"𝘓𝘪𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵 𝘭𝘢𝘨𝘪."
Gadis itu tergesa menangkap pisau yang dijatuhkan dari plafon ruangan putih dipijakinya. Di atas, plafon baru saja tertutup kembali, setelah terbuka sepersekian detik untuk menghujamkan benda tajam pada gadis itu.
Rani, gadis manis pecinta adrenalin yang semula menikmati, kini merasa terjebak. Mau tidak mau menurut akan intruksi yang dituturkan. Oleh sebuah suara yang entah darimana asalnya.
"𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴, 𝘙𝘢𝘯𝘪! 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢!"
Intruksi ke tiga yang ia dapat dalam rentang 10 menit ini.
Jika dalam 10 menit Rani tidak berhasil menyelesaikan semua intruksi yang diberikan, dia harus siap untuk membusuk dalam ruangan serba putih yang tak dikenalinya itu. Jika berhasil, tentu saja kepulangan akan menjadi hadiah baginya.
Dibuka pintu metalik di hadapannya tanpa ragu, lalu mendapati punggung gadis yang ia kenal.
Gadis itu berbalik, beriringan dengan suara intruksi yang menggaung.
"𝘔𝘪𝘴𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳; 𝘉𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶!"
Rani menelan ludah kala menangkap kalimat itu. Bukan, bukan karena ia harus membunuh seorang gadis, melainkan karena yang harus dibunuhnya-
"𝘛𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢 10 𝘥𝘦𝘵𝘪𝘬 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘙𝘢𝘯𝘪!"
-adalah dirinya sendiri.
Gadis yang merupakan alter ego-nya itu berlari menerjang Rani. Selepas membimbing dan menimbang di bawah tekanan detik, Rani mengangkat pisau yang sedari tadi setia dalam genggamannya dan mengayunkannya. Hingga berlabuh di atas jantung sang alter ego. Dalam sekejap, ruangan putih itu berubah merah.
※※※※※※※※
Rani mengatur napas kala dirinya berhasil kembali ke kamar. Dadanya yang bergemuruh mengukuhkan bahwa yang dialaminya tadi adalah nyata.
"Tenang, Rani. Ini hanya permainan," bisiknya.
"𝘠𝘢, 𝘙𝘢𝘯𝘪. 𝘐𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘮𝘢𝘪𝘯𝘢𝘯."
Suara itu lagi. Rani baru sadar, jika suara itu sangat dikenalinya.
Suaranya sendiri.