"Key, aku mau keluar dari sekolah." Ucap sahabatku bernama Endah.
Kalah itu aku sedang duduk di depan kelas bersama dengan Endah. Aku terkejut saat mendengar ucapannya barusan.
"Hah? kenapa Nda? ada masalah apa sampe harus keluar dari sekolah?" Tanyaku dengan tatapan yang sayu.
Aku dan Endah kini sudah naik ke kelas dua SMP, kami bersahabat sejak kelas satu SMP. Kami biasa kumpul berlima, hanya saja karena kelas kami terpisah jadi kini aku hanya duduk bersama Endah.
"Gapapa Key, aku cuma mau keluar aja." Jawab Endah.
Aku panik saat Endah berkata demikian.
"Gak.. gak boleh keluar, setidaknya kamu harus lulus SMP." Ucapku dengan tegas.
Tak lama kemudian bel istirahat berbunyi, murid dari kelas lain mulai berkeliaran keluar kelas. Aku dan Endah yang sejak tadi duduk di depan kelas berdiri lalu menuju kantin.
"Eh, kalian berdua! Tunggu dong, masa kita ditinggalin." Teriak Ayu sambil berlari kecil bersama dengan Anggi dan Sari.
Aku dan Endah pun menghentikan langkah kaki kami lalu menoleh.
"Astaga, kalian ini! Cepat gih, nanti kantinnya penuh gak kebagian meja kita." Ucap Endah kesal tapi sambil bercanda.
Aku hanya tersenyum saat itu, tapi aku menjadi canggung dengan kehadiran Sari. Dulu kami sangat akrab sama seperti aku dan Endah ataupun Anggi, hanya saja karena seorang siswa pindahan hadir kami pun menjadi canggung satu sama lain.
*Flashback On*
*Kelas satu SMP*
Di dalam kelas__
Aku, Endah, Ayu, Anggi, Sari, Novri dan Akbar sedang main truth or dare dari sebuah batu yang di putar.
Aku yang memutar batu itu namun anak panah yang digambar menggunakan spidol itu mengarah ke diriku sendiri.
Hahahaha. Teman-temanku mentertawakan ku, mereka terlihat sangat bahagia.
"Jadi truth or dare?" Tanya Novri.
"Truth." Jawabku dengan lesu.
"Okay, aku akan bertanya pada diriku sendiri. Keysha apa makanan favoritmu?" Ucapku sendiri.
"Ih curang, masa pertanyaannya gitu." Ucap Sari sambil melongo melihat ke arah pintu.
"Kan aku yang mutar aku yang jawablah. Eh? Sar kamu liat apaan sampe sebegitunya." Tanyaku penasaran.
Aku dan yang lainnya seketika menoleh dan melihat seorang pria sedang berjalan planga-plongo.
Sari yang tadinya duduk bersama kami, bangkit seketika dan menghampiri pria itu.
"Hallo, kamu dari kelas mana? ngapain kamu kesini?" Tanya Sari.
"Em.. Aku murid pindahan, kata guru tadi aku masuk kelas satu C." Jawab Pria itu.
Sari kegirangan bukan main, karena di kelas ini selain akbar akan ada lagi murid yang tampan.
"Oh.. Murid pindahan, kenalin namaku Sari. Nama kamu siapa?" Tanya Sari mengulurkan tangannya.
Murid pindahan itu membalas jabatan tangan dari Sari dan berkata, "Namaku Riski."
"Oh Riski, yaudah kamu duduk di sebelah.. Ah itu di sebelah Keysha ya. Tenang aja dia baik hati kok."
Aku yang tadinya duduk sendirian kalau lagi belajar, karena aku tak memiliki teman sebangku sebelumnya. Tapi karena kehadiran murid baru yang bernama Riski itu aku tidak sendirian lagi.
Satu minggu kemudian, setelah kedatangan murid baru itu. Aku, Endah, Sari, Anggi dan Ayu duduk di teras kelas kami. Di depannya terdapat sawah yang berisikan tanaman padi yang sedang hijau nan indah.
Kami sedang berbincang-bincang santai, kalah itu Ayu dan Sari menceritakan tentang Riski.
"Eh, Riski sekarang makin hari makin ganteng ya." Ucap Ayu.
"Iya, duh.. Coba aja kalau aku punya pacar kayak dia." Sahut Sari.
Aku, Anggi dan Endah hanya tersenyum saja saat mendengar ucapan mereka berdua.
"Kamu suka sama dia?" Tanya Ayu ke Sari.
"Yaiyalah, siapa juga yang gak suka sama cowok ganteng kayak dia. Kecuali Keysha ni. Udah duduk satu meja, eh kagak ada tertarik-tertariknya sama Riski. Kalau aku ni ya, gak bakal fokus belajar yang ada hanya liatin dia aja. Untung aku duduknya depan. Hahahaha." Ucap Sari sambil tertawa.
Ya, itu adalah penilaian berdasarkan sepenglihatan teman-temanku. Tapi mereka gak tau, kalau aku sangat gugup duduk satu bangku dengannya. Apalagi kalau tiba-tiba dia ingin bertanya padaku lalu menatap mataku. Rasanya jantungku mau copot.
"Eh, aku bakal tembak dia hari sabtu nanti. Siapa tau dianya suka juga sama aku." Ucap Ayu dengan bangganya pada dirinya sendiri.
"Terserah Mu lah Yu." Timbal kami kecuali Sari.
Hari sabtu pun tiba__
Jam istirahat__
Ayu berjalan menghampiri meja Sari.
"Mau ikutan gak?" Tanya Ayu.
"Gak deh, kamu aja. Aku mau di kelas aja. Nanti kalau udah cerita ya, gimana hasilnya." Jawab Sari.
"Okay."
Ayu pun menghampiri mejaku dan mengajak Riski pergi bersamanya. Aku yang duduk di samping Riski sudah tau maksud kedatangan Ayu.
"Ki, aku mau ngomong sama kamu. Boleh ikut aku sebentar." Tanya Ayu ke Riski.
"Okay." Jawab Riski sambil mengangguk lalu menoleh ke arahku. Dia menatap mataku sejenak dan tersenyum. Dan aku hanya heran melihatnya sambil menaikan alisku.
Tak lama kemudian, Ayu dan Riski berlalu dari pandanganku.
"Key, ayo ke kantin." Ajak Endah.
Aku, Endah dan Anggi pergi ke kantin tanpa Ayu dan Sari.
Kami bertiga heran, kenapa Sari tak ikut ke kantin dan hanya di kelas saja.
Di belakang kelas satu D dekat taman kecil bersebelahan dengan mushola, berdiri dua orang siswa. Yaitu Ayu dan Riski.
Namun siapa mengira, berdiri seorang siswa lagi dari balik tembok perbatasan antara kelas satu D dan mushola itu. Ia sembunyi dan siap mendengarkan perbincangan Ayu dan Risky, dia tak lain adalah Sari.
"Ki, aku to the poin aja ya. Sebenarnya aku suka sama kamu." Ucap Ayu dengan beraninya.
Di balik tembok Sari hanya menahan ketawanya. "Yaelah, Ayu.. Kamu pasti di tolak, kalau aku nih baru di terima. Secara aku kan cantik dan pinter." Batin Sari.
"Maaf Yu, Aku sudah, em maksudnya hatiku sudah taken sama seseorang." Ucap Riski sambil menunduk.
"Gapapa kok Ki, aku cuma menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan. Tapi kok aku gak sakit hati ya? atau jangan-jangan aku cuma kagum sama kegantengan mu."
Riski mengangkat kepalanya lalu menatap wajah Ayu. Dia tersenyum
"Syukurlah kalau kamu hanya sekedar kagum, sebenarnya aku suka sama teman kamu." Ujar Riski sambil tersenyum malu.
"Tuh kan pasti dia suka samaku." Batin Sari sambil terus nguping.
"Lah? beneran? Siapa?" Tanya Ayu antusias.
"Aku suka sama Keysha."
"Oh.. Hahaha Keysha toh, teman satu bingki yi kin? Hahaha."
"Tapi jangan kasih tau siapa-siapa ya." Ucap Riski sambil melihat kiri kanan siapa tau ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Ok, siipp.. Aman. Tapi traktir aku biar bisa tutup mulut." Ucap Ayu.
"Hah.. Okay. Ayo."
Mereka berdua pun pergi ke kantin.
Di balik tembok, Sari memasang muka kesalnya.
"Bagaimana mungkin dia suka sama Keysha, padahal cantikan aku dan pinteran aku." Ucap Sari.
Bell masuk berbunyi, pelajaran bahasa Indonesia pun dimulai.
"Selamat siang anak-anak, karena ada rapat dadakan tapi gak bakal lama. Jadi kalian Ibu kasih tugas buat puisi selama satu jam dan satu jam kedepannya kalian baca di depan. Puisinya di buat bareng teman sebangku, temanya bebas. Udah Ibu tinggal dulu ya." Jelas Ibu Herlina lalu pergi meninggal kelas.
Mendengar hal itu aku kebingungan.
"Kita buat puisi apa?" Tanya Riski sambil menatapku.
Aku benar-benar gugup saat dia menatap mataku.
"Apa ajalah, yang penting jadi." Jawabku sambil mengalihkan mataku ke buku tulis.
"yaudah ayo kita keluar, cari referensi." Ajak Riski lalu menyeret tanganku.
Entah mengapa, aku hanya ikut saja tapi hatiku rasanya seperti bunga yang sedang bermekaran saat tanganku di genggam oleh tangannya Riski.
Namun saat aku berjalan seperti ada tatapan kebencian padaku. Tatapan itu ternyata berasal dari Sari. Aku melihatnya secara langsung dan tentu aku heran dengan tatapannya itu.
Tapi aku mengabaikannya dan terus mengikuti langkah kaki Riski untuk mencari referensi di luar kelas.
Aku dan Riski duduk disebuah kursi taman sambil melihat bunga-bunga indah yang ada di hadapan kami.
"Ki, lepas lah tanganku." Ucapku canggung.
"Oh.. maaf-maaf, lupa." Ucap Riski yang mulai melepaskan genggaman tangannya itu.
"Lihat bunga itu, cantik seperti kamu." Ucap Riski sambil menatap bunga.
Aku menjadi salah tingkah saat mendengar hal barusan.
Satu jam kemudian__
Di dalam kelas__
Aku dan Riski telah menyelesaikan puisi dadakan itu dan kami kini menunggu giliran untuk maju ke depan dan baca puisi.
10 menit kemudian, tiba giliran aku dan Riski yang baca. Wah jantungku rasanya mau copot, ingin rasanya aku lari dari kelas ini tapi mau tak mau aku harus maju dan baca puisi itu.
Judul : Seindah Bunga yang Bermekaran
Riski yang baca__
Saat aku menerka, aku hanya lewat
Saat itu pula aku berpikir bahwa aku salah
Aku seperti melewatkan sesuatu yang indah jika aku hanya lewat tanpa berhenti
Namun, untunglah hati ini selalu menolongku
Ia berkata untuk tinggallah disini sejenak
Ada sesuatu yang indah yang harus kamu temukan
Atau bahkan sesuatu yang indah itu sedang menanti kedatangan mu.
Aku yang baca__
Ya, aku sedang menunggu seseorang yang hadir disini
Ku lihat kupu-kupu yang sedang lewat itu
Yang ku kira dia hanya mampir untuk sejenak
Tapi ternyata tidak, dan aku sangat bahagia
Namun aku takut dia akan menghilang secara tiba-tiba
Dengan perlahan aku memekarkan kelopak ku yang indah
Sebagai bukti kalau aku bahagia saat kedatangan dia
Dan juga sebagai peringatan kalau aku tak ingin kehilangan dia
Riski__
Aku tak akan pergi, aku tetap disini
Bagaimana bisa aku meninggalkanmu sementara kamu terlalu indah untuk ditinggalkan
Yang ada aku akan hidup dalam kesepian.
Aku dan Riski__
Aku bersamamu akan indah seperti bunga yang selalu bermekaran.
Setelah membaca puisi itu aku tersenyum puas mendengar gemuruh tepuk tangan dari teman sekelas ku termasuk guruku.
Namun setelahnya aku gak menyangka, Sari akan berubah sikap padaku.
Hingga saat ini pun Sari tetap dingin padaku.
Ayu yang melihat hal itu menceritakan kalau Sari menyukai Riski dan cemburu padaku. Padahal aku dan Riski tak ada hubungan apa-apa selain teman. Bahkan aku lebih tau kalau Sari menyukai Riski dan oleh sebab itu aku pun menjauh dari Riski walau di hati agak sedikit sedih.
*Flashback Off*
Kami berlima berjalan menuju kantin, sebelum aku dan Sari masih berteman walau tidak lagi saling bicara.
"Em.. teman-teman, aku bakal keluar dari sekolah." Ucap Endah dengan sendu.
"Hah? Apa? yang bener aja Ndah." Ucap serempak Anggi dan Sari.
Sementara aku hanya diam saja karena sudah tau sebelumnya.
Satu minggu kemudian__
Aku gelisah karena Endah gak dateng-dateng, sementara bel masuk sudah berbunyi.
"Duh Endah mana si, kok gak datang-datang." Batinku gelisah.
Dua jam berlalu, Endah ternyata tidak hadir dan absen. Aku sangat takut dia benaran mau keluar dari sekolah. Setelah pelajaran matematika selesai, aku pun menyempatkan keluar kelas sebentar sebelum guru pelajaran selanjutnya tiba di kelas.
Dari kejauhan aku melihat Anggi dan Endah di depan kantor.
"Ngapain mereka? Lah? itukan Endah? Kenapa gak masuk kelas, dan itu Ibunya? Hah? Jangan-jangan dia benaran mau keluar dari sekolah. Astaga Endah." gerutu ku dalam hati sambil lari menuju depan kantor guru.
Setiba aku di depan kantor, aku melihat Anggi yang tersendu-sendu dalam tangisnya.
Aku pun menjadi sedih melihat Anggi.
"Kenapa Gi?" Tanyaku yang juga sebentar lagi akan mengalirkan hujan deras di pipiku.
"Ini si Endah beneran akan keluar." Ucap Anggi sambil menangis.
"Hah?" Seketika hujan itu turun dengan sangat deras di pipiku.
Aku pun tak bisa mengendalikan diri dalam tangis ku.
"Maaf weh, aku gak bisa sekolah lagi." Ucap Endah yang kemudian ikut menangis.
"Hiks.. hiks.. hiks.." Suara tangisan kami bertiga.
"Jangan keluar Ndah. Emang apa masalahnya sampai harus keluar dari sekolah." Tanyaku sambil mengelap hidungku yang berair itu.
Di sisi lain__
Ibunya Endah yang melihat kami bertiga menangis seketika ikut menitikkan air matanya.
"Bu, saya mau bicara dengan Ibu." Ucap Ibu Nini wali kelas kami.
Ibunya Endah dan Ibu Nini berjalan ke kantor dan membicarakan tentang masalah ini.
Tiba di meja Ibu Nini__
"Ibu kenapa mau mengeluarkan Endah dari sekolah? Apa karena biayanya?" Tanya Ibu Nini.
"Itu karena atas keinginan anak saya sendiri, katanya biar adiknya aja yang sekolah. Dia mau kerja aja. Jadi saya gak bisa menolak, karena saya juga gak mampu untuk bayar sekolah dia lagi." Jawab Ibunya Endah sambil Menunduk.
"Bu, setidaknya tamat kan dulu SMP nya. Kalau masalah SMA nanti cari yang beasiswa aja. Karena pendidikan penting."
"Saya maunya juga gitu Bu, tapi itu keinginan dia. Dia tau kalau untuk semester ini Ibunya belum punya uang untuk bayar biaya ujian nanti. Jadi dia takut kalau dia hanya menyusahkan saya." Ucap Ibunya Endah lagi sambil menitikkan air matanya.
Sari dan Ayu mendengar pembicaraan itu secara langsung, karena mereka berdua sedang mengantarkan tugas ke meja wali kelasnya.
"Gak, Endah gak boleh keluar dari sekolah ini. Masalah biaya untuk ujian minggu depan, biar kita yang bayar. Tapi jangan bilang ke Endah." Ucap Ayu dengan tegas.
Ibunya Endah dan Ibu Nini seketika menoleh ke arah suara sahutan itu.
"Ayu? Sari?" Tanya Ibunya Endah.
"Okay, saya setuju. Jadi Ibu bilang aja ke Endah kalau biaya semester ini sudah ditanggung oleh beasiswa." Ucap Ibu Nini.
"Baiklah kalau gitu, makasih ya Ayu, Sari." Ucap Ibunya Endah lalu pergi dari kantor dan pulang.
Ayu dan Sari menghampiri kami yang sedang menangis itu.
"Dih udah gede pada nangis, kenapa si?" Ucap Ayu mengejek.
"Ini loh, Endah mau keluar." Ucapku sambil terisak-isak.
"Cih.." Ucap Sari sambil tersenyum ngejek.
Aku yang melihat respon Sari tersenyum bahagia tapi masih dalam keadaan menangis.
"Udah, mana ada Endah keluar. Ibunya aja udah pulang. Kalau masalah biaya semester ini, udah kita kelarin. Gak usah dipikirin Ndah." Jelas Sari sambil tersenyum dengan mata yang penuh dengan genangan air.
"Dan.. Key, maaf ya. Aku sudah salah paham sama mu mengenai Riski." Ucap Sari lagi kemudian memelukku.
"Aku juga minta maaf padamu Sar, karena aku gak ngejelasin apa-apa padamu dan juga gak peka kalau kamu beneran suka sama Riski." Ucapku sambil menangis sendu.
Aku dan Sari menangis sejadi-jadinya, membuat Anggi dan Endah yang tadinya nangis kini diam terheran-heran melihat kami berdua. Sementara Ayu tersenyum tipis menahan tawanya.
Setelah kelar acara nangisnya kini Endah bertanya pada Ayu dan Sari. Bagaimana bisa masalah itu kelar seketika.
"Emang siapa yang bayar uang semesterku?" Tanya Endah penasaran.
"Kita." Jawab Ayu.
"Eh, bukannya tadi kamu bilang, Endah jangan sampe tau." Ucap Sari spontan.
"Tapi kan aku gak enak sama kalian." Ucap Endah.
"Itu kan tadinya Sar, dan aku juga berniat bayar uang itu dengan uangku sendiri tapi karena kita adalah satu maka lebih baik kita membaginya untuk sahabat kita tercinta ini. Kenapa kamu harus gak enakan Ndah. Kita ini sahabatmu, kenapa hanya karena biaya uang sekolah kamu mau keluar. Kamu kan punya aku, sahabatmu ini tidak kekurangan uang loh. Apalagi si Sari, bapaknya kan Wali kota. Sementara Keysha kan dia udah ngebimbel anak SD buat jajannya yang banyak itu. Hahahaha.. Mana mungkin gak ada, kalau Anggi mah gak udah di tanya. Butik Ibunya dimana-mana. Ucap Ayu lalu memeluk sahabat-sahabatnya itu.
" Ya.. Karena kita adalah satu." Ucap kami serempak.