Hai, namaku Varah.. Orang-orang biasa memanggilku Ara.
Aku adalah seorang siswa SMA biasa, sekarang aku sedang duduk di bangku kelas XI, aku sangat suka bergaul dengan teman-temanku.
Tapi saat ini ada satu masalah yang terjadi padaku, aku akan berulang tahun 2 hari lagi dan dalam 2 hari ini aku harus mencari pacar untuk ditunjukkan kepada teman-temanku.
"Hahaha, kau sudah berumur 18 dan belum punya pacar ya?" seru temanku Efa
"Aku punya kok" balasku berbohong
"Mana? Coba aku lihat fotonya!" serunya menantang sambil tertawa dengan temanku yang lainnya
"Dia... dia tidak suka berfoto!" ujarku tegas
"Halah.. bohong aja kamu!!! Kalau begitu buktikan ya saat ulang tahunmu!" kata Efa menantang
"Baiklah! Siapa takut!" balasku menantangnya
Sial. Harusnya aku tidak berkata seperti itu tadi, sekarang aku harus mencari pacar dalam waktu 2 hari! Memang siapa yang akan mau berkenalan dan berpacaran dalam waktu 2 hari. Bagaimana ini... Ah aku pikirkan saja nanti.
Aku melanjutkan kegiatan belajar di sekolah hari ini hingga selesai, aku sangat tidak fokus dan ingin cepat-cepat berpikir bagaimana caranya agar aku mendapatkan pacar.
Pukul 15.00 telah tiba, kami para siswa akhirnya bisa pulang dan melepas penat. Aku berjalan ke arah parkiran sekolah untuk mengambil sepedaku. Sepeda gayung ya, bukan sepeda motor. Setelah ulang tahunku baru aku akan membawa motor.
Aku mengayuh sepedaku dengan santai, oh tidak.. Aku baru sadar kalau langit sudah gelap gulita diselimuti awan hitam.. Bagaimana ini? Aku lupa membawa mantel hujanku. Semoga saja tidak turun hujan hingga aku tiba di rumah.
Aku terus mengayuh dan mengayuh tetapi ini sudah aku duga. Hujan turun dengan deras, aku berhenti dan menatap sekeliling. Aha! Disana ada warung! Aku bergegas menuju kesana dan memarkirkan sepedaku. Lalu...
"Nak kamu mau belanja?" tanya seorang nenek-nenek yang berada di warung ini sepertinya dia pemiliknya
"Eh boleh deh nek, saya pesan teh anget satu ya" ujarku kemudian duduk di kursi warung sambil menatap hujan
Aku menoleh ke belakang sambil melihat-lihat warung ini. Kenapa aku baru sadar ya ada warung disini? Saat asik melihat-lihat, aku mendapatkan sesuatu yang menarik. Di depan pintu warung ini ada sebuah papan. Aku berjalan ke arah papan itu dan melihat apa isinya
"Aku harap tanggal 31 agustus saat sore hari hujan deras" bacaku dalam hati
Hah? Ini kan tanggal 31 agustus dan sekarang benar hujan deras. Aku melihat-lihat tulisan lain lagi...
"Aku berharap aku dapat rejeki hari ini"
"Aku berharap wanita itu bahagia selamanya"
"Aku berharap dapat makan ayam hari ini"
"Semoga aku lulus ujian!"
"Aku harap aku dan dia berjodoh"
Wah apa ini, seperti papan harapan ya? Saat aku sedang asik membaca tiba-tiba nenek si pemilik warung datang lagi dan menyerahkan teh kepadaku sambil berkata..
"Apakah kamu mau menulis disana?" tanya nenek itu
"Apa boleh nek?" tanyaku berharap
"Tentu saja, kamu sudah dipilih" kata nenek itu ambigu
"Dipilih? Maksudnya bagaimana nek?" ujarku penasaran
Nenek itu tidak menjawab dan menyerahkan satu bolpoin aneh padaku, bolpoin ini berwarna emas dan memiliki corak-corak aneh. Aku mengabaikannya, menaruh tehku di atas meja dan mulai menulis, tetapi belum sempat aku menulis satu huruf nenek itu kembali berkata..
"Pikirkanlah baik-baik apa yang akan kamu tulis" ujar nenek itu misterius lalu masuk ke dalam
Aku memikirkan baik-baik apa yang akan aku tulis, siapa tau saja itu akan menjadi kenyataan kan? Siapa tau keajaiban seperti di film-film akan terjadi dan nenek itu adalah penyihir, hihihi. Dasar imajinasi yang hebat haha!
Aku mulai menulis kalimat harapanku..
"Aku ingin dapat kado pacar di hari ulang tahunku"
Yes! Sudah siap. Setelah menulis aku kembali ke tempat duduk dan menyeruput tehku. Enak sekali minum teh hangat disaat hujan-hujan seperti ini! Seharusnya aku meminta nenek itu untuk menambahkan jahe didalamnya..
Setelah satu jam menunggu aku sudah merasa bosan dan akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi ayahku. Aku mengambil ponselku dan meminta tolong pada ayahku agar ia menjemputku.
Aku kemudian masuk ke dalam warung untuk membayar dan mengembalikan bolpoin ini. Ternyata di dalamnya seperti warung-warung pada umumnya dan tidak ada yang istimewa. Aku melihat nenek itu duduk dibawah sembari membuat ketupat dari daun kelapa.
"Permisi nek, saya mau bayar" ujarku pelan-pelan
Nenek itu kemudian menatapku datar dan berdiri lalu mengatakan harga teh itu hanya dua ribu rupiah. Aku segera membayar dan mengembalikan bolpoinnya kemudian aku pergi keluar, kembali duduk dan menunggu jemputan ayahku.
Tak lama kemudian ayahku datang membawa mobil, ayahku keluar memakai payung dan membawa satu payung lagi di tangannya. Lalu dia menghampiriku.
"Ara udah lama ya nunggunya?" tanya papaku terlihat kasian padaku
"Enggak kok Pa!"
"Lagian kenapa kamu lupa membawa mantelmu?"
"Ya mana aku tau Pa.. namanya juga lupa hehe" balasku cengengesan
"Iya iya, untung saja Papa tidak bekerja hari ini jadi bisa menjemputmu"
Aku kembali cengengesan dan mulai membantu ayahku untuk melipat sepeda lalu dimasukkan ke dalam mobil. Aku dan ayahku kemudian masuk dan ayahku mulai mengemudikan mobilnya.
"Ulang tahunmu sebentar lagi kan?" tanya ayah tiba-tiba
"Iyaa" jawabku seadanya
"Ini yang ke-18 kan? Harus dirayakan dengan meriah ya!" kata ayah semangat
"Iyaa"
Ayah tidak melanjutkan obrolannya dan mulai menyalahkan radio. Hingga tiba di rumah, kami segera masuk dan aku pergi ke kamarku. Aku menaruh tasku lalu pergi mengambil baju ganti dan bersiap untuk mandi. Tetapi, sebelum itu aku rebahan dulu hehehe.
Aku berpikir bagaimana caranya mendapatkan pacar dalam 2 hari ini. Huh.. astaga..
Setelah cukup puas rebahan aku mulai pergi ke kamar mandi dan melanjutkan aktifitas lainnya seperti membuat pr, makan, hingga tertidur dengan lelap.
Saat terbangun aku kembali berpikir, bagaimana caranya agar aku mendapatkan pacar? Haruskah aku memposting di media sosialku dan mengatakan "Hai para cowok-cowok, ada yang mau jadi pacarku untuk satu hari saja?"
Oh tidak-tidak.. itu ide yang buruk. Aku mengesampingkan ide burukku dan mulai kembali beraktifitas seperti hari-hari biasanya.
Tidak terasa dua hari sudah berlalu. Saat inilah tepatnya aku berusia 18 tahun dan aku belum mendapatkan pacar. Huh.. kalah sudah aku dari tantangan ini. Apa yang harus aku katakan pada teman-temanku?
Bangun tidur, aku pergi mandi dan bersiap-siap ke sekolah dan tentu saja memasukkan kartu undangan ulang tahun ke dalam tasku. Tidak lupa aku sarapan terlebih dahulu, setelah itu berpamitan lalu pergi ke garasi untuk mengambil sepeda dan mulai berangkat ke sekolah.
Sampai di sekolah, aku segera memarkirkan sepedaku dan berjalan lesu ke dalam kelas. Belum sampai di tempat dudukku aku sudah dihampiri oleh Efa.
"Hai Ara!!! Selamat ulang tahun ya! Mana kartu undangan ulang tahunnya? Biar aku bantu bagikan ke yang lain" tanya Efa semangat
"Hei hei, aku baru saja sampai setidaknya biarkan dulu aku duduk di kursiku" ujarku kesal
"Hahaha, baiklah silahkan duduk" balas Efa tertawa
"Nih" kataku kemudian memberinya kartu undangan yang ada di tasku
Efa dengan semangat menyebarkan kartu undangan yang telah aku berikan padanya. Dasar Efa! Yang ulang tahun siapa yang semangat siapa..
Selesai membagikan kartu ulang tahun, Efa kemudian kembali bertanya padaku
"Bagaimana? Apa pacarmu akan datang nanti?" tanyanya penasaran
Aku melihat ke arah dan berpikir bagaimana caranya agar dia tidak mengejekku.
"Lihat saja nanti" jawabku singkat
Bel masuk berbunyi, para siswa bersiap untuk belajar. Selang beberapa menit guru wali kelasku masuk ke dalam dengan murid cowok yang sangat tampan. Apa dia anak baru?
"Selamat pagi semuanya, hari ini kita kedatangan murid baru. Silahkan perkenalkan diri kamu" ujar Pak Yasa
"Hai semua, perkenalkan nama saya Alex" ujar anak itu tersenyum memperlihatkan lesung pipinya
"Hai Alex" jawab teman-teman sekelasku serempak
"Baik Alex, silahkan kamu pilih ya mau duduk di pojok atau di sebelah Varah" ujar Pak Yasa sembari menunjuk bangku kosong di pojok dan di sebelahku
Alex berjalan menuju bangku sebelahku, namun ada yang aneh. Kenapa dia terus menatapku? Dia kemudian duduk di sebelahku dan kembali menatapku kemudian tersenyum. Astaga lesung pipinya itu..
"Hai aku Alex, namamu siapa?" Tanya Alex padaku sambil menjulurkan tangannya
"Aku Varah, kau bisa memanggilku Ara" balasku membalasnya dengan jabatan tangan
"Nama yang cantik seperti orangnya" ujar Alex tersenyum
Aku menatapnya aneh dan hanya tersenyum canggung. Pak Yasa kembali berbicara..
"Anak-anak, hari ini para guru mengadakan rapat jadi tidak bisa mengajar. Kalian bisa belajar sendiri hari ini tetapi kalian dapat pulang pukul 11.00" ujar Pak Yasa membuat semua murid kesenangan
Pak Yasa kemudian pergi. Lalu kelas mulai ribut, banyak anak cewek yang datang ke meja Alex bahkan hingga mengusirku pergi agar mereka bisa mengobrol dengan Alex. Dengan malas aku mengambil novelku dan berjalan ke bangu paling pojok dekat jendela. Aku mulai membaca novelku ditemani angin sepoi-sepoi. Tiba-tiba..
"Hai Varah, apa yang kamu baca?" Tanya Alex duduk di sebelahku
Aku menoleh kaget, apa yang dia lakukan disini? Bukankah dia tadi sedang dikerumuni cewek-cewek?
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanyaku balik
"Aku? Aku sedang mengobrol denganmu" balasnya polos
"Bukan itu maksudku, tadi kan kau sedang mengobrol dengan yang lain!" balasku kesal
"Oh itu.., mereka sudah kembali ke tempat duduknya dan sudah selesi berbicara denganku" jawabnya lantang
"Oh begitu, lalu mau apa kau kesini?" Tanyaku heran
"Mau mengobrol denganmu" jawabnya tegas
"Mengobrol apa?"
"Apa saja, aku hanya ingin tau tentangmu" ujarnya kemudian menatapku sambil tersenyum
Tiba-tiba angin berhembus, aku merasakan sesuatu yang berdenyut di dadaku, perutku geli dan wajahku memanas. Ada apa ini? Apa aku sakit?
Aku memegangi dadaku kemudian memegangi pipiku dan dahiku. Tidak demam kok.
"Ada apa?" Tanya Alex panik melihatku memengang dahiku.
"Apa kamu demam?" Sambungnya kemudian ikut menempelkan tangannya di dahiku
"Ti..tidak!" Jawabku sambil menepis tangannya dari kepalaku
"Lalu kamu kenapa?" Tanyanya terlihat khawatir
"Tidak apa-apa" jawabku singkat kemudian melanjutkan membaca novelku
"Aku dengar hari ini kamu ulang tahun, apa kamu tidak mengundangku?" Tanya Alex
"Oh iya.. sebentar" jawabku kemudian mengambil kartu undangan yang tersisa di dalam tas dan memberikan padanya
"Terimakasih!" Ujarnya senang
"Iya.." jawabku kemudian kembali membaca novel
"Apa kau ada waktu luang nanti?"
"Memangnya kenapa?"
"Aku ingin mengajakmu keluar untuk mencari kado"
"Kado buat siapa?"
"Buat kamu"
"Okelah"
Aku kembali menghabiskan waktuku untuk membaca novel dan alex bermain dengan ponselnya, dia juga bertukaran nomor denganku. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.00. Dan para siswa sudah boleh pulang.
"Kamu membawa sepeda kan?" Tanya Alex menghampiriku
"Kok tau?!" Tanyaku kaget
"Hahaha, tidak usah kaget aku hanya menebak saja" ujar Alex tertawa
Aku hanya tertawa canggung, aneh rasanya bercanda dengan orang yang baru aku kenal. Aku kemudian berjalan ke arah parkiran sepeda dan anehnya si Alex ini mengikutiku.
"Hei kenapa kau mengikutiku?!" Tanyaku kesal melihatnya
"Eh.. aku tidak mengikutimu kok"
"Lalu kenapa kau berjalan di belakangku?" Tanyaku menyipitkan mata
"Aku ingin mengambil sepedaku" balas Alex
Hah? Sepeda? Astaga. Bodohnya aku..
"Oh sepeda.. o..okey" jawabku kemudian berlari dengan cepat ke arah sepedaku
Aku menaiki sepedaku. Ada yang aneh. Aku kemudian kembali turun dan mengecek ban sepedaku. Astaga.. masalah apa lagi kali ini. Ban sepedaku pecah!
Aku menitipkan sepedaku di sekolah dan berjalan lesu keluar. Apa papa dan mama bisa menjemputku hari ini? Aku mengeluarkan ponselku, tapi belum sempat aku menelpon
Kring...kring..
Suara bel sepeda mengagetkanku, itu si Alex. Mau apa dia kesini?
"Hai Araa, kamu tidak jadi naik sepeda?" Tanyanya heran
"Tidak, bannya pecah" ujarku lesu
"Kalau begitu aku akan mengantarmu!" Serunya semangat
Aku melihat ke arahnya. Ada apa dengan cowok ini? Baru kenal udah berani ngantar pulang. Apa aku bisa percaya padanya?
"Hei, aku tidak akan macam-macam padamu. Kita akan membeli kado kan? Dan aku akan sekalian mengantarmu pulang" ujar Alex ramah
Oh benar.. membeli kado ya. Baiklah aku putuskan untuk ikut bersamanya saja. Jika ada bahaya kan aku bisa menelpon polisi. Aku harus berani! Dan untung juga aku jika dapat kado. Hahaha
Aku menyetujuinya dan duduk di bangku penumpang sepeda. Dia mengayuh sepedanya dengan lambat..
"Hei! Apa aku sangat berat?! Kenapa kau mengayuh sepedanya sangat lambat" ujarku berteriak agar didengar olehnya
"Kamu mau aku mengebut? Baiklah, kalau begitu pegangan ya!" Balasnya kemudian berhenti dan mengambil tanganku untuk perpegangan di pinggangnya
Dia mengebut dengan sangat kencang. Aku merasa pusing di belakang tetapi ya sudahlah aku tahan saja. Daripada dia berjalan lambat.
Tak lama kemudian dia berhenti dan ternyata kami telah tiba di pasar. Kenapa dia mengajakku ke pasar? Apa dia akan menghadiahiku sayur-sayuran?
"Ayo kita masuk" kata Alex setelah memarkirkan sepedanya
Aku dan Alex berjalan masuk kedalam, disini sangat ramai ada banyak dagang sayur-sayuran dan buah-buahan, ada juga beberapa dagang sembako dan peralatan sehari-hari. Alex terus berjalan dan aku mengikutinya dari belakang kemudian dia berhenti.
"Kenapa kamu berjalan di belakang? Ayo kesini berjalan di sebelahku" ujar Alex mengulurkan tangannya
Aku melihat tangannya dan refleks menerima uluran itu. Tangannya terasa hangat dan nyaman sekali untuk dipegang. Oh tidak! Ini kembali terjadi, angin berhembus, aku merasakan sesuatu yang berdenyut di dadaku, perutku geli dan wajahku memanas. Ada apa ini? Apa aku beneran sakit?
Alex menuntunku ke belakang pasar. Lalu kami tiba di sebuah toko kecil, dinding catnya berwarna hitam. Seram sekali. Mau apa dia mengajakku kemari?
"Permisi nek! Ini alex" ujar Alex ramah
"Iya.." jawab suara dari dalam kemudian orang itu keluar
Seorang nenek-nenek keluar dari dalam. Itu kan nenek yang punya warung teh! Apa dia juga berjualan di pasar? Astaga hebat sekali nenek ini.
"Ada apa kemari?" Tanya nenek itu pada Alex
"Aku ingin mencari kalung" ujar Alex
Nenek itu tiba-tiba menatapku datar lalu kembali ke dalam dan memperlihatkan tiga buah kalung kepada Alex. Alex memilihnya kemudian kami berpamitan dengan nenek.
Kami kembali berjalan ke parkiran sepeda dan mulai berangkat menuju ke rumahku. Tapi Alex tiba-tiba bertanya..
"Apa kamu mau pergi jalan-jalan sebentar?" Tanya Alex padaku
"Jalan-jalan kemana?"
"Ke taman"
"Hem.. baiklah"
Aku merasa seperti berkencan. Pergi ke taman lalu memberi es krim, mengobrol ria.. Wah pasti menyenangkan.
"Sudah sampai" ujar Alex
Aku kemudian turun dan bergegas memilih tempat duduk. Aku duduk duluan dan menikmati pemandangan, Alex kemudian menghampiriku dan menyerahkan sebuah topi putih padaku
"Apa ini?"
"Topi"
"Iya aku tau, tapi untuk apa?"
"Untuk dipakailah masa untuk dimakan?" Ujarnya tertawa
Aku kemudian mengambil topi itu dari tangannya dan memakainya. Dia juga memakai topi serupa, kami kemudian duduk dan mulai berbincang. Ternyata Alex orangnya asik juga, saat sedang asik mengobrol ada dagang es krim yang lewat. Alex menghentikannya..
"Pak! Beli es krim" ujar Alex
"Kamu mau es krim kan?" Sambungnya bertanya padaku
Aku membalasnya dengan anggukan semangat. Lalu kami makan es krim bersama dan kembali mengobrol, selang beberapa lama aku melihat jam di ponselku. Ternyata ini sudah pukul dua siang. Aku mengatakan pada Alex bahwa aku harus cepat-cepat pulang dan bersiap untuk pesta ulang tahun nanti. Alex lalu mengantarku pulang dan aku mulai bersiap untuk pestaku.
Saat ini sudah pukul 18.00, para tamu mulai berdatangan. Aku telah siap dengan gaun putih berderai dan rambut di kepang satu layaknya putri-putri di film-film. Entah mirip atau tidak, tapi aku merasa diriku sudah cantik.
"Wah... Araaa kau cantik sekali" ujar Efa
"Iya.. kau seperti putri di film-film" ujar temanku yang lain
"Benarkah? Terimakasih" balasku tersipu
"Iya benar.. Bagaimana pacarmu? Pasti dia datang kan hari ini?" Tanya Efa penasaran
"Em.. itu dia tidak bisa datang hari ini" kataku panik
"Hahaha.., sudah kuduga. Kau belum punya pacar kan?!" Katanya mengejekku
"Em... Sebenarnya ak-"
"Selamat ulang tahun pacarku.."
Aku menoleh ke arah samping. Disini ada Alex yang berpakaian sangat tampan, dia menggunakan setelan jas seperti pangeran-pangeran yang ada di film.
"Pacar?!" Seru Efa heboh
"Jadi selama ini Alex adalah pacarmu?!"
"Astaga! Kenapa kau menyembunyikannya dariku?"
Aku menatap bingung ke arah Alex, dia hanya mengedipkan matanya sebelah dah tersenyum.
"Ee... Itu.."
Aku bingung harus menjawab apa..
"Iya! Memang aku yang menyuruh dia untuk merahasiakan hubunga kami" ujar Alex
"Oh.. jadi begitu ya, baiklah selamat ya semoga kalian langgeng" ujar Efa kemudian pergi bersama yang lain
Aku menatap ke arah Alex untuk meminta penjelasan. Dia menatapku sambil tersenyum kemudian berkata..
"Aku menyukaimu. Kamu mau kan jadi pacarku?" Tanya Alex
Untuk ketiga kalinya aku mengalami gejala jantung berdetak kencang, pipi panas, perut geli dan saat ini ditambah dadaku yang sesak menahan kebahagiaan.
Jujur saja ini adalah pertama kalinya ada yang menyatakan perasaannya padaku. Dan aku rasa aku juga menyukai Alex. Tapi apa aku tidak terlalu gampangan baru kenal sebentar bahkan belum sehari sudah mau jadi pacarnya? Ah masa bodolah yang pacaran kan aku. Hehehe.
"Iya aku mau" ujarku senang
"Kalau begitu ini hadiah untukmu.."
Alex memberikan kalung emas cantik berbentuk huruf V kepadaku kalung ini juga berisi corak familiar! Seperti bolpoin di warung teh. Lalu dia memakaikannya di leherku. Astaga dia sangat romantis!
"Cantik! Sesuai dugaanku!" Ujar Alex senang
"Terimakasih ya" kataku ikut senang
"Aku juga memakai kalung yang sama loh!" seruny memperlihatkan kalung berbentuk huruf V di lehernya
"Kenapa tidak huruf A?" tanyaku penasaran
"V kan jodohku" balasnya tertawa membuatku ikut tertawa
Puas mengobrol. Aku memulai acara tiup lilin kemudian melanjutkan dengan memulai pesta dansanya. Aku berdansa dengan Alex. Astaga ini adalah hari terbahagia dalam hidupku! Semoga saja aku dapat bersama Alex hingga tua nanti..
Kami menikmati pesta ulang tahunku dengan meriah. Lalu saat sudah usai, para tamu mulai pulang. Tetapi Alex masih disini untuk menemaniku sebentar.
"Kenapa kamu bisa suka sama aku?" Tanyaku pada Alex
"Memangnya kalau suka harus punya alasan?" Tanyanya balik
Aku menggelengkan kepalaku kemudian hanya tersenyum menatapnya. Tiba-tiba dia berkata..
"Kamu tau? Aku sangat senang bisa bertemu gadis seperti kamu, dan aku berharap aku dapat selalu menemanimu" ujarnya tersenyum sendu
"Kamu memang akan selalu menemaniku. Jangan tinggalkan aku ya" ujarku sedih
Alex tidak menjawab dan hanya menatapku lalu dia memelukku sebentar dan berpamitan pulang. Aku mengantarnya sampai di luar, dia tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya. Kenapa aku sedih? Ah sudahlah mungkin aku hanya terlalu bahagia. Sesudah Alex pulang aku segera masuk ke dalam dan mulai bersih-bersih serta mengistirahatkan diriku. Sebelum memejamkan mataku menuju alam mimpi. Aku berdoa semoga kebahagiaan ini tidak pernah usai. Lalu aku mulai berlayar menuju pulau kapuk.
Pagi hari yang cerah! Aku bangun dengan semangat membara! Sekarang aku sudah punya pacar, aku jadi semangat ke sekolah! Aku bergegas mandi dan bersiap lalu pergi untuk sarapan, berpamitan dan akhirnya aku pergi mengayuh sepedaku menuju sekolah..
Sampai di sekolah aku merasa sangat bahagia dan tidak sabar untuk bertemu dengan Alex. Aku berlari ke kelasku. Dan ternyata Alex belum datang. Aku segera mengambil ponselku dan mengirim banyak pesan padanya tetapi tidak dijawab. Mungkin masih di jalan.
Bel berbunyi, Alex belum datang juga. Aku kemudian pergi bertanya kepada ketua kelas apakah Alex ada menitipkan pesan atau tidak.
"Rafa, apa Alex ada menitip pesan padamu kenapa dia tidak masuk hari ini?" Tanyaku pada Rafa si ketua kelas
"Alex?" Kata Rafa bingung
"Iya Alex, si murid baru" ujarku ikut bingung
"Murid baru? Apa kau bermimpi? Mana ada murid baru" ujarnya bingung lalu mengabaikanku
Ada apa ini? Apa Alex menghilang? Kenapa dia dilupakan? Aku berlari menghampiri Efa..
"Efa apa kau ingat Alex?" Tanyaku panik
"Alex? Siapa itu?"
"Pacarku yang kemarin! Dia juga bersekolah disini! Anak baru!"
"Oh jadi.. nama pacarmu Alex ya, aku kan tidak mengenalnya! Lagi pula mana ada murid baru" balasnya terlihat bingung
Hah? Ada apa ini? Aku menanyai Alex kepada semua orang disini tetapi tidak ada yang mengenalnya bahkan guru sekalipun. Aku melanjutkan sekolah dengan tidak fokus. Sepulang dari sekolah aku berpikir apa yang terjadi pada Alex? Apa dia semacam utusan yang hanya datang satu hari saja untuk menjadi pacarku? Tidak.. tidak mungkin. Aku rasa aku harus kembali ke warung teh itu!
Aku bergegas pergi ke parkiran dan mulai mengayuh sepedaku menuju warung teh. Aku memarkirkan sepedaku dan masuk ke dalam. Ini aneh, penjaganya bukan nenek tua.
"Permisi buk, saya mau tanya.. Nenek yang biasanya jaga warung ini dimana ya?"
"Nenek? Biasanya saya kok yang jaga warung ini" ujar wanita itu
Hah? Apa ini? Apa kemarin aku hanya bermimpi. Tapi.. ini kalung yang diberikan oleh Alex! Masih melekat di leherku..
Aku mengucapkan terimakasih kemudian bergegas pergi ke pasar menggunakan sepedaku. Sampai di pasar aku segera memarkirkan sepedaku kemudian berlari kencang menuju toko kalung ini. Sampai di toko itu aku kemudian masuk dan ternyata nenek itu juga tidak ada. Aku kembali bertanya hal yang sama seperti sebelumnya saat di warung teh dan jawaban penjaganya sama persis.
Aku merasa gelisah dan panik lalu mulai menangis sambil berjalan menuju parkiran sepedaku. Aku mengayuh sepedaku sambil menangis. Kenapa ini terjadi padaku?
Tidak terasa, kakiku menuntun sepeda ini untuk mengayuh ke taman. Aku segera turun dan memarkirkan sepedaku. Lalu aku duduk di tempat aku dan Alex duduk bersama. Aku mulai menangis kencang sambil menutup wajahku..
"Kenapa?! Kenapa ini terjadi padaku?!" Batinku berteriak
Saat aku menangis tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sebelahku..
"A...alex?" Tanyaku kemudian menoleh ke samping
Nenek itu! Nenek yang menjaga warung teh saat itu sekarang duduk di sebelahku. Dia berkata..
"Sudah kukatakan padamu untuk hati-hati saat menulis" ujarnya
"Sabarlah nak.. kebahagiaan dan kesedihan memang seimbang" sambungnya
"Ta..tapi kenapa?! Seharusnya tidak usah kau datangkan Alex saat itu! Itu hanya membuatku sakit hati saja!" Teriakku kesal sambil menangis
"Kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Tinggal tunggu takdirmu maka kau akan menemukan jawaban dan kedatangan seseorang yang kau tunggu" ujar nenek itu kemudian pergi
Bukankah ini tidak adil? Setidaknya jangan memberiku harapan punya pacar jika hanya satu hari! Dasar tidak pengertian! Aku menatap kesal ke arah nenek itu, seharusnya aku tidak menulis di papan harapan itu!!!
*Tamat*