hari ini terlihat sangat cerah,untuk menyelesaikan tugas kuliahku,aku pun sengaja berdiam diri di cafe ini guna mendapatkan WiFi gratis
saat aku sedang sibuk dengan laptop ku tiba-tiba dua orang gadis kecil dengan pakaian lusuh memasuki cafe tersebut,entah ada angin apa,aku malah memperhatikan kedua gadis itu,mereka membeli kopi satu untuk berdua, terlihat kedua nya sangat gembira walaupun hanya bisa beli satu,jelas sekali terlihat senyum kakaknya yang begitu menyayangi adiknya, begitupula dengan sang adik.
tiba-tiba saja air mata ku menetes,ada rasa sesak di dadaku,kenangan 12 tahun lalu berputar begitu saja di benakku
12 tahun silam
saat itu aku masih kelas 4 SD,dan adik perempuan ku masih kelas 3 SD,kami hanya berjarak satu tahun,tapi ibuku selalu lebih menyayangi adikku itu,aku sering kesal dan iri terkadang dibuat nya.
suatu hari aku pernah minta pada ibu untuk dibelikan sepatu sekolah baru,namun ibu tidak memperdulikan ku,sedangkan ibuku langsung membelikan adikku buku paket yang ia pinta
"ibu gak adil..kenapa kalau Sarah yang minta sesuatu ibu gak pernah nurutin, sedangkan kalau Tiara yang minta,pasti langsung ibu belikan!"aku memberontak karena emosi,ibuku hanya tersenyum sambil berkata lembut
"nak..sepatu mu itu masih bisa dipakai,dan kondisi sepatunya juga masih bagus, sedangkan adikmu perlu buku paket itu untuk belajar nya,hanya dia yang tidak memiliki buku nak"ujar ibuku sambil dengan tenang
aku yang masih tidak terima dengan alasan ibuku masih marah dan masuk kedalam kamar sambil membanting pintu,lalu tidak berapa lama,Tiara datang mendekati ku
"kak..maaf ya.. gara-gara buku Tiara,kakak jadi gak dibeliin sepatu"ujarnya sambil memegang bahuku
aku menatap nya kesal dan menepis tangan nya
"sudahlah kau memang anak kesayangan,pergi saja kau sana"aku mengusirnya kasar
"kak jangan melawan ya kak sama ibu..kasihan ibu.."ujarnya membuatku emosi
"siapa juga yang melawan sama ibu..aku tu bencinya sama kau...kuharap kau mati saja"oceh ku tak karuan,kemudian setelah mengatakan hal itu bisa kudengar Tiara menangis dan pergi dari kamar
aku menangis kesal hingga mataku bengkak,dan tak berapa lama akhirnya aku pun tertidur.
pagi harinya,perut ku sangat lapar,aku melihat tudung saji sama sekali tak ada apa apa disana,sambil menggerutu ku masak nasi goreng untuk diriku sendiri
"kak,udah bangun?"Tiara datang membawa kantong plastik hitam ditangan nya,aku mengangguk acuh,masih kesal dengan kejadian kemarin
"ini lontong untuk kakak,ibu yang belikan tadi"Tiara menyodorkan plastik hitam itu padaku,aku mengambil nya masih dengan muka cuek
setelah selesai makan lontong tiba-tiba Sandra teman ku datang mengajak ku bermain ke sungai,aku dengan semangat tentunya mengiyakan
"Tiara..bilang ibu kakak pergi main dulu.."ujarku
lalu Tiara berlari dari dapur"kak Tiara ikut ya" pintanya bersemangat
"ah ya sudahlah,kunci pintu rumah dulu"
aku,Tiara dan Sarah pun segera menuju sungai, sebenarnya bukan sungai lebih tepatnya kanal,kanal itu seperti parit besar yang dibawahnya adalah gambut
kami pergi berenang ke kanal itu,dengan hati senang kami pun meloncat ke kanal itu
ditengah asyiknya bermain air,entah mengapa kaki ku seperti ada yang menarik,aku bergumam minta tolong,namun suaraku tak kunjung keluar dari mulut ku "aa..to..lo...ng..."seketika semuanya gelap gulita
seminggu kemudian aku membuka mata,hal yang pertama kali kulihat adalah langit-langit ruangan yang berwarna putih terang,di hidung ku telah ada sesuatu seperti selang,aku juga tak tau itu apa
"Bu..."ujarku saat melihat ibuku yang tidur sambil memegang tanganku
ibuku mendongak "Sarah..kamu sudah sadar nak.. syukurlah Alhamdulillah"ibuku menangis haru memeluk tubuhku
"Bu..kenapa Sarah disini?"tanyaku yang memang tak mengingat apapun
"dan dimana Tiara Bu"tanyaku
bisa kulihat ibuku menahan tangisnya,ia menutup mulut, cucuran air mata membasahi wajahnya
"kenapa Bu?"tanya ku yang sangat khawatir melihat ibuku menangis
"nak..adikmu telah dipanggil oleh yang mahakuasa, Allah lebih menyayangi adikmu nak."ujar ibuku membuat aku tertegun tak percaya
apa ini?tidak mungkin,bukan kah kemarin aku masih bersamanya,perlahan remang-remang sepenggal ingatan berputar dikepalaku
"kak..kak Sarah bertahan..."remang suara Tiara terdengar di telinga ku
"Bu...gak mungkin Tiara meninggal Bu...Tiara kemarin masih main sama Sarah Bu..."aku menolak untuk percaya
"Tiara meninggal karena menolong mu nak..saat itu kamu tenggelam di kanal itu,lalu adikmu Tiara yang melihat kamu tenggelam segera menyelamatkan kamu"tangisan ku pecah,raungan di ruangan kecil itu menggema di seluruh arah,rasa nya dada ku sangat sesak, bagaimana bisa adikku yang mati kenapa bukan aku..aku sangat menyesali omongan ku yang menyuruh nya untuk mati..lalu tiba-tiba semua gelap...
waktu kejadian
"to..lo..ng.."
"kak..kak Sarah..pegang tangan Tiara kak"Tiara meraih tangan ku
namun dengan setengah kesadaran tubuh ku malah tambah jauh ke dasar kanal,bisa kudengar Tiara dengan panik langsung cebur ke kanal itu,lalu tubuhku seperti terdorong ke atas,Sandra yang menyaksikan hal tersebut langsung memanggil warga untuk menolong kami..namun ternyata lambatnya bantuan yang datang menyebabkan adikku Tiara tak terselamatkan,dokter bilang paru-paru adikku penuh dengan air gambut itu,bahkan bibirnya sangat pucat,ia langsung meninggal ditempat
sore itu menjadi saksi kematian adikku tiara
just fiksi