Namaku Meri, asal Surabaya. Aku adalah mahasiswi semester 4 jurusan Manajemen Keuangan. Di masa SMA dulu, aku memiliki seorang teman baik yang setia berbagi suka dan duka selama 3 tahun di SMA tersebut, namanya Tia.
Sebenarnya, dia memang sahabatku sejak Sekolah Dasar, hanya saja ketika masuk tingkatan menengah, kami berpisah sementara sebab berbeda sekolah. Namun ketika SMA kami bersama kembali.
Tetapi, kebersamaan yang indah tak pula bertahan lama. Aku dan Tia kembali dipisahkan karena berbeda perguruan tinggi. Dia melanjutkan studi ke ibukota, sedangkan aku bertahan dan melanjutkannya di kampung halaman.
Singkat cerita, 2 tahun berlalu tanpa bertemu sekalipun. Meski selalu tersambung telepon dan media sosial, rasa rindu yang telah melimpah ruah takkan terbayar hanya lewat media maya saja, baik aku maupun dia.
Bulan Ramadhan 2019 telah sampai ke penghujung. Tia tetap melanjutkan kuliahnya karena waktu itu, bertepatan dengan KKN, sehingga tidak bisa pulang untuk menikmati bulan puasa dengan keluarganya di Surabaya.
“Mer, kayaknya Lebaran kali ini aku masih belum bisa pulang deh, bakal lebaran disini. Tugas numpuk dan KKN udah hampir sampe ke penghujung. Semoga kita bertemu di tahun depan / setelah KKN usai aku bakalan usahain pulkam”. Ucapnya.
“Yaudah Tia, gapapa. Selesaikan aja dulu tugasmu, nanti kita pasti bakal ketemu lagi kok.” Ucapku.
Tak banyak kata yang bisa terucap, karena bercampur rasa sedih dan kecewa, soalnya aku sangat berharap bisa bertemu dengannya Lebaran ini.
Setelah shalat Ied, aku dan Ayah mengunjungi rumah paman dan nenek, sedangkan ibu tinggal di rumah karena tetangga berkumpul di rumah. Tiba-tiba Handphoneku berdering.
Assalamualaikum Bu..” Bukaku.
“Waalaikumsalam Mer..” sabut ibu.
“Mery, ayah mana? Masih lama di rumah nenek? Ini bibi Hayati mau ngasih sesuatu sama kamu, kayaknya THR deh…” Sambung ibu sambil sedikit tertawa.
Bibi Hayati adalah ibunya Tia, sahabatku itu.
“Wah, apa ya kira-kira? Baiklah bu, ini aku udah mau balik sama ayah, tunggu sebentar ya..” tuntasku.
Sesampainya di rumah, tetangga dan family masih berkumpul. Belum sempat duduk, ibu langsung menyuruhku dapur mengambil sisa kue lebaran. Aku masih penasaran hadiah apa yang akan diberikan bibi Hayati untukku.
Setelah duduk sejenak, ibu berkata..
“Mer, kamu tadi kelamaan baliknya, ibu udah narok hadiah dari bibi Hayati di kamarmu, coba liat dulu..” ucap ibu.
“Baik bu, sebentar ya..” gumamku.
Mer, kamu tadi kelamaan baliknya, ibu udah narok hadiah dari bibi Hayati di kamarmu, coba liat dulu..” ucap ibu.
“Baik bu, sebentar ya..” gumamku.
Sesampainya di kamar, betapa kaget dan terkejutnya hati. Tak disangka dan terduga sedikitpun, aku melihat Tia dikamarku.
“Surpriseeeeeee…” Teriak Tia sambil tertawa terbahak.
Belum sempat menyambung kata, aku langsung memeluknya dengan erat. Hati senang bukan kepalang karena kesedihannya seketika hilang, sebab hal yang paling aku inginkan pada lebaran itu adalah kepulangan Tia dari Jakarta, dan akhirnya terwujud dengan kejutan super istimewa.
Aku mengobrol panjang lebar dengannya, bercerita pengalaman dan perjalanan kuliah masing-masing, ditambah lagi setelah 2 tahun tidak bertemu.
Kami semua berkumpul di rumah. Keluargaku, family, tetangga dan keluarganya Tia semuanya bercerita dan bercanda gurau dengan lepas.