Mata Herman hampir melompat dari tempatnya tatkala melihat ketua komplotan maling yang di tangkapnya dalam operasi kali ini adalah sahabatnya waktu kecil. Berkali-kali ia memastikan bahwa yang tengah duduk di depannya adalah Kusno sahabatnya yang dulu dikenal baik. Ia heran, kenapa sampai anak yang dulu dikenalnya paling rajin mengaji dan pintar di sekolah sekarang jadi komplotan curanmor? Tapi sebagai polisi ia harus bersikap profesional meski yang tengah di tangkap anak buahnya adalah sahabatnya waktu kecil dulu.
Dengan perasaan campur aduk Herman bertanya juga akhirnya.
"Kenapa kamu sampai menjadi seperti ini. Puluhan tahun kita tak ketemu, sekali ketemu malah dalam keadaan begini?" Suara Herman terdengar sedikit berat, kelihatan tengah menahan gejolak di dadanya.
Yang ditanya hanya diam membisu, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Tatapan matanya tertunduk lesu, tangan yang di borgol kelihatan gemetaran.
"Dulu kau adalah termasuk yang paling rajin ke surau, dan paling pintar mengaji bukan? Kau ingat?" Herman menatap Kusno semakin lekat.
Susana masih begitu dingin. Kusno tak mengeluarkan suara sedikitpun. Herman kembali memancing agar Kusno mau membuka suara dengan mengingat-ingat masa lalu mereka saat dulu di kampung.
Dulu mereka satu desa, teman sepermainan dan juga teman satu sekolah saat SD. Namun, setelah lulus SD Herman pergi ke kota mengikuti orang tuanya dan melanjutkan sekolah di sana. Sedangkan Kusno tetap berada di kampung. Setelah SMP Kusno merantau ke kota. Kehidupan kota yang keras dan kejam membuat ia terjebak ke dalam lembah hitam dan keras. Bertahun-tahun sudah ia bergabung dengan komplotan pencuri yang menggasak barang-barang berharga siapa saja yang lengah.
Anak dan istri Kusno di kampung tidak tahu menahu kalau ternyata Kusno di kota menjadi pencuri. Dan hari ini ia tertangkap oleh satuan kepolisian yang telah lama mengejar komplotannya. Dia juga tak tahu kalau ternyata komandan satuan itu ternyata adalah Herman Sudibya, sahabatnya sendiri sewaktu SD dulu. Kini ia di markas kepolisian dan tengah di interogasi.
"Tolong jangan kasih tau istri dan anakku, Her. Aku mohon." Tiba-tiba Kusno bersuara dengan nada memelas.
Herman menggeser kursinya kedepan, perlahan ia berbicara, "Jadi anak istrimu serta keluargamu di kampung tidak mengetahui apa pekerjaanmu di kota?"
Kusno hanya membalas pertanyaan Herman dengan gelengan kepala, matanya masih mengarah ke bawah, tertunduk lesu. Kedua tangannya yang di borgol masih terlihat gemetaran.
"Begini, No. Aku sungguh kaget sebenarnya ternyata ketua komplotan pencuri selama ini adalah kamu. Tapi apa boleh buat aku adalah seorang polisi sekarang, dengan berat hati dan menyesal aku harus menahanmu. Perkara nanti bagaimana anak istrimu di kampung akan aku bantu. Kamu tak usah bingung. Aku berharap nanti setelah bebas kamu bisa menjalani kehidupan yang lebih baik lagi." Herman berkata dengan lembut, bagaimanapun jahatnya Kusno selama malang melintang di dunia hitam tetaplah sahabatnya dulu. Ia tahu sebetulnya Kusno adalah anak yang baik. Hanya mungkin karena desakan ekonomi ia sampai terjebak ke lembah hitam.
"Benar kamu mau membantu anak istriku, Her?" Kini kepala Kusno di angkat. Matanya menatap Herman penuh pengharapan.
"Tentu, asal kamu mau menebus kesalahanmu dan berjanji akan menjadi lebih baik nanti setelah bebas," ujar Herman.
Mata Kusno tiba-tiba sembab, kemudian meneteskan air mata. Air mata campuran antara penyesalan dan rasa haru.
"Meski aku polisi, dan kamu adalah pencuri, kita adalah sahabat, bukan?" tukas Herman.
Lalu Herman berdiri dan menghampiri Kusno. kini, ia memeluknya. Betapa takdir sangat misterius. Kusno yang dulu di kenalnya pandai mengaji dan bercita-cita jadi Kiai kini harus mendekam di sel karena menjadi pencuri. Sedangkan Herman dulu yang nakal dan suka di nasehati Kusno karena sering mencuri mangga kini malah jadi komandan polisi.
Kusno ikut berdiri. Pelukan tangan Herman sangat berarti untuk membesarkan hatinya. Dalam hati ia berjanji, setelah bebas nanti ia akan menjadi manusia yang lebih berarti lagi.
TAMAT