Telponku berdering! Ada panggilan yang masuk namun aku ragu untuk mengangkatnya karena aku tidak mengenal nomer panggilan yang masuk itu. Telpon ku terus berdering. Aku pun mengangkat telpon itu. Seraya dalam hati berkata : Mungkin ada penting" "Assalammu'alaikum"Terdengar suara perempuan yang mengucapkan salam, aku pun menjawab salam tersebut "Wa'alaikummussalam, Ini siapa ya? lalu orang itu menjawab "Saya kakak sepupunya Farid". Ya ada yang bisa saya bantu kakak?" . Gini dek saya tutup poin aja ya! "Ya ada apa kak?" Farid kecelakaan, di serepet motor saat berlangsungnya acara nyongkolan di jalan raya. Innalillah, Faridnya udah dibawa ke rumah sakit kak? dia dibawa kemana kakak? "Udah dek, farid udah dibawa pulang juga tadi sama kakaknya". Oh ya kak, terimakasih untuk informasinya. Telpon pun aku matikan. Aku pun kaget dan cemas ketika mendengar berita itu. Aku Ingin langsung melihat keadaannya.
Aku segera bergegas ke asrama pondok dan mengajak temanku untuk pergi menjenguknya. Kebetulan teman sekelasku itu ada hubungan keluarga dengan kak farid. Sotak ketika aku memberitahukan kabar itu kepada temanku, dia langsung mengiakan ajakanku untuk menjenguk kak farid, padahal matahari sudah hampir mulai tenggelam. Aku pun berusaha memijam motor ke salah satu teman asramaku agar bisa segera sampai ke rumah kak farid. Aku begitu panik sampai-sampai lupa izin kepada bibik dan pamanku ( Pemilik Pondok Pesantren ) untuk pergi keluar asrama. Yah yang namanya cinta kadang bisa melupakan segalanya. Heeehee karena yang di ingat hanya ia yang dicinta.
Sebelum berangkat temanku berkata "Tunggu-tunggu! Masak iya kita pergi jenguk orang sakit gak bawa apa-apa?
Oh ya ya aku lupa!! Aku pun masuk ke kamar pondok untuk mengambil uang yang ada di saku baju sekolah ku. "Ini aku cuma punya uang segini ( 15 ribu )". "Ini aku juga ada 10 ribu. Lumayan jadi 25 ribu, bisalah kita belikan dia roti nanti di warung, sebagai buah tangan kita" Sahut temanku sambil memberikan uangnya kepada ku.
"Oke lets go....
Kami pun berangkat menuju rumah kak farid, dan tak lupa kami mampir ke warung terlebih dahulu untuk membeli makanan sebagai buah tangan kami.
Sesampai di gang rumahnya, aku pun tiba-tiba merasa canggung untuk masuk ke halaman rumah kak farid. Rasanya malu sekali datang ke rumah teman laki-laki. Ini adalah kali pertama aku datang ke rumah kak farid.
Tadinya aku buru-buru ingin melihat keadaan kak farid, tapi ketika sudah mau sampai, aku malah menyuruh temanku untuk berjalan terlebih dahulu di depanku. Karena motor kami tidak bisa naik ke rumah kak Farid karena banyak bebatuan jadi kami jalan kaki ketika masuk ke halaman rumah kak farid. "Assalammu'alaikum" ujar kami ketika sampai disana. "Wa'alaikummussalam" jawab ibu dan bapak kak farid. Kami pun salaman kepada ibu dan bapak kak farid. Kami dipersilahkan untuk duduk. Temanku menyahut "Bu kak faridnya mana? kan katanya tadi dia kecelakaan!
Oh ya nak ini dia ada di dalam, ibu panggilkan dulu ya!.
"Nggih buk"
Keluarlah kak farid dari kamarnya. aku melihat luka di wajah, tangan dan kakinya. Aku tidak tega melihat banyak lukanya. Dia duduk di depanku sambil menahan rasa sakit. Dia berusaha tersenyum di hadapanku, sembari menceritakan kejadian yang dialaminya itu. Aku melihat matanya berkaca-kaca, menahan kesakitan karena lukanya tetap saja mengeluarkan darah. Rasanya ingin ku ambil tisu yang ada didepanku untuk membersihkan darah yang keluar dari pipi, tangan dan kakinya namun aku menahan diri agar tidak melakukannya karena tidak mungkin aku melakukan hal itu dihadapan keluarganya. Dan air matanya pun keluar, dia tidak mampu menahan rasa sakit itu. "Ya Alllah apa yang harus aku lakukan, nggak tega deh ngelihatnya" bergumam dalam hati. Aku pun berusaha untuk menghiburnya agar dia tetap tersenyum. Setelah ngobrol dengannya, waktupun memaksa kami untuk kembali ke asrama dan azan magrib pun sudah berkumandang. Padahal diri ini masih ingin lama-lama bersamanya. Yaa sudahlah. Kami pun pamit untuk pulang. Tadinya mau langsung salaman sama kak farid karena dia duduk berhadapan dengan ku. Tapi tidak mungkin juga kami mendahului ibu dan bapaknya. Kami pun bersalaman dan mencium tangan ibu, bapak dan kakaknya kak farid. Setelah itu, giliran kami pamit dan bersalaman dengan kak farid. Dia mengulurkan tanganya dan aku pun menjabat dan mencium tangannya seperti bersalaman biasa dengan orang-orang yang lebih besar usianya dari kami. Ketika selesai bersalaman kak farid mengatakan "Riya besok minta tolong ya kasih tau guru-guru kakak kalau kakak gk bisa masuk sekolah minggu-minggu ini karena keadaan ini!". "Nggih kak, insyallah besok saya minta kan izin" Jawabku. Teman ku pun ( misanya kak farid ) juga bersalaman dan mencium tangan kak farid. Sebagai tanda penghormatan kami kepada orang yang lebih besar. Setelah itu kamipun beranjak pulang. Jujur ya rasanya benar-benar beda ketika bersalaman dengan kak farid, tidak seperti bersalaman biasa dengan orang lain. Kayak ada bunyi-bunyi dag dig dug der gitu. Heeeheeehee Mungkin karena ini merupkan kali pertama aku bersalaman dengannya. Sungguh dia telah membuat hati ku berdebar sedemikian kencangnya.