Pada gelap malam dengan sinar redup dari bulan dan bintang. Ditemani lampu-lampu jalan seorang pria dan gadis nampak berlari cepat. Tangan mereka menaut erat, bunyi dentuman dari pistol terus berdengung. Sejenak terasa menakutkan atau mungkin memang sangat menegangkan sebab Suga dan Lia sekarang adalah target. Target dari kegilaan ibu tiri Lia. Wanita paruh baya dengan setengah kewarasan yang terenggut setelah anak kandungnya terbunuh oleh tangannya sendiri. Awalnya ibu tiri Lia ingin membunuh Lia dengan menambahkan sianida pada kue ulang tahun milik Lia. Namun naas sebab yang memakan terlebih dahulu justru Yoona, kakak tiri Lia.
Ini mungkin terdengar seperti dongeng ketika Suga datang tepat waktu menyelamatkan Lia yang hampir saja terbunuh ketika ibu tirinya hilang kendali. Membawanya lari seperti seorang pangeran menyelamatkan snow white dari kejaran penyihir jahat. Klise, tapi mendebarkan.
Mereka berdua terus berlari, pistol itu seakan tak pernah kehabisan peluru, terus menembak acak ke arah mereka. Keduanya memilih berhenti, berlindung pada sebuah tembok setelah merasa sedikit kelelahan.
"Suga, bagaimana ini?" Keringat mengalir pada pelipisnya, Lia tak terlalu takut akan nyawa nya. Tapi disini juga ada Suga, pria itu juga sama dalam bahaya. "Kau tenang saja, kita akan terus berlari sampai ibu mu tak mampu mengejar. Kita harus tetap hidup, Lia." Jawab Suga.
Lia menggeleng pelan. "Suga, kau yang harus tetap hidup. Tinggalkan aku." Ucap Lia, tidak ingin egois. Disini yang dicari adalah Lia. Suga adalah orang luar yang kebetulan ingin ikut campur.
"Kita sudah berlari sejauh ini, jangan membuatnya sia-sia." Ujar Suga tegas namun penuh harap.
Tak berselang lama sampai bunyi ledakan peluru terdengar memekik, bahkan tembok tebal tempat mereka berlindung sedikit bergetar tatkala peluru-peluru menancap pada dinding ini. Itu artinya Ibu tiri Lia semakin dekat ke arah mereka.
"Lia, ayo lari." Suga kembali menarik tangan Lia namun Lia enggan beranjak. "Suga, aku benar-benar tidak bisa berlari lagi. Tinggalkan aku." Suga menghela napas kasar. Mau tak mau ia mengangkat tubuh Lia dengan kedua tangannya. Paksa bahkan sangat cepat hingga Lia tak mampu protes. Suga cepat berlari walaupun membawa beban. Hidup dikalangan mafia membuat mental dan fisiknya dituntut kuat.
Napasnya terengah-engah, sesekali menengok kebelakang memastikan arah peluru tidak mengarah kepada mereka. "Suga, tinggalkan aku disini, kumohon." Lia tak tahu lagi selain putus asa. Ia tak apa-apa mati asal Suga tetap hidup. "Jika tidak bisa memberikan ucapan yang bagus lebih baik diam, Lia." Sorot Suga tegas, sedikit kewalahan sebab lama-lama tangannya sedikit pegal, kebas. ditambah ia harus menghindari peluru-peluru yang lebih cepat darinya.
Hingga Suga berhenti tepat di depan dinding besar yang tak mungkin bisa dipanjat. Suga bisa, hanya saja Lia pasti kesusahan. Jadi saat Suga berbalik hendak mencari jalan lain, ia sudah tersudut dengan satu, dua, ah lima orang. Termasuk ibu tiri Lia. Mau tak mau Suga harus menghadapi mereka, walaupun tidak mungkin jika dikira-kira sebab Suga nyaris tanpa senjata. Ia hanya membawa pisau lipat kecil yang hanya bisa ia lemparkan sekali saja. Untuk membunuh satu nyawa, tapi akan sangat beresiko sebab empat nyawa lainnya tentu akan menyerang Suga.
Ia kemudian menurunkan Lia. Meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku sesaat.
"Kalian tidak bisa lari lagi." Ibu tiri Lia tersenyum sinis. "Aku sebenarnya hanya butuh Lia, tapi kau ikut campur terlalu dalam. Jadi aku tidak ada pilihan lain selain melenyapkan mu Juga." Tambahnya. Suga masih diam, menyusun strategi beberapa saat. Bergerak sedikit saja peluru dari lima pistol yang mengarah ke arah mereka tentu akan terlepas.
Jadi Suga hanya tersenyum singkat, enggan menanggapi. Tapi disini Lia benar-benar tidak bisa tenang, tanpa diduga ia maju menghalangi tubuh Suga dengan tubuhnya. "Ibu bunuh aku saja, ibu membutuhkan ku kan? Ambil saja nyawa ku, tapi lepaskan Suga. Ia tidak bersalah." Ibu Lia terkekeh hambar. "Kisah cinta, ya?"
"Kalian pikir kalian bisa bahagia setelah Yoona mati, huh?" Tersirat marah dalam kilat wanita paruh baya tersebut.
"Anda yang membunuh anak anda sendiri." Ujar Suga sembari tersenyum meremehkan.
"DIAM KAU ORANG ASING!" Dan sesuai perkiraan Suga wanita itu langsung tersulut emosi. "Ini semua karena Lia, seharusnya kau yang mati." Napas ibu Lia menderu, itu artinya ia pada puncak emosi nya.
"KALAU DISINI ADA YANG HARUS MATI ITU ADALAH ANDA." Suara Suga meninggi, ia menyibak tubuh Lia untuk berada di belakangnya.
"Kau terlalu banyak bicara." Ibu Lia sudah bersiap ingin menembak." Oh iya? Baiklah, sebentar lagi Anda tidak akan mendengar saya berbicara lagi." Suga menyeringai membuat ibu tiri Lia memicing bingung. Tetapi tersenyum kemudian. "Apa kau sudah menerima kenyataan kalau kau akan mati?" Tanya nya.
Suga menghela napas. Ia kemudian menggeleng. "Seharusnya begitu, tetapi maaf kali ini anda salah." Senyum ibu Lia perlahan meluntur berganti raut bingung.
"Apa maksud mu?"
"Anda sudah hidup terlalu lama, menyusahkan. Jadi Saya akan membantu semesta menghilangkan orang seperti anda."
"Selamat tinggal calon ibu mertua." Setelah kalimat Suga terdengar bunyi nyaring pistol tapi bukan dari ibu Lia dan anak buahnya. Melainkan dari tujuh orang yang berdiri di belakang ibu tiri Lia. Mereka adalah teman-teman Suga dan ayahnya. Itu sebabnya Suga berani menantang ibu Lia karena sudah tahu bantuan sudang datang. Tepat setelah pistol tertembak, ibu Lia dan keempat anak buahnya tumbang dengan darah mengucur dari punggung mereka.
"Ibu!" Lia mendekat cepat ke arah sang ibu yang terbaring lemah. Tipikal tokoh protagonis sejati sebab Lia masih menangisi ibunya setelah ibunya berniat membunuh Lia. Suga hanya memandangnya dari tempatnya berdiri. Tak lama keenam temannya dan juga ayahnya menghampiri Suga.
"Kau tidak apa-apa kan?" Tanya ayah Suga, Suga menggeleng pelan. "Terimakasih, kalian datang tepat waktu."
Kini Suga mendekat ke arah Lia, gadis itu masih menangis padahal jelas-jelas ibunya bahkan tak meminta maaf disisa akhir hidupnya. "Sudah Ayo." Ucap Suga, ia tak lupa merengkuh tubuh rapuh itu. Menyalurkan kehangatan sekaligus memberikan ketenangan.
"Kita sudah berhasil bertahan hidup, jangan sia-siakan dengan bersedih. Mereka yang jahat memang pantas mati." Ucap Suga sebelum menuntun Lia pergi dari sini. Akhirnya berhasil menyelamatkan sang pujaan hati dari ibu tiri. Huh, melegakan.