Apa kau percaya jika ada beberapa manusia yang bisa melihat.. Hantu? Dimana ia akan merasa ketakutan saat melihat hantu itu, sendirian, tanpa bisa membagi rasa ketakutannya pada orang lain.
Rasanya seperti di dekap sunyi, ketika mereka yang tak kasat mata menampakkan awaknya.
Aku, gadis biasa yang masih menduduki bangku sekolah menengah pertama.
Paras pas-pas an, miskin, pintar pun tidak. Menjijikkan bukan? Haha, ibarat sampah. Perkenalkan aku Naila, salah satu dari beberapa beban dunia.
DORR!!
Seorang gadis berdecak, “Apa-apaan kau ini, kenapa tidak terkejut?”
Ah, ini teman karibku, namanya Regina. Umur gadis itu sama sepertiku 14 tahun, ia juga manis persis seperti namanya.
“Kau berniat mengagetkanku, ya?” Ujar ku sembari memukul pelan kepala nya.
Dia menggeleng, “Tidak” Jawab nya singkat.
“Lalu?”
“Aku hanya mau bilang, kita berangkat sekarang” Jelasnya sambil meminum sebuah jus kalengan, terlihat segar.
“Iya-iya, kau sih beli jus aja lama banget” Aku beranjak dari tempatku dan pergi meninggalkannya.
Regina berpaling menatapku yang melangkah dulu, “Aku kan nyari rasa stoberi, jadi lama!”
“Nyenyenye”
“Nai!”
Hari ini adalah hari dimana aku dan seluruh anggota OSIS akan pergi berwisata bersama, kata mereka kita akan pergi ke Taman Esdras.
Ini adalah rencana rekreasi dari sebulan yang lalu, bersamaan kami ingin rehat dari tugas sekolah.
Katanya banyak yang menghilang secara misterius di taman itu. Taman Esdras bukan taman biasa, lokasinya sangat luas hingga para pekerja kuwalahan membersihkannya. Yeah, lama-lama tempat tak terurus itu dibiarkan begitu saja.
“Udah bawa buku catatannya, kan?” Tanya Johanna, teman dekatku juga.
Aku mengangguk sembari mengangkat buku cilik nan mungil di tangan kanan, “Udah dong”
“Buat apa?”
“Hah?”
Billy mengerutkan keningnya heran, “Lemot semua sih? Itu catatannya buat apa?”
Farriel menjitak kasar kepala Billy hingga lelaki itu mengadu kesakitan. “Buat nyatet kalau dapat inspirasi untuk pensi nanti” Ucapnya, tersenyum puas juga melihat Billy yang masih meringis.
“Sakit woi”
“Bodoh, sih” Kini Hafiq ikut tersenyum puas, dari lubuk hati tercurah ribuan harsa saat melihat Billy kesakitan.
***
“Aaaaa bagus banget!” Sindi menatap binar taman besar nan luas layak tak berujung, burung berkicau menembus mega di atas bumantara sangat menambah suasana.
Aku memegang lengannya, “Sin, ayo kerumah kaca!”
“Ikut lah, bang” Regina muncul diantara kami, masih sama dengan jus kalengan rasa stroberi.
“Mau ikut juga, ayo pergi sekarang!” Johanna menunjuk Rumah Kaca yang berada tepat di depan kami.
Mengangguk bersama, “Ayo!!”
Sekilas kulihat Hafiq membuka mulutnya sambil menjulurkan tangan. Dan benar saja, ia berteriak. “BENTAR!”
Langkah kami terhenti, menengok Hafiq lekas-lekas meminta jawaban atas teriakannya.
Lelaki itu menggaruk pelan lesungnya, ia memandang lekat Rumah kaca yang hendak kami masuki dengan penuh semangat.
“Kenapa?”
Jemari Hafiq bermain satu sama lain, kegelisahan kini terlihat jelas. “Pokoknya jangan masuk kesana”
Aku menatapnya remeh, "Nggak apa-apa, hiraukan Hafiq dan ayo pergi” Cetusku cukup keras lalu menatap mereka berenam.
“Tunggu!”
“Udah lah, Fiq. Itu cuman rasa khawatir sesaat. Gausa lebay" Farriel menepuk pundak Hafiq, ia berjalan mengikuti para gadis yang berjalan duluan.
Billy tersenyum aneh, "Wuuu, Hafiq lebayy" Ejeknya sambil tertawa.
"Sialan kau, Billy!"
Kami menatap penjaga yang membuka pintu rumah kaca secara perlahan, dengan penuh binar melangkah bergegas masuk kesana.
"Kece" Pujiku terpukau.
Kami seolah berada di dimensi lain, menatap awak kami yang menjadi beberapa karena cermin yang elok ini.
Aku menganga, kusentuh pelan diriku sendiri yang terpantul cantik di kacanya.
Kutatap juga mereka yang sedang bergaya menatap dirinya sendiri, senyuman maupun kekehan percaya diri kini memenuhi ruangan.
Aku tersenyum lebar menunjukkan gigi putihku, "Seru juga!"
Farriel mengangkat kedua alisnya, "Dasar norak" Sembur lelaki itu dan menancap tepat di hati.
Johanna tertawa pelan, ia menggerakkan helai-helai rambut hitamnya kebelakang telinga.
"Hiraukan saja" Ujarnya melirik tajam Farriel.
"Dasar lambe lancip" Kini Regina ikut menyosor, tatapannya juga tajam.
Sindi tertawa menatap Johanna dan Regina, tangannya bergetar memegang pundakku, dan tangan lainnya memegang perutnya.
Hafiq yang sedari tadi diam kini mendongak, nafasnya memburu menatap lampu yang tepat berada diatas kami.
"Kan.. Apa yang aku bilang.."
Seusai kalimat yang terucap dari bibir Hafiq berhenti, lampu yang tadinya terang sekarang kedap-kedip lalu mati.
Jantungku berdetak cepat, dimana mereka? Dimana Sindi, Johanna, dan Regina?!
"Aaaaa!!!"
"Sindi!" Aku mendelik ditengah gelap, badanku bergetar disertai bulu kuduk yang berdiri. Barusan, suara teriakan Sindi bergema di ruangan berselimut kaca.
"Hah!"
Lampu kembali normal namun nafasku masih memburu tak karuan. Segera ku tolehkan pandangan ke sekeliling untuk melihat keadaan yang ada.
KLONTANG KLONTANG
Kaleng jus stroberi milik regina.. Menggelinding tepat dibawahku dengan darah di permukaannya.
"Nai.. Naila.."
Dengan kilat aku berpaling sedikit menunduk. Saat itu juga aku disambut oleh Billy yang terduduk lemas dengan satu mata yang hilang, mulutnya terbuka lebar, seluruh badannya penuh cairan merah amis.
"Bill!" Teriakku terkejut lalu menghampirinya.
DUK!
"Aw! Ini.. Kaca.."
Ah, sialan. Aku lupa jika kita berada di rumah kaca. Dimana.. Dimana Billy yang sebenarnya, juga teman-teman yang lain dimana!
Tidak boleh, Naila kau tidak boleh menangis sekarang. Usap air matamu yang membuat pandangan memburam itu, ayo kita temukan yang lain dan keluar dari rumah kaca ini.
Segera ku usap kasar kedua mataku yang basah, pandanganku kini kembali normal. Mendongak, aku menatap diriku sendri lewat kaca.
Badan mungil, wajah buruk rupa, bukankah ini menyedihkan? Apa yang bisa aku lakukan, aku hanyalah beban yang tidak memiliki tempat disini.
"Hiks ... Billy kamu belum mati, kan? Terus yang lain gimana ..?" Celotehku serak.
Tiba-tiba, sebuah wajah muncul dibalik kaca yang aku tatap lekat. Wajah menyeramkan, buruk rupa, dengan senyuman lebar seperti sobek bibirnya.
Tubuhku kaku, rasanya ingin kabur namun dorongan tak kasat mata membuatku berdiam diri.
Wajah menyeramkan itu tersenyum lebih lebar, lidahnya yang panjang kini terjulur menembus kaca dan menyentuh wajahku.
Tangannya yang berkuku panjang memainkan rambut hitam kaku karena darah mengering.
Kurasakan wajahku sedikit basah karena lidahnya, lalu tangan menyeramkan itu memegang pundakku. "Ma.. Kan.."
Tidak, tidak! Dia mau memakanku? Mau menyakitiku seperti keadaan Billy disana? Aku tidak mau! Kugigit tangan menyeramkan dan terlihat busuk itu hingga bisa bebas dan berlari.
"Nai.. "
Billy.. Aku mau pergi dan meninggalkan Billy? Sudahlah! Tidak apa, egois lah Naila!
"Maaf, Bil!" Teriakku lanjut berlari.
"Huahhhh! Maaa... Kannnnnn!!!"
Tangan itu memanjang, dari balik cermin terus memanjang mengikuti langkahku yang kebingungan mencari jalan keluar.
Ya tuhan, aku mohon! Aku mohon!
Bruk!
"Argh!"
Aku terjatuh, kuku jempolku terkelupas. Kini hanya perasaan pasrah yang ada, melihat tangan itu mendekat pelan seolah bersiap memberiku pelajaran.
Apa yang harus aku lakukan? Berdiam diri dan menunggu mati? Tidak.. Tidak mau. Ku dorong kaca di belakangku tanpa sadar, dan tiba-tiba kaca itu terbalik. Aku disambut oleh.. Tanah?
"Ini.. Ini.. Aku berhasil keluar?!" Teriakku girang walau luka di jempolku masih terasa.
"Keluar apa, kamu ini! Baru bangun pingsan kok ngoceh aneh gitu" Seru Johanna terlihat marah.
"Eh? Kok kalian- tunggu, pingsan?"
Regina meminum jus kalengannya, "Iya. Kau pingsan waktu kuku jempolmu sedikit terkelupas di dalam sana. Dirimu sih yang terlalu girang saat bermain di rumah kaca tadi" Jelasnya.
"Ah.. Jadi tadi cuman mimpi.. Masa sih.."
Hafiq menatapku dalam, wajahnya datar dan tidak berekspresi. Namun aku seperti diberi tahu jika, semuanya nyata..
"Iya, cuma mim-pi"