Lanjutan cerita Akibat Kosongnya Jiwa.
💖💖💖💖💖
Entah berapa lama aku dalam keadaan setengah sadar itu. Aku hanya bisa terlentang pasrah dengan wajah miring kesamping dan mata yang terpejam. Tangan dan kakiku yang terus meronta terasa dipegang kuat oleh beberapa orang yang ada disana. Aku terus berteriak dan menggeram. Rasanya ingin menumpahkan segala amarahku.
Telingaku masih bisa mendengar saat beberapa orang temanku mengaji dan melantunkan ayat suci Al Quran. Sampai kurasa seseorang mengusap wajah dan kepalaku dengan air. Perlahan tubuhku yang menegang berangsur melemah. Sedikit demi sedikit aku kembali bisa membuka mata.
"Ayu, kamu tidak apa-apa? Apa yang kamu rasakan, kenapa bisa seperti ini?" tanya Eli dengan cemas. Aku hanya menggelengkan kepala. Badanku terasa lelah tak bertenaga. Om Agus menghampiriku dan memegang tanganku.
"Kamu tidak apa-apa, Yu?" ucapnya khawatir. Akupun perlahan bangkit dan duduk karena merasa tidak enak dalam posisi terlentang dihadapan beberapa laki-laki. Akupun segera menarik tanganku dari genggaman Om Agus.
"Kamu membuatku khawatir, Yu. Lain kali jangan bengong lagi ya kalau lagi kerja, jadinya kamu begini kan, kamu harus ingat disini kan tempatnya angker," Renita menimpali dengan wajah ketakutan. Aku cuma mengangguk pelan sampai seorang teman lelakiku menyorkan segelas air putih untuk aku minum.
"Istirahatlah, kalau ada apa-apa panggil aku dikamar atas. Reni dan Eli temani saja Ayu, jangan tinggalkan dia sendiri!" titah Om Agus.
Sepeninggal Om Agus, Derry datang dengan wajah panik. Lalu menghampiri dan memeriksa keadaanku. Akupun langsung memeluknya, lupa kalau ada Renita dan Eli disana. Ada rasa takut yang luar biasa dengan pengalaman aneh barusan yang seumur hidup baru aku alami itu. Beginikah rasanya kerasukan? atau apakah yang sebenarnya terjadi denganku barusan? Derry pun langsung menenangkanku membuat rasa takutku sedikit berkurang.
Keesokan harinya saat bangun tidur aku memaksakan diri untuk tetap bekerja walau kurasa badanku lain dari biasanya. Aku merasa jiwa dan pikiranku kosong.
Sampai Bos pemilik tempatku bekerja datang dengan membawa putrinya yang berusia tiga tahun untuk datang mengontrol pekerjaan kami sesekali. Entah kenapa, putri bosku itu tiba-tiba menangis saat menghampiriku.
"Bunda, takut. Itu didekat Ka Ayu ada itu!" pekik Raisha, putri dari Bosku tersebut dan langsung sembunyi dibalik punggung Bundanya. Akupun terkaget mendengar hal itu, dengan cemas aku menatap tubuhku sendiri dan melirik ke samping kanan-kiriku. Renita dan Eli yang duduk disebelahkupun langsung melirik kearahku. Merinding rasanya mendengar ada sesuatu didekatku. Dan apa?
Om Agus yang kebetulan berdiri tak jauh dari kami menghampiri Kakaknya dan membisikan sesuatu. Merekapun berjalan keluar dan terlihat serius berbicara sambil menenangkan Raisha yang terlihat ketakutan.
Aku merasa sedikit nyeri diperutku karena sedang datang bulan. Akupun berlalu untuk pergi ke belakang sekalian buang air kecil. Tiba-tiba aku merasakan tubuhku terasa dingin dan menggigil.
Aku segera membaca ayat suci Al-Quran sebisaku dan segera bergegas keluar dari Toilet umum para pekerja. Wajahku mendadak pucat dan tubuhku rasanya lemas. Aku langsung minta ijin untuk istirahat dan segera ke kamar. Om Agus mengekori langkahku. Akupun tak perduli, aku hanya ingin segera merebahkan diri karena tubuhku rasanya sudah tidak beres.
Aku segera merebahkan tubuhku diranjang dan berbaring miring.
"Aku rasa ada yang tidak beres denganmu,Yu. Ayo Ikut denganku. Aku akan bawa kamu ke seorang Kiai didekat rumah nenekku. Kebetulan dia seorang pemimpin sebuah perguruan silat. Dan banyak orang yang sering berobat kesana?" ucap Om Agus yang tiba-tiba sudah duduk diujung ranjang dan berada didekat kakiku.
Akupun segera bangkit dan duduk. Menatap heran pada Om Agus.
"Untuk apa, Om?" tanyaku, walau aku sendiri heran dengan apa yang kini terjadi pada diriku sendiri.
Sejam kemudian aku pergi dengan Om Agus juga ditemani Derry, karena aku minta pada Om Agus agar mengijinkan Derry menemaniku. Aku tak ingin hanya pergi berdua dengan Om Agus. Awalnya ku lihat Om Agus keberatan tapi akhirnya iapun menuruti kemauanku.
Setelah hampir satu jam perjalanan, kami bertiga pun sampai. Seorang laki-laki yang berusia 60 tahunan yang dimaksud Om Agus Pak Kiai itu menatapku sekilas setelah kami mengawali pembicaraan terlebih dahulu. Ia hanya bertanya namaku dan nama Bapak-ku.
Beliau meninggalkan kami bertiga dan masuk ke dalam sebuah ruangan sambil membawa sebotol air mineral putih. Entah apa hubungannya, saat orang itu didalam kamar. Aku merasa tubuhku melemas bahkan mata ini rasanya ingin terpejam. Aku menggenggam tangan Derry saat merasa tubuhku kini berbeda.
Tak lama Bapak Kiai itu keluar dan duduk dihadapan kami. Om Aguspun bertanya, apakah ada sesuatu hal dalam diriku atas kejadian kemarin.
"Ada yang menyukaimu, Neng. Sering-seringlah solat dan mengaji. Usahkan jangan sering bengong dan melamun. Jiwamu selalu kosong sepertinya. Kalau bisa jangan sering memendam kesedihan, hingga ujungnya ada yang kasihan sama kamu," ucapan Pak Kiai membuatku tertegun.
Aku tak mengerti dan tak mau banyak bertanya. Antara percaya dan tidak dengan perkataan Pak Kiai tadi.
Sesampainya kembali dirumah besar tempatku tinggal bersama pekerja lain. Aku segera minum dan membasuh kepalaku terutama ubun-ubun sesuai petunjuk Pa Kiai tadi.
Tapi kenapa tubuhku rasanya langsung kosong, lemah seakan tak ada tenaga. Aku tergolek ditempat tidur. Derry dan Om Agus sudah pergi sedari tadi. Napasku rasanya kian memburu. Tanganku bergetar. Wajahku rasanya berkedut hebat seluruhnya. Aku melihat sekilas Derry muncul didepan pintu. Aku melambaikan tangan, sampai akhirnya mataku rasanya terpejam dan sulit untuk terbuka.
Aku rasanya ingin menangis. Tubuhku tak bisa ku kuasai kembali. Hatiku terus bergumam. Derry tolong aku, tapi aku tak bisa berucap. Aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku. Aku hanya mendengar orang-orang berbondong menghampiriku.
Aku samar mendengar Bu Enah tukang masak yang mengurus makan sehari-hari para karyawan membisikan Asma Allah dan menyuruhku untuk beristighfar.
Sulit sekali rasanya mulutku mengucap Asma Allah walau hatiku terus menyebut namaNya. Beberapa orang memegang kuat tangan dan kakiku yang terus meronta. Aku hanya mendengar ruangan sekitarku gaduh. Teman- temanku terdengar panik.
Sampai kudengar Om Agus bicara akan kembali ke tempat Pak Kiai tadi. Derry tiba dan membawa temannya yang masih warga sekitar yang dikenal sedikit mengerti akan hal-hal yang tak kasat mata. Aku hanya merasa dia memijit keras jempol kakiku dan aku berteriak keras. Segala umpatan, makian kasar aku lontarkan tanpa bisa ku kendalikan. Ucapan hati dan mulutku berbeda. Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada diriku.
Entah berapa lama aku dalam keadaan seperti itu, sampai akhirnya seseorang memaksaku duduk dan meminumkan segelas air padaku. Napasku perlahan normal kembali. Rasa denyut dan kedutan diwajah perut dan seluruh tubuhku perlahan menghilang. Dan aku bisa kembali membuka mataku. Aku merasa tubuhku sangat lelah. Energiku rasanya terkuras habis.
Om Agus datang kembali dan membawa sebotol air lagi dari Pak Kiai. Dan menyuruhku untuk meminum kembali. Om Agus menyuruhku untuk keluar dari area rumah dan tempat bekerja karena dia bilang saat ini sangat tak baik untukku.
Akupun hanya bisa mengiyakan tanpa bertanya kenapa dan ada apa. Akupun hanya menurut saat Om Agus membawaku ke rumah Bos pemilik pabrik agar malam ini aku tidur dulu disana, dan besok aku diharuskan untuk pulang dan jangan dulu berada dikawasan pabrik sampai keadaanku pulih kembali.
Aku diantar untuk beristirahat disalah satu kamar dirumah itu. Untung ada Om Agus yang sangat perhatian dan perduli padaku walau aku tahu ada maksud dibalik itu semua.
"Katakan ada apa? Apa kamu ada masalah sampai akhir-akhir ini kamu sering bengong. Jiwa kamu sering kosong makanya mudah sekali untuk ditempeli mahluk yang tak kasat mata. Percaya tak percaya kamu mengalaminya sendiri kan sekarang?" tanya Om Agus sangat berhati-hati.
Aku sejenak terdiam. Bingung dengan apa yang harus aku jelaskan. "Ibu menyuruhku agar aku cepat menikah, itu yang membuat akhir-akhir ini aku sering melamun, Om." Kalimat itu meluncur pelan dari mulutku.
"Lalu ... apa yang akan jadi keputusanmu, apa kamu akan menikah dengan Derry? Derry masih sangat terlalu muda untuk menikah. Usianya baru 19 tahun, Yu." jawaban Om Agus membuatku tak bisa menebak apa arti dari ucapan itu.
"Ibu menyuruhku untuk menikah dengan kak Budi. Dia bersedia segera melamar dan menikahiku. Ibu dan ka Budi sudah saling bicara tanpa sepengetahuanku," jawabku sedih dan tertunduk.
"Aku tidak mencintai dia, aku tidak mungkin menikah dengan orang yang sama sekali tak ku cintai, aku ingin menikah dengan orang yang benar-benar aku cintai," kalimat itu meluncur dari bibirku diiringi buliran air mata yang perlahan menetes dari kedua sudut mataku.
"Apa kamu benar-benar mencintai Derry?" pertanyaan itu membuatku terdiam.
"Aku tidak tahu apakah ini cinta atau bukan, tapi Derry membuatku merasa nyaman dan kehadirannya mengembalikan semangat hidupku yang sebelumnya hilang," jawabku
"Apa sebenarnya yang membuat semangat hidupmu hilang? ceritalah sama Om ... biar perasaan kamu lega dan tidak lagi menyimpan beban, hingga jiwamu tidak sering kosong karena melamun seperti ini," pertanyaan Om Agus membuatku bingung untuk menjawabnya.
"Setahun yang lalu, aku ... aku berpisah dengan kekasih yang sangat aku cintai ... kami berpisah karena orang tuanya tak merestui hubungan kita. Kami tak bisa berbuat apa-apa ...," aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku saat aku merasa tak bisa mengendalikan tangisku yang kini mulai meledak. Tanpa sadar aku menceritakan masalahku yang sesungguhnya.
"Menangislah jika itu membuatmu lega ...." Ucapan Om Agus menenangkanku.
"Sebenarnya Yu ... aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu. Tapi Om sadar dengan status dan usia yang jauh diatasmu. Om 30 tahun, sementara kamu baru 18 tahun. Tapi jika kamu mau menerima Om apa adanya dengan status Om yang duda juga, Om pastikan akan segera menikahi kamu secepatnya ...."
Aku menghentikan tangisku. Kuangkat wajah yang sedari tadi ku sembunyikan diantara tekukan kedua kakiku.
'Apa lagi ini? masalahku dengan Ka Budi dan Derry saja belum terselesaikan, kenapa malah tambah satu lagi masalah yang membuatku makin rumit menentukan pilihan.
Wah ceritanya terlalu panjang. Nambah part lagi jadi 3. Bersambung dulu sampai disini. Bertemu di Part ke 3 dijudul selanjutnya. Terimakasih