Aku Anna, umurku 18 tahun, tahun ini tahun terakhir disekolahku, temanku mengusulkan untuk pergi berkemah.
Aku teringat oleh adikku, belakang ini dia hanya dirumah, jadi aku bertanya apakah boleh membawa adek? Mereka setuju, aku pulang kerumah disambut dengan adikku yang dingin, dulu dia tidak seperti ini tetapi semenjak orang tua kami meninggalkan, dimatanya tidak ada kehidupan lagi.
"Dek mau ikut? " tanyaku dengan mata berbinar, "Kemana? " dia menjawabku tetapi pandangannya tertuju pada yang lain, "Berkemah, kamu lagi liburan juga kan? Ayo ikut kakak berkemah, mau kan? " aku sedikit memaksa, dia melihatku sejenak.
"Ya, oke." dia menjawab sesingkat itu, aku ingin dekat dengan adikku makanya aku ingin memaksa dia ikut berkemah, bisa jadi ada keajaiban membuatnya tersenyum kembali 'kan?
Keesokannya kami berangkat dengan mobil, jumlah orang ada 7, setelah tiba kami membuat tenda, tentu saja aku satu tenda dengan adikku.
"Dek mau jalan-jalan? " tanyaku iseng, "Terserah, aku ikut saja." dia mau jalan" dengan ku? Ahhh ini adalah keajaiban, akhirnya.
kami berjalan-jalan dekat hutan, "Hutan nya cukup mengerikan ya~" celetukku, "Hm,,, melihat pohon yang kita lewati tadi, pohon itu seperti bisa memakan mu hidup-hidup." adikku mengucapkan itu tanpa ragu, dari mana dia belajar perkataan seperti itu?.
"Oh! Ada rumah ditengah hutan? " adikku tiba-tiba berhenti dan pandangannya tertuju kepada sebuah bangunan rumah.
JEDER!
"Duh,,, kok tiba-tiba hujan gini?!" Aku berlari dengan adikku untuk berteduh dirumah itu, aku melihat ponsel ku tidak ada jaringan sama sekali.
"Yah,,, mau Gimana lagi, kita berteduh disini dulu." celetuk adikku. Adikku berdiri dia pergi berjalan memasuki kedalam rumah itu, aku mengikuti nya dari belakang takut ada apa-apa.
Pandanganku terhenti pada bingkai foto yang ada dirumah itu, "Ini,,, ini kan aku?" sahutku, "Kakak kenapa? tentu saja itu foto kakak, ini kan rumah lama kita saat masih ada ayah dan ibu." adikku berhenti dan menatapku.
"A-apa maksudmu? " tanyaku gagap, ini sangat aneh, aku tidak pernah merasa kalau aku pernah tinggal disini, adikku berjalan memasuki salah satu ruangan seakan dia mengenal rumah itu.
Aku juga ikut memasuki ruangan itu, aku melihat kursi yang sudah tua dengan ruangan yang sudah tidak elegan lagi.
"Ayah-ibu lihat siapa yang datang melihat kelian,,, "sahut adikku, sembari melihat keluar jendela, "K-kau kenapa dek?" tanyaku ketakutan.
Kursi itu tiba-tiba jatuh, aku ketakutan keringatku keluar banyak, sedangkan saat ini sedang hujan, "Kenapa raut wajahmu Kak? Bukannya kau suka sekali dengan rumah ini?" adikku membalikkan badan sembari tersenyum, baru kali ini aku melihat senyumannya.
"Kenapa kau ketakutan sekarang? Saat kau membunuh ayah-ibu kau tidak pernah menunjukkan wajah itu." ucap adikku sembari mengusap pipiku, ini membuat ku bingung kepalaku berputar aku tidak bisa mengingat apapun.
JEDER!!
Aku ingat sekarang, semua kejadian itu, kenapa fotoku disana, kesadarannku memudar tanpa sadar aku pingsan, saat terbangun, tanganku sudah mencekik leher adikku.
"Kenapa Kak? Setelah membunuh ayah-ibu kau ingin membunuhku? " ucap dia sembari menarik nafas.
Aku melepaskan adikku, kenapa aku tidak mengingat apapun? Aku merasa tadi seakan ingatan ku kembali. Ada orang diujung lorong rumah ini, samar-samar aku melihat dia membawa pisau? Ya pisau!! Aku menarik tangan adikku untuk keluar dari rumah ini, saat ingin membuka pintu.
BRAK!
Pintu terbuka, tetapi ini bukan hutan!! Bukan disini tadi! ini dimana!? Ini bukan tempat berkemah, Aku melihat kerah adikku, dimatanya sudah tidak peduli dengan hidup mati lagi.
"Ini salah Mu, manusia itu tidak banyak berubah, lihatlah insting mu membawa kembali keruma ini, hanya salah satu yang bisa keluar disini, kau pasti ingin keluar dari sini kan? seperti kau mengorbankan ayah-ibu untuk keluar dari sini. "
Adikku mendekati pria yang memegang pisau itu, "Ambil jiwaku, biarkan kakakku pergi, aku juga sudah muak dengan dunia ini." pria itu menyuruh adikku duduk dikursi roda yang ada dilorong itu.
"TIDAK!! Kumohon jangan!! "Teriakku memegang tangan adikku, "Kenapa? Setelahini pun kau tidak akan mengingat apapun." ucap pria itu, kursi didorong dan mereka masuk, keruangan itu, secara tiba-tiba aku keluar.
"Ah dimakan aku? OH ya! Kemah! " Namaku Anna umurku 18 tahun, ini tahun terakhir aku sekolah, kami sedang berkemah untuk merayakan tahun terakhir kami disekolah.
.
.
.
THE END!