"Lelah sekali" gumam ku ketika sudah menyelesaikan pekerjaan ku yang menumpuk.
Hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku membereskan peralatan ku, dan merapikan isi tas ku.
Aku berjalan mendekati seorang teman yang sedang menunggu ojek online di depan kantor. Aku lihat dia sangat cemas. Aku melihat kearah pergelangan tangan ku, lebih tepatnya ke arah jam tangan berwarna ungu yang aku pakai. Sekarang sudah jam sebelas malam.
"Kakak mu masih belum datang?" tanya ku pada Ariyani teman kerja ku itu.
Ariyani menggelengkan kepalanya dan matanya sudah memerah. Aku heran ada apa dengannya, sebenarnya kerja lembur hari ini dia pun sudah menolaknya. Hanya saja atasan kami tadi sangat marah, dan bilang jika pekerjaan ini tak selesai malam ini, maka bulan depan akan ada pemotongan gaji.
Aku melihat dia gemetaran, lalu aku bertanya padanya.
"Kenapa kamu terlihat sangat cemas? jika kakak mu belum menjemput mu, aku antar saja ya kerumah mu!"
Bukannya senang mata Ariyani malah memelototi aku. Dia bilang tidak berani pulang bersama ku, dengan kakaknya saja dia sering mendapati hal-hal aneh saat melewati jalan sepi di dekat rumahnya.
Aku terkekeh, tapi dia malah memukul lengan ku.
"Jangan tertawa! aku tidak bohong, jalanan dekat rumah ku itu jika sudah lepas magrib tidak ada yang berani melewatinya!" ucapnya mengejutkan aku.
Aku diam sebentar, dan memikirkan ucapan Ariyani. Aku tidak bilang aku tidak percaya pada hal semacam itu, tapi aku ingin berfikir rasional saja.
Aku merangkul pundak Ariyani, dan tersenyum padanya.
"Tenang saja, ada aku!" ucapku yang sebenarnya juga sedikit ragu.
Kami pun menuju ke area parkir dan mulai mengeluarkan motor matic ku dari parkiran. Aku meminjam helm milik satpam kantor untuk Ariyani.
Satpam itu pulangnya masih besok pagi, pasti aku kembalikan besok pagi.
Dengan kecepatan sedang aku dan Ariyani melewati jalanan sambil mengobrol ringan. Aku bertanya padanya apa pekerjaan kakaknya dan dia bilang kakaknya adalah seorang yang bekerja di pom bensin.
"Artinya kakak mu sering pulang malam kan? Dia saja tidak takut melewati jalan itu!" ucapku pada Ariyani.
"Diam Noer, kamu terlalu cerewet. Jangan bicara sembarangan kita sudah memasuki area jalan sepi. Diam lah dan banyak berdoa saja dalam hati!" ucapnya.
Wah, aku merasa aku sudah melakukan kesalahan, aku diceramahi.
Drttt! drrt!
Tiba-tiba saja mesin motorku mati, aku melihat sebuah bangku taman di tepi jalan. Aku turun dari motorku, Ariyani juga turun.
"Kenapa?" tanya Ariyani padaku.
"Seperti nya mogok! tapi bukan habis bensin, aku sudah mengisinya full tadi pagi!" jawab ku.
Aku bisa melihat dengan jelas wajah Ariyani yang ketakutan.
"Aku kan sudah bilang, jaga bicara mu saat melewati jalan ini!" ucapnya menyalahkan aku.
"Maaf, ayo kita duduk disana. Aku akan menelpon pacar ku!" ucap ku.
"Jadi kamu tidak tahu bagaimana membenarkan motor mu? tanya nya dengan suara gemetaran.
Aku mengangkat bahuku sekilas lalu aku duduk di bangku taman itu. Baru aku akan menempelkan bokong ke bangku itu, Ariyani berteriak.
"Jangan duduk disitu!" teriak Ariyani.
Astaga, hampir saja ponsel yang ku pegang terlepas dari tangan ku. Aku kembali berdiri, dan menghela nafasku.
Benar saja bulu kuduk ku terasa berdiri, padahal aku memakai jaket saat ini.
Ariyani terus komat-kamit, dia tidak berhenti membaca doa apa saja yang dia bisa.
Dan lebih parah lagi, tiba-tiba sinyal di ponselku hilang lenyap entah di telan apa.
"Bagaimana ini?" gumam ku.
"Bagaimana apanya? tanya Ariyani makin kesal.
"Tidak ada sinyal!" jawab ku pelan.
Srek... srek...
Mataku dan mata Ariyani menoleh bersamaan ke arah semak yang sedari tadi terus mengeluarkan suara aneh.
Ariyani bahkan sudah berkaca-kaca, sungguh aku juga tidak dapat menutupi bahwa kaki ku saat ini gemetaran dan tangan ku juga dingin.
Ariyani menggenggam tangan ku. Dia mengunci motor ku dan mencabut kuncinya.
Srek... srekk...
Ariyani menarik tangan ku dan mengajak ku berlari sekencang-kencangnya dari tempat itu. Kami berlari secepat kami bisa.
Sekitar beberapa ratus meter dari jalan sepi itu, aku dan Ariyani berhenti sebentar.
"Aku sudah bilang kan, kita sebaiknya menunggu kakak ku!" protesnya padaku.
"Sebenarnya ada apa sih disana, aku merinding!" ucap ku jujur pada Ariyani.
"Sudah kubilang, diam. Disana dulu ada.."
Srek.. srek...
Suara itu kembali mendekati kami, Ariyani tidak melanjutkan perkataannya dan kembali menarik tangan ku berlari.
"Astaga, bagaimana ini?" batin ku.