Jatuh cinta adalah hal indah dalam hidup, namun ada juga orang yang merasa takut berlebihan pada cinta. Entah sejak kapan aku merasa sangat takut dicintai maupun mencintai. Sejak awal aku hanya berpikir cinta membuat orang sesak, sakit hati, dan depresi.
"Aku pulang," ucapku sambil membuka pintu.
Aku duduk di meja makan dan melihat apakah masih ada lauk ataupun nasi yang tersisa. Huh, ternyata tidak. Aku beralih menuju dapur dan melihat sekeliling.
"Ha? mama benar-benar terbawa emosi," ucapku sambil memungut beberapa piring yang sudah pecah.
Setelah membereskan dapur aku membuat makan malam untukku, mama dan papa. Hem, mau masak apa yah? Setelah berdebat dengan pikiranku, akhir aku memutuskan untuk membuat sup.
Aku mengambil semua bahan yang berada di kulkas. Wortel, kentang, seledri, tomat, buncis, kubis, dan daging. Ku potong wortel serta kentang dengan ukuran sedang dan kota-kota, setelah itu aku beralih memotong seledri, buncis, tomat, dan kubis. Untuk dagingnya sendiri aku memotongnya berbentuk dadu dan merebusnya dengan api kecil.
Akhirnya setelah beberapa lama makanannya jadi, dengan cekatan aku meletakkan semua hidangan di meja.
Ceklek
Suara pintu terbuka memperlihatkan mama yang sudah lelah bekerja. Aku mengambil tas miliknya dan menggantung jaketnya. Kupasang raut wajah bahagia.
"Mama makan dulu, aku sudah membuat makanan favorit mama dan papa".
"Ternyata anak mama benar-benar sudah dewasa, kamu masak apa?" tanya mama sambil membasuh muka.
"Sup daging sapi, mama bilang aku gak boleh masak semua daging sapinya, jadi aku campur dengan sup saja," ucapku bangga.
"Wow, anak mama hebat".
Kami memutuskan untuk makan saat jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Saat kami asyik makan papa pulang dengan membawa bau alkohol yang menyengat. Euw, baunya sangat menyengat hingga membuatku pusing.
"Lagi-lagi papa kamu mabuk, mama heran deh kenapa akhir-akhir ini papa jadi aneh," ucap mama sambil membopong tubuh papa ke kursi makan. Mama mengambil obat peredah mabuk dan kembali makan. Lagi-lagi papa mengigau dan melempar piring ke sembarang tempat.
"kamu belajar dulu saja biar mama yang beresin ini semua".
"Baik ma".
Awalnya kehidupan keluarga kami berjalan dengan baik namun, saat papa kedapatan selingkuh mama naik pitam dan mengusir papa pergi dari rumah. Mama berharap tidak akan pernah bertemu papa lagi namun, harapan itu tidak terkabul. Papa masih sering datang ke rumah bukan untuk meminta maaf namun, untuk melampiaskan amarah yang ia pendam.
Setiap hari aku selalu disiksa bersama dengan mama. Awalnya aku sudah mencoba melawan namun kekuatan kami begitu berbeda. Luka cakaran, tamparan, dan rasa sakit saat papa menarik rambutku membuatku semakin sedih. Aku ingin keluargaku seperti dulu lagi, kita camping, bersenang-senang, makan bareng, dan meluangkan waktu di hari minggu, namun apalah daya nasi sudah menjadi bubur.
Aku berangkat menuju sekolah. Jangan khawatir karena bekas lebam yang berada di sekitar tubuhku sudah aku tutupi dengan bedak. Di sekolah aku terkenal dengan siswi berprestasi, aku bangga akan hal itu. Seenggaknya aku bisa memberikan mama kebahagiaan di saat kita berada di masa sulit seperti saat ini.
Aku mencatat dengan rapi hal-hal yang penting di dalam materi. Saat sedang asyik menulis tiba-tiba segerombolan anak laki-laki mendekat ke arahku, mereka mengambil paksa buku catatan milikku. Perasaan takut dan panik pun aku rasakan. Aku lihat sorot mata mereka sangat tajam dan menyeramkan.
Aku berlari menuju kamar mandi, membasuh muka dan kembali ke kelas berharap mereka semua sudah pergi. Deg jantungku berdetak kencang, rasanya dadaku mulai sesak, perutku mual ketika aku melihat anak laki-laki yang masih berada di dalam kelas. Mereka menghampiriku namun lagi-lagi aku melarikan diri.
Saat aku pulang dari sekolah ternyata papa sudah pulang. Aku melihat tubuh mama sudah berlumuran darah. Aku panik dan mengecek keadaannya. Syukurlah mama masih bernapas. Aku membalut luka di sekitar perut mama yang kuyakini luka tusukan.
Saat aku ingin membasuh tangan, aku lihat papa sudah pergi dari rumah. Aku sangat legah karena papa tidak membuat mama tewas. Ke esokkan paginya aku berangkat menuju sekolah dengan perasaan panik. Saat menuju kerumunan orang rasanya sangat sesak dan terbebani.
Sesampainya di sekolah aku melihat pemandangan yang menyedihkan. Teman-temanku di siksa oleh beberapa kakak kelas laki-laki. Aku yang melihat itu langsung berlari menuju kantor guru namun, saat ingin turun tubuhku di dorong oleh seseorang yang membuatku jatuh dari lantai 2.
Aku sudah lelah karena semua hal yang menurutku random. Kenapa papa harus menjadi pereman di rumah? kenapa kelas kami tiba-tiba menjadi kelas pelampiasan senior? kenapa guru-guru tidak merespon keluhan kami? padahal aku hanya ingin keluar dari lingkaran setan. Sudah 1 tahun berjalan dengan hari yang memuakkan setiap detiknya.
Tidak ada satupun yang aku banggakan sekarang. Lihatlah, aku tidak bisa berkomunikasi dengan mereka. Aku bahkan tidak bisa membanggakan mama dengan prestasi. Nilai, Kemampuan, Nurani, dan Kebanggaan kini telah sirna. Aku melihat tubuh papa yang telah pingsan.
Tidak, kalau mama menusuk pisau itu ke tubuh papa maka mama akan menjadi seorang kriminal. Aku tidak mau itu terjadi. Saat aku ingin menghentikan mama, aku tidak bisa menyentuhnya. Mama menangis memeluk tubuhku dan papa seraya mengatakan
"Kita akan hidup tapi dengan seribu penyesalan, kita akan mati dengan seribu kebebasan. Apakah cinta hanyalah sebuah candaan? ketika kita merasa muak kita memutuskan semua hubungan yang ada? kenapa keluarga kita hancur? Aku akan menuruti kemauan papa, kita akan hancur bersama-sama".
Kata terakhir yang menyesakkan. Mama menusuk jantung papa dan mengakhiri hidupnya. Yah, aku pikir dengan kami tiada rasa sakit yang akan kami rasakan perlahan-lahan menghilang. Aku juga senang kehidupanku tidak akan menjadi lebih gelap jika aku mati. Terimakasih mama, semoga di kehidupan selanjutnya kita akan menjadi keluarga.
Kadang berpikir untuk mati adalah jalan terbaik namun, jika kita berpikir lagi kematian bukan berarti kebebasan namun suatu penyesalan yang tiada ujungnya.