Sinar mentari pagi menerpa wajah. Aku bergerak malas diatas tempat tidurku. Aku benar-benar mengantuk setelah menonton semalaman. Mata ini benar-benar tidak bisa dibuka sampai dering ponsel membangunkanku.
"Hai Nona, belum bangun?" Tanya sebuah suara yang ku kenali.
"Haaaah? Aku? Sudah... Sudah..." Aku tersipu malu mendengar suaranya.
"Kalau begitu buka pintunya,"
"Eeeh kamu di depan?"
"Buka pintunya!" Katanya. Aku menyingkirkan selimut dan segera keluar kamar membuka pintu. Aaah dia berdiri di depanku. Memakai topi yang dibenamkan dalam, memakai masker, baju kaus putih dan jaket hitam, juga celana hitam yang sobek di salah satu lututnya. Dia benar-benar keren. Sesaat sebelum masuk ia menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Jadi ini wajah sudah mandi?" Tanyanya memperhatikan wajahku dan mencubit hidungku. Aku malu.
"Kau juga belum mandi kan?" Tanyaku sambil.membuka topimya dan melemparnya ke atas meja.
"Aku belum mandi tetap wangi kan?" Tanyanya, aku mencibir. Tapi membenarkan dalam hati. Mungkin memang semua artis selalu wangi. Ya, pacarku adalah salah seorang idol. Tergabung dalam sebuah grup boyband bernama TOXIC. Mereka terdiri dari 5 orang pria ganteng. Mereka adalah Joon, Lee, Hahn, Ed dan yang terakhir Sean, pacarku. Ya, dia berpacaran dengan salah satu penggemarnya. Bukankah itu sebuah kebanggaan? Tentu, tapi banyak hal yang harus ku jaga.
"Ya... Kamu dari mana?" Tanyaku duduk disampingnya.
"Aku dari latihan. Tadi malam kami latihan untuk tour selanjutnya, aku juga diajak kerja sama dengan beberapa perusahaan ponsel dan alat musik untuk aransemen, oh ya aku juga menulis beberapa buah lagu. Nanti ku tunjukkan padamu. Aku ingin istirahat sebentar," Katanya sambil menengadahkan kepalanya pada sandaran sofa, lalu menutup sebagian wajahnya dengan lengan putihnya.
"Istirahatlah, aku akan menyiapkan sarapan dan mandi," Kataku sambil melihatnya. Wajahnya benar-benar tampak lelah. Tak lama terdengar dengkur halus, aku tersenyum melihatnya. Ditambah lagi ia tertidur dengan mulut sedikit terbuka. Aaaihhh gemas sekali rasanya.
Bergegas aku mandi dan menyiapkan beberapa makanan kesukaannya. Disaat aku sedang memotong sayuran, ia menghampiri sambil menguap.
"Wangi sekali, aku jadi lapar," Katanya mengelus perutnya.
"Mandi dulu sana," Aku mendorong tubuhnya. Ia tersenyum dan menyambar handuk yang kusediakan lalu masuk ke kamar mandi. Aku melanjutkan memasak.
Setelah selesai memasak aku membuat kopi kesukaannya. Lalu duduk aku duduk di depan televisi menunggunya selesai mandi. Tak lama aroma sabun menguar memenuhi ruangan.
"Nonton apa?" Tanyanya.
"Kartun," Jawabku tanpa menoleh padanya. Ia hanya terbahak dan mengusap rambutku.
"Kapan dewasanya," Katanya sambil duduk disampingku.
"Kapan-kapan," Jawabku. Ia meraih remot dan mematikan televisi. "Heiiii...!" Aku baru saja akan protes, ia sudah mengecup keningku.
"Cuek banget,kamu nggak kangen?" Tanyanya. Aku balas memeluknya.
"Aku kangen banget, banget, banget, banget," Kataku sambil menelusup ke dadanya.
"Karena kamu kangen, gimana kalau hari ini kita habiskan waktu untuk jalan berdua?" Tanyanya. Aku menggeleng kuat.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Nanti terlihat media, terlihat banyak orang dan terlihat fansmu," Kataku. Ia tersenyum.
"Tidak akan,"
"Tidak, tidak, tidak. Aku tak mau mengambil resiko. Media akan dengan senang menggoreng berita. Nanti reaksi fans mu malah lebih mengerikan," Aku bergidik.
"Kamu kan juga fans ku" Katanya merangkul bahuku.
"Kan aku spesial," aku tersenyum ke arahnya.
"Lalu? Kamu mau kita kemana? Aku libur sehari ini," Tanyanya.
"Aku nggak mau kemana-mana. Menghabiskan waktu denganmu jauh lebih baik," Kataku.
"Maafkan aku yang tak bisa mengajakmu jalan, menggandengmu dengan bebas," Katanya sambil menunduk.
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja asal kamu setia. Aku nggak mau kamu kehilangan fans, aku nggak mau TOXIC digosipkan. Dan satu hal yang harus aku jaga, fans garis kerasmu," Aku mencoba tertawa meski terdengar sedikit bergetar. Ya, aku takut dengan fans mereka yang benar-benar mengidolakan TOXIC. Mereka sanggup melakukan apa saja bahkan mereka merasa idola adalah milik mereka. Aku tak siap jika nanti mereka menerorku.
"Sampai kapan?" Tanyanya.
"Entahlah," Jawabku. Lalu suasana hening menyelimuti.
"Sudahlah, ayo makan," Aku mencoba tersenyum di depannya dan menarik tangannya menuju meja makan. Kami makan dengan suasana hangat, ia bercerita banyak hal tentang musik, temannya, keluarganya. Aku senang melihatnya bisa tertawa lepas. Karena selama di TOXIC imejnya benar-benar kaku. Para fans menjulukinya si beruang kutub. Karena sifatnya yang dingin tetapi memiliki wajah imut menurut mereka.
"Gimana kalau aku ngajak kamu ke studio aja?" Tanyanya.
"Aku mau," Jawabku semangat. Aku selalu menyukai studio mereka, tempat latihan, ruang olahraga, ruang istirahat, halaman belakang yang luas dan tertutup. Setidaknya disana benar-benar aman dengan penjagaan yang ketat. Tak semua orang bisa masuk.
Aku memakai tanktop hitam dan outer abu-abu, celana hitam dan sepatu hitam. Tak lupa juga topi. Aku memggeraikan rambut ikalku. Sengaja aku memakai serba hitam, menyesuaikan dengan pakaiannya.
***
Sesampainya di dalam studio, ternyata semua anggota TOXIC sedang berkumpul.
"Kalian di sini juga?" Tanya Sean.
"Hai..." Mereka semua tersenyum ke arah kami.
"Hai, apa kabar?" Aku mendatangi mereka saty per satu.
"Baik, baik.. ," mereka menjawab sambil tersenyum manis.
"Lee, kenapa lututmu?" Tanyaku melihat lebam dan memerah.
"Jatuh tadi malam latihan," Jawabnya. Iseng aku mengeluarkan plaster bergambar Hello Kitty berwana putih dan merah muda dan menempelkan di lukanya. Semua member tertawa terbahak melihat leader mereka yang sangat aktiv saat nge-dance harua memakai plaster.
"Aku juga terluka kakak," Kata Hahn menyodorkan lengannya tapi langsung di tepis oleh Sean.
"Kamu modus, udah sana!" Usir Sran pada Hahn yang selalu menggangguku hanya untuk membuat Sean cemburu.
"Liburan, kita malah ngumpul di studio semua. Ini sih bukan libur," Kata Joon
"Ya, aku males mau keluar. Enak rebahan aja. Panas gini," Ed menimpali.
"Ya sudah, kita lahiran koreo aja. Versi santai," Ajak Lee. Ah leader ini memang nggak bisa liat membernya santai.
"Kamu tunggu di sini yah, liat aku," Sesaat sebelum bergabung dengan temannya Sean menarikku ke arah lantai, aku duduk di sana melihat mereka latihan.
Tak terasa dua jam berlalu mereka latihan. Aku yang orangnya bosenan langsung tertidur. Aku tersadar saat ada ramai tepuk tangan. Rasanya saat itu aku bermimpi menonton konser TOXIC, dan semua TOXER-sebutan untuk fans mereka bertepuk tangan. Aku membuka mata dan OH MY GOD! Ternyata mereka bertepuk tangan di sekelilingku. Dasar jahil. Mereka hanya tertawa melihatku menunduk malu di kerjai.
Sean datang menyelamatkan. Dia merangkulku dan mengajak ke ruang rekaman. Yang lain mengejek kami sambil tertawa.
"Kalian itu kapan dewasanya sih," Aku kesal dibangunkan dengan keisengan mereka.
"Pria itu nggak pernah dewasa. Nanti kalau dia dewasa kamu ketakutan hehehe," Sean terkekeh saat membukakan pintu lalu aku masuk disusul olehnya.
Dia mengambil gitar, "Dengarkan lagu ini," Ucapnya saat mulai memainkan gitarnya.
🎶
Aku merasa sendiri
Tanpamu...
Cinta ini penuh misteri...
Akankah rahasia ini akan terbuka
Aku rindu...
Balaianmu...
Diantara berjuta tawa dan canda...
Dapatkah aku, memelukmu, mencintamu, memilikimu seutuhnya... Sebenarnya... Tanpa ra-ha-siaaaaa....
🎶
Aku terpesonaaaaaa. Aku benar-benar hanyut dalam suara indahnya. Apalagi dengan gaya coolnya. Adeeek meleleh abaaaaaang.
"Kamu suka? Aku ciptain lagu ini tadi malam khusus untukmu," Ia menatapku dengan dalam. Mata tajamnya membuatku tak bisa bergerak.
"Aku suka, bagus" Entah kenapa aku sedikit gugup. Ia mendekatiku, ia menunduk dan meletakkan kedua tangannya di bahuku. Ia mendekat lalu mengecup bibirku sekilas.
"Maafkan aku, tak bisa mengenalkanmu pada dunia. Tak bisa menggandengmu bebas. Tak bisa menghabiskan weekend dengan mu, tak bisa berjalan dimana saja dan kapan saja," Ia menunduk di depanku. Ada sedikit iba melihatnya. Mungkin ia sudah sangat lelah, hari ini ia tidak ceria seperti biasanya.
"Aku tak ingin merusak mimpimu. Raihlah semua sampai kamu jenuh. Aku akan setia nunggu kamu, kenapa kamu sesedih ini?" Tanyaku membelai rambut halusnya.
"Aku... Lelah dengan semua ini. Ingin sekali istirahat tanpa memikirkan besok tour, memikirkan acara televisi, wawancara dan semuanya," Ia berjongkok di depanku dan meletakkan kepalanya dipangkuanku.
"Bukankah ini cita-cita kamu? Nikmati saja dulu, nanti akan ada waktunya kamu bersantai denganku," Aku masih membelai rambutnya dan menepuk pelan pipinya.
"Entah kapan. Sekarang kami benar-benar tidak ada waktu bersantai," Ia menatapku sedih.
"Ingat banyak fans menunggumu, ada aku juga yang selalu menunggu dan melihat penampilanmu. Semangat," Aku tersenyum kearahnya.
"Bagaimana kalau kamu ikut aku tour?" Tanyanya.
"Tidak tidak tidak, itu beresiko. Akan ada banyak pertanyaan nantinha. Tapi aku hanya akan hadir di konser terakhirmu di Singapur,"
"Benarkah?" Tanyanya dengan raut bahagia. Aku mengangguk dan ia memelukku erat.
Beginilah resiko yang harus aku jalani. Tak pernah bisa selalu bertemu, bisa menahan cemburu saat banyak wanita mengidolakannya, banyak yang menginginkannya. Tak bisa bebas mengunggah foto saat bersama. Yang aku lakukan membuat akun palsu dengan privasi untuk memuat foto-foto kami. Atau sama seperti fans lainnya, mengedit foto dia dan aku agar seperti orang pacaran. Hihihi lucu kan?
"Ingat, selama konser jangan buka-buka baju pamer-pamer perut. Makin menggila fans mu," Aku mencubit hidungnya.
"Kalau yang menggila kamu aku mau kok," ia tersenyum lebar, aku memukul bahunya. Ia tersenyum, menarik tanganku dan menciumnya. Aku tersipu malu dibuatnya.
Sampai sore aku menghabiskan waktu bermain bersama member TOXIC. Dan saat malam, kami makan malam bersama bahkan beberapa crew ikut. Mereka adalah orang-orang kepercayaan. Dan mereka tidak akan membuka suara tentang hubunganku dan Sean.
Setelah makan malam, aku pamit pada semua member dan crew.
"Terimakasih sudah mengijinkanku bermain di sini," Aku menunduk pada mereka.
"Terimakasih juga, kalau ada kami sering-seringlah main ke sini. Kami nggak ada hiburan hehehe," Hahn berkata sambil memegang tanganku tapi langsung di tepis oleh Sean. Aku dan semua orang tertawa melihatnya.
"Besok kirimi aku boneka Hello Kitty ya," Kata Lee sambil membentuk love dengan kedua tangannya. Aku mengangguk dan tersenyum mengingat plaster yang ku berikan masih tertempel di lututnya.
"Terimakasih sudah menjaga rahasia kami, dan hubungan kalian. Aku berharap suatu saat kamu dan Sean bisa bergandengan tangan selalu dimana saja" Kata Joon.
"Aamiin, terimakasih Joon," Aku pun langsung pemit pada mereka.
"Kami akan menjaga Sean untukmu selama konser!" Teriak mereka saat kami berjalan keluar. Aku mengangguk berterimakasih kepada mereka.
"Ingat jaga makanmu, jaga kesehatan, supaya kamu bisa hadir di konserku. Dan ini tiket untukmu di konserku. Kamu yakin hanya mau konser yang terakhir? Nggak mau ikut semuanya?" Tanyanya sambil menyerahkan dua buah tiket
"Yakin, dan kamu harusnya yang jaga kesehatan supaya tampil prima saat di panggung, buat aku dan TOXERmu bangga dan terpesona," Aku berkata dengan suara tang sedikit serak. Rasanya ingin menangis ditinggalkan lumayan lama. Karena mereka akan tour keliling Asia. Akan lama sekali sampai mereka bisa bertemu.
"Sudah, jangan menangis. Bisa-bisa aku membatalkan konserku," Katanya memgusap airmata di pipiku. Aku menggeleng.
"Jangaaan, pergilah. Sudah malam," Aku berusaha tampak baik-baik saja.
"Maaf kalau nanti aku jarang menghubungimu, tapi bila aku sempat aku akan mengirimu video selama di sana. Cek selalu email-mu" Sean berkata sambil membukakan pintu rumah untukku.
"Baik, terimakasih tiketnya. Aku dan Sharen akan hadir. Aku pastikan dia siap menemaniku," Aku tersenyum.
"Terimakasih," Sean tersenyum lalu ia meraih daguku, lagi-lagi ia menciumku. Aku yang tak ingin berpisah memeluknya. Ia pun memelukku dengan erat.
"Sudah, jangan nangis. Kamu terlihat jelek. Sudah ya, masuklah dan istirahat," Ia melambai saat aku menutup pintu. Berat rasanya harus berpisah berminggu-minggu dengannya. Padahal ia di negara ini baru seminggu. Lalu kami akan berpisah kembali.
***
Sorak sorai suara menggetarkan panggung. Lampu-lampu menyorot di segala penjuru. Lampu dari tangan TOXER berkelip di langit malam. Semua menikmati suasana konser. Aku meneriakkan nama Sean berkali-kali diantara hingar bingar suara teriakan. Aku tahu ia takkan mendengar, tapi aku yakin ia akan mencari-cari.
Benar saja, berkali-kali ia menoleh saat ia selesai dengan lagu dan dancenya. Lee membisikinya. Ia melirik dan ketemu! Mata kami saling bersitatap. Ada bias ri du di matanya. Aku mengirimkan bentuk hati ke udara. Ia tertawa dan kembali ke back stage.
Aku tak berani ke back stage, akan banyak rumor nantinya. Aku akan menyelusup saat mereka jumpa fans. Tak sabar rasanya menunggu saat itu. Rasa ini harus terobati meski sebentar.
Kembali fans berteriak di sekitarku saat aku sedang membayangkan pertemuan kami. Member memintanya menyanyikan sedikit lagu Secret Love. Ia menyanyikannya dengan lembut. Aku meleleh meleyot kembali. Bagaimana tidak? Itu lagu yang pernah dinyanyikannya untukku saat di studio. Saat melihat sekeliling, semua fans wanita merasa terbang ke awan. Aaaah kamu membuat aku cemburu dan juga bangga sekaligus bahagia, Sean. I love youlah pokoknya.😁 Babaaaaaaaang, adek rinduuuuuuuuuuuuu
~Tamat~
30/8/2021
Kang Halu kalo ngimpi nggak kira-kira🤣🤣🤣 semoga suka ceritanya