Saat matahari dan hujan berada di wilayah yang sama makan pelangi akan muncul, meskipun indah namun aku sangat membenci sosok pelangi itu.
Di sekolah aku langsung berbaur bersama barisan anak-anak. Wah, beruntung banget karena gak ada yang nyadar aku baru datang. "Untung masih sempet," ucapku sambil berjalan mengikuti langkah kaki mereka.
Setalah mengelilingi sekolah kami memasuki ruang kelas untuk mendapatkan materi. Cukup lama dan begitu bosan menunggu guru masuk kelas. Padahal jarak antara ruang guru dan kelasku tak begitu jauh cukup berjalan 7 langkah saja. Dengan kesal aku membolak-balik buku.
"Hey Rey," ucap seseorang membuatku menoleh.
"Oh halo, apakah kita pernah bertemu?" jawabku cuek.
"Bukannya kita sering bertemu di restoran ayam di kompleks, apakah kamu sudah lupa?".
Aku memutar otak dan mencari kejadian yang dia beritahu namun hasilnya nihil. Aku tersenyum dan menutup buku. "Tidak tuh, mungkin saja kamu salah orang," jawabku ketus. Aku tersenyum dan melihat raut wajahnya memerah entahlah mungkin dia marah atupun malu.
Tring
Bel istirahat berbunyi membuat semua anak berhamburan keluar menuju kantin. Aku membuka lembaran demi lembaran buku diary milikku. Setiap halaman mengisahkan kisah manis, pahit, dan hambar. Sial kenapa aku harus teringat kejadian waktu itu.
"Kakak, Kakak gak mau ke kantin?" suara lembut khas milik Rain menggema di telingaku.
Aku melempar buku di loker meja dan pergi. Samar-samar ku lihat sorot matanya yang sedih. Bodoh amat lah, mending makan ramen pedas daripada ngurusin si brengsek Rain.
Aku udah di kantin dan beberapa menit kemudian Rain datang sambil membawa makanan. Tak berselang lama ada 5 cowok kece yang datang menghampiri meja kami. Mereka adalah Steven, Gerrard, Arkana, Joshua, dan Nicholas. Siapa lagi kalau bukan sahabat Rain dari kecil.
"Ngapain kalian kesini? noh masih ada meja kosong." jawabku ketus.
"Gue bukan datengin Lo, tapi kita mau bawa pergi si Rain," kata Arkana.
"Yaudah sana pergi, nganggung orang makan aja".
"Yaelah Rey, kenapa sih Lo selalu bully Rain? dia saudara kembar Lo dan Rain udah baik banget sama Lo," ujar Nico sambil memegang tangan Rain.
"Yah! terus aku harus bilang WOW gitu," kataku sambil memutar bola mata.
"Terserah Lo Rey," kata Joshua.
Akhirnya, aku memutuskan untuk pergi menjauh dari mereka. Astaga, belum apa-apa udah ngerasa badmood. Bodohnya aku membalas kata-kata ceguk siala**. "Hah, Rey yang bodoh, ngapain gak makan aja sih? malah sok-sok pergi kabur dari mereka lagi, sekarang baru tau rasanya laper," gerutuku sambil memukul pulpen ke kepala.
Yah seperti pada MPLS biasanya kita pulang lebih awal. Aku berlari menuju gerbang dan melihat mobil papa sudah berada di depan pintu masuk. Sembari tersenyum papa berjalan ke arah Rain yang berada di belakangku.
"Anak papa apa kabar? gimana sekolahnya lancar? gak ada orang yang buat kamu sedih kan?".
"Ada lah Om, seperti biasanya Rey selalu bully Rain," adu Joshua.
Cih emang yah mulutnya ember banget pengen deh aku staples mulut lamis nya.
"Rey udah papa bilang bukan, kalian itu kakak beradik jadi harus rukun," jawab papa sok tulus.
Tes
Satu persatu hujan jatuh ke bumi dengan langkah lebar aku berlari menuju rumah. Setelah sampai di rumah papa menyeretku ke ruang gelap yang penuh dengan sampah. Ckckck sudah aku duga kejadian ini pasti terulang lagi. Aku hanya terdiam menahan rasa sakit dari setiap pukulan yang dilayangkan papa.
"Sudah papa bilang kalau kamu harus menghormati Rain, kamu itu harus menjadi bayangan dari Rain tidak kurang dan tidak lebih".
"Papa bilang seperti itu untuk kebaikan kamu sendiri"
Cih apa-apaan, untuk kebaikanku? dasar orang tua belagu. Ngapain aku harus hidup dalam lingkungan yang suram seperti ini. Aku hanya ingin bebas, aku ingin berlari tanpa bersalah, aku hanya ingin tersenyum tanpa rasa terpaksa. Apa itu salah?
Ceklek pintu terbuka. Sudah aku duga dia akan datang kesini. Rain berjalan ke arahku dan menendang perutku. Aku tidak merasakan sakit sedikitpun karen sudah terbiasa.
Dia menjambak rambutku hingga rontok, Memukulku dengan kayu hingga membiru, menusukku dengan jarum hingga berdarah, menamparku hingga pingsan. Setiap hari aku terpaksa melalui waktu yang menyesakkan.
Aku ingin hilang, tolong siapapun bagaimana caranya untuk menghilang dari dunia yang fana ini? bagaimana caranya agar aku mati tanpa penderitaan? tolong beri tahu aku. Pandanganku mulai kabur, aku tak merasakan sakit saat mereka mencambuk ku lagi dan lagi. Entah sejak kapan aku penutup mata.
Plak
Satu tamparan membuatku terbangun. Huh rasanya sakit tahu emang kamu mau aku tampar? Dengan tawa sikopat khas miliknya dia tertawa. "Kakak, ada apa? apakah sakit?," ucapannya sambil menekan luka lebam yang berada di pipiku.
"Hey sebaiknya kalian berangkat menuju sekolah," kata papa membuat Rain bangkit.
"Papa teman-teman Rain semuanya punya iPhone masa Rai gak punya sih," keluh Rai sambil manja.
"Nanti setelah pulang sekolah kita beli yang bagus untuk kamu".
"Wah beneran pa?," jawabnya antusias.
"Iyah".
Dengan badan yang babak belur aku berjalan menuju sekolah. Banyak sepasang mata yang melihatku. Mungkin mereka mengira aku anak berandalan yang suka berkelahi. Yah, itu wajar sih karena di daerah sini banyak anak-anak yang nakal.
Puft. Cukup lucu melihat drama anak dan ayah lebay. Dengan tertatih-tatih aku berusaha bersiap-siap ke sekolah. "Sakit," rintihku saat air mulai mengalir di tubuhku.
Saat berada di depan gerbang sekolah mereka semua menatapku dengan tatapan heran ada juga yang merasa ibah. Aku menunduk dan berlari menuju kelas. Kumohon untuk sehari saja jangan membuatku menderita. Di kelas aku menunduk dan menutupi luka lebam dengan rambutku yang panjang.
"Rey, Reyna," ucap ketua kelas yang ku jawab dengan anggukan.
"Kamu tidak apa-apa? kamu sakit? kalau sakit aku antar ke UKS yuk".
Sekarang aku benar-benar lelah. Untuk hari ini tolong biarkan aku tidur meskipun hanya 1 jam.
"Rey kamu sakit?," jawabnya lirih.
"Reyna kenapa?"
"Aku juga gatahu".
"Halah mungkin saja dia alasan supaya kita merhatiin dirinya"
"Hey! jangan bicara seperti itu, aku tadi melihat tubuh Reyna babak belur".
"Mungkin dia berantem".
"Apa? masa Rey berantem? gak mungkin lah".
"Iyah, aku gak percaya kalau Rey bakal berantem dia bahkan gak menggubris kita".
"Benar juga".
Dengan aku diam aja kepalaku udah pusing apalagi kalau kalian berdebat tanpa tujuan seperti ini. "Shit kalian semua bisa diam apa nggak sih? kepalaku udah mau pec--". Aku menyentuh darah yang mengalir dari hidungku. Kepalaku juga terasa sangat pusing.
"Astaga, cepat bawah Rey ke UKS".
"Rey jangan mendongak---"
Eh loh, kenapa suara mereka gak kedengaran? kenapa tiba-tiba pandanganku semuanya hitam. Mama tolong Rey, Reyna takut gelap.