Judul: Sepasang Doa
Karya: Sriningsih Hutomo
Malam tak sempat munculkan kerlip bintang dan terangnya rembulan, karena mendung menyeringai dan menghabiskannya dengan derai hujan. Aku kembali pada ingatan setahun yang lalu, namun masih hangat dalam ingatanku, ketika aku bersembunyi dibalik tembok sebuah ruko toko cake, menutupi diriku dengan buku dan majalah yang saat itu sedang ku pegang sepulang kuliah. Gerimis yang makin deras seakan di kirim Tuhan, karena telah menjadi dewa penolong pada malam itu.
Aku tak bisa berkata-kata ketika sosok yang kujumpai adalah dua anak manusia yang saat itu kusayangi lebih dari siapapun. Femi, seorang sahabat bahkan saudara bagiku sedari kecil, sejak kita sama-sama masih di panti asuhan yang sama, dan besar bersama hingga pada bangku kelas VII kita terpisah oleh jarak, karena ia diadopsi keluar kota Jakarta dan aku tetap berada di Jakarta karena kebetulan aku diadopsi oleh keluarga yang tinggal di Jakarta. Kami berdua bertemu kembali ketika Femi kuliah di kampus yang sama denganku di Jakarta. Malam itu, betapa malam yang menyakitkan, Femi terlihat menggandeng pria yang tak asing bagiku. Bram, "iya dia adalah Bram". Lelaki yang menjadi kekasihku semenjak semester 1 hingga detik terakhir aku akan lulus S-1. Perkenalan mereka baru seumur jagung, tepatnya ketika Femi ku kenalkan dengan Bram karena urusan magang di perusahaan tempat Bram bekerja. Sungguh sebuah kesia-siaan untuk segala kasih yang selama ini ku jalin kepada ke duanya. Dan saat itu juga, ku putuskan untuk pergi dari kehidupan mereka berdua dengan mengganti nomer hand phone dan tak memberikan kabar sama sekali karena kebetulan aku pun magang di Bandung.
Hari ini aku kembali ke Jakarta setelah hampir 2 tahun berada di Bandung, sesekali ke Jakarta hanya sehari atau dua hari mengunjungi ibu dan bapak. Aku kembali dengan hati yang hampir sembuh serta bekal hidup dan prestasi yang kudapatkan mungkin tak semua orang mendapatkannya. Aku wisuda dengan predikat Cumlaude dan seminggu lagi aku akan mulai bekerja. Nasib baik memihak ku, aku mendapat pekerjaan disebuah perusahan besar dibidang pertambangan batu bara sebagai seorang purchasing.
Sore itu, telepon rumah berdering dan tak terpikirkan olehku, karena aku baru kembali ke Jakarta. Femi, ia menghubungiku setelah mendapatkan kabar dari seorang teman bahwa aku telah kembali. Setelah kekakuan yang terjadi pada awal perbincangan kami, namun Femi memberanikan diri berucap maaf malam itu kepadaku, ia menceritakan tentang apa yang telah terjadi pada suaminya.
Bram terlibat sebuah kecelakaan dan kini harus berada di kursi roda, sedangkan Femi harus bekerja sendiri menghidupi keluarga disebuah kafe siap saji di Jakarta. Perbincangan kami diakhiri dengan ajakan dia untuk mampir ke rumah mereka, rumah Bram beserta almarhum ibunya yang dahulu sering aku kunjungi.
Hampir sebulan di Jakarta, aku tak kunjung memberanikan diri mengunjungi Bram, sampai pada sebuah pesan WhatsApp dari Femi yang menagih janji kedatanganku. Hari itu sepulang kerja aku menyempatkan diri untuk mampir melihat kondisi Bram. Sengaja mengambil waktu hampir magrib karena aku mengira Femi telah selesai bekerja, namun sepertinya Femi sengaja memberikan waktu kami berdua untuk bertemu.
Bram membukakan pintu ketika mendengar bel kedatanganku. Percakapan kami awalnya terasa kaku, Ia lebih banyak diam dan selalu memberi kesempatan untuk aku memulai pembicaraan. Tak ada satupun perbincangan yang menjurus pada kisah masa lalu kami berdua, hanya satu kalimat Bram diakhir perbincangan yang sempat ia ucapkan sembari menunduk untuk menyembunyikan tangisnya, Ia mengucapkan permohonan maaf padaku. Aku berusaha tidak terhanyut pada suasana hatiku yang saat itu pun ikut berkecamuk penuh sedih dan marah. Namun melihat kondisi Bram aku tak kuasa berucap kata yang akan membuatnya sedih. Azan Magrib yang berkumandang, aku mengambil kesempatan untuk berpamitan dengan Bram. Ia mengantarkan sampai di pintu dan memintaku untuk menutup pagar karena ia tak bisa menggunakan kursi roda hingga keluar rumah.
Aku bergegas memasuki mobil dan membiarkan diriku menangis dengan sekencang- kencangnya, kemudian seraya menyematkan doa semoga ia akan baik-baik saja. Bagaimanapun penghianatan nya padaku namun ia tetap menjadi orang yang pernah ku sayangi, Ia pasti memiliki alasan sendiri mengapa harus memilih meninggalkanku dan memilih sahabatku. Mobilku melaju kencang mengejar waktu sholat magrib.
Sepulang kunjungan itu, sesekali terlintas aku merindukan kekonyolan yang pernah singgah sekejap mata ketika masih bersama Bram. Bukan bermaksud merindukan lelaki orang lain, hanya saja mengenang mahluk yang sudah berjasa di hidupku dahulu, bagaimana ia ikut andil dalam hari-hariku, menjadi teman belajar sekaligus kekasih bagiku. Aku tidak pernah lupa untuk tersenyum saat mengingatnya. Meski hanya durasi singkat bertemu dengannya namun dapat menciptakan durasi panjang untuk mengenang 4 tahun kebersamaan, walau akhirnya ia meninggalkanku namun mengajarkan kedewasaan padaku. Bram pergi dengan meninggalkan luka yang Ia bungkus untuk mematangkan sikap kanak-kanakku.
Aku tidak mendendam, tidak membenci, dan tidak juga menghakimi mereka berdua. Aku hanya mencoba merangkai kata- kataku menjadi kalimat yang kemudian melahirkan paragraf yang berbau tentang sepasang doa dua anak manusia, entah doa siapa yang Tuhan kabulkan atas takdir cinta segitiga antara aku, Bram dan Femi
Sesungguhnya aku masih belum mengerti dengan proses yang sedang Tuhan sajikan untuk kami bertiga , scenario ini meraba banyak pertanyaan, dan dihiasi oleh banyak ajaran.
"Terimakasih untuk Bram yang telah sudi hadir memberiku rasa lalu, walau meninggalkan rasa kecewa, namun banyak pelajaran hidup dan kekuatan hati yang kumiliki".
Kini, di tengah-tengah proses yang sedang kunikmati. Melahirkan keyakinan baru, memilih pergi dari mereka kala itu adalah jalan untukku dan jalan untuk mereka berdua. Walaupun tak muda kala itu aku membiarkan rasa pedih tersimpan rapi pada tempatnya hingga kini Tuhan hadirkan takdir yang Tuhan gariskan untuk mereka berdua dan untukku.
Melihat Bram membuat aku mengerti, bahwa kita adalah sepasang doa yang belum Tuhan amini, begitupula ketika Aku melihat Femi mungkin ada doa cinta yang Tuhan kabulkan.
Semoga Tuhan mengamini takdirku kini, menunggu seseorang yang iklas mencintaiku dan saat ini aku memutuskan untuk menikmati rasa sambil berbenah diri, membiarkan rasa ini untuk beristirahat bergulat dengan perasaan cinta masa lalu, biarkan semesta yang menjawab.
Mengikhlaskan kisah bersama Bram dan Femi hilang termakan waktu. Aku yang kini menyediakan hati untuk selalu berbenah diri. Meski telah merasakan kepedihan, namun aku telah memaafkan dan mengiklaskan. Bukan karena tak menyakitkan, namun karena Aku yakin akan ada doa selanjutnya yang dijawab Tuhan. Karena menyimpan dendam dihati sama saja halnya aku mengasah belati untuk di tusuk kejantung sendiri.Aku tidak bisa memesan takdir seperti yang ku mau. Dengan siapa kelak aku menghabiskan sisa usiaku, tidak ada yang tau takdir.
Hari ini Aku bersama Viktor , seorang dokter sekaligus teman berbagi cerita selama aku masih di Bandung, setelah selesai Koas ia ditempatkan disalah satu rumah sakit di Jakarta tempat Bram dioperasi, Ia mengalami pendarahan otak ketika jatuh dikamar mandi. Aku menemani Femi malam itu hingga tengah malam, karena Bram mengalami koma pasca operasi. jam menunjukkan pukul 23.00 WIB Femi memintaku untuk pulang, ketika sedang ingin keluar lobby rumah sakit untuk bergegas pulang, tak sengaja bertemu Viktor yang sedang bergegas pula ingin pulang. Dokter muda itu sedikit memaksa mengantarkan aku pulang malam itu.
Berawal dari pertemuan itu,kini lelaki itu memilihku menjadi pendamping hidupnya begitupun aku, ku pilih dia menjadi teman selama sisa hidupku. Pekan depan tepat pada bulan yang Indah Februari 2020 kami memutuskan untuk menikah.
Terimakasih untuk yang sudah hadir memberi hidup yang baru pada perjalanan cintaku. Aku percaya, Tuhan tak akan biarkan aku bersama orang yang salah. Yakinlah! Bahwa setiap jiwa yang pergi adalah cara membuka ruang untuk yang lebih baik di masa mendatang.