Namjoon berkali-kali menghela napas sembari memandangi sebuah benda. Kalung dengan liontin bunga matahari yang terjatuh tepat di kelab malam. Kelab yang sama yang Namjoon datangi saat ini. Suasana temaram dengan dentuman keras memekik. Namjoon seakan tak peduli, ia masih larut dalam pengamatannya. Tak peduli mengamati dengan cahaya temaram dapat merusak matanya. Namjoon benar-benar tak peduli.
Angannya masih terpaku pada kejadian tempo hari, tepat saat dirinya tak sadarkan diri. Namjoon hanya kehilangan kesadaran tidak buta juga tidak amnesia. Ia ingat betul ia menari lepas bersama seorang gadis yang terlihat sama putus asa. Namjoon tak tahu siapa dia, seharusnya setelah ini pun Namjoon tidak usah tau siapa yang menari bersamanya waktu itu. Tidak usah peduli, buang-buang waktu.
Tetapi pada kenyataannya si gadis pemilik Kalung bunga matahari ini terus memenuhi pikirannya. Tak membiarkan Namjoon tenang barang sedetikpun, terus menghantui bagaimana gadis itu lihai membuat orang nyaman. Tapi sial sebab Namjoon terlalu larut dalam Euphoria nya sampai tidak jelas melihat bagaimana paras si pemilik kalung ini.
Hingga sudah terhitung hampir tiga hari Namjoon bolak-balik ke kelab ini hanya untuk memastikan apakah gadis ini datang lagi atau tidak. Setidaknya hanya untuk mengembalikan liontin ini. Namjoon bahkan tidak menyentuh minuman sama sekali, ia hanya duduk memperhatikan orang berlalu lalang, kalau sudah lelah pulang. Begitu terus selama tiga hari.
Sampai netra nya menangkap seseorang yang nampak familiar. Dengan gaun yang sama, gaun berwarna biru. Surai coklatnya tersibak seiring dengan badannya yang bergoyang mengikuti irama.
Pandangan mereka bertemu tepat ketika gadis itu menoleh ke arah Namjoon. Beberapa saat sempat terpaku, Namjoon cepat-cepat bangkit ketika gadis itu terlihat lari menuju pintu keluar. Namjoon dengan cepat mengejar. Adegan saling kejar itu berakhir dengan Namjoon yang berhasil menghadang gadis ini. Tentu saja kaki jenjang Namjoon mampu mengalahkan langkah kecil dari gadis dengan gaun ketat dan sepatu hak tinggi. Tidak susah bagi Namjoon mengejarnya.
Gadis itu terlihat masih terengah-engah, ia menatap Namjoon dengan keringat di pelipis. "Kenapa kau mengejar ku?" Tanya nya.
"Kenapa kau lari?" Tanya Namjoon balik. Keduanya saling diam untuk beberapa saat. Tatapan mereka tetap pada tempatnya, mengamati masing-masing seolah menyelesaikan perdebatan itu melalui tatapan.
"Ini milik mu." Namjoon mengerahkan tangannya di depan wajah gadis itu, kalung dengan liontin bunga matahari kini tepat menggantung di depan wajah gadis itu. Gadis itu mengerjap berulang kali. "Ah, aku pikir sudah hilang." Gadis itu hendak meraih kalung tersebut namun Namjoon meninggikan tangannya. Seolah ingin bermain-main.
Gadis itu kini menyilangkan tangannya di depan dada, menatap Namjoon seolah menantang. "Kau ingin bayaran karena menemukan kalung ku?" Tanya nya, Namjoon terkekeh singkat. "Aku sudah kaya." Jawab Namjoon.
"Lalu?" Tanya gadis itu.
"Kau harus membayar dengan hal lain, Jane." Gadis itu membulatkan matanya. "Kau tau nama ku?" Tanya nya dengan wajah yang sudah tak setenang tadi. Namjoon lantas membalik liontin bunga matahari tersebut, tepat di belakangnya terukir empat huruf besar bertuliskan 'Jane'
Jane kembali memasang wajah santai nya. "Jadi aku harus melakukan apa untuk mendapatkan kalung ku kembali?" Tanya Jane dengan senyum menggoda.
"Temani aku menari malam ini, seperti malam itu." Senyum Jane perlahan luntur, berganti dengan raut bingung. "Hanya itu?" Tanya nya, ia pikir pria di depannya ini akan meminta yang hal yang lebih gila.
Namjoon mengangguk. "Tapi kalau kau ingin menemani ku sampai hari tua juga tidak apa-apa."
"It's so klise." Namjoon terkekeh, berbeda dengan Jane, ia mendengus kesal sebelum beranjak kembali ke kelab meninggalkan Namjoon.
Baru beberapa langkah gadis itu kembali menoleh. "Ayo, sebelum aku berubah pikiran." Namjoon kembali tersenyum sebelum mengekor di belakang gadis tersebut. Akhirnya Namjoon menemukannya.