Pagi ini gerimis tipis membasuh jalanan kota, seperti biasa, jalanan akan macet setiap habis turun hujan karena banjir. Aku menikmatinya, suasana pagi ini dan menanti kelas pagi yang hanya akan diisi dengan acara bersih-bersih kelas yang artinya jam kosong.
“Boleh duduk disini?”, mendengar suara itu aku menoleh perlahan, dan belum genap aku mengangguk sebagai tanda iya anak laki-laki itu sudah bertengger manis di sebelahku. Tatapannya lurus kedepan, sambil sebelah telinganya yang dipasang earphone mendengarkan musik yang samar-samar sampai juga di telingaku. Aku tersenyum tipis sekilas dan kembali beralih melihat pemandangan tetesan gerimis yang mengembun dibalik jendela bus yang kutumpangi.
Canggung, itulah yang kurasakan. Tak sepatah kata pun yang keluar sepanjang perjalanan yang lambat ini.
"Sial!", Aku mengumpat dalam hati. Perasaan aneh menjalar di tubuhku. Pikiranku berputar pada kenangan masa lalu saat kita benar-benar seperti seorang kakak adik. Ya, anak laki-laki disampingku pernah kuanggap sebagai kakak, dia adalah sahabatku. Setidaknya kami pernah bersahabat. Tubuhnya tinggi jangkung, diberkati dengan kulit putih dan mata tajam dia benar-benar diidolakan banyak murid perempuan. Dulu kami hampir setiap hari menghabiskan waktu bersama, bagaimana dia yang sering menjahiliku sampai kadang aku menangis. Bagaimana dia yang menjadi satu-satunya temanku dan entah bagaimana kami tak saling mengenal satu sama lain.
Sejak hari kelulusan berlalu dan libur panjang memutuskan hubungan kami tanpa sebab. Saat kembali dipertemukan pada sekolah yang sama dia bukan lagi sahabat yang kukenal. Dia bukan lagi teman yang aku anggap sebagai kakak. Dia adalah orang asing bagiku. Bukan perkara mudah berlagak seolah kami bukan siapa-siapa, mengingat orang yang tak lagi bertegur sapa denganku adalah orang yang spesial itu membuatku sakit. Dan yang lebih menyakitkan adalah aku menyukainya, aku ingin dia lebih dari sekedar sahabat yang kupunya.
“Daniel? Pulang sekolah boleh ngga ngobrol sebentar?” tanyaku lamat-lamat. Lirih seperti nyaris aku sedang berbisik. Sesaat aku menyesali pertanyaan bodoh barusan, kuharap dia tak mendengarnya.
“Boleh,” dan begitulah jawaban singkat yang berlanjut pada hening sepanjang perjalanan menuju sekolah. Kami berdua diam, larut dalam pikiran masing-masing.
Setelah bel pulang sekolah berbunyi aku segera meninggalkan ruang kelas. Mengatur napasku dengan baik dan memantapkan langkah menemui Daniel. Kulihat ia sudah berdiri di gerbang sekolah dengan ransel yang menggantung di salah satu pundaknya. Entah kenapa aku merasa sedikit gugup, buru-buru aku berusaha memantapkan langkah hendak mengampirinya dan sebuah tangan merangkul lenganku menuju belakang sekolah.
“Zelin, temenin gue fotokopi dong sebentar,” Melodi, salah satu teman karibku di kelas ini sepertinya tidak bisa membaca suasana hatiku.
“Tapi gue ada urusan Mel, sama yang lain gih,” ucapku mencoba melepaskan diri dari rangkulannya. Sesekali aku menoleh kebelakang, Daniel masih disana.
Menunggu cetakan kertas yang terus menerus keluar dari mesin fotokopi membuatku gelisah. Satu jam yang lalu rencanaku untuk bertemu Daniel gagal oleh sahabatku yang tidak peka ini. Semoga Daniel masih menunggu. Dan tentu saja, saat aku kembali ke sekolah anak laki-laki itu sudah tidak ada. Daniel pasti pulang, mana mau dia menunggu selama itu hanya untuk “sekedar ngobrol sebentar”. Dia pasti mengira aku bohong.
"Ah sial!", Aku menggeram dalam hati. Usahaku untuk mengembalikan pertemanan kita gagal. Aku harap masih ada kesempatan kedua.
Setelah hari itu aku berpikir keras bagaimana caranya agar bisa memperbaiki persahabatanku dengan Daniel. Aku duduk berpangku tangan sambil melihat teman-temanku yang asik sendiri di jam kosong ini. Samar-samar kudengar suara dari meja seberang.
“Eh Daniel mau ulang tahun enaknya gue ngasih kado apa ya?”, aku melirik sekilas. Adelin dan geng cabe-cabeannya kali ini menarik perhatianku.
Bukan berita baru lagi kalau Daniel dan Adelin sedang dekat, dan ya aku tahu seminggu lagi adalah hari ulang tahun Daniel. Jelas aku lebih tahu dari dia karena aku adalah sahabat Daniel sejak SMP. Setidaknya kami pernah bersahabat. Sebuah ide melintas di pikiranku, tanpa pikir panjang aku segera mengajak Melodi ke sebuah toko jam tangan sepulang sekolah. Berbekal uang tabungan yang kupunya aku menunjuk sebuah jam tangan yang mengingatkan pada sosok Daniel. Aku akan memberikan ini sebagai kado Ulang Tahun.
“Daniel! Selamat Ulang Tahun ya”, ucapku tulus sambil kusodorkan Jam tangan yang dibungkus paperbag kecil. Kulihat anak itu menatapku sesaat dan menerima kado itu.
“Makasih,” dan dia berlalu pergi.
Sebenarnya aku agak kecewa, bukan respon dingin itu yang aku harapkan. Aku ingin ini menjadi kesempatan kedua agar kita bisa seperti dulu, kembali menjadi sahabat yang menjagaku seperti kakak menjaga adiknya. Tidak, aku ingin lebih dari itu.
"Maksud lo apa kecentilan gitu sama Daniel?”, Adelin. Anak itu berdiri sambil bersedekap di depan pintu kelas menghalangi jalanku.
“Hah?” jawabku tak mengerti.
“Zelin? Lo tau kan Daniel lagi deket sama gue? Lo kenapa centil banget sih pake ngasih kado segala?”
“Lhah emang kenapa? Kan gue temennya Daniel,” jawabku tegas dan sialnya si Adelin dan geng cabe-cabeanya malah menyeringai. Mereka nggak percaya, itu pasti.
“Daniel aja nggak nganggep lo temen, bego”, balas Adelin diikuti anggukan setuju dari teman-teman gengnya.
Aku diam. Malas meladeni mereka.
Yang bego itu kalian. Kalian mana tau gue yang sahabatan sama Daniel lebih dari tiga tahun, gue yang lebih dulu kenal sama Daniel dan gue yang duluan sayang sama Daniel. "Lo mukanya aja yang cantik, tapi kelakuan kaya bangs*t. Anj*rr!!", batinku.
Harus kuakui Adelin memang anak yang cukup terkenal, wajahnya cantik, tubuhnya mungil dan dia memiliki otak cerdas. Sedangkan aku hanya Zelin, tidak terlalu terkenal dan bukan anak cerdas pemegang ranking di kelas. Aku hanya biasa-biasa saja.
Beberapa hari setelah Ulang Tahun Daniel, aku sering memperhatikannya di sekolah. Lebih tepatnya, aku memperhatikan pergelangan tangannya. Tak sekalipun aku melihat jam tangan yang kuberikan melingkar disana. Tak sekalipun. Saat jam olahraga usai aku segera menuju kantin dan disana aku mendapati Daniel tengah duduk sendirian. perlahan kuberanikan diri menyapanya.
“Hai Daniel!!”, ia hanya melirik sekilas.
“Jam tangannya kok ga pernah dipake?”, sekali lagi Daniel hanya melirikku sekilas
“Ilang,” jawabnya singkat dan berlalu pergi. Aku hanya tersenyum melihatnya melangkah hingga punggungnya hilang di belokan. Sakit? Tentu saja aku sakit hati. Bahkan aku sekuat tenaga menahan tangis.
Aku baik-baik saja.
Setelah jam istirahat usai aku kembali ke kelas. Tak biasanya kelas seramai ini. Anak-anak tengah mengelilingi bangku tempat duduk Adelin sambil mengucapkan selamat. Aku melangkah tak peduli ke tempat dudukku disamping Melodi. Kulihat anak itu tampak menatapku sambil memberikan senyum prihatin. Dia tau aku suka Daniel meskipun aku tak pernah mengatakannya, dia tahu.
Aku membalas senyumnya, aku tahu aku sudah kalah. Daniel tak akan pernah memilihku. Aku menghembuskan napas berat dan menatap keluar jendela. Rasanya tidak adil langit biru tampak begitu cerah sementara suasana hatiku diliputi badai. Aku menatap lamat-lamat langit itu, Daniel memang terlalu tinggi buatku, terlalu jauh buatku dan dia tidak akan pernah kugapai. Sudah saatnya aku menyerah.
Yahh begitulah, aku harap siapapun yang membaca cerita ini dia memiliki kisah cinta yang lebih baik dan bisa bersama orang yang di cintainya.