'Mengapa kau menangis?'
Sapaan datar mu itu, membuat hati ini tersentak untuk sepersekian detik. Aneh rasanya melihat bayanganmu menutup wajahku yang sembab dari sinar mentari senja kala itu.
Rambut hitam nan halus itu berayun selaras angin sore yang dingin.
'Meski aku belum menangis?'
Suara hangat itu kembali ku dengar dengan jelas. Ini semakin aneh, apa aku mulai gila? atau ini memang wajah yang ku rindukan? Aku hanya bisa mengasihani diri sendiri, bahkan aku tak tahu apa yang salah denganku.
'Ayo bangun, kita pulang.'
Uluran tangan itu, semakin membuat sesak. Jika aku menerimanya, akankah aku dianggap gila? Atau ... jika kita bersama, hari ini akan jadi saat-saat berharga bagi kita berdua.
Matamu yang memandangku, senyummu yang tulus itu, tak dapat menghentikan tangan ini tak menggenggam erat uluranmu.
"Apakah aku masih memiliki sedikit kesempatan untuk dapat bersamamu?" Ucapan yang begitu saja keluar dari mulut ini membuat genggam tangannya semakin erat.
'Melihatmu tertawa, itulah yang selalu ingin kulihat.'
Dia tersenyum, tersenyum kearah ku yang kian sakit hati ini melihatnya. Kau yang lembut seperti bunga matahari dengan segala kehangatannya. Karna itu, jangan lepaskan tangan ini. Biarkan tetap hangat. Terus seperti ini sampai aku bosan.
🌻
Sore itu, disaat ilalang layu yang berayun lembut mengiringi jalan setapak yang kita lalui. Desir angin yang menerbangkan bunga kecil dandelion terbang bersamanya. Udara dingin itu terasa hangat jika bersamamu. Ingin ku hentikan waktu ini agar tidak berjalan.
'Mira, jangan menangis. Kau terlihat jelek kalau menangis.'
Candaannya itu, terdengar indah kali ini. Mungkin, kalau bukan hari ini, aku akan memukul kepalanya itu.
"Kenapa? Kau tidak suka?!" Tanyaku ketus padanya.
"Iya. Aku ingin melihat Mira yang cantik, Mira yang tertawa dengan cantik.'
Jahat! Kau jahat mengatakan itu. Kenapa kau harus memberikan binar mata hangat itu disaat aku harus melepasmu? Kenapa?
'Kita sering bersama-sama melihat jauh ke masa depan. Aku selalu percaya bahwa masa depanmu akan lebih baik dengan cara ini.'
Dalam diam aku mendengar kata mu yang jahat itu. Entah kenapa aku tak bisa henti memandang mu. Kau begitu indah hari ini Ru.
"Ru?"
'Iya, aku disini.'
"Ru ...?"
'Aku disini, Mira.'
Air mata ini kembali mengalir tanpa perintah. Hati ini seperti terbang menjauh bersama kelopak dandelion itu. Begitu perih mendengarmu menjawab ku dengan hangat.
"Aku selalu berharap kau akan melangkah di jalan yang kita lalui sekarang. Tetap seperti ini, selamanya bersamaku."
'Tak ada kebersamaan tanpa adanya perpisahan, Mira.'
Kenapa? Kenapa itu yang harus kudengar darimu. Tak bisakah kau menghiburku saat ini?
Ingin ku tanyakan deretan pertanyaan itu, tapi aku tak sanggup berkata lagi.
🌻🌻
Binar jingga mentari kian pekat di angkasa. Kehangatan ini tak akan lagi bertahan lama. Namun, suara langkahnya, suara nafasnya, tangan hangatnya, tak bisa ku kunci disampingku lagi.
'Jangan pernah lupakan saat-saat kita bersama. Kau yang tersenyum saat kita bersalaman sebelum kita berpisah, kau yang lembut seperti bunga matahari dengan segala kehangatannya. Ingat itu, Mira.'
Pesan lembutnya itu membelai hatiku bersamaan dengan merampasnya dariku.
"Untuk apa? Itu tak akan ada gunanya jika kau tidak bersamaku."
Aku ingin membantah semua perkataannya itu. Dia yang berkata seakan tak memperdulikan perasaanku yang menggelap. Walaupun ini lah kenyataan yang harus ku terima darinya. Tapi ... aku ingin membantah dan menahannya bersamaku.
'Jika kau ingin aku kembali, bisakah kau bilang bahwa kau percaya padaku?'
Pertanyaan seperti apa itu? Kenapa kau harus memberikan harapan yang tidak mungkin? Kenapa kau sekejam ini, Ru?
"Aku tidak percaya padamu. Kau pembohong!" Bentakku perih.
Dia menghentikan langkahnya, berhenti dan berbalik menghadapku yang menunduk.
'Mira, kau segalanya bagiku hingga saat ini. Disaat jari kelingkingmu kau arahkan padaku saat itu, di siang hari saat matahari bersinar dengan terang. Bahkan, Bunga matahari yang baru mekar menjadi saksi dari janji itu. Mira, melihatmu tertawa itulah yang selalu ingin kulihat. Kau yang terus menepuk punggungku saat aku kesal dan sedih. Kau yang selalu menyuapi makanan ke mulutku saat aku marah. Itu adalah hadiah terindah dalam hidupku. Karna itu, aku ingin sampaikan bahwa sekarang, aku sudah menemukan arti kebahagiaan sejati.'
"Apakah ... Apakah aku masih memiliki sedikit kesempatan untuk dapat bersamamu, Ru?"
Ru tersenyum hangat padaku.
'Akan ku sambut hangat dirimu dalam mimpi indahmu dilain waktu.'
🌻🌻🌻
Pagi yang indah, matahari seakan tak ingin didekati oleh awan. Ku buka tirai jendela kamarku. Tak ada bekas air mata, hanya senyum yang tak bisa ku sembunyikan.
"Tunggu aku, Ru. Akan kubawa bunga matahari kesukaanmu."
Gundukan tanah coklat itu sudah mengeras sekarang. Taburan bunga juga sudah menghilang. Hanya rumput hijau yang menghiasinya.
"Ru, aku datang. Ini hadiah untukmu. Ru ... terimakasih sudah menemani mimpiku kali ini. Aku tetap saja kalah cantik darimu ya. Ru, aku rindu ... aku sangat merindukanmu, aku akan bahagia dan terus tertawa seperti yang kau inginkan. Akan ku perlihatkan senyum terbaikku untukmu lain kali. Selamat tinggal Ru, sahabatku."
Seperti bunga matahari yang berjuang untuk mekar hingga penghujung musim panas, akan ku simpan janji itu hingga mata ini tertutup untuk selamanya.
🌻TAMAT🌻
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA, SEMOGA SUKA YA👩🎤 JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA YA🌻🙌💋