Aku hanya ingin berbagi sedikit kisah ku bersama kedua malaikat tak bersayap yang membesarkanku.
***
~Rindu ini terlalu dalam hingga mengungkitnya saja bisa membuat air mata seketika menetes tanpa aba-aba.~
Mungkin kata kata ini mewakili perasaan yang kini masih saja sakit ketika mengenang kedua malaikat ini.
Banyak yang bertanya apakah kamu tak iri melihat mereka berpacaran?. Aku tak iri dengan mereka yang memiliki pacar ataupun kekasih, aku hanya iri dengan kedua malaikat ini yang hidup semati. Yah benar kisah mereka tak seperti alm Bj. Habibie mau pun almh Ainun tapi kisah cinta mereka tak luput dari kisah cinta sejati.
Setiap kali melihat sebuah kelurga yang utuh sungguh hal itu menyakitkan. Dan jika di tanya apakah diriku iri?, Yah aku iri. Bukan iri melihat seorang wanita tertawa bersama pacarnya, ataupun seorang lelaki bermesraan bersama pacarnya. Tapi aku iri dengan seorang anak perempuan yang bercengkrama bersama ayahnya hingga Tertawa bersama, begitu juga seorang anak lelaki bersama ibunya. Sehingga seorang anak itu lupa akan beban dalam hidupnya maupun masalah dalam hidupnya.
Yah benar kata semua orang, cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya dan untuk anak lelaki, ia milik ibunya hingga akhir hayatnya.
Menjadi anak mereka adalah keberuntungan ku, aku bersyukur pada sang kuasa karena telah memberikan malaikat tak bersayap menjadi kedua orang tuaku. Sungguh memiliki kedua malaikat itu adalah keberuntungan ku. Memiliki kedua orang tua seperti mereka sungguh sebuah keberuntungan.
Memiliki seorang ibu yang begitu menyayangi anak anaknya, walau suka marah tapi dia tetap sayang kepada anak anaknya begitu juga sang ayah. Singkatnya aku hanya ingin membagikan kisah dimana kedua malaikat tak bersayap itu pergi dengan perlahan menghadap sang pencipta dan meninggalkan ku.
Berawal dari sang mama. Seminggu sebelum kematian menjemput nya, aku bersama kakak pertamaku yang tinggal terpisah dari mereka berkunjung dikampung halaman untuk melihat kedua malaikat itu. Aku ingat waktu itu hari Sabtu, di sana kami tertawa dan bersenang-senang karena kunjungan kami. Mama terlihat senang, aku tak pernah melihat wajah kesenangan itu. Yang ku tau mama tidak terlalu suka bercanda tapi kali ini mama seperti orang yang berbeda, di benapku terpikir sebuah pertanyaan,
"ada apa dengan mama?, Mengapa mama berbeda?, Ah mungkin hanya perasaanku".
Waktu itu sudah mulai gelap dan kami berpamitan untuk pulang karena pekerjaan kakakku sebagai polisi membuat ia harus mengikuti apel malam di malam Minggu. Aku ingat, ingin mama ingin menonton siaran TV Indosiar tapi dirumah Masih ada gangguan sinyal jadi tak bisa menonton TV, hingga kami menyarankan liat saja di smartphone setelah semuanya selesai mama tersenyum. Di sana aku mempersiapkan barang barang untuk di masukkan kedalam mobil. Papa dan mama bercengkrama hingga papa mengatakan,
"sekali kali kan, siapa tau papa duluan",
aku yang kaget terdiam seribu bahasa, mendengar hal itu hatiku terasa di remuk. Pikir semua mungkin papa yang akan pergi terlebih dulu namun kenyataannya tidak.
Setelah berpamitan dan pergi dari sana, perasaanku bercampur aduk tak tenang dan tanpa aba-aba air mata jatuh mengalir.
Hari selanjutnya, hari Minggu. Mama pergi ke pasar untuk membeli rempa rempa di dapur tapi di tengah pasar mama merasa pusing dan badan terasa agak panas, lalu mama menelpon papa dan mengatakan segalanya, papa berkata
''pulang dari pasar langsung kedokter".
Mama mengikuti perkataan papa. Sesampainya di rumah mama sudah agak mendingan.
"Gimana mah?",
"Udah mendingan pah",
"Kalau belum merasa sehat mama gak usah kesekolah dulu besok",
"Iya, insyaAllah".
Percakapan itu masih berlanjut tapi hanya itu yang ku tau. Esok harinya mama tetap memaksakan diri pergi mengajar. Mama membereskan segalanya yang mampu ia bereskan. Ketika papa sampai di rumah, mama belum juga pulang. Jam menunjukkan pukul 18:00 yang berarti itu sudah hampir gelap dan sudah memasuki waktu sholat magrib. Setelah beberapa menit mama sampai di rumah. Mama membersihkan tubuhnya dan bercerita dengan papa hingga pada akhirnya demam mama meninggi dan harus di bawah kerumah sakit. Aku dan kakak pertamaku segera pergi menjemput mama dan papa. Ketika kami sampai, aku melihat mama yang menahan rasa sakit dan papa dengan setia menemaninya, singkat cerita kami pun sampai di rumah sakit. Hari demi hari berlalu dengan kondisi mama yang naik turun. Aku ingat mama ku mengeluh padaku ketika kami berdua, ia berkata badannya sudah muncul bintik bintik merah, dan aku menjawab,
"iya mah, yang kuat yah, cepat sembuh nanti kalau mama dah sembuh kita bisa jalan jalan lagi, mama bisa makan yang mama suka tanpa ada lagi larangan dokter",
setelah jawabanku mama menganggung entah itu pertanda iya atau insyaAllah.
pesan mama padaku, jangan sampai aku lupa makan. Megapa? Karena aku seorang anak yang keras kepala ketika di suruh makan. Tak terasa hingga aku tak sadar selama 4 hari ku bercengkrama dengan akrab bersama mama adalah hal terakhir aku bersamanya, setelah 3 hari ku tak bertemu dengannya dan tiba-tiba mendapat kabar bahwa ia sudah pergi adalah hal yang menyakitkan, aku tak bersamanya ketika dia pergi dan itu menjadi sebuah penyesalan yang begitu menyakitkan bagiku menjadi seorang anak. Sesampainya aku dirumah sakit, aku melihat mama yang terbaring lemah tanpa nyawa. Aku mencoba menahan tangisku hingga pada akhirnya semua sia-sia tangisku pecah ketika mama diturunkan dari mobil ambulance, dimana semua orang menunggu mama untuk mengantar ia ketempat peristirahatan terakhirnya.
Semua proses sudah selesai tinggal langka terakhir yaitu mengubur mama. Aku berdiri melihat mama di angkat lalu di letakkan di tanah, perlahan tali demi tali di lepas dan wajah mama di tampak kan aku yang takuasa ingin lompat memeluk mama tapi di tahan oleh keluargaku sembari mereka mengucap sabar padaku, menguatkan ku agar lebih kuat.
Setelah kepergian mama, aku mencoba merawat papa dengan baik dengan semampu ku. Waktu yang di berikan sang Pencipta untuk menjaga papa hanya sampai 1 tahun 3 bulan, setelah kepergian mama. Yah Papa pergi menyusul mama, Saking cintanya papa pada mama untuk berpaling pun ia tak mau.
Aku ingat malam terakhir bersama papa, dia memelukku seperti balita, aku di manjakan olehnya. aku awalnya tak peka mengapa ia lebih memilih tidur diluar di banding di kamar. Aku masih sempat bertanya,
"pah kenapa pindah keluar? Kenapa gak di kamar aja?",
tanyaku tapi papa hanya menjawab agar dekat untuk ia pergi, pikirku hanya ketoilet tapi ternyata tidak. Aku melihatnya tak tidur, dan bertanya
"pah, kenapa belum tidur?", papa hanya menjawab
"iya nanti tidurnya, dedek tidur aja dulu",
"iya dedek tidurnya dikit lagi".
Aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 5 akan tetapi papa belum juga tidur, aku dengan mata yang berat menutup mata tak berapa lama kakak ku membangunkan ku, tanpa melihat kakak, aku melihat papa dan menghampiri papa yang nafasnya sudah sesak, aku dengan panik memegang dan memeluk tangan papa, sembari mengucap,
"pah??",
papa hanya mengangguk dan mengucapkan AllahuAkbar. Aku yang sadar akan hal itu menjadi terdiam seribu bahasa, pikiran ku kacau. Sedangkan kakak pertama, ketiga, kakak ipar maupun kakak sepupuku mencoba membujuk papa untuk kerumah sakit saat itu juga tapi papa menolak, aku mencoba bersuara walau suaraku mulai agak serak.
"pah, kita kerumah sakit yah"
ujar ku tapi jawaban papa tetap sama, aku yang merasa sudah saatnya hanya bisa berdoa agar papa bisa sehat dan sembuh dari penyakitnya, aku berkata lagi bahwa aku iklas, sungguh aku akan iklas agar papa bisa sembuh dari sakit ini. Di detik detik terakhir papa tak mau disentuh oleh siapapun kecuali aku, papa membiarkan ku memegang tanganya lalu memeluknya hingga ketika papa mengucapkan 2 kalimat syahadat, Kakak yang mendengar itu, mengucapkan bersama papa. Di sana aku memeluk tubuh yang perlahan mendingin itu begitu juga kakak pertamaku yang ikut memeluk papa. Jika bertanya tentang air mata?, aku sungguh menahan hal itu hingga detik demi detik, menit demi menit nafas papa mulai berhenti dengan perlahan dan jam menunjukan pukul 06.58 pada akhirnya papa menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukanku. Sungguh itu adalah hal yang memilukan untuk seorang anak gadis yang baru berusia 17 tahun, baru saja ia ingin membanggakan kedua orang tuanya namun Tuhan Berkehendak lain. Mencoba bertahan tegar agar air mata tak jatuh, aku tau kalian berfikir mengapa harus menahan air mata itu, mengapa tak mengelurkannya saja?, jawaban dari pertanyaan sederhana itu ialah, beliau pergi dengan berpesan agar tak ribut,
"jika ingin menangis, menangis saja tapi jangan terlalu yah sayang".
Setelah mereka berdua pergi, aku lebih suka menyendiri, banyak yang mencoba menghiburku, banyak yang ingin mengadopsi ku namun kakak pertamaku bersih kukuh untuk mempertahankanku dan selalu ingin membahagiakan ku.
Sekarang aku berusaha membuka lembaran baru dengan membawah kenangan dari kedua malaikat tak bersayap yang tak lain kedua orang tuaku.
Mereka berdua adalah malaikat tak bersayap yg di kirim Tuhan untuk membesarkan seorng gadis cengeng seperti ku.
Semoga mereka bahagia di tempat yang telah Tuhan tentukan untuk mereka.
Aku hanya berbagi kisahku, bagaimana kisahmu?.