Pagi ini aku sibuk sekali, setelah mengerjakan tugas semalaman, kemudian bangun kesiangan dan sialnya hampir saja terlambat memasuki kelas. Namaku Arabella Eliane seorang mahasiswa tingkat 2 di University Of Alberta di Kanada dengan jurusan Art & Desain.
" Arabella, kamu tidak lupa dengan janji kita makan siang di cafe ?." Seru seorang gadis dia sahabat terbaikku di sini bernama Olivia Wilde.
" Tentu saja aku tidak akan lupa, ayo sebelum tempat favorit kita di tempati orang lain."
Setelah selesai kelas aku mengjak sahabatku di salah satu Cafe yang lumayan terkenal dengan sajian desert, kami memang pencinta makanan manis.
Senangnya saat tiba tempat yang biasa kami tempati kosong, langsung saja kami memesan beberapa desert.
" Ara lihat pria itu, tampan bukan ?."
Ku lihat ke arah pria yang tengah mengetik di laptopnya.
" Namanya Christian Derevano. Dia termasuk salah satu pria tertampan di Jurusan."
Setelah di lihat memang cukup tampan namun aku tidak tertarik.
" Bagaimana jika ku kenalkan ?." Tanya Olivia.
" Tidak, aku sedang tidak tertarik menjalin hubungan."
Ucapku sambil memakan Eclair yang ku pesan.
" Kamu mau sampai kapan sendiri terus, aku juga terkadang sibuk dengan pacarku. Aku ingin melihat sahabatku tidak kesepian."
" Olivia aku baik - baik saja tanpa punya kekasih. "
" Tidak jangan berbohong lagi. Aku tahu, aku membacanya di buku diary mu."
" Kamu membaca buku diary ku ?."
" Sorry... Tidak sengaja."
Aku memijit pelipisku, entah kenapa seketika kepala ku sedikit berdenyut. Tarik nafas hembuskan ayo bersabar.
" Sejauh mana kamu membaca diary ku ?."
" Hanya sampai bahwa kamu merasa kesepian sendiri dan terkadang iri melihat orang lain dengan kekasihnya."
Ternyata haya dua halaman saja yang dia baca, aku masih tenang.
" Maaf aku sudah lancang membaca buku diary mu."
" It's oke, tidak apa-apa."
Hening seketika saat seorang pria memasuki cafe, dari tempatku duduk aku bisa melihat pria itu. Memesan makanan lalu fokus melihat handphone nya.
Suasana cafe tidak terlalu ramai, beberapa orang terlihat berbisik-bisik. Ada yang menapilkan tatapan wajah terpanah bahkan ada yang sudah memotret pria dengan topi hitam yang menutupi sebagian wajahnya.
Termasuk Olivia dia sudah kegirangan melihat pria itu. Dia artis papan atas semua orang mengenalinya.
" Sumpah dia beneran Shawn Mendes, harus di foto, tunggu kalau aku minta foto bareng dia mau nggak yahhh???."
Pria itu kini meletakan handphone nya, menikmati desert pesanan nya.
" Di coba aja sana, jarang ada kesempatan lagi."
" Ayo sama kamu." Olivia menarik tangan ku, walaupun sudah menolak tetapi Olivia keras kepala, dia menghiraukan penolakanku tetap menarik u dan kini kami ada di sampingnya.
" Permisi." Ucap Olivia, pria itu menatap kami.
" Shawn, kami penggemarmu boleh minta foto bersama?." Tanya Olivia.
Apa dia bilang kami, tentu saja aku tidak...
Dia menatap kearah ku dan Olivian
" Boleh."
" Ara, ini maaf ya." Olivia menyerahkan handphone nya padaku, ternyata aku jadi tukang foto.
Dari kamera ku lihat Olivia dan Shawn yang merangkul pundak nya.
Setelah selesai aku menyerahkan handphone nya kembali, Olivia berselca bersama Shawn kembali.
" Sekarang kamu Ara sini handphone mu."
" Tidak, terimakasih." Tolak ku
" Tidak apa-apa sini."
Olivia mendorongku ke arah Shawn, pria ini tersenyum sambil merangkul pinggangku. Kami akhirnya berfoto menggunakan Handphone Olivia.
Seharian ini Olivia bercerita mengenai bagaimana ia senangnya bertemu idola nya Shawn Mendes, menceritakan karir nya, lagu - lagu nya dan banyak hal. Sedangkan aku haya akan menjadi pendengar dan sesekali menanggapi perkataan Olivia.
Lelah yang mendera membuatku enggan beranjak dari kasur ku. Melihat handphone sebentar lalu membuka akun Instagram, terdapat foto Olivia bersama idolanya dengan caption happy nya. Semakin kebawah terdapat beberapa postingan Foto dan sebuah Notifikasi pesan menghentikan kegiatan ku.
Sebuah pesan yang bisa membuat jantungku kembali berdetak kencang seperti beberapa jam yang lalu.
Menata kembali hati dan pikiran ku, ku abaikan pesan dari seseorang yang membuatku menjadi kacau.
Notifikasi kembali berbunyi terdapat pesan dari akun yang sama.
Kuraih handphone ku dan men- non aktif kan nya.
Pikiran ku kembali ke masa - masa itu, hatiku masih sama seperti dulu lemah jika menyagkut tentangnya.
Melupakan dia dengan pergi jauh darinya, bisa di bilang melarikan diri. Namun, tetap saja setelah kutata kembali hatiku setelah 2 tahun lamanya kini pertahanan ku kembali goyah hanya dengan bertemu kembali dengan nya.
Masih teringat bisikan nya yang berkata " I Miss You." Saat ia merangkul pinggang ku, membuat diriku mematung seketika.
Benar pria itu bernama Shawn Mendes artis yang akhir- aknir ini tengah bersinar. Yang namanya selalu ku tulis di buku diary ku. Bahkan sampai detik ini aku mengakui bahwa aku masih mencintainya.
Kenyataan yang menaparku dan menyadarkan ku bahwa aku tidak bisa bersanding dengan nya.
Kenangan dua tahun yang lalu masih teringat di kepalaku, saat itu..
Di suatu hari tanpa sengaja aku bertemu dengan seorang pria di sebuah museum di London. Tanpa sengaja kami bertemu saat mengagumi salah satu lukisan di sana, berbagi cerita mengenai lukisan itu dan pelukisnya. Berlanjut pada obrolan ringan dan makan malam bersama di sebuah Restoran kecil. Pria yang bercerita bagaiman ia sangat menyukai music, mengenai impiannya menyatukan banyak orang dengan musik, dan alasan nya ada di museum untuk mendapatkan inspirasi dari lirik yang akan ia tulis.
Setelah itu kami sering bertemu, dia selalu menayakan pendapat mengenai lagu nya dan dia juga selalu memberikan komentar tentang lukisan dan gambar yang kubuat.
Tanpa kusadari dia menjadi bagian terpenting dalam hidupku, tanpa kusadari ia menempati hatiku. Dengan keberanian ku ungkapkan perasaan ku padanya. Saat itu ia hanya diam tak merespon.
Setelah itu aku menghapus semua tentang nya juga nomor handphone nya. 2 hari kami tidak bertemu dan berkomunikasi, setelah itu aku memutuskan pergi dari London dan disinilah aku setelah melarikan diri.
Ketika aku melihat ia yang menggapai mimpinya hingga saat ini menjadi artis terkenal membuat ku bahagia, ia telah menggapai impiannya.
Beranjak dari kasur ku, pergi mengambil diary itu dan menyembunyikan nya di tempat yang aman di dalam lemariku.
Namun sebuah kotak kembali menarik perhatian ku, kubuka kunci nya dan disana terdapat beberapa gulungan kertas lukisan. Kutaruh diary di dalamnya dan menguncinya kembali.
Di dalam ketas itu terdapat lukisan Shawn, dia pernah menawarkan diri untuk menjadi model lukisan ku atau memnitaku untuk di lukis.
Sudah Arabella Eliane lupakan dia.
Seminggu kemudian aku kembali menjalani aktivitas ku seperti biasa, tentu saja Shawn masih mengirimkan pesan lewat Instagram yang ku abaikan, jika mengingat hari itu rasanya malu sekali, kenapa aku menyatakan perasanku padanya dan kabur setelahnya.
Masih teringat wajah terkejutnya saat itu.
Sial, ayolah Ara Move on
" Arabella.... Kamu melamun."
Seketika aku kembali tersadar, kini aku tengah makan bersama Olivia di rumahku.
" Kamu kenapa , akhir-akhir ini selalu tidak fokus, sekarang juga aku sedang cerita tentang hubungan ku dengan Dave kamu malah melamun."
Benar hari ini otak dan fikiran ku sedang tidak sinkron.
" Maaf Oliv, aku cuma sedang tidak enak badan saja." Alasanku .
" Kalau gitu kita ke dokter ya."
" Tidak, aku sudah baikan kok."
" Maaf karena aku sedang ada masalah sama Dave, aku jadi lupa sama kamu."
" Tidak apa-apa, aku sudah besar bisa mengurus diriku sendiri."
" Makanya kamu punya pacar."
Masalah ini Lagi
" Aku sedang tidak ingin menjalin suatu hubungan."
" Nggak, kali ini aku maksa. Kamu ingat pria yang di cafe waktu itu bernama Christian Derevano."
" Iya ."
" Aku sudah membuat janji kencan untukmu."
" Apa."
" Jadi ayo bersiap."
Olivia menarik ku menuju kamar.
" Tunggu aku tidak setuju dengan kencan itu." Tolak ku
" Kali ini harus setuju."
" Olivia aku tidak mau ."
" Aku sudah setuju, kita Double Date. Kemarin aku sudah berbaikan kembali dengan Dave. jadi ayo bersiap."
Dengan terpaksa aku menurutinya, kali ini saja, mungkin aku bisa melupakan Shawn.
Olivia sibuk membongkar lemariku, memilih baju yang cocok dipakai.
" Baju mu tidak ada yang cocok, tapi ini ada satu drees yang cantik. "
Olivia menyerahkan dress tanpa lengan dengan panjang selutut berwarna soft pink dengan pita di pinggang nya.
" Tidak jangan yang ini."
" Aku belum pernah lihat kamu pakai dress ini dan cuma ini yang cocok, cepat sana pakai."
Dia terus mendesakku memakai dress ini, ayolah aku sebenarnya tidak ingin memakai dress ini. Tidak tahukah bawa ini adalah satu-satunya drees yang tidak ingin ku pakai tapi tidak akan ku buang.
" Ayolah Ara nanti kita telat."
Akhirnya aku mengalah pergi menuju kamar mandi untuk mengganti bajuku dengan dress ini. Sebenarnya dulu aku membelinya bersama Shawn dia yang memilihkannya, miris sekali hidupku.
Olivia kembali merapihkan baju dan meletakkan nya di lemari, namun sebuah kotak menarik perhatiannya. Dia membuka kotak tersebut karena kuncinya masih menggantung di sana.
Terlihat beberapa gulungan kertas berisi lukisan wajah seorang pria dan juga terdapat buku diary yang pernah ia buka.
" Sudah ku bilang jangan membuka barang - barangku."
Ucap Arabella kembali memasukkan kembali kotak itu ke dalam dan mengunci lemarinya.
" Maaf, tidak akan ku ulangi."
" Ayo kita pergi."
Benar saja ternyata Olivia mengenalkanku pada Christian, Kami berdua pergi ke beberapa tempat sedangkan Olivia dan pacarnya Dave meninggalkan ku dengan Chritian setelah makan malam. Kami saling bercerita tentu saja aku masih kaku dengan nya. Sampai tengah malam ia mengantarkanku pulang. Kami berpisah begitu saja, setelah mobilnya tak terlihat lagi di pekarangan rumahku. Aku pergi masuk kedalam rumah, sungguh hari yang melelahkan.
Namun tidak lama kemudian aku kembali mendengar suara mobil yang berhenti setelah itu suara ketukan pintu.
" Kenapa dia kembali lagi, apa ada yang ketinggalan."
Kubuka pintu rumahku.
" Apa Chris-." Seketika aku membeku ternya bukan Chtistian tapi seseorang yang kuhindari.
" Ini aku. " Dia membuka topinya, dapat terihat wajahnya bahkan matanya yang membuatku tak bisa melupakannya.
" Bella.. I Miss You."
Tunggu, bagaimana Shawn bisa ada di sini. Dia tersenyum manis kearahku.
" Aku suka melihatmu memakai dress ini."
Dia mendekat, kemuadian melepaskan ikat rambutku, sehingga kini rambutku terurai, entah kenapa aku masih terdiam menatapnya, tubuhku terasa kaku.
" Bagaimana kamu bisa disini ?." Tanya ku dengan suara yang tercekat.
Dia melangkah mendekat, menunduk dan dapat kurasakan hembusan nafasnya di telingaku. Tidak ini terlalu dekat!!.
" Kamu harus mendengar jawaban ku, sebelum memutuskan pergi dan menghilang."
Jantungku kembali berdetak kencang, berusaha menjernihkan pikiranku dan berusaha mendorongnya sedikit menjauh tapi tidak berhasil. Shawn menutup pintu rumahku dan mendorongku ke pintu, mengurungku dengan lengan nya.
Tidak aku tidak bisa keluar dari sini, Shawn kini berbeda dengan yang dulu terasa dari auranya.
" Shawn..."
Kupalingkan wajahku ke kanan menghindari tatapan matanya yang intens.
" Aku mencintaimu, jawaban yang harus kau dengar 2 tahun yang lalu."
Apa ?
Tunggu ini tidak salahkan ?
Ku tatap matanya yang terlihat serius.
" Aku mencintaimu dan tidak akan melepaskanmu lagi kali ini."
Selesai