Namanya juga fangril. Kerjaannya pasti ngehalu, ngehalu, dan ngehalu. Dan melakukan segala sesuatu untuk memperlancar kehaluannya, dengan nonton drakor, baca novel, nulis kehaluannya menjadi sebuah cerita, beli barang yang sama’an sama bias. Meskipun kw yang penting sama.
Ok,
Ok,
Ok, kita kenalan dulu. Panggil aja saya Vivi.
No,
No,
No,
Bukan anjingnya Sehun ok, tapi kalo di suruh tuker nasib sama tu anjing boleh juga. Nggak deng, Cuma bercanda ya Allah. Ok kita sebagai sesama fangril berbagi cerita dulu.
Selama jadi fans udah berapa kali oleng?
Berapa jumblah bias kalian?
Udah habis berapa duit buat nafakahin idola kalian?
Berapa album yang udah kalian beli?
Udah beli lighstick?
Hah?
Oh, iya iya sebagai sesama fangril modal kuota saya paham kok. Boro-boro mau beli gituan duit jajan aja goceng. Bisa kebeli barang sama merchandise kw aja untung-untungan.
Wey kapan ceritanya? Kebanyakan bacot amat.
Iya
Iya
Sabar ini juga udah mau cerita woy elah.
1
2
3
Pada dasarnya kita ini hanyahlah seorang fans yang mengharapkan sesuatu yang tidak seharusnya kita harapkan. Ya, tertampar kenyataan. Bukankah sudah jelas jika di lihat dari berbagai sisi pun kita tidak akan pernah bisa berharap lebih.
Jarak, mungkin kita masih bisa menempuh jarak itu dengan perjalanan.
Tapi perasaan.
Tuhan yang tak sama?. Tidak kita tidak bisa melawan ini, mau bagaimanapun jika sudah tidak di takdirkan maka tak akan ada yang bisa melawan. Cukup melihat dari sebuah layar persegi panjang bahwa dia sedang bahagia maka kita juga akan ikut senang bukan?. Mereka hadir di masa remaja kita mengisi hari yang sebelumnya hampa.
Nama ku Alisha sebut saja Icha, seorang gadis yang akan menginjak usia dewasa. Dan meyelesaikan sekolah. Namun, masih belum tau akan melakukan apa. Jika aku bisa menulis garis takdir ku sendiri. Aku ingin menjadi orang baik, mendapatkan pekerjaan yang bagus, membahagiakan orang tuaku, berkeliling dunia, bertemu dengan idola ku, Jaemin. Barulah menikah dengan jodohku.
Mudah jika hanya di ketik dan pikirkan, namun untuk di capai? Sulit memang. Tapi, sulit bukan berarti tidak bisa kan. Selama ada Tuhan, tekat, do’a dan ambisi maka tidak ada yang tidak mungkin.
Terduduk di bangku kelas sembari menumpu dagu di atas tangan yang saling bertaut. Memikirkan apa yang akan di lakukan di masa depan.
“Apa yang sedang kamu pikir kan?.” Kata teman ku duduk di samping bangku yang berada di samping ku. Anna.
“Jaemin.”
Memutar bola mata malas dia mendengus. ‘Halu lagi,”
“Biarin. Halu dulu sapa tau kesampaian.”
Walaupun berkata begitu tetap saja aku tak pernah berharap lebih karena bagaimanapun aku hanyalah seorang fans.
“Bentar lagi ujian kelulusan. Mau kuliah atau apa?.” Tanya Anna.
“Belajar bahasa korea. Abis itu kerja ke sana.”
“Biar ketemu Jaemin gitu?.” Dia memicing.
“Iyalah sapa tau, lagi iseng jalan trotoar ketemu Jaemin lagi jalan sendirian terus aku pura-pura pingsan, terus di tolongin terus kenalan. tukeran no hp terus jatuh cinta-
“Terus keciduk dispatch.”
Anna memotong ucapan ku dan melanjutkannya dengan nada yang di tinggikan. Merasa kesal mungkin karena setiap hari selalu menjadi pendengar segala haluan ku. “Nah gitu.”
“Fuck, dasar halu.”
“It’s my right. Btw kemaren jam 4 mereka comeback.” Kata ku dengan sumringah dan mengajak Anna menonton music video mereka.
Kita membicarakan berbagai hal mengenai bias masing-masing, dan tentang barang yang akan di beli. Menggunakan sisa uang saku tentu saja.
•
•
•
•
Beberapa tahun telah berlalu kini aku sudah menjadi seorang wanita dewasa. Betah akan status single meski orang tua menyuruh ku menikah, mau bagaimana lagi untuk saat ini aku hanya ingin membahagiakan diri ku sendiri. Bukannya ke korea aku malah tersesat di negri kangguru menjadi seorang mahasiswa sekaligus bekerja. Takdir tidak ada yang tau.
Sekarang tengah berjalan dengan Hans di kota seoul. Niat ku untuk mengikuti acara fansigh di esok hari. Bagaimana aku bisa ada di sini? Tentu saja bisa aku sudah mencari uang sendiri, kebutuhan orang tua ku sudah terpenuhi dan sekarang setidaknya aku bisa bertemu Jaemin sekali di sela kesibukan ku. Hanya seminggu, kemudian aku akan ke Indonesia dan kembali ke Australia untuk bekerja.
Gemerlap kota seoul menjadi pemandangan di malam ini.
“Hans kenapa kau mau ikut aku ke sini?.” Tanya ku pada Hans. (anggap aja pake bahasa inggris).
Hans adalah pria berdarah Turki-Jerman. Beragama Islam dan tinggal di Australia bersama orang tuanya, kami sudah saling mengenal saat duduk di bangku kuliah. Bahkan tau aku seorang fangril. Orang tuanya sangat baik pada ku.
Hans menggaruk tengkuknya.”Menemani mu. bukankah ini pertama kalinya kau datang ke seoul?.”
Aku mengangguk. “Hanya itu saja?.”
“Aku juga mau jalan-jalan.”
Aku mengangguk lalu kembali berjalan. Namun, baru beberapa langkah aku berjalan Hans memanggil ku dengan nama asli ku.
“Alisha.” Aku menoleh mendapati pria jangkung itu Nampak gugup. Beberapa kali menghela nafas, bulu mata lentiknya beberpakali terkatup. “Jika aku melamarmu. Apa kau akan menerima ku?”
Aku terdiam beberapa saat, berusaha mencerna kata yang baru terucap dari belah bibir Hans. Jika di pikir-pikir Hans pria yang baik, dia selalu membantuku saat pertama kali datang ke negri kangguru. Orang tua kami sudah saling mengenal, lagi pula sudah cukup waktu bersenang-senang untuk ku, tidak ada salanya membangun keluarga kecil dengan pria yang mencintai ku. Juga memiliki Tuhan yang sama. Allah swt.
“Kenapa tidak?” kata ku.
Pria itu melangkah mendekat kemudian memeluk ku erat. “Terima kasih.” Ucapnya.
.
.
.
.
Aku duduk di salah satu bangku paling depan pojok kiri, yang memang di sediakan untuk penggemar yang akan mengikuti fansigh. Hans, pria itu menemani ku dan sedang menunggu di luar pembatas. Acaranya di adakan di mall jadi orang yang berlalu lalang bisa melihat. Jujur gugup menyerangku karena ini pertama kali aku menemui pria yang selama ini menemani masa remaja ku secara tidak langsung.
Berbekal tas yang berisi barang-barang penting, album untuk di tanda tangan, dan amplop biru berisi secarik kertas yang telah ku siapkan semalam. Aku berdiri ketika nama ku di panggil.
Setrelah Mark, Renjun, Jeno, Haechan, kini aku berdiri di depan seorang Na Jaemin. Tak tau malu memang, aku yang seperti ini pernah berharap pada pria tampan seperti dia. Bukannya berlebihan tapi perlahan air mata turun dari sudut mata ku saat kedua tangan kami bertaut.
“Ah,,, kenapa kamu menangis.” Tanyanya dengan nada yang manis. Ciri khas seorang Na Jaemin.
“Kamu tampan,” suara ku bergetar. Bahkan badan ku sangat lemas sekarang.
Pria itu terkekeh, menggenggam tangan ku . “Jangan menangis.” Katanya menguatkan genggaman kami.
Tau waktu ku dan Jaemin tak lama lagi, aku melepas genggaman kami dan memberikan amplop yang sudah ku siapkan sedari tadi. “Na, hiduplah dengan baik. Jangan sakit, kamu sudah melakukan yang terbaik selama ini.” Kata ku mengambil album yang di sodorkan Jaemin setelah di tanda tangani, lalu berpindah posisi di depan Chenle.
Na Jaemin menatap ku dalam kemudian menyimpan amplop itu di sakunya tanpa di berikan kepada penjaga di belakangnya. Setelah selsai fansigh dan sempat mengambil foto bersama, aku pun keluar dan pulang bersama Hans dengan tangan saling bertaut.
.
.
.
.
Jaemin menatap dalam mata penggemar di depannya, memang ini pertama kalinya mereka bertemu. Tapi dia bisa melihat ketulusan di dalam diri gadis ini. Matanya masih melihat kea rah gadis itu bahkan saat wanita itu sudah berdiri di depan Jisung.
Sungguh matanya masih belum bisa lepas dari gadis itu, bahkan sampai acara selesai. Ia mendapati gadis itu bergandengan tangan dengan seorang pria bule, keluar dari keramaian mall.
“Dia sudah mendapatkan pengganti ku rupanya.” Kata Jaemin dengan senyum tulus kemudian menatap amplop biru di tangannya.
Dari tempat acara mereka pulang ke dorm. Jaemin duduk di bangku sambil melihat berbagai hadiah dari penggemar yang ia dapatkan. Namun, perhatiannya tertuju pada amplop yang sedari siang ia pegang sendiri. Di bukannya dan ia dapati secarik kertas cantik berwarna ungu.
From : Alisha
To : Na Jaemin
Thank you for staying with me asa teenager. Before you know it, you’re my go-to. this is our first meeting. Today I’ll always remember. Na stay healthy, Always happy. I will always love you, I hope you find you’re happiness too. I’m basically just a fan who’ll always support you.
.
.
.
.
END
Pada dasarnya kita hanya seorang fans yang tidak berhak untuk berharap lebih. ingat pada akhirnya kita akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya : )
Like, komen, biar berkah. bye bye para fangril kang halu 😘🙏