Siang itu, matahari bersinar terang. Saat ini, aku sedang mengambil posisi duduk seraya menatap serius layar kaca televisi. Acara yang kulihat sekarang adalah acara semacam talkshow dengan para artis. Yang membuatku sangat berantusias adalah, Kenshi Yonezu–idolaku, akan menjadi bintang tamu utama di acara ini. Jadi, pikirku mungkin saja Kenshi akan memceritakan lebih banyak tentang hidup dan kisah selama dia menjadi musisi hingga aku bisa semakin mengenalnya.
"Saya akan merilis album musik baru. Untuk judul masih dirahasiakan agar bisa membuat para penonton penasaran hahaa ...," ucap Kenshi diiringi tawa kecil di akhir.
"Benarkah? Waaahh, ini adalah kabar yang sangat baik. Para penonton pasti sangat senang," balas sang pembawa acara.
"Hahaaha ... iya. Semoga kalian menyukai album musik ini!" ujarnya dengan senyum ramah seperti biasanya.
"Aaaaaaa!" Aku melompat-lompat di depan televisi yang menyala. Rasa girang ini tak bisa terbendung lagi, bibirku seolah bergerak sendiri. Tawa ceriaku keluar begitu saja.
Krieett ...
Saking bahagianya sampai-sampai aku tak menyadari bahwa ibuku tengah berdiri di depan pintu kamarku yang terbuka separuh. Ia tampak membawa sekantung bahan-bahan makanan di tangannya. Ibu menggelengkan kepala, membuatku yang awalnya bersemangat langsung mematung seketika.
"Eh? Ibu ... sudah pulang ahaha ...." Aku menggaruk-garuk bagian belakang kepalaku karena merasa malu.
Aahh, aku terlihat sangat kekanak-kanakan.
"Duhh ... lama-lama ibu bisa pusing kalau kamu begini terus. Ingatlah, Ayumi ..., Kenshi itu sebelas tahun lebih tua darimu, jangan terlalu berlebihan menyukainya," ungkapnya memberi tahuku. Ya, ibu memberi tahu fakta yang sangat menyakitkan.
Usiaku sembilan belas tahun, sementara Kenshi tiga puluh. Aku tahu, tapi berusaha untuk tak tahu. Tapi, ibu malah memperjelasnya. Huhh ...
Seperti yang disebut oleh ibuku tadi, namaku adalah Ayumi. Mizuya Ayumi. Bagiku, Kenshi Yonezu adalah hidup. Aku sangat menyukai segala hal tentangnya. Terutama lagu dan juga, kurasa wajahnya haha ....
Poster wajahnya adalah hiasan kamarku. Buku majalah dengan sampulnya adalah buku yang memenuhi rak bukuku, eem yah kurasa sebagian besar. Banyak kaset yang berisi lagu-lagu buatannya. Pokoknya, semua orang pasti mudah mengenaliku. Jika ada yang menyebut "Kenshi Yonezu" maka aku akan menghampiri orang yang menyebutnya. Tak peduli siapa dia.
Kembali ke permasalahan awal. Aku terdiam saat ibu mengucapkan hal itu. Tapi, aku juga harus mengungkapkan kata-kata di hatiku. "Tapi, Bu ... aku menyukai Kenshi sebagai idola, itu saja. Tidak lebih," terangku ragu-ragu.
"Hah ...." Ibu menghela napas panjang, kemudian menatapku. "Ya sudahlah, lupakan saja. Kamu sudah makan belum?" lanjut ibu bertanya kepadaku.
"Belum."
"Ya sudah, tunggulah dulu. Ibu akan memasak sarapan," kata ibu.
Aku menganggukkan kepalaku dua kali. "Baik," jawabku singkat mengiyakannya.
=•=•=
Singkat cerita, sekarang aku tengah berada di tempat mewah dengan AC di mana-mana. Yap, ini adalah mall. Sahabatku, Naomi, memintaku untuk menemaninya membeli baju baru. Haha, dia memang si Ratu Modis.
"Tunggu, Ayumi!" ucap gadis itu sambil merentangkan tangan kanannya untuk menghentikan langkahku.
Sontak, aku sempat terkejut. "Hah? Kenapa?" sambungku bertanya.
Namun, bukannya menjawab, Naomi malah celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri. Matanya menyipit seolah sedang mengawasi sesuatu.
"Hei, kau ini kenapa, Naomi?" Kuulangi lagi pertanyaanku tadi. Kuharaap, dia akan menjawab kali ini.
"Hah?" Naomi berbalik menatapku yang berada sedikit di belakangnya. Dia memandangiku dengan tatapan bingung.
Serius, dia semakin membuatku bingung.
"Ohh, enggak apa-apa kok hahaa. Aku hanya sedang melihat-lihat toko baju. Di sana ada satu, kurasa mereka memiliki baju yang bagus. Ayumi, kau ingin ikut?" Dia menawarkanku. Aku ingin mengiyakan, tapi entah kenapa mendadak aku merasa kebelet.
"Aku ingin pergi ke kamar kecil dulu, ya. Tiba-tiba kebelet," ucapku padanya.
"Ohh, okey. Nanti kalau kau sudah selesai kembalilah ke sini, ya."
"Iya."
=•=•=
Di kamar mandi, setelah aku selesai buang air. Kuambil air yang mengalir dari keran. Sepertinya hanya aku yang ada di ruangan ini. Sepi sekali.
Aku menyatukan kedua tangan hingga membetuk wadah untuk menampung air. Lalu, air itu kugunakan untuk membasuh wajah.
"Hah ..., ternyata menemani seseorang belanja itu melelahkan juga, ya." Aku mengungkapkan semuanya di depan cermin. Jujur saja, ternyata ini lebih buruk dari yang kubayangkan.
Aku memang tipe gadis yang tak bisa berdiri lama-lama. Apalagi berjalan.
Bruk!
Pada saat yang bersamaan, suara gerutuk seperti sebuah benda sedang menabrak benda lainnya berhasil menarik perhatianku. Aku sontak terkejut saat mendengar suara itu.
Apa seseorang baru saja masuk?
Dengan cepat, aku langsung mengecek ke arah pintu masuk. Ternyata benar, seseorang sedang berdiri di depan pintu. Orang itu tak terlalu tinggi, mengenakan jaket hoodie hitam dan celana jeans. Ia juga tampak mengenakan masker dengan warna senada dengan jaketnya. Namun, samar-samar aku melihat rambutnya ikal. Tunggu dulu, dia laki-laki?!
Laki-laki itu yang awalnya panik seketika langsung berhenti bergerak saat menatapku. Kurasa, dia takut karena aku memergokinya masuk ke dalam kamar mandi perempuan.
"Heh, apa yang kau lakukan di sini, hah? Kau tau, kan kalau ini toilet perempuan? Aah, apa jangan-jangan kau ingin mengintip? Huh, dasar mesum! Keluar sekarang atau aku akan berteriak!" ancamku dengan perasaan gemetar. Saat melihat matanya, entah kenapa hatiku merasa tak enak. Seperti sedang merasakan kalau akan ada sebuah kejadian yang tak kuduga.
Dia tak mengucapkan sepatah katapun, akan tetapi kakinya melangkah. Langkah demi langkah, dia mendekat kepadaku. Perlahan-lahan.
Aku mengiringi langkahnya dengan mundur juga. Di sisi lain, kerongkonganku meneguk ludah, jantungku berpacu dengan cepat. Di pikiranku saat ini hanya tertulis 'Apa aku akan hidup?' dan 'Aku harus kabur'.
"Ssst diamlah. Aku tak akan menyakitimu. Asal kau diam saja," ucapnya lirih berbisik tepat di sisi telingaku. Salah satu tangannya meninju tembok, membuatku kesulitan untuk kabur. Tidak, bahkan menoleh pun aku tak bisa.
Tapi, tunggu dulu, kurasa aku pernah mendengar suara ini. Suara laki-laki ini terdengar sangat familiar bagiku, tapi di mana aku mendengarnya?
Dia melepas kurungan tangannya dan berjalan sedikit mundur. Kira-kira berjarak satu meter dari posisiku berdiri sekarang. Hah ... aku bisa bernapas lega sekarang. Jantungku nyaris berhenti berdetak.
Sambil mengumpulkan keberanian untuk melawan, kulontarkan pertanyaan ke orang misterius itu. "Heei, aku serius bertanya. Kenapa kau masuk ke toilet perempuan? Apa kau bosan hidup?" tanyaku padanya yang tengah menempelkan sebelah matanya di lubang pintu.
Namun, lagi-lagi dia tak menjawabku.
Dia ini tuli apa memang sengaja tuli?
Karena rasa kesalku sudah tak tertahankan, aku berjalan ke arahnya kemudian menarik kudung hoodie hitamnya sehingga aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tapi, rasa amarahku seketika lenyap begitu saja ketika aku tahu kalau orang yang sedang ada di depanku ini adalah seorang pria yang sangat aku idolakan. Kenshi Yonezu, dia di sini!
"Kenshi? Kenshi-san?!" teriakku kegirangan sambil memegangi mulutku menggunakan kedua tangan. Hatiku membludak, rasa bahagia seolah muncul begitu saja. Jantungku berdetak lebih kencang dari yang tadi. Dia, benar-benar Kenshi? Setampan inikah dia kalau di belakang layar?!
"Sstt jangan keras-keras. Nanti orang-orang di luar akan mendengar suaramu!" ujar Kenshi menyuruhku untuk tidak keras-keras.
"Eh? Maaf ...." Aku menutup mulutku dan lalu menghentikan rasa girang ini. Meski tak bisa berhenti sepenuhnya. "Ano, Kenshi-san ...."
"Kenshi saja," pangkas idolaku itu sebelum aku menyelasaikan kalimatku.
"Ah ya, maksudku, Kenshi ... memangnya apa yang terjadi? Kenapa kau masuk ke kamar mandi perempuan?" tanyaku dengan pertanyaan yang sama, tapi dengan perasaan yang berbeda.
"Tunggu dulu, ini toilet perempuan? Aahh, kukira kau yang salah tadi. Yahh, ini hanya masalah biasa. Para penggemarku tahu kalau aku sedang berbelanja di sini jadi mereka mengikutiku kemanapun aku pergi. Itu membuatku merasa sedikit tak nyaman kau tahu," ungkapnya menjelaskan seluruh kejadian yang dialaminya secara singkat.
"Aah aku mengerti, tapi–"
"Weehh, semuanya! Aku mendengar suara Kenshi dari dalam toilet perempuan. Ayo cepat masuk!" Namun, rentetan kejadian tak terduga masih belum berakhir. Kami berdua mendengar suara seorang wanita paruh baya tengah berteriak untuk memberitahu yang lainnya kalau Kenshi ada di sini. Mungkin begitu.
Brak! Brak!
Pintu yang terkunci erat oleh besi engsel perlahan mulai terlihat bergeser. Kalau begini terus bisa-bisa pintunya jebol.
"Aissh, kenapa mereka bisa tahu aku ada di sini? Sekarang bagaimana, aku tak tahu harus kemana." Kenshi mengacak-acak rambutnya, menandakan bahwa dia sedang bingung.
Ayo, Ayumi! Berpikirlah!
Heehh ... aha!
"Kenshi, ayo naik ke atas!" Sebuah ide cemerlang terlintas di pikiranku. Dengan rencana ini, kurasa kita bisa membebaskan diri dari gelombang lautan manusia yang sedang menunggu Kenshi di luar.
"Ke atas? Maksudmu menemui Tuhan?"
Tunggu, apa?
"Heee bukan begitu, kita bersembunyi di saluran udara. Sudahlah, ikuti saja kata-kataku. Ayo, kubantu kamu naik. Kita hanya akan bersembunyi sebentar, kalau mereka sudah yakin bahwa kamu tak ada di sini, baru kita akan turun," jelasku panik.
Namun, Kenshi malah terlihat kebingungan. Arhhhh dia ini tampan tapi–aargh.
Brak!
Benar sesuai dugaan kami, pintu terbuka dengan paksa. Terlihat banyak sekali orang yang meneriakkan nama 'Kenshi-san' sambil membawa kertas kosong. Beruntungnya, aku dan Kenshi telah berhasil naik sebelum mereka masuk.
Kebingungan jelas terpancar di antara mereka. Setelah beberapa saat mengecek di setiap sudut, akhirnya orang-orang itu pergi keluar dari sini. Dengan hati-hati aku melompat ke bawah. Sementara Kenshi masih di atas.
"Hah ...." Setelah mendarat dalam posisi jongkok, aku mendongak. "Kenshi-san, turunlah!" ucapku lirih mengajaknya turun.
"He-Hei, apa kau baik-baik saja? Apa turun dengan melompat itu bisa?" tanya Kenshi gugup. Ah, aku paham.
"Tenanglah, enggak kok. Asal kamu hati-hati." Aku menenangkannya.
"Hmm ... baiklah." Kenshi berjongkok, memasang ancang-ancang untuk melompat turun.
"Arghhh ...."
Bruk!
=•=•=
Sepulang dari mall, aku berjalan dengan wajah kelelahan. Kakiku serasa tak bisa digerakkan lagi. Aahh, ternyata Kenshi-san tak seringan yang kubayangkan.
Ini semua karena pendaratan Kenshi-san yang kurang baik. Hasilnya, dia kesakitan dan aku terpaksa menggotongnya sampai ke mobil pribadinya. Aah bahuku, aaww ....
Tapi, apapun itu, setidaknya aku bisa bertatap muka dengannya. Walau akhirnya harus begini, tapi berdua bersamanya telah membuat hariku serasa sangat menyenangkan. Aku memang tak salah mengidolakannya, dia tampan.
=•=•=
Dua hari kemudian, aku mendengar suara ketukan pintu depan bergema berkali-kali.
"Ayumi, tolong lihat siapa yang mengetuk pintu!" teriak ibu dari arah dapur.
"Iya!" sahutku kemudian berlari keluar.
Kugeser pintu depan sampai terbuka sepenuhnya. Namun, lagi-lagi aku terkejut. Aku melihat seorang laki-laki mengenai hoodie dan masker hitam yang sama dengan kemarin.
"Hai."
Rahangku terngaga ke bawah sampai nyaris lepas.
=•=•=
"Kenshi-san, minumlah dulu teh ini, ya," ujar ibu sambil menyuguhkan teh kepadanya. Ya, dia Kenshi Yonezu.
Aku benci memikirkan bagaimana bisa dia di sini, tapi yang membuatku bingung adalah, kenapa dia ke sini?
"Ah, tak perlu repot-repot, Bi haha," ucapnya sambil diiringi tawa kecil.
Plak!
"Hah?"
Tanpa diduga-duga, ibu memukul punggung Kenshi dengan keras, sambil berkata, "Jangan panggil aku bibi dong, Kenshi hahaa. Panggil saja 'mbak'."
"Mbak? Ahaha i-iya."
"Bagus. Aissh, ya sudah. Ibu tinggal dulu. Ayumi, cobalah berbicara dengannya. Dia idolamu, kan?" ujar ibu, kemudian melanjutkan, "daahh ... ibu mau lanjut memasak dulu."
Dia benar-benar pergi meninggalkan kami berdua di sini. Aku dan Kenshi saling bertatapan. Awalnya semua terlihat biasa, tapi entah kenapa jantungku lama-lama malah berpacu dengan kencang.
Sunyi senyap adalah suasanya yang tepat untuk menggambarkan keadaan kami saat ini. Tak ada yang berbicara atau setidaknya menyapa. Tidak sampai Kenshi mulai bertanya.
"Namamu siapa?" tanya Kenshi. Baru saja dia menanyakan namaku, aku tak salah dengar, kan?
"Eh? A-ah Aku Mizuya Ayumi." Aku mengatakan namaku. Ah, kurasa aku terlalu gugup sekarang. Hehh ....
"Ah oke, Ayumi. Begini, lamgsung saja, ya. Ada dua hal yang ingin kusampaikan kepadamu. Yang pertama, aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu karena telah membantuku kemarin. Yang kedua, sebagai ucapan terima kasih, kau boleh meminta apapun dariku. Aku akan memberikannya," ujar Kenshi-san. Eh?
"Ke-Kenshi-san tak perlu. Aku hanya ingin membantu saja ahaha."
"Hah ...." Dia menghela napas. "Bukankah aku sudah bilang kemarin, jangan terlalu formal kepadaku. Panggil saja Kenshi," lanjutnya menyuruhku.
"Eh? Ta-tapi, aku lebih muda darimu, Ken–Shi. Jadi, kurasa sedikit aneh jika aku hanya memanggil nama."
Tiba-tiba saja dia tersenyum. "Daijobou. Aku sudah biasa dipanggil nama. Justru jika kau memanggilku seperti itu, aku malah merasa aneh."
"Oke?" Ya, meski sedikit tidak nyaman tapi karena Kenshi yang memintanya ....
"Jadi, kau sungguh tak mau apapun dariku?" tanya Kenshi sekali lagi. Ia seolah sedang menawarkanku.
"Sungguh."
"Humm ... bagaimana kalau aku memberi nomor ponselku saja? Kau mau?"
"Eh?"
Su-sungguh? Dia mau memberikan nomor ponselnya? Tuhan, terima kasih.
"Apa boleh?" tanyaku ragu.
Dia menganggukkan kepalanya. "Kalau aku melarang ya mana mungkin aku menawarkan. Jadi, mau nggak, Ayumi? Kalau kau tidak mau, ya sudah. Aku pulang ...." Setelah mengucapkannya, Kenshi hendak berdiri. Namun, aku menahannya.
"Eehh tunggu dulu ..., hahh ... kalau memang boleh, aku mau!"
Dia tersenyum. Aah, memalukaan. Pada akhirnya, aku mau menerima hadiahnya. Hmp!
=•=•=
Sejak saat itu, aku dan Kenshi mulai berkenalan baik. Setiap malam, kami berdua selalu berbalas pesan. Yah, hanya membahas tentang kegiatan sehari-hariku dan juga dia. Hanya sebatas pembicaraan antara 'Idola dan penggemarnya'.
Aku sudah cukup bahagia walaupun hanya sebagai penggemar nomor satunya. Tetapi, kalau aku boleh egois, aku ingin menjadi orang yang mendukungnya setiap saat, menjadi sandaran saat dia lelah, dan memberinya kasih sayang. Aku sadar, itu hanya satu dari seribu mimpi mustahilku.
Hari ini hari terasa sangat berat. Aku benar-benar lelah. Apalagi di luar tengah hujan deras. Jadi, kupikir, menceritakan ini ke Kenshi akan membuatku merasa lebih baik.
Aku membuka aplikasi berbalas pesan yang telah kuunduh di ponselku. Terpampang nama 'Kenshi Yonezu' di daftar paling atas riwayat berbalas pesan.
Aku berniat menyapanya dulu, tapi sesuatu mengangguku. Kenapa dia belum online dari pagi tadi. Biasanya, dia selalu online pada jam-jam istirahat seperti ini. Apa, baterainya habis? Hmm mungkin.
Tling.
Ketika aku ingin tidur, tiba-tiba notifikasi dari aplikasi berita muncul di bagian atas layar. Sontak, aku terkejut saat melihatnya.
"Skandal kasus pemerkosaan menimpa musisi Kenshi Yonezu."
Itu adalah kalimat dari banner berita itu. Aku langsung mengubah posisiku menjadi duduk di ranjang.
Apa maksudnya ini?!
Apa mungkin–
Ehh, aku harus cepat.
=•=•=
Krieet ...
Aku menggeser pintu luar dan berlari secepat mungkin. Hanya bermodalkan payung dan jaket, kuterjang air hujan yang semakin lebat.
"Hei, Ayumi! Kau mau kemana?!" tanya ibu dengan suara berteriak. Namun, aku tak menggubrisnya.
Aku masih terus berlari. Tujuanku saat ini hanya satu, ke tempat di mana Kenshi berada.
Setelah cukup lama berlari, akhirnya aku sampai di depan gedung besar. Tanpa menunggu lama, aku langsung masuk ke dalam. Menaiki satu per satu anak tangga, hingga akhirnya sampai di plafon.
Hahh ... hah ... hahh ...
Dugaanku benar, Kenshi ada di sini. Samar-samar dari kejauhan, aku melihat seseorang mengenakan jaket hoodie hitam sedang terduduk lesu di dekat tembok. Dia menunduk.
Aku meyakinkan tekad. Kulangkahkan kaki menuju dia dan memayunginya.
Kenshi mendongak ke atas untuk melihatku. Namun, dia kembali menunduk.
"Kenshi, di sini hujan. Kau bisa sakit nanti," ucapku lirih dengan tangan yang masih memegang payung.
Tapi, Kenshi tak menjawab. Aku juga tak mengatakan apapun setelah pertanyaan itu. Suara bising gemercik air hujan mendominasi suara hening ini.
"Pulanglah. Atau kau akan diseret juga oleh mereka." Beberapa saat berlalu, akhirnya dia menjawabku.
"Aku tak mau pulang sebelum kau–"
"SUDAH KUBILANG PULANGLAH SEKARANG JUGA!" bentak Kenshi keras.
...
Dia, dia baru saja membentakku? Hem .... Aku menunduk. Namun, ini bukan waktunya aku sedih. Wajar saja kalau Kenshi marah, dia juga ingin agar aku baik-baik saja. Akan tetapi, sebagai fans ...
"Kenshi, apa kau ingat tentang lagu Lemon? Yah, aku sangat menyukai lagu itu. Katanya, kau membuat lagu ini karena sedih akan kepergian kakekmu, iya kan? Nah, itulah perasaanku tanpamu. Entah kenapa, aku merasa kalau hidupku akan suram tanpamu. Kenshi, aku adalah penggemarmu, kau tahu itu, kan?"
Tak ada jawaban darinya.
"Ano hi no kanashimi sae, ano hi no kurushimi sae~" (Bahkan kesedihan di hari itu, bahkan rasa sakit di hari itu~)
"Sono subete wo aishiteta anata to tomo ni~" (Aku mencintai segalanya saat bersama denganmu~)
"Mune ni nokori hanarenai nigai remon no nioi~" (Aroma pahit lemon tetap tertinggal di dalam hatiku~)
"Ame ga furiyamu made wa kaerenai~" (Aku tak bisa pulang sebelum hujan berhenti~)
"Kiriwaketa kajitsu no katahou no you ni~" (Seperti pecahan buah yang terbagi~}
"Ima demo anata wa watashi no hikari~" (Bahkan sampai sekarang, kau adalah cahayaku~)
Di tengah derasnya hujan, kulantunkan melodi dari lagu yang sangat kusukai. Lemon. Di saat itulah, untuk yang pertama kalinya Kenshi menatapku dengan tatapan serius. Perlahan, tatapannya berubah. Alisnya melengkung dan bibirnya tersenyum.
Kami berdua tersenyum di sini. Aku berhasil membawa kembali senyumannya yang nyaris hilang itu.
=•=•=
Singkat cerita, setelah Kenshi pulang. Seluruh manager dan staff-nya membantunya untuk membereskan skandal ini. Dalam waktu yang singkat, rumornya telah berakhir. Diketahui, ternyata rumor disebar oleh salah seorang selebriti yang iri karena kesuksesan Kenshi.
Syukurlah.
Dan, malam itu, dia mengajakku kembali ke tempat di mana dia tertunduk lesu. Di atas plafon gedung. Aku tak tau apa yang dia rencanakan. Tapi, kupikir, ya sudahlah.
Aku dan dia sekarang tengah duduk di pembatas plafon. Tak tahu bagaimana cara menyebutnya, pokoknya itu. Pemandangan lampu-lampu dari gedung dan kendaraan di kota membuat suasana malam terasa sangat luar biasa. Angin berhembus pelan, membuat rambut panjangku buyar.
"Ayumi." Kenshi memanggilku.
"Nani?" tanggapku.
"Boku hontou ni suki da yo." (Aku sangat menyukaimu.) Seraya menatap lekat mataku, dia mengucapkan beberapa kata. Beberapa kata indah yang tersusun dan berhasil membuat jantungku berdegup kencang.
"Ayumi." Dia memanggilku lagi.
"Na-nani?" Kali ini, aku menjawabnya gugup. Karena, pipiku memerah.
"Kimi wa dou?" (Bagaimana perasaanmu?) sambungnya menanyakan perasaanku. Dia tersenyum, seolah menunggu jawabanku. Antara senang dan bingung, perasaanku campur aduk.
Namun, perasaan senangku melebihi rasa bingung. Garis lengkung tercipta di bibirku.
"Anata ga suki yo." (Aku juga menyukaimu.)
- Tamat -