar dari kelas,kami berjalan dan melewati beberapa pintu kelas lainnya,ketika kami melewati salah satu kelas,secara tidak sengaja kami mendengar percakapan penghuni didalamnya.
"Aneh gak sih!? Sejak cewe aneh itu pindah ke kelas sebelah kasus ini mulai terjadi"
"Iya,jangan jangan anak itu membawa sial!!"
"Atau nggak dia manusia serigala yang cari mangsa di sekolah kita"
"Ih gue gak mau jadi korban selanjutnya!!"
Begitulah yang mereka katakan,aku melihat Yumi yang aku yakin dia juga mendengarkannya,dia menunduk sambil berjalan pelan di sisiku,aku tau apa yang sedang dia rasakan,hatiku juga akan merasa sakit jika ada diposisinya.
"Yumi...jangan dianggep serius ya,jadi anak baru itu emang gak enak,pasti ada aja yang gak suka"
"Gak apa apa kok" jawabnya tersenyum manis.
Kami pun keluar dari sekolah,dan terhenti di gerbang besar berwarna hitam itu,seperti biasa Yumi pergi ke arah berlawanan denganku,dan seperti hari hari sebelumnya,dia melambaikan tangan dan tersenyum manis sebelum berlalu.
Sekarang aku sendirian,berniat mengambil jalan yang berlawanan dengan jalan yang diambil Yumi,baru beberapa langkah aku berjalan,aku merasa seseorang bertubuh lebih tinggi dariku berjalan cepat dan berusaha menyesuaikan langkahku.
"Nana..." sapanya.
Aku melihat ke arah sumber suara,itu Darrel anak kelas sebelah dan bisa dibilang dia adalah orang yang aku suka,dan ini adalah momen langka ketika dia datang untuk menyapaku.
"I..iya?" jawabku ragu.
"Gue saranin jangan deket deket sama anak aneh itu" ucapnya yang membuatku terkejut,apakah yang dimaksud adalah Yumi,kenapa dia juga berfikir seperti itu?
"Maksudnya Yumi?" tanyaku ragu.
"Iya,gue saranin lo jauh jauh dari dia" ucapnya terdengar serius.
"Udah deh,gue muak denger itu semua dari anak anak,kenapa sih kalian benci banget sama Yumi!?" bentakku kesal.
"Bukan gitu,tapi dia emang gak normal,menurut penyelidikan gue sama temen temen OSIS yang tau menau tentang kasus disekolah kita,Yumi itu dicurigai ada hubungannya sama kasus ini" jelasnya.
"Udah deh,mau OSIS mau apa gue gak bakal percaya,Yumi itu anak baik,cuma gara gara kebetulan kasusnya terjadi setelah Yumi dateng,kalian seenaknya aja bilang gitu"
"Gue gak bakalan nuduh tanpa bukti,dari rekaman CCTV sekolah korbanya dieksekusi di ruangan yang gak ada CCTVnya,tapi dibeberapa rekaman kami mendengar suara tawa lirih yang mirip suara Yumi,dan juga di jenazah Gino ditemukan ikat rambut Yumi,kemungkinan Gino sempat melawan sebelumnya"
"Cuma gara gara itu,kalian gak bisa nuduh sembarangan" jawabku seraya berlalu meninggalkan Darrel dengan kesal.
"Terserah kalo gak percaya,tapi ini buat kebaikan lo juga" teriaknya dari jauh.
.
.
Aku bejalan dengan rasa kesal menuju ke rumahku,pikiranku dipenuhi banyak pertanyaan,kenapa sih mereka gak suka Yumi? Mereka cuma belum tau gimana baiknya Yumi.
Karena terlalu memikirkan apa yang terjadi hari ini,akupun pulang terlambat ketika matahari hampir menenggelamkan dirinya,ketika hampir sampai di depan perumahan tempatku tinggal,aku meraba sakuku dan mencari benda persegi panjang favorit ku.
"Lho kok gak ada!?" tanyaku panik ketika tidak menemukan ponselku.
Aku meraba seluruh saku yang ada sampai membuka dan mengeluarkan hampir semua isi tasku,namun hasilnya nihil,tidak satupun sela di tasku yang memunculkan benda persegi panjang itu.
"Di laci?" tanyaku pada diri sendiri.
Dengan sangat kesal,aku buru buru berlari menuju ke sekolah untuk mengambil ponsel kesayanganku itu,hari belum terlalu gelap dan mungkin aku masih sempat untuk mengambilnya.
Dan saat aku sampai disekolah,gerbang sekolahpun sudah tertutup,alhasil aku memanjat tembok setinggi satu setengah meter yang menjadi sekat antara gerbang besi dan tembok penghalang.
Setelah berhasil masuk seperti seorang menyusup,akupun segera masuk ke dalam sekolah,lorong lorongnya sudah sepi dan terasa dingin,aku melihat setiap pintu yang ada dan masuk ke ruang kelasku dengan pintu yang kebetulan tidak dikunci,karena kuncinya patah dan belum mendapat ganti,kalau tidak aku harus kembali bersusah payah masuk ke kelas lewat jendela.
Sementara aku mencari ponselku hari sudah semakin gelap,dan menjadi sangat gelap ketika matahari benar benar telah tenggelam,dan setelah aku memegang ponselku akupun menyalakan lampu senter yang tersedia dan bergegas keluar dari kelas.
Aku berjalan di lorong yang sepi dan gelap itu,menatapi setiap sudut dan melihat perbedaan besar benda benda disana ketika dalam keadaan gelap dan terang,kupikir ini sedikit menyeramkan,demi benda persegi panjang sialan ini aku harus kembali ke sekolah malam malam begini.
Brukk!!
Ketika aku akan keluar dari gedung utama,aku mendengar ada sesuatu yang membentur sebuah benda dengan sangat keras,suara itu terdengar dari arah ruang peralatan olahraga yang tempatnya tidak jauh dari gedung utama.
Aku berjalan mendekati sumber suara itu,rasa penasaran tidak dapat kulawan,jadi aku menurutinya begitu saja dan melupakan hal lainnya,sekarang yang kupikirkan hanya siapa disana? Apakah dia baik baik saja setelah membentur benda hingga menghasilkan suara sekeras itu?
Aku berfikir demikian karena suara yang kudengar begitu keras,tidak mungkin kalo itu seekor kucing yang menjatuhkan beberapa benda,aku yakin ada seseorang disana.
Dan akupun sampai di depan pintu ruang olahraga,terlihat daun pintu yang sedikit terbuka dengan lampu yang menyala,dari tempatku berdiri terdengar suara nafas terengah-engah yang membuatku berfikir dia yang terbentur tadi mungkin mulai sadar.
Tanpa berfikir panjang aku membuka daun pintu berwarna putih itu dan masuk ke dalam ruangan,jantungku rasanya berhenti kemudian berdetak kembali dengan sangat kencang,lampu senter ponselku menyorot langsung ke wajah seseorang yang tak asing bagiku,tanganku bergetar hingga membuat ponselku terjatuh.
Tubuhku terasa sangat panas di tempat sedingin ini,dasar perutku terasa mendidih dan membuat keringat dingin bercucuran di pelipis dan punggungku,aku mengambil satu langkah ke belakang sambil melihat kakiku yang serasa menginjak sesuatu.
Berwarna gelap dan terasa sangat kental,aku menyeret kakiku ke belakang dan menyisakan bercak merah di keramik putih yang kupijak.
"Kenapa kamu kesini? Bukankah seharusnya kamu sudah pulang....Nana?" ucapnya dengan suara yang sangat familiar bagiku.
Itu Yumi,aku tidak salah lihat,itu benar benar Yumi,dia memakai jubah putih,wajahnya menampilkan senyum lebar yang tidak seperti biasanya,kali ini senyumnya berbeda,dengan darah di sekitar mulut dan pipinya dia terlihat menyeramkan,dia terlihat seperti orang gila.
"Kenapa kamu tidak menjawab saya? Kenapa kamu kesini? Kenapa kamu melihat saya? Apa kamu mengikuti saya?"
Yumi mengubah posisinya,yang tadi sedang duduk di atas tubuh seseorang yang penuh darah,berganti duduk bersimpuh di belakang tubuh yang pucat dan kaku itu.
Aku melihatnya dengan jelas,itu memang Yumi,dan setelah dia menyingkir dari tubuh seseorang yang dia duduki,aku melihat tubuh seorang perempuan dengan penuh luka sayat di lengan,leher dan pipinya,lengan kananya pun terlihat rusak dengan luka koyak yang memunculkan daging dan memperlihatkan tulangnya,apakah Yumi yang melahkukannya?
"Apa yang kamu fikirkan? Saya tidak melahkukanya hihihihi saya tidak tau apa apa" ucapnya dengan tawa menyeramkan yang membuat jantungku berdetak semakin kencang.
Aku tidak tau apa yang akan aku lahkukan,tubuhku terasa sangat kaku,bahkan butuh usaha sangat keras untuk membuat mataku berkedip.
"Nana...kenapa kamu diam?" ucapnya dengan senyum menyeramkan itu lagi.
Dengan susah payah aku menggerakkan kakiku,buru buru aku berlari dan pergi dari tempat menyeramkan itu,namun dengan cepat pula Yumi menyusulku dan menabrak tubuhku hingga tersungkur di lantai,sejak kapan dia menjadi begitu cepat,bahkan langkahnya tidak terdengar sama sekali.
Kini Yumi duduk di atasku yang terjatuh dengan posisi tengkurap,aku merasakan tubuhnya yang begitu dingin,dia duduk dengan nyaman disana tanpa memperdulikan apa yang kurasakan,aku merasa semakin sulit bernafas karena jantungku berdetak begitu kencang.
"Sttt jangan bilang siapa siapa,yang melahkukannya adalah saya..."
"Kamu tetap sahabat saya..tetap lindungi saya dari mereka yang mencoba menyelidiki saya hihihi...."
Tanpa sadar air mataku menetes,aku terisak dalam keadaan menyebalkan ini,mungkin ini akan menjadi akhir dari hidupku,mati ketakutan atau mati dibunuh sahabatku yang ternyata memanfaatkan ku ini.
Bugh!!!
Terdengar benturan keras saat aku memejamkan mata,dan setelah benturan itu rasa berat dipunggungku pun menghilang.
Kemudian aku membuka mataku,melihat seorang lelaki berjongkok di depanku sambil mencoba meraih wajahku dan memastikan kesadaranku.
"Gak apa apa kan?" tanya nya yang kemudian mengangkat tubuhku dan membawaku berlari entah kemana.
Aku yang masih belum sadar dengan apa yang terjadi terlihat sangat bingung,Darrel menggendongku berlari menjauh dari Yumi,tunggu siaapa!? Darrel!? Kenapa dia disini!?
"Lo..kenapa kesini!?" tanyaku membentak.
"Yang harusnya tanya itu gue,kenapa lo bisa ada disini malem malem" tanyanya dengan nafas tidak beraturan karena sambil berlari.
"Itu gak penting!! Disini berbahaya!" ucapku.
"Gue tau,mangkanya...."
Bugh!!!
Sesuatu menabrak kami hingga membuat kami membentur dinding dan terjatuh,dan itu adalah perbuatan Yumi,dengan cepat dia menyusul kami kemari.
"Kenapa kamu pergi Nana!!" teriak Yumi yang terlihat sangat marah.
"Aaaaarghh!!!"
Yumi berteriak sangat kencang,suaranya begitu nyaring hingga membuat telingaku sakit,dia memegang lehernya,kemudian aku menyadari ada tali besar yang terbuat dari sabut kelapa yang mengikat lehernya.
Dibelakang Yumi ada beberapa anggota OSIS dan seorang pria dewasa berbaju hitam,mereka memegang ujung tali yang mengikat leher Yumi,pria dewasa itu terlihat mengucapkan sesutu dan semakin cepat pengucapannya Yumi terlihat semakin tersiksa.
Aku hanya mematung melihat kejadian itu,dan tanpa sadar Darrel menarik tanganku dan membantuku berdiri.
"A..apa yang terjadi,siapa orang itu?" tanyaku kepada Darrel.
"Yumi itu iblis! Dia yang membunuh dan memakan siswa siswi yang ditemukan meninggal"
"Pria itu adalah paman Dio,seorang ahli spiritual dan Pengusir makhluk"
"Benarkah!? Jadi di dunia ini memang ada hal seperti itu?" tanyaku tak percaya.
"Menurutmu?" tanya nya.
"Aaaargghhh!!!!"
Yumi berteriak semakin kencang,mereka yang memegang tali itu terlihat semakin kewalahan dan akhirnya.
BOOMM!!!!
Seperti bom asap berwarna merah gelap,Yumi pun menghilang di antara asap itu.
"Dia...hilang?" tanyaku.
"Nggak..dia kabur!" ucap paman Dio.
"Tapi udah aman,dia gak bakalan balik lagi kesini,kekuatannya udah paman segel walau gak semua,untuk kebelakangnya nanti paman bereskan iblis itu"
"Ayo segera pulang"
Tanpa banyak berbicara kami pun pulang,Darrel mengantarku pulang kerumah,paman Dio dan anggota OSIS lainya membereskan semuanya dan mengamankan Jenazah di ruang olahraga tadi.
.
.
Keesokan harinya,kami kembali ke sekolah seolah tak ada kejadian apapun semalam,Yumi tidak hadir hari ini,bangkunya kosong,dan terdengar beberapa gosip baru tengangnya yang tersebar.
Aku hanya diam dan terus memikirkan apa yang sedang terjadi,dan sampai sekarang aku masih bertanya tanya,sebenarnya makhluk seperti apa Yumi itu? Kenapa dia melahkukan hal kejam seperti itu?
---TAMAT---