Gadis itu sedang khusyuk membaca buku-buku pelajaran. Sesekali meregangkan tubuhnya saat merasa pegal. Menghela napas kasar ketika mendapati waktu seperti bergerak lambat. Ayolah, Zoe sudah bosan.
Zoe, anak gadis yang kebetulan mendapatkan orang tua protektif. Zoe bahkan sampai home schooling sebab kedua orang tua nya tak mau Zoe bergaul dengan dunia luar, dengan alasan dunia luar terlalu berbahaya. Kedua orang tua Zoe adalah pembisnis besar, karena itulah banyak bahaya mengintai terutama bagi Zoe. Dulu waktu kecil ketika Zoe masih bisa bersekolah diluar ia pernah hampir diculik padahal ia selalu dikawal ketat oleh dua bodyguard. Sejak saat itu Zoe benar-benar seperti dipenjara. Ia tak boleh keluar rumah sekalipun, kalaupun keluar itu hanya ditemani oleh kedua orang tua nya saja. Itupun dengan pengawalan ketat.
Zoe benar-benar bingung harus melakukan apa sekarang. Berdiam diri di rumah membuatnya benar-benar akan gila. Meskipun demi kenyamanan Zoe orang tua nya memberikan banyak fasilitas yang bisa dilakukan di dalam rumah, tetapi tetap saja membosankan. Zoe perlahan berjalan menuju balkon. Hanya dari sini Zoe bisa menikmati dunia luar. Terbatas, hanya atap-atap rumah besar yang ia lihat sebab rumahnya terletak di perumahan dengan penjagaan privasi paling ketat. Tempat ini hanya terisi 50 rumah-rumah besar. Pemiliknya pun dari kalangan atas.
Dan lagi-lagi Zoe benar-benar bosan. Tak lama kemudian ia kembali lagi ke dalam. Sesaat setelah menutup pintu yang terbuat dari kaca tebal itu, Zoe dikejutkan dengan sesuatu yang mengenai pintu kaca nya itu. Zoe berbalik mendapati batu kecil tergeletak di lantai, ia cepat-cepat bergerak kembali menuju balkon.
Menatap kebawah dimana seseorang tengah berdiri dengan senyuman cerah, mengenakan topi dan melambai ke arah Zoe dengan tangan membawa ketapel. Tak lama ia pergi ke ujung, mengambil sebuah tangga lalu naik ke tempat Zoe berada.
Tepat saat pria itu telah mendarat sempurna pada balkon Zoe, Zoe perlahan mundur. Kebingungan dengan pria asing yang tiba-tiba datang entah darimana. Dan bagaimana bisa pria ini menembus keamanan rumah Zoe yang bahkan setara keamanan kantor intelegensi.
"S-siapa kau?" Tanya Zoe gugup, ia perlahan mundur sampai menabrak dinding kaca di belakangnya. Pria itu mengambil sesuatu di dalam saku nya. Lalu menyerahkannya kepada Zoe. "Patner mencuri mangga mu, Kau lupa dengan ku?" Zoe terdiam, memandang ketapel lama dengan ukuran berbentuk huruf 'Zoe' Itu ketapel yang sama yang ia gunakan saat kecil. Untuk mengambil mangga di belakang rumahnya. Dulu ia memiliki patner, Zoe selalu mencuri mangga nya bersama satu orang.
"Jungkook?" Zoe tersenyum tidak percaya. Ia perlahan mendekat. Memeriksa tubuh yang lebih besar darinya itu. Mengusap lengan lalu wajahnya seolah memastikan ini bukan pencuri. "Kau benar-benar Jungkook?" Tanya Zoe. Pria ini dulu tingginya sama seperti Zoe, berbeda satu tahun dari Zoe. Pria itu dulu sangat lucu, tapi sekarang benar-benar manly. Tubuhnya pas, tinggi dan berotot. Sangat berbeda dengan Jungkook yang dulu masih ingusan.
"Iya memangnya siapa lagi?" Jungkook mendengus ketika Zoe tak berhenti mengusap pipinya. "Berhenti Zoe, aku benar Jungkook kok." Ucap Jungkook lagi. "Wah, kau tumbuh cepat sekali." Ucap Zoe dengan mengusap ujung matanya, seolah terharu.
Jungkook memutar bola matanya malas. "Kau kemana saja selama ini? Dan bagaimana kau bisa masuk kemari?" Itulah yang Zoe pikirkan selama ini. Jungkook mengedikkan bahu nya. "Aku keluar negeri, bersekolah. Aku kembali setelah lulus. Dan bagaimana aku bisa masuk kemari, itu rahasia perusahaan." Jungkook terkekeh. Ia bersandar pada pembatas balkon.
Keduanya saling diam untuk beberapa saat. Hingga Jungkook mengamati Zoe dari atas sampai bawah. Entah kenapa dulu dan sekarang berbeda. Ditatap Jungkook terasa sangat mendebarkan kali ini. Mungkin karena mereka sudah lama tidak bertemu padahal rumah mereka bersebelahan.
"Zoe, ingin keluar dengan ku?" Zoe tertegun, ia ingin mengangguk tetapi satu hal membuatnya akhirnya menggeleng. "Kenapa?" Tanya Jungkook.
"Aku lelah." Ucap Zoe hendak berbalik menuju kamarnya.
"Bukan karena kau takut ketahuan?" Tanya Jungkook membuat langkah Zoe terhenti. Ia kembali berbalik. Memandang Jungkook sekilas. "Semuanya susah Jung, aku tidak ingin kau dibunuh orang tua ku karena ketahuan mengajakku keluar." Zoe merasa seperti Rapunzel yang dikurung pada sebuah kastil. Tetapi dengan jaman dan kronologi yang berbeda.
"Tidak susah, kau hanya perlu turun dan diam. Mudah." Ucap Jungkook dengan melipat tangan di depan dada. "Jungkook, tidak semudah itu." Jungkook tak peduli, ia lantas mendekat ke arah Zoe, melepas topi nya lalu memakainya di kepala Zoe. Ia juga melepas jaketnya memakainya untuk Zoe. Tak lupa mengambil masker hitam dari saku nya.
"Aku kesini dengan persiapan, percayalah padaku. Aku ingin kau melihat dunia luar. Jadi, ayo keluar bersama ku." Ucap Jungkook. Zoe kemudian menatap ke arah Jungkook dan kamarnya secara bergantian. Tak lama Zoe perlahan masuk ke dalam kamar membuat Jungkook mendesah kecewa.
"Jungkook bantu aku memindahkan sofa." Jungkook mengerjap berulang kali. "Apa yang kau lihat? Ayo pindahkan sofa ini untuk menahan pintu. Agar tidak ada yang bisa masuk selagi kita pergi." Sejak detik itu senyum Jungkook terpatri lebar. Ia berjalan dengan riang menuju Zoe yang sedang berusaha menggeser sofa besar yang akan ia gunakan untuk menahan pintu. Sebenarnya sudah terkunci, tapi ada kunci cadangan diluar, bisa saja dibuka saat Zoe belum kembali. Jadi Zoe memiliki inisiatif memindahkan sofa, dibantu Jungkook.
Setelah selesai keduanya keluar sesuai yang Jungkook rencanakan. Tepat dan penuh perhitungan sehingga mereka kini sudah masuk dalam mobil Jungkook. Tentunya setelah melewati waktu-waktu mendebarkan melewati beberapa penjaga.
"Jungkook bagaimana dengan CCTV nya?" Tanya Zoe. Jungkook mengendarai mobilnya dengan santai. "Aku hacker, tenang saja." Hanya itu yang keluar dari mulut Jungkook. Kelewat santai seolah tak takut jika ketahuan nyawa nya bisa terancam. Tak peduli, ia terus mengemudi ke tempat yang sudah ia rencanakan jauh-jauh hari.
"Cukup nikmatilah, jangan terlalu banyak berfikir." Ucap Jungkook lagi.
Zoe pun hanya duduk pasrah mempercayakan semuanya pada Jungkook. Pada akhirnya memilih melepaskan beban, akhirnya ia bisa menghirup udara bebas walaupun hanya sebentar, bersama Jungkook tentunya.