"Aku tidak mengidolakan Anda dan bukan fans Anda. Tapi, aku menyayangi Anda lebih dari seorang penggemar."
=•=•=•=•=•
(Disarankan untuk membaca bagian pertama terlebih dahulu)
"Akhirnya kakak sudah bangun," ucap seorang gadis berusia empat belas tahun. Sedari tadi, dia menemaniku selama aku tak sadarkan diri.
"S.. siapa kamu?" tanyaku padanya. Ya, aku memang kehilangan sebagian besar ingatanku. Aku mencoba untuk mendudukkan tubuhku.
"Jadi kakak benar-benar amnesia? Aku Ivany, kak. Aku adikmu." ucapnya sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Ivany?"
"Iya, aku Ivany. Dan kamu Ivanya, kakakku."
"Apa yang terjadi?" tanyaku lagi sambil memegang kepalaku yang sedikit berdenyut.
"Jadi, waktu kakak pulang dan sedang dalam perjalanan, bus yang kakak tumpangi mengalami rem blong dan kecelakaan setelah itu. Bus nya terguling di jurang sedalam dua puluh lima meter, tapi untungnya tidak ada korban jiwa. Dan kakak mengalami amnesia akibat benturan keras di kepala." Ivany menjelaskan. Aku mencoba mengingat kejadian mengerikan itu.
"Sudahlah, yang penting sekarang kakak sudah baik-baik saja, meskipun tak ingat diriku-" ucapan Ivany terpotong setelah ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku. Ivany pun berjalan ke arah pintu dan membukakan pintu.
"Eh Taka-san.." ucap Ivany. Taka? Sepertinya aku mengenal namanya. Di mana aku pernah mendengarnya?
"Kakakmu sudah siuman?" tanyanya pada Ivany.
"Iya, baru saja. Dia benar-benar kehilangan ingatan."
"Apa aku boleh menemuinya?"
"Tentu saja. Silahkan masuk."
Ivany pun mengajak orang itu untuk masuk. Ketika aku melihat wajahnya, sepertinya tidak asing. Kapan aku pernah melihatnya?
"Hmm, ah! Aku baru ingat, aku masih mempunyai PR yang belum aku kerjakan. Jadi, aku akan pergi ke kamar dulu ya." ucap Ivany, kemudian keluar dari kamarku. Di sini hanya tinggal aku dan laki-laki itu.
"Baiklah, selamat belajar." balas laki-laki itu ketika Ivany keluar dari kamarku.
"Ivanya," ucapnya memanggil namaku. Aku menatapnya dengan tatapan biasa.
"I..iya?" balasku singkat.
"Syukurlah keadaanmu sudah mulai membaik. Aku benar-benar cemas ketika mendengar kabar kalau kau kecelakaan." dia berdiri di sebelah tempat tidurku.
"Kamu.. siapa?"
"Kamu tidak ingin aku? Aku Takaaki Nakagami. Delapan hari yang lalu, kita baru saja bertemu." jawabnya. Tentu saja jawabannya sedikit membantuku untuk mengingat kejadian yang sebenarnya.
"Takaaki Nakagami? Seorang rider?" tanyaku, ingatanku memang tak sepenuhnya hilang. Ada banyak hal yang masih tersimpan pada memoriku.
"Iya, aku seorang rider."
"Rider yang pernah mengalami insiden wearpack terbuka?"
"Bukan, itu rider lain, bukan aku." aku menganggukkan kepalaku setelah mendengar jawabannya.
"Jadi, apa yang kau ingat, Ivanya?" tanyanya padaku. Aku kembali mengingat suatu hal. Hal yang terjadi padaku dan dia delapan hari yang lalu.
"Delapan hari yang lalu, sebelum aku pulang, kita menghabiskan waktu berdua. Anda mentraktir aku, dan mengantarkan aku ke bandara." Kejadian itu terputar dengan sendirinya di kepalaku.
"Iya, itu benar. Aku juga mengajakmu menemui rekan-rekan timku. Kau ingat?" aku menggeleng pelan setelah dia bertanya. Dia tersenyum tipis padaku.
"Tidak apa-apa, aku tau kau pasti akan cepat pulih." ucapnya sembari menggenggam tangan kananku.
"Di mana ayah dan ibuku?" tanyaku lagi. Sepertinya, di rumah ini hanya ada kami bertiga, aku, Taka, dan Ivany.
"Mereka sedang bekerja, jadi aku akan bersuka rela untuk menjagamu." jawabnya. Aku sedikit memiringkan kepalaku.
"Sekarang hari apa ya? Anda tidak ada race?" aku mengungkapkan rasa penasaranku dengan pertanyaan tadi. Memang sedikit aneh bagiku.
"Sekarang hari Selasa. Aku absen."
"Apa? Anda absen hanya demi diriku?"
"Haha.. hanya bercanda kok. Pekan kemarin tidak ada race. Sebelum kami berangkat ke Eropa, banyak di antara kami yang berlibur dulu. Dan aku pergi untuk menemuimu." ucapnya sambil tersenyum manis. Jantungku kembali berdebar.
"Kamu pasti lapar kan, setelah tidur selama delapan hari? Aku akan ke bawah dulu." ucapnya sambil berjalan ke arah pintu. Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh. Dalam hati, aku bertanya-tanya. Bagaimana dia bisa tau rumahku? Bagaimana dia bisa tau kalau aku kecelakaan? Setahuku, dia belum menyimpan nomorku.
Lima menit kemudian, dia kembali sambil membawa sepiring onigiri yang sepertinya baru dibuat.
"Ini, aku membuatkan onigiri untukmu." ucapnya. Sekarang aku mengingat suatu hal lagi. Taka-san memang pandai memasak juga. Di media sosialnya, dia pernah memposting video dia sedang membuat kue untuk perayaan hari ibu di Jepang. Benar-benar karakteristik kekasih idamanku, hehe.
"Anda yang membuatnya?" tanyaku sambil membelalakkan mataku tak percaya. Dia membuatkan makanan untukku.
"Iya, kau terima atau tidak? Kalau tidak, aku buatkan yang lain."
"Iya-iya, aku terima." jawabku sambil mengangguk. Aku memang sudah sangat lapar sekarang.
Aku pun memakan satu per satu onigiri buatan Taka-san. Enak, sangat enak. Apalagi saat aku sedang kelaparan seperti sekarang, dan juga ditemani laki-laki tampan seperti dia.
Setelah aku selesai makan, dia memberikan sebotol air minum untukku. Aku jadi merasa merepotkan dia.
"Arigatou gozhaimasu, Taka-san. Maaf sudah merepotkan-"
"Bukan apa-apa, Ivanya. Memang itu yang aku mau. Aku ingin membuatmu bahagia dengan cara ini."
Setelah itu, suasana menjadi sunyi. Taka-san duduk di kursi meja belajarku sambil terus menatapku, meskipun aku menundukkan pandanganku.
Setelah mengisi perutku, aku jadi ingin ke kamar mandi. Bagaimana ini? Tidak mungkin Taka-san akan menemaniku kan?
Perlahan-lahan, aku turun dari tempat tidurku. Aku memang masih kesulitan berjalan, tapi harus bagaimana lagi?
"Eh, kau mau kemana?" tanyanya sambil menangkap tubuhku yang hampir kehilangan keseimbangan.
"Aku.. aku.. ingin ke kamar mandi." ucapku malu. Apalagi dia laki-laki dan usianya berbeda jauh denganku.
"Biar aku membantumu."
"Tidak, tidak perlu." ucapku menolak bantuannya sambil menggeleng pelan.
"Tapi kau kan masih kesulitan berjalan. Kalau begitu, sampai depan pintu kamar mandi saja, bagaimana?" ucapnya bersikeras. Mau tidak mau, aku pun menerima. Dia pun merangkulku sampai di depan pintu kamar mandi.
Setelah itu, dengan perlahan dan sangat hati-hati, aku masuk ke ruangan itu untuk melaksanakan panggilan alamku.
Tidak lama kemudian, setelah aku selesai. Aku menatap diriku di depan cermin. Diriku yang berantakan, belum mandi pula.
Entah apa yang terjadi, aku jadi mengingat beberapa hal yang aku lupakan. Amnesia-ku perlahan-lahan hilang. Ingatanku kembali! Aku sangat senang dan bersyukur.
Aku pun berjalan ke arah pintu, aku sudah menyelesaikan niatku tadi. Taka-san sedang menungguku.
"Sudah selesai?"
"Iya, dan.. Ingatanku sudah kembali." ucapku dengan senang. Dia pun tersenyum padaku.
"Itu bagus. Aku juga bersyukur ingatanmu sudah pulih. Ayo."
Aku kira, dia akan merangkulku seperti tadi, namun, dia malah menggendongku! Benar-benar tak terduga. Refleks, aku melingkarkan tanganku ke lehernya.
"Eh eh! Taka-san, kenapa menggendongku?"
"Tidak apa-apa, aku hanya kasihan melihatmu kesulitan berjalan." ucapnya sambil membawaku kembali ke tempat tidurku.
Aku tau, dia juga pernah mengalami hal seperti aku ketika balapan, bahkan lebih parah. Baik pada lengan maupun kaki, dia pernah. Tapi, dia segera comeback dalam waktu yang tidak lama. Seperti teoriku, semangat dapat membangkitkan energi positif dalam dirinya.
=•=•=•=•
Dua hari setelahnya, adalah hari Kamis. Di mana hari Jum'at nya dia harus menjalani free practice pertama. Artinya, hari ini dia berangkat. Selama dua hari ini, dia menginap di sini. Orang tuaku memberi izin padanya.
Dia sangat baik kepada semua orang. Bahkan jika belum akrab sekalipun. Maka dari itu, kedua orang tuaku memperbolehkannya untuk menginap di sini.
Saat ini, kami berdua berada di ruangan teras rumah. Di rumah ini, hanya tinggal aku dan dia. Kedua orang tuaku sudah berangkat bekerja sejak tiga puluh menit yang lalu. Ivany sudah berangkat ke sekolah. Dan sebentar lagi, aku akan kesepian.
"Maaf aku tidak bisa lama-lama denganmu." ucapnya. Aku tau, ini adalah kata-kata perpisahan.
"Iya, tidak apa Taka-san. Aku sudah senang selama ini, bisa bersama denganmu." balasku sambil tersenyum. Aslinya aku ingin menangis. Tapi aku tidak mau membuatnya ikut bersedih juga.
"Ivanya, apa kau masih akan terus mendukungku?" dia bertanya. Aku berpikir kenapa dia bertanya seperti itu.
"Iya, tentu saja. Bagaimanapun keadaanmu, aku akan terus mendukung Anda. Oh iya, kalau boleh tau, bagaimana bisa Anda tau kalau saya tinggal di sini?" aku bertanya hal yang membuatku penasaran sejak awal. Dia kembali tersenyum.
"Ada seseorang yang memberi tau aku kalau kamu kecelakaan, setelah itu, aku memutuskan untuk mencarimu lewat alamat rumah yang kamu berikan waktu itu."
"Alamat rumah? Bukankah waktu itu aku hanya memberi tau kalau aku tinggal di provinsi L bagian utara saja?"
"Iya, kamu memang memberi tauku hal itu saja, tapi aku bisa tau melalui tujuan bus yang kami tumpangi saat itu." jawabannya cukup masuk akal. Aku mengangguk pelan tanda mengerti.
"Kenapa Anda mencari aku?"
"Karena kamu begitu penting bagiku. Aku tidak ingin kamu kenapa-napa lagi. Fans terbaikku, sekaligus kekasihku."
"Aku tidak mengidolakan Anda dan bukan fans Anda. Tapi, aku menyayangi Anda lebih dari seorang penggemar." ucapku dengan pasti. Mataku berkaca-kaca. Dia kembali tersenyum padaku.
"Kalau aku, aku tidak menyayangimu. Tapi, aku mencintaimu." balasnya. Dia lebih pandai merangkai kata-kata daripada aku.
Aku tau, kata-kata yang dia gunakan memang seperti ditambahkan majas. Tapi, dalam hatinya, dia benar-benar menyukai aku. Kami saling mengerti akan perasaan kami berdua.
Tak lama kemudian, mobil yang menjemputnya sudah datang dan berhenti di depan rumah ini. Taka-san kembali menatapku.
"Baiklah, aku berangkat ya. Jangan lupa do'akan aku." ucapnya sambil mengelus pipiku. Sepertinya, pipiku adalah bagian dariku yang paling dia sukai. Ya, pipiku memang gemoy dan chubby. Banyak yang bilang kalau aku masih seumuran Ivany, padahal tidak.
"Tentu saja. Hati-hati di jalan. Jangan pikirkan aku saat sedang balapan ya." pintaku sambil tersenyum juga. Dia mengangguk pelan.
"Aku menantikan podium-mu. Aku ingin melihatmu berdiri di podium tertinggi." bisikku. Dia tersenyum lebar.
"Iya, tentu saja. Aku akan berusaha sebaik mungkin." ucapnya. Kemudian mengepalkan tangan kanannya. Dia mengajakku tos versi kepalan tangan. Aku pun melakukannya bersamanya.
"Baiklah, aku berangkat ya."
"Iya, hati-hati di jalan, Taka-san. Terima kasih untuk segalanya." ucapku sambil menatapnya yang semakin menjauh. Tapi, aku percaya kalau dia masih dapat mendengar suaraku.
"Sampai jumpa." ucapnya sambil melambaikan tangannya padaku. Aku balas melambai. Setelah itu, dia memasuki mobilnya.
Itulah perpisahan kami berdua. Sekarang kami akan kembali ke kehidupan kami masing-masing. Aku akan kembali menjadi gadis SMA dan dia akan kembali menjadi rider kasta tertinggi.
- Tamat -
----------------
*Wearpack : baju balap
__________
Terima kasih sudah membaca cerita ini^^
Kenapa aku bikin part 2? Ya kayaknya kurang memuaskan aja, cerita yang sebelumnya kok endingnya ngegantung. Yaudah deh.
Jangan lupa like kalau suka, komen untuk beri dukungan dan saran~
Note :
- Hanya fiksi
- Sekali lagi, tidak bermaksud apapun
- Cover : Instagram