Dia....
Bagai merah diantara kepingan putih,,
mencolok hingga begitu mudah terlihat diantara kerumunan nya.
Dia...
Bagai berlian diantara ribuan butir pasir,,
berkilau hingga mengundang mata untuk menatapnya.
Ya...Dia adalah Andre wiranata.
Seorang ketua Osis,merangkap kapten basket,dan vocalis Band di Sma Tunas bangsa.
Tak ada yang tak mengenal nya,tak ada yang tak ingin bersahabat dengan nya,dan tak ada pula perempuan yang tak ingin menjadi pacar nya.
Tidak hanya populer karena tampan,namun keaktifan nya di segala kegiatan sekolah dan prestasi nya pun membuat Andre semakin tenar di lingkungan sekolah.
Begitu berbanding terbalik dengan Aku,yang hanya siswi biasa-biasa saja,aku tidak terlalu pintar,meski begitu,aku tak pernah keluar dari peringkat 10 besar.
Untuk masalah wajah dan penampilan aku biasa-biasa saja,masih kalah jauh dengan para pengagum Andre disekolah ini yang rata-rata cantik dengan gaya anak gaul Ibukota.
Pagi ini di sekolah,saat class meeting,seperti biasa aku melenggang santai memasuki gerbang sekolah,mataku tajam menatap sekeliling lapangan basket,berharap menemukan sang idola yang biasanya selalu berada disana saat pagi hari.
Sampai di ujung koridor Aku sama sekali tak menemukan sosok sang idola ku.
Meski sedikit kecewa,tetap kulangkahkan kaki menapaki tiap anak tangga menuju ke kelas ku yang berada di lantai 2.
Kelas masih sepi,,hanya ada beberapa orang saja.
"Hei Rena...ke aula yuk..!!"
Desi yang tiba- tiba datang menarik tangan ku.
"Ahhh...mau ngapain??,,males Ah..aku mau nungguin tanding basket aja"
Tolak ku malas.
"Ehm...Basket masih lama Ren...nanti siang,,sekarang kita ke aula dulu yuk ahh..."
Desi kembali menarik- narik tangan ku.
"Emangnya ada apaan sich...semangat banget"
Aku berdiri dengan sangat Malas.
"Ada pensi,,Tunas band mau tampil Renaaaaa"
"Hahh..Tunas band?"
Tanya ku tercengang.
"Iya...makanya ayuk buruan..."
Belum sempat Desi melanjutkan ucapan nya,Aku lebih dulu berlari meninggalkan nya menuju Aula,hal itu tentu saja membuat kesal Desi,kelihatan dari mukanya ketika berhasil menyusulku.
Aku mencari tempat yang paling strategis dimana aku bisa melihat Andre tanpa penghalang.
Nampak di tengah Aula,Andre tengah mengecek perlengkapan band mereka.
Dan di detik berikut nya..
Aku tak tau,ini hanya kebetulan,atau memang aku yang tengah ke ge er an,ataukah memang Andre benar sedang tersenyum menatap ke arah ku.
Aku hanya tercengang tak percaya,seketika jantung ku berdetak tak beraturan,gugup melanda dan salah tingkah akhirnya menjadi penyempurna diriku pagi ini.
Dentuman musik dan alunan lagu yang di mainkan Tunas band sama sekali tak bisa ku nikmati seperti biasa,berkali- kali ku buang muka ku menghindari kontak mata dengan Andre,yang kurasa kan tak melepas pandangan nya dari ku sejak awal mulai bernyanyi.
"Ya Allah....apa benar,Andre memperhatikan ku...apa jangan- jangan Andre juga diam- diam suka Aku?"
Berkali- kali Aku bertanya dalam hati tentang situasi ini.
Ya Tuhan....kali ini Andre melempar senyum tipis padaku,yang membuat Aku nyaris pingsan.
Tak sampai di situ saja,ketika selesai tampil,Andre berjalan ke Arah ku,ketika tepat berada di sisi ku,Andre menyentuh jemari ku,menggenggam sesaat kemudian berjalan meninggalkan ku yang mematung tak percaya.
Andre Seolah memberi sinyal suka,,atau semacam kode bahwa Dia membalas rasaku.
Rasa Deg-degan terus terasa seolah ingin merontokkan jantungku.
"Ren...kamu kenapa??kok bengong??"
"Eh...Ehm,,,enggak..kok hehe"
"Ya udah,,yuk katanya mau lihat Basket?"
Aku mengangguk,,kemudian berjalan menuju lapangan Basket.
Namun ternyata,yang akan tanding kali ini bukan lah tim Andre,seketika semangat ku yang menggebu terasa melempem,Aku duduk di pinggir lapangan.
Sorak soray dari pinggir lapangan tak membuat semangatku balik lagi.
Sampai ketika sebuah botol minuman mengagetkan ku yang tiba-tiba berada tepat di depan muka ku.
Aku menoleh cepat mencari tau siapa yang menyodorkan botol minuman itu di depan ku.
Sontak aku terbelalak lebar,ketika mendapati Andre tengah berada di sampingku,kali ini jelas sekali senyum manis dan perhatian itu untuk ku,bahkan dengan sengaja Andre memberikan aku sebotol minuman ringan,dan kini ia duduk di sampingku,
dekat...bahkan sangat dekat.
Hal itu membuat semua mata para anak perempuan menyorot tajam ke arah ku.
Aku tak tau mesti senang,malu atau malah takut kalau- kalau semua mata itu menyerang ku.
"Ini minum dulu,,biar semangat"
Ujar Andre membuka kan botol ditangan nya.
"Ehm...ma..makasih ya...Ndre"
Jawab ku gugup.
"Udah,,santai aja...jangan malu-malu gitu"
Ledek Andre membuat aku menunduk tersipu.
"Hey...kok diem...ngomong donk.."
Andre menyenggolkan bahu nya.
"Ehm...Eh...ngomong ya??,,ehm...ngomong apa ya?"
Aku benar-benar kikuk.
"Ren...sebenar nya sudah sejak lama Aku mau tanya sesuatu sama kamu"
"Hah...yang bener??,,tanya apa??"
"Kamu...suka aku ya??"
Deg!!!
Jantungku berhenti sesaat,mata ku mengerjap,dan aku menelan ludah mendengar todongan pertanyaan Andre barusan.
"Maksud kamu??"
"Yaaa..Aku ngerasa nya gitu,"
"Ehm...apa aku boleh gak jawab Ndre??"
"Ya..itu sih hak kamu"
Andre terlihat kecewa,,ia beranjak dari duduk nya.
"Ren..Aku masuk kelas dulu ya!"
lalu pergi meninggalkan ku.
Berbagai macam pertanyaan memenuhi kepala ku,
"mungkin kah Andre tadi memberiku lampu hijau??,atau jangan- jangan hanya ingin tahu,atau malah menunggu ingin menembak ku"
Aku terus mengoceh dalam hati.
"Ehm....bodoh nya Aku,,kenapa tak kujawab saja tadi"
Gerutu ku sembari menutup muka dengan kedua telapak tangan ku.
Sampai sore hari di penghujung kegiatan sekolah,Aku tak melihat Andre lagi,,yang Aku dengar Dia berada di kelasnya Entah sedang apa.
Ku beranikan diri melangkah menuju kelas nya,
dari Jauh nampak ramai sekali di dalam.
Begitu sampai tepat di depan kelas nya,ada ragu yang tiba-tiba hadir begitu aku hendak masuk menemui nya.
Bagaimana tidak,,disana ramai sekali siswi-siswi mengelilinginya,yah...siapa lagi kalo bukan penggemar Andre.
Aku memutuskan untuk berbalik arah,dengan langkah gontai aku memilih untuk duduk sebentar di bangku koridor.
Sampai seseorang ku rasa berdiri dihadapan ku.
Aku mendongak,
"Andre...."
Ucapku lirih.
"Belum pulang??"
Tanya nya singkat.
Aku menggeleng.
Setelah sekuat tenaga ku kumpulkan keberanian ku,Aku berdiri di hadapan nya.
"Aku mau ngomong sesuatu!"
"Apa??"
Tanya nya.
"Sebenar nya...aku mau mengakui...,iya!! selama ini Aku mengagumi kamu,,aku selalu merhatiin kamu..Aku suka kamu.!!"
Seperti terlepas dari beban yang sangat berat,aku menarik nafas berat,,kemudian menutup muka ku,dan di detik berikut nya Aku berlari meninggalkan Andre sendiri.
Aku berhenti di depan toilet sekolah,dan memilih masuk ketika aku sadar akan ada air mata yang menetes.
Entahlah,,aku tak tau kenapa setelah kejujuran hati itu terucap,,ada berbagai macam perasaan yang hinggap di hatiku,,aku malu..aku takut aku tak berani betemu lagi dengan Andre.
10 menit berada di dalam toilet,aku memutuskan untuk pulang,sesaat setelah hati ku sedikit tenang.
Begitu keluar dari toilet.
"Muka kamu berantakan...!!"
ucapan seseorang menghentikan langkah ku dan menoleh ke arah dinding.
Andre mendekat,menyerahkan sebungkus tisu.
Walau ragu,aku menerima tisu tersebut.
"Kenapa menyusul??,kamu pasti mau menertawakan kebodohan ku kan?,maafkan Aku ya...lupakan ucapan ku tadi..anggap aku tak bicara apa-apa."
Aku menunduk sambil mengusap tisu pada sudut mata ku.
Sampai ketika kedua tangan itu meraih pundak ku,dan tangan itu pula mengangkat dagu ku untuk menatap matanya.
"Ren..kamu jangan pernah merasa bodoh..kamu juga jangan Malu,,sebenar nya aku sudah lama ingin jujur sama kamu,,dan tadi itu...aku sebenarnya pingin langsung ngomong,,tapi aku takut kamu belum siap"
"Dan jujur,,Aku kaget dan benar- benar gak nyangka kamu berani ngucapin itu semua"
sambung Andre.
Aku menatap Andre bingung.
"Ren...Makasih ya....atas perasaan kamu dan kejujuran kamu,,Aku pun suka sama kamu,,aku menyukaimu,,aku mencintai mu..aku sayang kamu..."
Sekali lagi Air mata ku menetes,,kali ini bukan karena malu..tapi aku bahagia..bahwa cinta ku terbalas..dari sang idola sekolah.
Dengan tangan bertaut,kami berjalan beriringan sesekali saling menatap dan tersenyum tak peduli semua mata tengah menyorot kecewa ke arah kami.
****