Aku terlahir dengan takdir yang berbeda. Menapaki bumi dengan jejak wujud yang tak diharapkan. Aku dan seluruh keluargaku tak pernah diharapkan oleh siapa pun. Sampai akhirnya, ku temukan seseorang yang dapat menerimaku apa adanya. Dia begitu spesial.
Rania, dia gadis remaja yang baik. Namun nasib tak sebaik sifatnya. Dia tidak beruntung karena hidup dalam lingkungan masyarakat yang selalu memojokkan dirinya.
Rania dikucilkan, dibenci, dan diasingkan dengan alasan yang tidak jelas. Padahal dia seseorang yang baik, berbakti, dan religius.
"Lagi-lagi mereka berkata buruk tentangmu, Rania. Ibu mertuamu menyebar fitnah bahwa kau tak pernah mengerjakan pekerjaan rumah dengan benar," ucapku lirih.
Tak ada pilihan lain. Aku terpaksa mengatakan hal yang kudengar jelas tadi pagi. Aku muak dengan topeng dan kebohongan yang mereka gunakan di depan Rania. Mereka selalu berkata manis, namun menusuk dari belakang.
Rania tak membalas sepatah kata pun. Air matanya berlinang. Wajahnya terlihat marah namun selalu ia tahan.
"Ini salah ibuku. Jika ibuku tak memaksa pernikahan ini, aku tidak akan terjebak dengan fitnah yang selalu dibuat ibu mertuaku." Rania menutup wajahnya yang memerah. Tangannya mengepal tanda amarah telah mencapai puncak.
Aku memeluk Rania dari belakang. Dari getar tubuhnya, dapat kurasakan ada kemarahan yang sebentar lagi akan meledak. Hatinya mendidih, akal sehatnya tak berfungsi, kini Rania juga tak dapat mengontrol emosinya sendiri.
Aku memamahami perasaannya. Bahkan aku juga turut merasakan kemarahan Rania yang semakin lama semakin menusuk dada.
"AAAA ...." Rania berteriak keras. Kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri dan membenturkan kepala ke dinding kamar.
Aku tak kuasa menghentikan kekerasan yang ia lakukan. Kubiarkan dia meluapkan semua emosi yang membuncah, meski dengan menyakiti tubuhnya sendiri.
"Rania! Astaga, kenapa lagi dia?" Ibu mertua Rania datang dengan wajah panik. Cih! Aku sendiri jijik melihat wajah si tukang gosip ini. "Rania, kenapa?" Wanita paruh baya itu mencoba menghentikan Rania yang terus membenturkan kepalanya ke dinding.
Plak!
Tanpa disengaja, wajahnya terkena tamparan oleh tangan Rania yang mencoba memberontak.
Panik dan tak bisa berbuat apa-apa, mertua Rania berlari kalang kabut. Tak lama kemudian, ia datang dengan beberapa orang yang mencoba menenangkan Rania dengan memegang kedua tangan dan kakinya.
Rania terdiam dengan tubuh bergetar. Seluruh rambutnya menjuntai menutupi area wajah, namun menyisakan celah di depan salah satu matanya.
Ia menengadahkan wajah memandangi satu persatu warga yang berdiri mengelilingi dirinya.
"Rania, yang berbaju merah itu adalah orang yang suka menjelekkanmu kepada orang lain. Sedangkan yang menatapmu dari jauh dan berkacak pinggang itu adalah orang yang selama ini suka menyebar fitnah tentangmu." Rania melotot menatap orang yang ku maksud. Tatapan matanya yang memerah seketika membuat dua orang tadi bergindik ngeri. Ku bisikkan kejelekan dari dua orang yang selalu menusuknya dari belakang. Rania terkekeh. Tatapannya menajam.
"Kau!" Rania menunjuk salah satu orang yang berbaju merah. "Jangan menjelekkanku kesana kemari. Sedangkan kau sendiri sudah pernah menyantet orang karena iri." Rania berucap sembari membulatkan bola matanya. Seluruh orang yang ada di sana beralih menatap orang yang Rania tunjuk. Desas-desus tentang kebenaran yang masih samar kini diperjelas olehnya. Wanita berbaju merah sebaya mertuanya itu memang pernah meminta dukun untuk meneluh orang karena iri.
"Dan kau, jaga mulutmu. Kau wanita simpanan suami orang. Jangan sembarang memfitnahku, jika kau sendiri juga orang yang kurang ajar." Sontak semua orang beralih menatap kaget ke arah gadis berusia sepantar Rania. Dia yang sedari tadi berkacak pinggang dengan tatapan jijik, seketika terkesiap dengan ekspresi gugup. "Hahaha ... aku tau rahasia kalian semua." Senyum jahat tersungging di bibir Rania. "Lepas ... lepaskan aku!" Rania memberontak. Mencoba membebaskan kedua tangan dan kakinya yang dipegang erat oleh orang-orang.
Tiba-tiba kedua orang tua Rania datang dengan seorang pria tua berpakaian serba hitam. Pancaran aura gelap dari tubuhnya memberiku tanda bahwa ia seorang dukun.
Dukun itu menatap tajam Rania dan dibalas oleh tatapan yang tak kalah tajam. Namun entah mengapa kedua mata Rania menjadi sakit menatap lamat-lamat sang dukun.
"Keluar," ucap sang dukun kasar dengan telapak tangan menempel di dahi Rania.
Ia terkekeh sembari menatap tajam sang dukun. Seringai mengerikan muncul di salah satu sudut bibirnya yang terangkat.
"Keluar atau akan ku bakar kau." Sang dukun lantas membacakan mantra. Tubuh Rania bergetar hebat, peluhnya menetes dan muncul hawa panas yang membakar.
Rania menangis, berteriak dan memberontak. Hingga dengan sekuat tenaga, akhirnya ia bisa melepas kedua tangannya yang ditahan. Rania menjambak rambutnya kasar hingga rontok. Ibu Rania berteriak histeris tak tega melihat putrinya seperti orang gila.
Akhirnya, sang dukun lelah karena usahanya tak membuahkan hasil. Tubuh Rania pun juga melemah setelah melakukan perlawanan. Namun aku tetap tak menyerah. Ya, aku tak akan keluar dari dalam tubuh ini, sampai bisa membalas perbuatan mereka.
"Apa maumu wahai jin wanita. Keluarlah dari tubuh anak ini. Kasihan dia." Rupanya dukun itu belum menyerah juga.
"Hahahaha." Aku terkekeh dibalik tubuh Rania, hal itu juga membuat Rania otomatis terkekeh atas kendaliku. "Aku tidak akan pergi. Justru aku yang kasihan padanya. Rania selalu dijebak, dijelekkan, dan difitnah. Aku marah pada mereka semua." Ku tatap mertua Rania dan dua biang kerok itu secara bergantian. Kedua tangan Rania kembali ditahan, membuatku tidak leluasa bergerak.
Sang dukun mengangguk paham. Ia menatap bergantian pada orang yang barusan ku tatap. "Kalau kau kasihan pada anak ini, keluarlah. Jangan mengganggu tubuh Rania," titah dukun itu.
"Tidak! Aku tidak percaya kalian semua. Kalian hanya bisa menyakiti Rania. Aku tidak terima."
"Serahkan semua padaku. Aku tau siapa yang kau maksud. Aku jamin setelah ini tidak akan ada yang mengganggu Rania lagi."
Kutatap manik mata pak tua itu, kulihat ia benar-benar akan membantu. Akhirnya dengan bantuannya aku bisa keluar dari dalam tubuh Rania.
Bersamaan dengan terbebasnya diriku, tubuh Rania terkulai lemas tak sadarkan diri. Beberapa orang menggotongnya ke atas tempat tidur.
Sedangkan aku, aku berdiri di luar kamar Rania karena dukun itu ternyata telah membacakan mantra, sehingga aku tak bisa memasuki kamarnya.
"Ini air berikan pada Rania setelah dia sadar nanti. Barusan yang memasukinya adalah jin wanita yang selama ini mengikuti Rania. Dia marah karena Rania selalu mendapat perlakuan buruk dari orang-orang sekitarnya. Jin itu merasa tidak terima. Karena Rania tertutup, ia mencoba meredam amarahnya sendiri. Seiring berjalannya waktu emosi yang menumpuk akan memberi hawa negatif pada tubuhnya, sehingga mudah menarik mereka untuk masuk." Jelas sang dukun sembari menyerahkan sebotol air mineral yang telah dibacakan mantra. Aku hanya bisa mendengarnya dari luar. Sesekali dukun itu menatapku dengan artian bahwa ia telah menyampaikan apa yang ingin ku sampaikan.
"Lebih baik, dia dipindahkan dari sini. Karena khawatir Rania akan trauma." Sang dukun menoleh ke sisi mertua Rania dengan tatapan penuh arti. Pak Tua itu pun segera berlalu meninggalkan rumah mertua Rania.
•••
Sejak saat itu, Rania tak lagi tinggal di rumah mertuanya. Kini ia dan suami tinggal di rumah ibu Rania. Aku pun mengikuti kemana dia tinggal. Terlebih aku memang berasal dari sekitar tempat tinggal orang tuanya.
Aku menyaksikan pertumbuhan Rania sejak dirinya masih belia. Entah kenapa aku begitu tertarik dengannya. Dia orang terbaik di antara orang-orang di sekitarnya.
Mulai saat itulah aku selalu berada di sisi Rania hingga sekarang. Meski baginya aku tak berwujud, dan Rania tak mengetahui keberadaanku, aku tetap ingin menjaganya. Menjaga seperti seorang sahabat pada sahabatnya.
Tetapi semenjak kejadian hari itu, saat aku menerobos pertahanan tubuhnya dari makhluk dimensiku, Rania selalu bersikap aneh. Tubuhnya menegang saat aku mulai mendekat. Bahkan matanya menyapu setiap sudut ruang, seolah berusaha mencari keberadaanku yang tak terlihat.
"Siapa ini?" tanya Rania dalam hatinya, dan aku bisa mendengar itu. Bisa dikatakan tanpa sadar dia melakukan telepati. Rania terus memandang ke segala arah, namun tak berhasil melihatku yang ada di belakangnya.
"Rania, jangan takut. Ini aku." Aku tak tau dia akan mendengar telepatiku atau tidak.
"Aku? Aku siapa? Siapa kau?" Tak kusangka, Rania membalas telepatiku. Itu artinya dia mendengarnya. Aku sangat senang. Namun seketika Rania mulai memojokkan tubuh ke dinding kamar. Hawa dingin dari tubuhku menyerangnya. Memberi tanda bahwa aku berada tak jauh dari Rania.
Kini aku paham, sisa-sisa energiku dalam tubuhnya membuat Rania peka akan kehadiranku. Mungkin juga ia akan peka dengan makhluk sejenisku yang lain. Hal itu juga lah yang membuat kami bisa berkomunikasi.
Walaupun dia tetap tak dapat melihat wujudku, yang penting dia dapat merasakan keberadaanku saat aku datang. Dia, gadis spesial.
"Bisakah kita berteman, Rania?"
-TAMAT-