Vina seorang gadis manis bertubuh mungil, berambut hitam dan panjang. Cantik tapi ia bukanlah siswa yang aktif. Ia lebih senang melewatkan hari dan jam istirahat di perpustakaan.
"Kamu memang suka di sini ya?" Tanya seseorang di sampingnya. Bukan sekali ini ia melihat Tristan di perpustakaan. Biasanya ia akan bergabung dengan teman-temannya bermain basket atau sekedar ngumpul di kantin.
Vina menatap siluet Tristan, ia memilih memgabaikan dan kembali melanjutkan bacaannya. Bukannya berlalu, Tristan malah duduk di hadapannya bertopang dagu pada sebuah buku. Vina yang mencoba memahami bacaan merasa terganggu karena Tristan menatapnya terus-terusan.
"Mau baca atau nggak?" Tanya Vina. Tristan hanya tersenyum. Vina meletakkan kembali bukunya dan akan beranjak keluar.
"Tunggu! Aku mau nanya ini," Tristan menyodorkan sebuah buku padanya.
"Kamu bisa ngerjain sendiri," Jawab Vina. Tristan menarik tangannya dan mendudukkan Vina kembali. "Pleasee," Tristan memintanya. Mau tak mau Vina menjelaskan sampai Tristan paham. Tristan dan Vina memang beda kelas tapi di jurusan yang sama.
"Makasih ya," Tristan tersenyum dan mengambil kembali bukunya lalu pamit keluar.
Sejak saat itu, Tristan selalu belajar bersama Vina di sela jam kosong atau saat istirahat. Kedekatan mereka tak ada yang tahu kecuali yang msering melihat mereka di perpuatakaan membahas soal-soal.
"Boleh nggak nanti aku belajar di rumah kamu?" Tanya Tristan suatu hari.
"Kenapa nggak di sini aja? Sekarang?" Tanya Vina.
"Aku ada rapat OSIS, gimana?" Tanya Tristan. Vina mengangguk.
Tristan meminta nomor ponsel Vina agar mereka bisa mengatur jadwal. Lalu Tristan pamit keluar.
Vina menghela napas, terbiasa belajar bersama Tristan membuatnya nyaman. Berdiskusi sambil menertawai kesalahan membuat benih cinta muncul di hatinya. Tapi ia malu untuk mengungkapkan pada Tristan. Ia takut Tristan hanya menganggapnya teman biasa.
***
Bel berbunyi nyaring, semua murid berhamburan pulang. Vina memasukkan bukunya ke ransel lalu berjalan beriringan dengan Tasha, sahabatnya.
"Kamu Vina?" Tanya seorang cewek berambut ikal menghadang jalan mereka.
"Ya?" Kata Vina.
"Oh ini anaknya? Berani banget!" Tiba-tiba seorang cewek tomboi menarik kerah seragam Vina.
"Santai dong, nggak usah narik-narik!" Kata Tasha.
"Kasih tau temen kamu, jaga sikapnya. Jangan keganjenan!"
"Maksudnya?" Tanya Tasha.
"Jauhi Tristan! Aku selama ini pura-pura nggak tahu, lama-lama ngelunjak ni anak!" Tunjuk cewek yang di tengah, namanya Riska. Termasuk cewek golongan 10 tercantik di sekolah.
"Hah? Vin?" Kali ini Tasha berbalik menatap Vina. Vina menggeleng, tak berani bersuara.
"Aku kasih kesempatan buat jauhin Tristan, kalau nggak aku bisa berbuat nekat!" Kata Riska. Lalu mereka berbalik meninggalkan Vina dan Tasha keluar gerbang sekolah.
Vina melihat sekelilingnya, ramai teman-temannya berbisik. Ia tahu semua akan membicarakannya.
"Vin, good job!" Teriak seseorang, Vina mengangkat wajahnya. Ia takut salah dengar.
"Kami dukung kalau kamu sama Tristan. Si Riska sekali-sekali harus ngerasain yang namanya sakit hati," Ucap seseorang. Vina melihat sekelilingnya hampir semua mendukungnya.
"Maaf, tapi aku sama Tristan memang cuma temen," Kata Vina.
Semua terdiam lalu membubarkan diri, Tasha menarik tangan Vina kembali ke kelas.
"Sekarang cerita! Gimana ada gosip murahan itu!" Perintah Tasha.
Vina menceritakan semua, tentang kedekatannya dengan Tristan. Tetapi memang mereka tidak pacaran. Entah siapa yang menyebar gosip.
"Kamu percaya kan sama aku?" kata Vina
"Kita liat aja nanti," Jawab Tasha.
Lalu mereka kembali pulang.
***
Sore itu, Vina sedang mengerjakan soal latihan bersama Triatan. Tiba-tiba Tasha masuk dan kaget melihat mereka sedang belajar bersama.
"Kamu beneran nggak ada hubungan apa-apa sama dia?" Tanya Tasha yang mengajak Vina ke belakang.
"Bener, suweeeerrrr Tasha. Aku sama dia nggak ada hubungan. Kita cuma belajar. Nilai dia parah banget dan dia mau belajar kelompok tanpa ada yang tahu. Itu aja" Vina menjelaskan.
"Kamu tau kan ancaman Riska. Dia nggak main-main Vin,"
"Aku tahu, tapi kan aku sama Tristan memang nggak ada hubungan. Jadi aku harus gimana?" Tanya Vina.
"Jauhi dia. Aku mohon sebentar aja. Sampai semua ini reda. Aku takut Riska nekat," Kata Tasha. Vina mengangguk meski tak yakin. Ia akan merasa kehilangan Tristan. Ia sudah terlanjur merasa nyaman dengan Tristan.
***
Setelah berdebat panjang lebar, akhirnya Tristan mengalah. Vina menceritakan semuanya pada Tristan berharap dia mengerti.
Dua minggu telah terlewati. Ada rasa kehilangan saat Vina di perpustakaan tapi ia mencoba melupakan. Namun, bayangan Tristan selalu mengganggunya. Sering kali Tristan berjalan berdua dengan Riska, pulang sekolah bareng. Semua terlihat nyata dan terang-terangan di depan Vina. Yang bisa Vina lakukan adalah berusaha tampak biasa meski hatinya terluka.
Suatu sore, saat Vina sedang menyiram tanaman milik ibunya. Tristan datang. Hati Vina tak karuan, antara senang atau sakit hati. Tapi rindunya sedikit terobati melihat Tristan yang tersenyum canggung dengannya.
"Ada apa?" Tanya Vina basa-basi.
"Aku rindu.."
"Stop di sana! Kalau kamu hanya ngomong rindu, pulanglah!" Kata Vina.
"Aku rindu, aku sayang dan aku kehilangan kamu. Aku jenuh, bisakah kita kayak biasanya? Aku mau lebih dekat denganmu, please. Ini nyiksa banget" Ungkapnya sambil memukul dadanya. Vina menunduk.
"Apa kamu nggak ngerasain hal yang sama? Atau kamu udah benci sama aku?" Tanya Tristan mendekat. Vina menggeleng kuat.
"Lalu? Bicaralah!" Pinta Tristan yang meraih jemari Vina.
"Aku tak mau mengganggu hubunganmu dengan Riska," Kata Vina dengan pelan.
"Aku... Jenuh,"
"Jangan bohong Tristan, hanya agar aku luluh dan memaafkanmu lalu kamu bilang jenuh,"
"Nggak, sama sekali enggak. Aku dan Riska bisa kamu tanya Ricky. Biar dia yang jelasin,"
"Kenapa nggak kamu aja?"
"Kamu enggak akan percaya, terserah kamu mau tanya siapa aja diantara teman sekelasku. Kamu akan tahu, aku pamit," Ucapnya meninggalkan Vina. Vina hanya diam menatap punggung lebar itu. Denyut sakit itu kembali hadir.
***
Akhirnya Vina mengorek beberapa informasi dari teman sekelas Tristan. Bukan teman dekatnya. Ternyata Tristan dan Riska sudah berpacaran sejak 4 tahun yang lalu. Membuat Vina semakin merasa jahat.
Tapi semua teman-teman Tristan justru setuju bila Tristan dan Riska putus. Riska sangat posesif pada Tristan. Mereka tak ada waktu untuk bermain atau menghabiskan waktu. Tristan benar-benar seperti tawanan. Itu melegakan Vina tapi sanggupkah dia bila melawan Riska?
***
Sepulang sekolah, Vina mendapat pesan dari sebuah nomor baru. Ternyata itu Tristan dengan nomor yang baru dibelinya. Tristan akan ke rumah Vina.
Mereka bertemu dan ngobrol di teras rumah.
"Maaf ya Vin, mungkin mulai sekarang kita nggak bisa saling ngirim pesan,"
"Kenapa?"
"Riska,"
"Oh aku ngerti"
"Maafin aku ya,"
"Nggak apa, aku ngerti," Vina memjawab sambil menunduk.
"Aku sayang kamu," Tristan tiba-tiba berkata. Vina sampai terperangah.
"Kamu..?"
"Iya, aku nggak bisa lagi mendam perasaan ini. Aku sayang kamu, tapi maaf aku belum bisa ninggalin Riska, aku tahu aku egois. Kalau kamu benci aku, silahkan. Tapi aku nggak bisa hilangin rasa ini"
"Aku..."
"Aku juga pantas dibenci, nggak berhak dapat balasan sayang apalagi cinta dari kamu,"
"Tapi..."
"Jujur aja, bilang semuanya. Yang penting aku tetap sayang,"
"Bisa diem nggak!" Vina berkata keras.
"Eeh iya, apa?" Tanya Tristan.
"Aku juga sayang kamu,"
"Aap... apaaa?" Tanya Tristan tak percaya. Vina mengangguk dan meyakinkannya.
"Tapi maaf, aku nggak bisa kalau kita pacaran. Kita jalani aja yah,"
"Yang penting kamu juga sayang sama aku, itu udah cukup," Kata Tristan, "Tapi resikonya...?" Kata Tristan cemas.
"Kita hadapi sama-sama," Vina berkata sambil tersenyum.
"Makasih banyak Yank," Kata Tristan, membuat Vina tersenyum malu mendengar ucapan Tristan. Resmi sejak saat itu mereka dekat.
Sebulan...
Dua bulan...
Tiga bulan...
Semua berjalan lancar, semua terlihat baik-baik saja. Tristan jalan dengan Riska tapi sayangnya ke Vina. Vina pun akhirnya lama-kelamaan merasa cemburu bila Tristan menghabiskan lebih banyak waktu dengan Riska. Ia tahu ia salah, tapi ia ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai. Sering kali mereka bertengkar untuk hal-hal sepele.
Sampai suatu ketika, pertengkaran mereka memuncak saat ulang tahun Tristan. Tristan benar-benar tak ada waktu untuknya selama nyaris dua minggu. Sementara Vina menanggung rindu dan cemburu. Saat di sekolah, setelah olahraga Tristan memberikannya sebuah buku cantik.
"Baca di rumah!" Katanya mengulurkan buku bersampul biru. Vina meraihnya dan langsung membubarkan diri mengikuti temannya. Rupanya terlihat oleh Riska dari kejauhan.
Vina yang tak sabar dengan isi buku tersebut, membukanya pelan di kelas. Ternyata itu buku kumpulan puisi yang ditulis oleh Tristan. Semua menyentuh hatinya. Ia kembali luluh. Belum sempat ia membaca keseluruhannya, bel masuk berbunyi. Tanda pergantian pelajaran berikutnya.
Vina tak bisa berkonsentrasi dengan pelajarannya siang itu. Saat bel berdering, ia bergegas keluar kelas dan ingin segera pulang. Sesaat sebelum ia melewati gerbang, seseorang menusuk punggungnya.
"Aaakh...!" Teriak Vina merasakan perih di punggungnya dan merasakan sesuatu mengalir di kulitnya.
"Jangan kegatelan! Udah aku peringatkan ya!" Kata Riska saat Vina berbaik melihat siapa yang menusuknya dengan pecahan botol kaca.
"Kamu?"
"Iya, aku! Dasar murahan!" Teriak Riska. Semua siswa heboh dengan kejadian penusukan oleh Riska. Akhirnya Vina dibawa ke klinik tak jauh dari sekolah. Keesokan harinya orangtua keduanya dipanggil ke kantor.
Mereka ditanyai penyebab perkelahian. Lalu mereka mendapat skorsing sementara waktu. Sesampainya di rumah, Vina mendapat omelan panjang dari ibunya. Ibu marah, sangat marah. Hingga Vina meminta maaf akan kesalahannya.
"Kamu masih sekolah, belajar sajalah. Ada waktunya kamu pacar-pacaran. Ibu nggak suka," Adalah omelan ibunya sepanjang hari.
Akhirnya, dengan rasa berat. Vina menjauhi Tristan. Ia sadar Tristan bukan untuknya. Tristan bukan laki-laki yang tegas mengambil keputusan. Dan Vina merasa bodoh, menjadi orang ketiga diantara mereka. Sementara ia masih memakai seragam sekolah. Vina merasa malu.
"Maaf," Adalah kata-kata terakhir Vina pada Tristan sambil mengembalikan buku bersampul biru milik Tristan. Lalu Vina memendam semua rasanya, berharap waktu bisa menghilangkan jejak Tristan dan semua kenangan mereka. Vina akan melupakan Tristan. Vina hanya salah dalam menentukan pilihannya. Tapi dengan kesalahan, akhirnya ia belajar. Belajar mengobati lukanya, belajar melupakan dan belajar tegar menghadapi dan menyelesaikan masalahnya. Ia berharap, kejadian tersebut menjadi pelajaran baginya dan mendewasakan sikapnya. Semua adalah kesalahan mereka.
28/8/2021