Sudah enam bulan lamanya Shena terbaring koma. Selang-selang medis terpasang di hampir sekujur tubuhnya. Bunyi detektor jantung terus terdengar teratur. Ruangan ini begitu sunyi sebab Taehyung masih setia diam mengamati wajah pucat yang semakin terlihat kurus itu.
Pada akhirnya Taehyung kembali pada kegiatan rutinnya, hampir selalu sama. Ia memakai stetoskopnya, bersiap memeriksa Shena. Pria dengan balutan jas putih itu tetap saja rutin memeriksa Shena meskipun tidak ada progres dari gadis itu setelah kecelakaan enam bulan lalu.
Hingga pada sebuah malam dimana Taehyung terbangun di tengah malam sebab dering telepon yang berbunyi nyaring membuatnya terkejut. Ia lantas mengambil ponselnya, mengangkat dengan perasaan was-was. Dan benar saja firasatnya.
Ia lantas bergegas, dengan piyama tidur masih melekat berlapis jaket tebal, Taehyung berjalan di lorong rumah sakit. Wajahnya serius, terbesit segala asumsi dalam benaknya. Hingga ia sampai di sebuah ruangan. Ruangan yang selalu ia kunjungi setiap saat. Ruangan yang selalu menjadi saksi bisu ketika Taehyung berbicara sendiri. Sebuah ruangan dimana selalu Taehyung datangi di sela kerja nya. Taehyung kini berada di dalamnya, dengan perasaan kalang kabut. Bercampur aduk ketika melihat beberapa orang tengah panik berusaha melakukan yang mereka bisa.
"Dokter Taehyung, kau sudah sampai?" Taehyung mengangguk, ia mengambil stetoskop yang diserahkan salah seorang perawat. Wajahnya tak lagi panik, sekarang lebih dari panik. Taehyung benar-benar kacau ketika bunyi jantung Shena terdengar lemah dari stetoskop.
"Siapkan alat kejut jantung." Perintahnya, kali ini Taehyung menyerahkan semua pada perawat yang bersiap-siap akan melakukan apa yang Taehyung perintahkan. Sementara Taehyung masih disisi Shena, gadis yang ia cintai selama ini. Taehyung bahkan belum sempat menyatakan cintanya tapi Shena sudah terbaring koma.
Taehyung menggenggam erat tangan Shena, berharap Shena mampu merasakan hangatnya tubuh Taehyung. Gadis itu nyaris tak ada progres, hanya gerakan spontan ketika alat kejut jantung itu ditempelkan pada tubuh Shena.
"Shena, bangunlah!" Ucap Taehyung, ia terus merancau seperti itu. Di sudut ruangan orang tua Shena juga sama cemasnya dengan Taehyung. Ibunya sudah berlinang air mata pada dekapan sang ayah. Benar-benar takut.
"Shena, bangun!" Ucap Taehyung lagi dan lagi. Terus seperti itu. Dan untuk kedua kalinya setelah alat kejut jantung itu menempel pada tubuh Shena ia kembali bergerak seolah tertarik ke atas.
Masih dengan menggenggam tangan Shena, Taehyung sedikit mendekatkan wajahnya pada telinga Shena, berbisik sesuatu sebelum alat kejut jantung itu ditempelkan untuk yang ketiga kalinya.
Dan sebuah keajaiban ketika detektor jantung kembali berbunyi teratur, semua yang di ruangan bernapas lega termasuk Taehyung. Ia menstabilkan napasnya, Shena sudah berhasil melewati masa kritisnya.
Semua kembali merasa takjub ketika kelopak pucat itu perlahan terbuka. Dengan gerakan kaku karena hampir enam bulan tidak terbuka. Mengerjap perlahan menyesuaikan cahaya. Hingga bibir tipis itu sedikit terbuka ketika melihat Taehyung pertama kali setelah sekian lama.
"Taehyung?" Ucapnya lemah, Shena memandang sayu satu persatu yang di ruangan. Sementara Taehyung benar-benar kehilangan kata begitu melihat Shena membuka kedua matanya.
"Iya Shena, aku disini, kau butuh sesuatu?" Tanya Taehyung. Cepat. Orang tua Shena sama senangnya, mereka bahkan terharu melihat anaknya masih hidup setelah beberapa diagnosa yang mengatakan Shena tidak memiliki harapan untuk hidup. Beberapa saat kemudian mereka keluar, memberikan ruang untuk Taehyung dan Shena.
"Aku ingin minum."Ucap Shena, tubuhnya lemah sekali. Jadi dengan segera Taehyung mengambil air di samping nakas, membantu Shena untuk minum. Kini dapat Taehyung dengar kembali suara parau dari bibir pucat itu. Taehyung tak tahu bagaimana caranya mendeskripsikan kebahagiannya.
"Taehyung, aku mau." Ucapnya, Taehyung sedikit bingung dengan perkataan ambigu yang Shena lontarkan.
"Iya?" Tanya Taehyung sebab tak tahu maksud dari Shena.
"Aku mau menerima permintaan mu." Taehyung terdiam, tetapi ia mulai paham maksud Shena. Ia kemudian menatap Shena lekat. "Kau mendengar ku?" Shena mengangguk pelan. "Kau yakin?" Shena kembali mengangguk, jadi setelahnya Taehyung lantas memeluk tubuh rapuh itu pelan, takut menyakitinya.
"Aku tidak tahu ini kebetulan atau keajaiban, tapi aku merasa perlu bangun setelah mendengar kau berbicara." Ucap Shena, tadinya ia sedang berada pada tempat yang Shena tak tahu dimana. Sedang duduk pada gumpalan awan yang lembut, yang perlahan membuatnya mengantuk. Seharusnya Shena langsung tertidur sampai sebuah suara menggema membuat Shena tersadar.
Dan kalimat Taehyung yang mampu membuat Shena akhirnya memilih berjuang melawan kematian adalah 'Please, life with Me'