Lia seorang mahasiswa semester akhir itu tengah berlari menuju halte bus, wajahnya memerah karena berlari cukup jauh, dan tak elak lagi keringat mulai membanjiri seluruh wajahnya. Napasnya memburu, mengejar bus yang semakin menjauh dari tempatnya. Tangan kirinya memegang sebuah buku yang begitu tebal, sedangkan tangan kanannya berulang kali menyeka keringat yang begitu banyak nya.
"pak....!" teriaknya, namun bus itu telah jauh meninggalkannya.
Lia hanya bisa menunggu bus selanjutnya. kemeja putih yang ia kenakan pun kini menjadi kusut dan dipenuhi oleh keringatnya, untungnya ia telah membawa Hoodie hitamnya agar diwaktu-waktu seperti ini ia tak begitu khawatir.
Lia meletakkan buku tebal itu di sebuah kursi panjang, melepas kacamatanya yang sedikit berdebu sehingga mengganggu penglihatan nya lalu kembali memasangnya. Lia juga membuka tas ranselnya dan mengeluarkan sebuah hoodie hitam dan segera mengenakannya.
Lia duduk di halte bus itu sendirian, berulang kali ia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Sedangkan langit sepertinya juga sedang tidak bersahabat, tak ada satupun bintang yang tampak disana. Terdengar kilatan petir yang menyambar-nyambar dan tak lama hujunpun mulai turun membasahi bumi.
Lia semakin cemas, karena tak ada satupun Taxi yang melintas saat ini, padahal ini sudah gelap dan tak ada siapapun disini. Hujannya juga semakin deras tak mungkin jika ia harus menerobosnya apalagi kosan yang tempati sangat jauh dari sini.
Ia mengeluarkan sebuah ponsel Android murah dari dalam sakunya dan mulai mencari nomor seseorang, ia pun memanggil nomor itu namun sayang pulsanya ternyata habis. lalu ia pun mencoba mengirim pesan WA tapi sialnya lagi jaringannya tidak bagus membuatnya semakin kesal.
Tak jauh dari tempatnya, Lia seolah mendengar teriakan seseorang namun ia tak begitu yakin. Karena suara hujan dan petir seakan menelan suara itu, namun sekali lagi Lia meyakinkan dirinya bahwa disana seseorang sedang membutuhkan bantuan. Lia tampak ragu untuk menghampirinya, ia takut mungkin saja itu orang-orang jahat yang sedang menunggu mangsanya dan bisa saja mereka akan menargetkannya.
Namun suara itu kembali mengusiknya, ia tak bisa tinggal diam. Rasa penasaran menyelimuti hatinya, jadi meskipun ia sangat takut namun ia memberanikan diri untuk melihat.
Lia menggunakan cahaya ponselnya untuk menerangi jalan yang tampak gelap dan sepi itu, tubuhnya mulai menggigil kedinginan, namun ia tetap berusaha menahannya. Dengan cara mengendap-endap ia mulai mendekati beberapa pria yang terlihat sangar, mereka berpenampilan seperti preman jalanan. Baju mereka tampak lusuh dan celana jeans mereka juga sobek-sobek.
Keempat preman ini tengah merundung seorang pria yang sepertinya seusia dengannya. Pria ini tampaknya mabuk, ia meracau dan malah menantang para preman ini. Salah seorang preman yang bertubuh gemuk itu mendekati nya dan langsung memberi bogem mentah untuknya.
Pria itu langsung terjatuh dan terduduk di tanah, ia hanya tertawa dan kembali meracau. Ia mencoba berdiri namun terhuyung-huyung dan dengan sekali tendangan dari preman yang bertubuh kurus itu ia kembali terjatuh.
"Serahkan dompet dan barang-barang berharga mu, kalau kamu ingin selamat" ancam preman bertubuh gemuk itu sambil mencengkram baju pria itu.
"Hahaha, apa kau becanda. Kalian pikir aku takut dengan kalian. Ayo, ayo maju. Akan kuhabisi kalian satu persatu. cepatlah bedebah jalanan. Apa kalian takut haa!" tantang pria itu
Keempat preman itu mulai geram dan tanpa aba-aba lagi mereka berempat segera memukuli pria malang tersebut dan merampas semua barang berharganya. Lia yang melihat hal itu pun keluar dari persembunyian nya. Entah keberanian darimana yang ia punya, ia memandang keempat preman yang tengah memukuli pria tadi dan mengatakan bahwa ia telah melapor kepada polisi.
Sontak keempat preman itu lari tunggang-langgang meninggalkan pria malang itu, Lia segera menghampiri pria tersebut dan meminta pertolongan. Lia melihat sebuah ponsel yang sepertinya lupa diambil oleh preman itu, ia segera menelpon seseorang dengan ponsel itu. Tak lama ambulance pun datang dan membawa mereka berdua kerumah sakit.
Si pria itu langsung dibawa ke UGD karena lukanya yang cukup parah dan mengeluarkan banyak darah sedangkan Lia menemui administrasi nya dan mengatakan bahwa ia telah menghubungi keluarga korban dan mereka yang akan menanggung biayanya, sebab Lia tak punya uang. Ia saja tak bisa membeli pulsanya apalagi untuk membiayai rumah sakit untuk seseorang yang dia saja tidak kenal.
Namun Lia tetap diminta menunggu sampai keluarga korban datang, Lia hanya mengangguk dan mengiyakan. Lagipula hanya ia satu-satunya saksi atas kejahatan malam ini.
"Ya, nih aku bawain pakaian buat kamu. Mending kamu ganti baju deh. Baju kamu Uda basah semua tuh, aku bakal ikut nungguin kamu juga disini. Jadi kamu gausah takut ya" ucap Edo seseorang yang sebenarnya menyukai Lia diam-diam.
Dan ketika Lia tadi menelponnya, ia segara datang dan membantu Lia serta pria tadi. Sebetulnya ia tidak mau mengangkat telepon itu, Karena itu nomor yang tidak dikenal tapi Karena ponselnya terus saja berdering dan mengganggunya maka ia pun mengangkatnya, Untung saja ia tak langsung marah ketika mengangkatnya kalau tidak ia mana punya kesempatan untuk terlihat seperti pahlawan dihadapan Lia saat ini.
Tak lama Lia kembali dengan pakaian yang lebih bersih dan tentu saja tidak basah seperti pakaian yang ia kenakan tadi. Ia sangat bersyukur Edo mau membantunya. Bahkan sampai repot-repot membawakan baju untuknya.
"Makasih ya Do. Kalo aja kamu tadi nggak ada aku Uda gatau harus minta tolong ke siapa" ucap Lia lembut
"Santai aja kali Ya, kayak sama siapa aja. Oya kamu kenal sama pria tadi?" tanya Edo
"Aku ga kenal, tapi tadi karena kasian yah aku bantu" jawab Lia
"Kamu emang baik banget Ya, orang yang ga dikenal aja dibantu padahal kamu kan gatau itu orang baik apa bukan. Aku salut" puji Edo
"Aku tadi juga sempat takut Do, tapi karena kasian dan juga sebagai sesama manusia sudah sepatutnya aku nolong dia" jelas Lia
Edo pun tersenyum menanggapi penjelasan dari Lia. Setelah itu mereka berdua hanya terdiam dan tak berbicara apapun lagi. Sedangkan saat ini Edo sedang bingung, ia ingin sekali membuka topik pembicaraan lagi karena kesempatan untuk berdua seperti ini sangat jarang baginya. Namun lagi-lagi pikirannya buntu, ia tak punya apa-apa untuk dikatakan pada Lia. Hingga suara perut Lia membuyarkan lamunannya, ia segera menatap Lia yang sedang menahan malu karena perutnya yang berbunyi nyaring itu didengar oleh Edo.
"kamu lapar Ya?" tanya Edo
"Heheh iya Do" jawabnya cengengesan
"Yauda aku beli makanan dulu, kamu tunggu disini" ucap Edo
"Gausah Di, aku gamau ngerepotin kamu terus" jawab Lia
"Kamu ga ngerepotin sama sekali kok, kamu tunggu bentar ya. Nanti aku balik lagi" Edo pun meninggalkan Lia
Diruang administrasi kedua orangtuanya Afran tiba dan terlihat begitu panik
"Maaf sus, saya orang tua dari laki-laki yang tadi dibawa kesini. Yang baru saja kecelakaan. itu anak saya sus, dia dimana sekarang?" tanya ibu Edo
"Sebelumnya, silakan biaya administrasi nya diselesaikan dulu ya Bu" jawab suster itu ramah
Setelah menyelesaikan biaya administrasi, orang tua dari Afran pun dibawa keruangan anaknya. Ketika mereka tiba Lia segera menghampiri mereka.
"Nak, bagaimana keadaan Afran? apa dia baik-baik saja?" Lia yang disambut dengan rentetan pertanyaan itu pun hanya tersenyum
"Anak Tante lagi diperiksa sama dokter tan" jawab Lia sambil mengusap-usap punggung ibunda Afran, ia seolah memberi dukungan agar ibu tersebut tak begitu khawatir dengan anaknya.
"Nak, apakah om bisa bertany sesuatu kepadamu?" tanya pria paruh baya yang pastinya adalah ayah dari Afran pria yang baru saja diselamatkan oleh Lia
"Iya, om boleh" jawab Lia
"Apakah kamu tau wajah-wajah dari preman yang memukuli anak om?" tanyanya
"Saya tidak begitu yakin om, soalnya tadi itu sangat gelap dan hujannya juga begitu lebat jadi sulit untuk melihat wajah para preman itu dengan jelas" jawab Lia seadanya
"Baiklah, tidak masalah. Sebelumnya om berterimakasih karena telah menyelamatkan nyawa anak om. Om ada sedikit untuk kamu" ucap ayah Afran sembari menyodorkan sebuah amplop yang pasti berisi uang sebagai ucapan terimakasih
Namun Lia menolaknya dengan baik
"Tidak perlu om, saya tulus membantu anak om. Lagipula kalau orang lain yang ada diposisi saya merek pasti akan melakukan hal yang sama" jawab Lia
"Kamu salah nak, tidak semua orang punya keberanian seperti kamu. Malah mereka bisa saja meninggalkan anak om disana. daripada mendapat masalah, jadi om sangat berterimakasih kepada kamu" balas ayahnya
"Om bisa saja" jawab Lia agak malu-malu karena pujian tersebut
"Apakah om boleh minta nomor handphone kamu, untuk jaga-jaga manatau mereka akan mengincar karena kamu Uda lihat wajah mereka. Sekaligus om mau minta bantu kamu nanti untuk menangkap para preman itu. Kebetulan om juga adalah seorang polisi"
"Terimakasih om, ini nomor saya. Dan nama saya Lia om" ucap Lia memberikan nomor hpnya kepada ayah Afran.
Tak lama Edo pun tiba sambil membawa kantong plastik berisi makanan dan dua botol air mineral
"Lia, ini mending kamu makan" ucap Edo sembari menyerahkan makanan itu kepada Lia
"Makasih ya Do" ucap Lia menerima makanan itu
"Kamu temennya Lia?" tanya ayah Afran
"Iya om, saya tadi ditelpon sama Lia. Jadinya saya langsung datang buat nolong mereka" ucap Edo
"Terimakasih ya, sudah mau membantu anak om"
"Iya om, sama-sama" balas Edo
・・・
"Bagus, permainannya baru saja dimulai" kata seseorang yang sedang mengamati mereka dari jauh