Pemuda bermata teduh itu berjalan menyusuri pesisir pantai. Anak juragan ikan terkaya dari desa nya itu memiliki paras yang cukup tampan. Kaya, dan tentu saja anak tunggal. Jimin namanya. Selain dikenal karena latar belakang orang tua nya, Jimin juga dikenal sebagai perayu ulung. Tak tanggung-tanggung dari gadis muda hingga janda hampir semua sudah pernah mendengarkan betapa manisnya ucapan Jimin.
Rambut hitamnya tersibak terkena angin. Meskipun hidup di pesisir, Jimin memiliki kulit putih alami, turunan dari keluarganya. Sangat seksi terlebih lagi saat keringatnya mengucur terkena sinar matahari.
Sudah hampir senja, dan Jimin masih ingin menikmati kesendiriannya ditemani deburan ombak menenangkan dan angin laut. Langit perlahan mulai jingga menampilkan panorama yang tiada tara. Duduk di atas batu besar, Jimin merentangkan tangannya, wajahnya mendongak dengan mata terpejam seolah menikmati setiap angin menyapu wajahnya.
Tadinya ia masih ingin duduk manis, bersantai kalau saja jerit kesakitan seseorang tak memenuhi rungu nya. Ia spontan menoleh kesana kemari, turun dari batu lalu mencari sumber suara.
Semakin Jimin melangkah suara memekik meminta tolong semakin keras terdengar membuat Jimin yakin ia pada arah yang benar. Ia setengah berlari ketika menemukan seorang gadis tergeletak diatas pasir putih pantai. Gaunnya basah, Jimin yakin sekali gadis itu pasti terdampar.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Jimin ketika ia sudah berada di dekat gadis tersebut. Membantu gadis tersebut bangkit. Penampilannya mengenaskan sekali, pakainya robek di beberapa bagian. Kulit putih gadis tersebut terlihat pucat dengan beberapa luka di sekujur tubuh. Jimin tebak pasti tergesek karang. Pelipis gadis ini berdarah. Salah kalau Jimin bertanya apakah gadis ini baik-baik saja. Tentu saja tidak, sudah jelas gadis ini kesakitan.
"Tuan tolong aku." Suaranya terdengar parau, lirih nyaris tak terdengar. Tak seperti tadi ketika meminta tolong.
Jimin menyelipkan rambut gadis itu di samping telinga untuk melihat luka di pelipisnya. Darahnya masih mengalir, belum kering. Itu artinya gadis ini baru saja terdampar setelah tenggelam.
"Kau datang darimana?" Tanya Jimin, pasalnya penampilan gadis ini cukup cantik. Jimin tak pernah melihat gadis ini di desa ini.
"Aku dibuang tuan, aku dibuang oleh keluarga ku di laut." Ucap gadis itu pilu. Sejenak Jimin terenyuh tanpa peduli apakah perkataan gadis itu benar atau salah.
Jimin merasa seperti pangeran yang menemukan gadis di pesisir pantai. Tapi kali ini benar-benar gadis yang sedang terluka, bukan gadis setengah ikan. Gadis itu menatap Jimin seolah Jimin satu-satunya harapan gadis itu untuk hidup.
"Tolong selamatkan aku, aku mohon." Ucapnya lagi. Jimin menimang sebentar. Ia kembali menatap gadis itu. "Siapa nama mu?" Tanya Jimin.
"Alice, namaku Alice." Jawab gadis itu. Tatapannya benar-benar membuat Jimin ingin melindungi gadis ini. Menjadikannya satu-satunya pahlawan bagi gadis ini. Tentu saja tidak gratis, Jimin perhitungan omong-omong.
Ia kemudian tersenyum.
"Oke, Alice namaku Jimin. Aku akan menyelamatkan mu dengan satu syarat." Ucap Jimin. Alice masih memandang Jimin dengan tatapan sayu, lemah sebab dirinya baru selamat dari ambang kematian. Berenang sekuat tenaganya menuju ke tepi pantai. Hingga akhirnya bertemu pria ini.
"Apapun itu, asal kau menyelamatkan ku, aku akan menurutinya." Ucap Alice lembut tapi tegas. Seolah meyakinkan Jimin jika dirinya sungguh-sungguh berjanji. Jimin mengangguk sekilas, dengan senyum tersungging ia membelai pipi lembut milik Alice.
"Aku akan menyelamatkan mu, tapi kau harus menjadi milikku."
Hening sesaat, sampai Alice meraih tangan Jimin. "Iya, miliki aku, bawa aku, apapun itu. asal kau menyelamatkan ku." Ucap Alice seolah putus asa akan keadaan membuat Jimin semakin tersenyum lebar.
Sesaat kemudian Jimin mengangkat tubuh rapuh Alice. Menepati janjinya untuk menyelamatkan Alice. Katakanlah Jimin gila, ia bahkan tak tahu latar belakang Alice. Apakah gadis itu benar-benar gadis rapuh seperti yang terlihat, atau rubah yang berusaha terlihat seperti kelinci. Tapi entah kenapa untuk pertama kalinya Jimin jatuh pada pesona gadis yang baru ia temui.