Eruru Banashi
Author: Eruru Isurugi
Ch.1 Human and War Angel
Semua manusia pasti memiliki satu momen yang tak terlupakan selama hidupnya. Momen bahagia, sedih, marah, kesal, itu semua pasti pernah terjadi dalam hidup suatu manusia. Berbeda denganku yang memiliki tumor di otak. Tumor itu menggerogoti saraf otakku yang mengendalikan emosi. Karena itulah selama hidupku, aku tidak pernah merasakan momen-momen bahagia atau sedih seperti manusia pada umumnya.
Saat aku baru dilahirkan di bumi ini, aku sudah memiliki perbedaan yang sangat besar dengan bayi-bayi yang baru lahir. Aku memiliki sebuah lingkaran cahaya di atas kepalaku, aku juga memiliki mata heterochromia dan aku mempunyai tumor otak yang ganas di bagian lobus frontal. Tumor tersebut berhasil diangkat oleh para dokter, namun kerusakan pada bagian otakku tidak dapat disembuhkan. Hal itulah yang menyebabkan aku tidak dapat merasakan rasa sakit, senang, sedih, marah, dan emosi lainnya yang manusia pada umumnya rasakan. Lingkaran ku sangat berguna untuk penerangan di malam hari, bahkan aku tidak perlu lampu saat dirumah. Walau begitu, lingkaran cahayaku ini membuatku terlihat sangat bodoh dan dibenci oleh masyarakat sekitar. Aku tidak tahu kegunaan dari lingkaran cahaya ini selain dapat menerangi sekitarku dengan cahaya, padahal objek ini sudah menyatu dengan diriku semenjak bayi. Walau tidak dapat dibilang "menyatu", lingkaran tersebut berputar dan mengorbit di sekitar kepalaku.
Eruru Isurugi adalah namaku, namun aku benci dengan nama itu. Sehari setelah orang tuaku menamaiku, mereka mati dalam kecelakaan mobil beruntun. Sekitar 10 mobil menabrak satu sama lain, namun hanya kedua orang tua ku saja yang tidak selamat. Sekarang, Aku hidup dibawah naungan pemerintah untuk "penelitian", setiap seminggu sekali para ilmuwan meneliti cahaya yang ada di kepalaku.
lingkaran yang ada di kepalaku ini mengganggu banyak orang, cahaya yang dipancarkannya saja bisa menerangi satu rumah. Aku tidak tahu bagaimana cahaya ini dapat mengambang tepat diatas kepalaku, aku juga tidak tahu dari mana energi untuk cahaya tersebut berasal. Karena alasan itulah yang membuatku tidak dapat melakukan aktivitas yang normal di luar rumah. Semua orang melarangku keluar, mereka bahkan mengancamku jika berani keluar.
Mereka takut akan rumor "kutukan" yang ada di diriku, tetanggaku menyebarkan gosip yang sangat menyeramkan, dia mengatakan bahwa diriku adalah pembawa sial, sebuah kutukan berjalan yang dapat membunuh semua orang yang terlalu dekat saat berinteraksi dengan ku. Walau pemerintah dan para ilmuwan sudah mengklarifikasi dan melindungiku dari rumor tersebut, para masyarakat di sekitarku tetap tidak mau membiarkanku keluar.
Sebagai ganti dari kebebasan ku, Pak Walikota memberikanku uang untuk membeli barang-barang secara online. Aku juga difasilitasi dengan sekolah online, bahkan diberikan beasiswa oleh pemerintah. Walau aku ingin merasakan pemandangan dan udara segar dari luar, aku tetap menikmati fasilitas yang mereka berikan.
Aku tidak memiliki teman ataupun sahabat. Semenjak kecil aktivitasku sudah diawasi oleh pemerintah, bahkan semua orang di sekolah tidak tahu akan keberadaan ku. Keberadaanku seakan disembunyikan, hanya orang-orang disekitarku saja yang mengetahui tentang diriku. Semua berita tentang keberadaanku lenyap, saat itu aku pernah membaca suatu artikel yang menyangkut tentang diriku, tetapi setelah beberapa hari artikel itu hilang tanpa jejak.
Aku merupakan siswi yang relatif cerdas, IQ ku berada di angka 127 untuk seseorang yang tidak pernah merasakan kehidupan normal. Tidak ada rasa bangga dalam diriku, semua yang ku lalui dan dapatkan terasa hambar tanpa kejutan.
Sampai suatu ketika, di malam hari yang sunyi, sebuah cahaya menyinari seluruh kota. Bulu-bulu yang berwarna putih berjatuhan dari langit. Dari dalam cahaya, keluar sebuah entitas yang seukuran manusia remaja. Jika dilihat dari jauh, entitas itu memiliki tinggi yang hampir sama denganku. Namun dia memiliki sayap yang sangat indah dan besar, bahkan sayap itu dua kali lebih besar dari ukuran tubuhnya. Entitas tersebut mendatangi rumahku, dalam sekejap mata, genteng rumahku hilang tak tersisa. Entitas tersebut melihatku dengan tatapan yang sangat dalam, tanpa berbicara sepatah kata pun, dia menarikku dari dalam rumah dan terbang dengan kecepatan yang super tinggi.
Saat ku bilang dia terbang menarikku dengan kecepatan yang super tinggi, aku tidak bermaksud dengan kecepatan roket. kecepatan yang sangat tinggi di dalam ruang vakum, bahkan lebih cepat dari kecepatan cahaya. Tidak, aku yakin kecepatannya lebih dari itu. Dia menarikku keluar dari bumi dan sampai di sebuah ruang yang sangat hampa. Aku sempat melihat banyak sekali galaksi yang dilewati olehnya, mungkin kita berada di ruang hampa dimana galaksi sudah tidak lagi terlihat.
"Eru!!! aku akhirnya menemukanmu!"
Ucap entitas tersebut sambil memelukku. Sayap nya yang indah tadi menghilang, aku bertanya kepadanya.
"Umm… bisakah kamu jelaskan siapa dirimu dan kita sedang berada dimana?"
ucapku sambil mendorongnya, dia terus saja memelukku semenjak kita sampai.
"Oh ya, aku lupa berkenalan denganmu. Aku terburu-buru, aku bisa saja menyebabkan kehancuran alam semesta mu jika terlalu lama menempatinya" ucapnya
"Apa maksudmu dengan itu?" tanyaku
Dia terlihat sedang kebingungan, dia mencari-cari sesuatu di tempat yang sangat hampa ini, bahkan aku tidak dapat merasakan adanya tekanan dari ruang vakum. Tunggu, jika ini ruang hampa, mengapa aku bisa bernapas?.
"Perkenalkan Eru, namaku Maria Vanessa Anastasia, kamu bisa memanggilku Mary atau Anya. Kita sekarang sedang berada di surga, lebih tepat nya 'luar semesta' "
Ucapnya dengan nada sedikit bersemangat. Walau aku tahu berada di "Luar semesta" adalah hal yang mustahil, namun aku tidak terkejut atau kagum .
"Apa maksudmu dengan luar semesta?" ucapku bernada datar
"Luar semesta adalah tempat kekosongan absolut dimana semesta tidak lagi terlihat, ini adalah jurang yang sangat dalam, untuk melewati kekosongan ini, kamu harus menjadi makhluk dimensi yang lebih tinggi. Kamu hanya makhluk 3D, Eru. karena itulah aku sedang menunggu sesuatu." ucapnya sambil terus memperhatikan sekitar
"Aku memperhatikanmu dari tadi, kamu mencari apa di "luar semesta" ini?" Tanyaku kepadanya.
sambil memasang wajah serius, Anya menepuk pundakku dan berkata
"Aku sedang menunggu akses dari Sang Pencipta"
Dia kemudian mendekat dan berbisik kepadaku
"Aku sedang menunggu izin dari orangtua mu, Eru."
Aku sangat kebingungan dengan pernyataan Anya, orangtuaku harusnya sudah tiada, namun dia menyebutnya dengan sebutan "Sang Pencipta", lelucon macam apa ini.
"Apa maksudmu?" tanyaku penasaran.
"Eru, kamu adalah makhluk ciptaan langsung dari Sang Pencipta, kamu diakui olehnya sebagai anak dan dia adalah eksistensi absolut di dalam konsep kehidupan ini. Sang Pencipta adalah Eksistensi yang berada di garis "Ada" dan "Tiada", dia adalah pencipta kehidupan dan juga semesta."
"Tunggu, apa maksudmu, aku tetap tidak mengerti." ucapku meminta penjelasan lebih lanjut.
"kamu akan melihatnya sebentar lagi, Eru." jawabnya
Sesaat setelah dia mengatakan itu, sebuah portal muncul dari ruang yang kosong
"Nah, dia sudah datang. Selamat jalan Eru!"
Ucapnya sambil melambaikan tangan saat aku terseret ke dalam portal tersebut.
Sensasi terjatuh kurasakan saat memasuki portal itu, namun setelah beberapa detik berlalu, sensasi terjatuh tadi berubah menjadi abstrak.
Seretan tersebut sudah berhenti, aku tidak lagi merasakan tubuhku diseret ke dalam ruang hampa.
"Hahaha, Eru, ini bukanlah ruang hampa" ucap seseorang dari dalam kegelapan
Suara tersebut datang dari segala arah, bergema ke dalam kupingku. Dia dapat mendengar pikiranku, namun aku tidak dapat melihat perwujudannya.
"kamu tidak perlu melihat wujudku, Eru. Aku berada dimana-mana, kapanpun, dimanapun, dalam bentuk apapun. Aku adalah sumber dari segalanya, suatu eksistensi yang menciptakan konsep "Keberadaan", sesuatu yang kalian para manusia sebut sebagai "Tuhan". Walau begitu, aku tidaklah lemah seperti tuhan yang kalian pikirkan, aku berada diatas konsep yang kalian tidak dapat kalian bayangkan. Aku menciptakan satu makhluk "terpintar" di seluruh infinite-verse yang kuciptakan, namun sayang, kepintarannya tetap tidak dapat mendeskripsikan "Keberadaan" ku yang Maha Agung secara penuh" ucapnya.
"Apa maksudmu? aku tidak mengerti sepatah kata pun yang kamu ucapkan."
dia tertawa saat mendengarnya, aku merasa sangat malu ditertawakan dari segala arah.
"Hahaha, baiklah Eru, aku akan menjelaskan seberapa mulia nya aku. Saat segalanya belum dimulai, di dalam momen kosong tanpa adanya konsep keberadaan dan waktu, aku menciptakan segalanya. Aku adalah Sang Pencipta yang Maha Kuasa, Maha Tahu, dan Maha Hadir. Aku berada dimanapun, kapanpun, dalam bentuk apapun di waktu yang bersamaan. Aku menciptakan realita dan hukum alam, aku juga menciptakan multisemesta yang jumlahnya tak terbatas. Akulah yang menciptakan segalanya dengan kedipan mata dan menghancurkan segalanya hanya dengan jentikkan jari. Aku yang menciptakan konsep dimensi, menciptakan dimensi yang tak terbatas dan akulah yang berada diatas segala dimensi yang kuciptakan. Aku tidak terikat dengan konsep "Kehidupan" dan "Kematian", konsep "Ruang & Waktu" juga merupakan konsep yang ku ciptakan. Aku tidak terikat dengan segala hukum, aku juga tidak dapat mati karena memang dari awal akulah yang menciptakan semua itu. Apa kamu sudah paham dengan sedikit penjelasan tentang Kekuasaan Sang Pencipta, wahai anakku?" Ucap Sang Pencipta
Setelah mengatakan hal tersebut, dia membuatku kaget, kagum, dan juga ketakutan. Aku merinding saat dia menjelaskan keagungannya. Dia kemudian muncul tepat di depan ku dalam bentuk abstrak. Sebuah bentuk yang tidak dapat dideskripsikan dengan kata-kata.
"Haha, kata-kata adalah sebuah sarana manusia untuk mengimajinasikan sesuatu, aku adalah keberadaan yang berada jauh melampaui imajinasi semua makhluk. Agar mudah berbicara denganmu, aku akan menggunakan bentuk manusia ku." ucap Sang Pencipta sambil berubah menjadi bentuk manusia yang mirip denganku.
"Aku baru pertama kali merasakan ini, aku dapat merasakan emosi! seumur hidupku aku tidak pernah merasakan emosi, bisakah kamu menjelaskan hal ini? aku tahu kamu adalah sang maha kuasa, namun aku hanyalah manusia rendahan. Mengapa kamu memilihku wahai sang pencipta?" tanyaku
"Kamu menjadi anakku murni karena random probability, aku melempar dadu yang memiliki infinite possibility, keberadaanmu lah yang terpilih olehnya."
"Lalu apa alasanmu memanggilku kesini? bisa kamu jelaskan dimana kita berada?"
"kamu berada di "Rumah" ku, sebuah dimensi yang berada di atas infinite-dimension. kamu berada diluar dari segala larangan yang ku buat, berada diluar hukum, bahkan kamu tidak memerlukan pijakan untuk berdiri."
"Hmm… semua menjadi masuk akal, emosi ku kembali dan tubuhku terasa sangat ringan. Lalu, apa maksudmu memanggilku kesini?"
"Aku ingin kamu menjadi Sang Pencipta."
Aku kaget bukan main karena pernyataannya.
"Apa maksudnya dengan "menjadi sang pencipta" ?. Aku hanyalah seorang manusia lemah, aku tidak mempunyai kekuatan sama sekali, wahai Sang Pencipta"
"Kamu memang makhluk yang lemah, bahkan aku menganggapmu "Tidak berarti" di lautan kekosongan ini. Namun, karena suatu hal aku menciptakanmu langsung dari tanganku. Kamu tahu seberapa beruntungnya kamu? Infinite Random Probability bahkan tidak ku ciptakan menggunakan tanganku sendiri, dia kuciptakan menggunakan Infinite Concept-Creation bersamaan dengan sistem yang lain. Hanya ada 4 "Makhluk" yang diciptakan dengan tanganku sendiri. Ciptaan pertama sebelum segalanya terjadi adalah Konsep "Eksistensi dan Kekosongan Absolut". Sebelum adanya konsep itu, semuanya adalah "Hampa", bahkan "Hampa" belum tercipta saat itu, sebuah momen dimana segalanya berada dalam satu momen, ditengah kekosongan tanpa ada nya konsep "Kosong", aku menciptakan Konsep "Eksistensi dan Kekosongan Absolut". Ciptaan kedua adalah "Infinite Concept-Creation", Dia menciptakan "Konsep" yang melahirkan sistem-sistem yang mengatur hukum dan konsep sebab-akibat. Mereka juga yang melahirkan "Kehidupan" dan "Kematian" di tempat yang hampa. Setelah itu, aku menciptakan Makhluk yang mereka sebut sebagai "Malaikat Perang", jumlah mereka tak terbatas, namun, aku menciptakan salah satu dari mereka secara langsung. Namanya adalah Maria Vanessa Anastasia, dia adalah makhluk terpintar di seluruh infinite-verse dan infinite-dimension. Aku menciptakan Maria agar dia bisa menggambarkan ke-maha agungan ku, aku memberikannya segala informasi dan pengetahuan yang dia butuhkan, dia menjadi makhluk Nigh-Omniscient. Namun, dia gagal dan hanya dapat menjelaskan 10% dari Konsep ke-maha agungan ku. Lalu terakhir adalah kamu, Eru. Kamu memanglah makhluk yang sangat lemah jika dibandingkan dengan ciptaanku yang lain. Karena itulah aku memberikanmu lingkaran cahaya itu. Kamu akan ku kirim ke semesta yang khusus kuciptakan, kamu harus mengalahkan 13 tuhan yang kuciptakan di semesta tersebut."
Tubuhku merinding saat mendengarnya, aku kemudian menanyakan caranya aku bisa menjadi "Sang Pencipta" yang ia inginkan.
"Wahai Sang Pencipta, bagaimana bisa aku mengalahkan "Tuhan"?, dan bagaimana caranya aku bisa menyamai level kekuatanmu?." ucapku
"kamu akan mengetahui caranya seiring waktu, kamu akan berpetualang berdua dengan Maria. Selamat berpetualang, anakku!"
Dia kemudian menciptakan portal kembali dan mendorongku keluar dari sana, Anya menangkapku dan menanyakan sesuatu.
"Apa kamu sudah selesai menemuinya, Eru?"
"I-iya, sudah berapa lama kamu menunggu disini?"
Rasa canggung saat bertemu dengan Anya, sebelumnya aku tidak merasakan apapun. Namun setelah keluar dari dimensi Sang Pencipta aku dapat kembali merasakan emosi.
"Aku tidak menunggu, kamu berada di dimensi yang jauh lebih superior dari sini, konsep waktu tidak berlaku di sana. Kamu hanya masuk ke portal dan keluar sesaat setelah portal menutup." ucap Anya
"Lalu, dimana "Semesta" yang disebutkan oleh Sang Pencipta?"
"Oh, iya, aku sudah kehilangan kekuatanku. Kita akan teleport ke salah satu planet disana."
Aku hanya berkedip sekali, hanya sekali saja. dan aku sudah sampai di tempat yang sangat berbeda. Aku bernafas kembali setelah mengalami peristiwa yang sangat absurd, aku berada di dunia yang sangat berbeda dari Bumi. Walau aku sangat jarang keluar rumah, namun aku tahu bahwa pemandangan yang asri dan indah ini bukanlah Bumi yang ku kenal. Pohon-pohon hijau yang rindang, dan juga rumput hijau berada dimana-mana. Banyak sekali bunga dan tumbuhan-tumbuhan yang berbeda dari yang ku pelajari di Bumi, aku juga melihat air terjun yang sangat jernih. Walau begitu, tempat ini merupakan tempat yang sangat berbahaya. Aku melihat banyak sekali monster yang lewat di hadapanku dan Anya.
"Ini dimana Anya?" tanyaku
"Kita sudah sampai Eru, Sang Pencipta menurunkan statusku menjadi malaikat biasa dari yang sebelumnya malaikat perang." ucapnya sambil tersenyum. Senyuman Anya sangat manis, aku sangat menyukainya.
"Apa bedanya, bisakah kamu jelaskan, Anya?"
"Hm… kita baru sampai dan kamu sudah menanyakan sesuatu yang sangat berat"
Sambil mengajakku duduk di bawah pohon, Anya menjelaskan perbedaan dari semua status "Heaven's Being"
"Eru, diluar semestamu ada entitas yang berbeda dari manusia, entitas yang lebih kuat dan cerdas daripada manusia. Sang Pencipta menciptakan mereka untuk bertarung, memperebutkan semesta yang jumlahnya tak terbatas. Sang Pencipta menciptakan satu Tuhan Penguasa di dalam satu semesta. Dan tuhan itu akan menjadi kuat seiring naiknya tingkat dimensi yang ditempati."
"Hmm… Lalu, apa perbedaan dari Malaikat biasa dengan Malaikat Perang?"
"Ada 5 Tingkatan malaikat, semua itu bisa didapatkan dari Bakat saat diciptakan, dan melalui latihan yang keras. Di tingkat ke-5, ada Malaikat biasa. Mereka dapat diumpamakan sebagai masyarakat biasa, dimana kekuatannya berada di angka rata-rata. Selanjutnya di tingkatan ke-4, ada Malaikat Super. Malaikat super adalah malaikat yang melatih bakat nya ke level maksimal. Tingkat ke-3 ada Malaikat Pelayan Tuhan, Malaikat ini bertugas untuk menjadi kaki-tangan Tuhan di semesta tersebut. Merekalah yang akan menjaga tuhan saat invasi antar-semesta terjadi. Tingkatan ke-2 adalah Tuhan. Tuhan adalah malaikat yang bakatnya melampaui Malaikat Super. Mereka bertugas menjaga keseimbangan di semesta nya sendiri. Biasanya Tuhan telah dipilih oleh sistem acak yang ada di luar semesta, wujud mereka rata-rata berada di dimensi ke-10."
"Hmm… sangat menarik, namun mengapa aku tidak pernah melihat malaikat di semesta ku? apakah semestaku tidak memiliki malaikat?" tanyaku
"Semua semesta memiliki setidaknya satu miliar malaikat biasa, 300 juta malaikat super, dan 10 malaikat pelayan tuhan. Dan rata-rata semesta hanya memiliki satu tuhan saja, namun semesta yang kuat memiliki puluhan tuhan" jawabnya
"Oh… aku mengerti sekarang, lalu, siapa yang berada di tingkat pertama?" ucapku
"Di tingkatan pertama adalah Malaikat Perang. Mereka bertugas menginvasi semesta lain, mereka juga satu-satunya malaikat yang dapat melewati pembatas dimensi, artinya mereka dapat melewati dimensi yang lebih tinggi dari nya dan dapat melampaui dimensi tersebut. Malaikat perang adalah Malaikat yang sangat langka, terdapat 1 Malaikat Perang dari 10.000 Googolplex semesta. Mereka adalah entitas yang sangat kuat yang dapat menghancurkan semesta hanya dengan kedipan mata, bahkan dalam hidupku menjadi Malaikat Perang terkuat, aku dapat melenyapkan 100 kuadriliun semesta dalam satu hembusan nafas. Malaikat Perang adalah malaikat yang terpilih langsung oleh Sang Pencipta, mereka biasanya memiliki wujud di dimensi ke-1000 dan jumlah keseluruhan dari Malaikat perang adalah Infinite."
Aku terkagum dengan penjelasannya yang rinci, dia dapat menjelaskan sesuatu yang kompleks dengan kata-kata yang simpel.
"Lalu apa maksudmu dengan dimensi? mengapa Malaikat Perang merupakan makhluk dimensi ke-1000?"
"Dimensi adalah konsep yang sangat kompleks yang diciptakan oleh Sang Pencipta. Singkatnya, semakin tinggi dimensi suatu entitas, maka semakin kuat dirinya."
"Tunggu, aku ingin mempelajarinya! tolong ajari aku tentang semua yang kamu ketahui, Anya." ucapku bersemangat
"Hmm… Baiklah, aku akan mengajarimu Eru"
Setelah 8 jam berlalu, hari yang tadinya terang, sekarang menjadi gelap. Anya mengajariku hal yang ia ketahui. Anya menyebutkan bahwa dirinya adalah Malaikat Perang yang Maha Tahu dan merupakan malaikat perang terkuat yang ada dari malaikat perang lain yang jumlahnya tak terbatas.
"Hmm… baiklah kalau begitu. Anya, apa kita bisa mencari makan sekarang? Perutku sudah lapar"
Ucapku sambil tiduran diatas pangkuan Anya
"Kamu tahu?, kamu tidak membutuhkan makan, Eru. Kamu cukup membayangkannya di kepalamu dan lingkaran cahaya itu akan mengabulkannya jika menurutnya kamu layak mendapatkannya." ucapnya sambil mengelus kepalaku
Aku baru menyadarinya, Cahaya di kepalaku meredup, tidak terlalu terang dari yang sebelumnya. Aku mulai membayangkan mie instan kesukaanku, terpampang jelas di imajinasiku, bahkan aku mengingat seluruh komposisi bumbu nya. Aku sudah memakan mie instan semenjak umur 7 tahun, hampir setiap hari aku memakannya. Seperti kecanduan, aku selalu memakan mie instan sampai umur 16.
"Anya, aku sudah memikirkannya dengan jelas. Mengapa tidak ada yang keluar?"
"Itu artinya kamu belum layak untuk mendapatkannya, kamu harus berusaha dulu Eru."
"T-tapi, aku sangat lapar… Anya, aku lapar! ayo cari makan, Anya."
"Hmm… Kamu tidak boleh terlalu manja Eru. Baiklah, ayo kita berburu hewan untuk saat ini."
Kami berjalan menelusuri hutan, mencari sana-sini hewan yang bisa dimakan. Banyak sekali jamur di jalan, namun Anya mengatakan jangan memakan jamur itu. Aku sudah sangat lapar namun belum menemukan sama sekali makanan.
"Hoammmm… Anyaa… Aku lapar…"ucapku dengan nada mengantuk
"Eru, kamu ngantuk?"
"Aku sangat lelah berjalan berjam-jam Anya. Apa kita tidak bisa memakan buah ini saja?" ucapku sambil menunjuk buah merah yang mirip apel.
Anya memetiknya, dia mengecek kandungan buah itu.
"Buah ini aman untuk dimakan. Duduklah, aku akan memetiknya untukmu. Jangan tertidur ya, kamu harus tetap terbangun dan menjaga dirimu disini. Ada banyak monster yang bangun di tengah malam."
Anya memetikkan Buah tersebut sementara aku duduk di samping pohon tak jauh dari tempat buah itu. Aku sangat mengantuk, namun aku juga lapar. Rasa lelahku memenangi pertarungan ini, aku tertidur saat Anya memetikkan buah itu. Walau sudah diperingati, aku tidak dapat menahan rasa kantuk.
"Eru! Bangun!" Teriak Anya
Aku terbangun dari tidur yang sangat lelap, Anya membangunkanku sambil menggendongku dan berlari dari sesuatu.
"Anya, ada apa? mengapa kita terbang?"
"Eru, kamu tadi tertidur disamping monster yang mematikan! Aku telat sedikit saja dan kamu akan menemui Sang Pencipta untuk kedua kalinya."
"A-apa maksudmu, aku tertidur sudah lama, mengapa kamu baru membangunkanku sekarang?" tanyaku kebingungan
Anya berhenti di sebuah tebing, dibawah terlihat hutan dan sungai, dan di samping sungai terdapat sebuah pedesaan.
"Eru, kamu tidak tertidur lama, kamu berada dibawah sihir tidur monster tersebut."
"E-eh.. M-maafkan aku telah lalai dalam menjaga diri."
Anya menurunkanku, dia kemudian memberikanku buah yang sudah ia petik. Aku memakannya dengan lahap, rasa nya yang manis dan tekstur nya sangat mirip dengan apel.
Anya duduk di sampingku, dia terlihat sangat lelah.
"Anya, kamu tidak ingin makan?" tanya ku sambil memberikannya buah
"Makan saja Eru, aku tidak membutuhkannya."
"T-tapi kamu terlihat sangat lelah. kamu tahu Anya, aku tidak pernah berbicara dengan seseorang. Aku selalu berada di rumah dan tidak pernah berinteraksi sosial. Kamulah teman pertamaku Anya. Jadi aku tidak mengerti perasaan orang lain, aku juga tidak tahu bagaimana caranya agar menjadi teman yang baik"
Anya termenung, dia kemudian menciptakan kayu bakar dan membuat api unggun. Anya duduk sekitar api unggun itu, dia berada di jarak yang cukup aman dan hangat.
"Mendekatlah Eru, kamu baru tertidur beberapa menit, aku tahu kamu sangat lelah. Kamu boleh tertidur di pangkuanku."
Aku menerima tawarannya, dia mengelus kepalaku, menenangkanku dan membuat ku rileks. Anya sudah seperti kakak, walau aku tidak tahu rasanya mempunyai kakak. Tapi aku yakin inilah yang akan dilakukan oleh orang yang memiliki hubungan saudara, menenangkan satu sama lain dan bercanda bersama. Hidup bersama sampai kematian memisahkan.
Aku tertidur di pangkuan Anya yang empuk, bermimpi tentang kehidupan kami berdua selanjutnya.
*Keesokan harinya
“Eru, bangunlah. Kita akan pergi ke desa.” Ucap Anya berbisik dengan suara yang halus dan lembut.
“Mmm… aku masih mengantuk, gendong aku saja ke desa itu.” ucapku setengah sadar.
“Eru! kamu tidak boleh manja! cepat bangun dan bersiap-siap. Aku akan mencarikan sarapan.”
"Hoam… Baiklah Anya, aku sudah terbangun." ucapku sambil membersihkan pakaianku.
Disamping tempat kami tertidur terdapat sebuah kolam yang dibuat oleh Anya. Mungkin dia menyuruhku untuk mandi, dia juga sudah menyiapkan sabun, shampo, handuk, dan pakaian ganti. Aku melepaskan pakaianku dan mulai mandi di sana, airnya hangat dan pemandangan indah diatas tebing membuat ini menjadi pengalaman mandi terbaikku.
"Eru, aku membuatkan sarapan untukmu. Jika kamu sudah selesai mandi, turun dari sana ya!" ucap Anya dari kejauhan.
"Baiklah, aku akan segera kesana" balasku.
Aku tidak mau berlama-lama, aku keluar dari kolam dan memakai pakaianku. Setelah keluar, kolam tersebut menghilang tanpa jejak, sudah tidak heran jika Anya dapat menciptakan sesuatu yang tampak mustahil. Aku bergegas turun dan menemui Anya, dia menyambutku dengan banyak sekali makanan.
"Kita kemarin tidak dapat menemukan satupun hewan yang bisa dimakan, mengapa sekarang kamu membuat hidangan yang terdiri dari banyak hewan ini? apa kamu menggunakan sihir untuk ini, Anya?" ucapku sambil menyantap makanan yang disediakan Anya
"Hutan yang kemarin kita lalui adalah hutan berbahaya, banyak sekali monster dan makhluk makhluk sihir berada di sana. Salah satunya adalah makhluk yang ingin memakanmu kemarin malam." ucapnya
"Lalu, apa bedanya dengan hutan ini?" tanyaku
"Hutan yang sekarang kita tempati merupakan hutan suci yang dimiliki oleh kerajaan. Tebing ini adalah pelindung kerajaan dari monster dan makhluk sihir." Jawabnya
"Hm… aku mengerti, lalu Anya, mengapa kamu tidak ikut makan?"
"Aku tidak memerlukan makanan, jadi kamu tidak perlu khawatir. Kamu boleh menghabiskan semuanya Eru."
"Makanlah Anya, setidaknya aku ingin kamu makan bersamaku. Aku akan sangat senang jika kamu ikut makan bersamaku."
"Tidak usah, habiskan saja." ucapnya menolak
Aku tetap bersikukuh dan memaksa Anya makan bersamaku.
"Aku memaksa Anya, kamu harus makan bersama ku!" ucapku sambil menyodorkan makanan ke Anya.
"Baiklah jika kamu memaksa" ucapnya menerima tawaranku
Dia duduk disampingku, aku sangat senang bisa makan bersama Anya. Rasa senang ini masih asing bagiku, aku baru merasakan emosi saat keluar dari Outer-dimension sang pencipta.
"Eru, buka mulutmu." ucapnya sambil menyuapiku
"A-anya, aku sudah besar, tidak perlu disuapi olehmu. Ini sedikit memalukan" ucapku dengan nada tersipu malu.
"Kamu memintaku untuk makan bersamamu kan? sekarang kamu harus menuruti kemauanku. Bukalah mulutmu, wahai adikku tersayang."
Aku menyerah dan membiarkan Anya menyuapiku. Walau terasa sangat memalukan, namun aku merasa senang karena bisa semakin dekat dengan Anya.
Setelah selesai makan, kami berjalan menuju desa. Perjalanan cukup jauh, sudah satu jam berjalan namun kami masih berada di dalam hutan.
"Anya, apa masih lama? bolehkah aku beristirahat sebentar?"
"Kita baru saja berjalan dan kamu ingin beristirahat? Eru, aku ditugaskan untuk melatih mu agar layak menjadi Sang Pencipta. Jika berjalan sebentar saja kamu sudah kelelahan, bagaimana kamu bisa menjadi entitas kuat nantinya?"
"T-tapi Anya…"
"Huh, baiklah, aku akan membawamu terbang"
Anya kemudian mengangkatku dan terbang, walau tidak memakai sayap namun dia dapat terbang bebas di angkasa.
"Woah, Anya, ini sangat menakjubkan. pemandangan dari langit sangat indah!" ucapku bahagia
aku sangat penasaran, bagaimana cara Anya dapat terbang tanpa sayap.
"Anya, kamu tidak memiliki sayap namun mengapa kamu bisa terbang?" ucapku mendekat
Anya memelukku lebih erat dan terbang dengan kecepatan tinggi. Kita sampai di dekat desa dalam hitungan detik. Kami berada di hutan dekat desa, aku duduk sambil menurunkan adrenalinku.
"Anya, kamu hampir saja membuat jantungku copot, kamu berakselerasi secara tiba-tiba sampai rasanya rohku keluar dari tubuhku." ucapku
Detakan jantungku sangat cepat, aku masih merasakan sensasi di udara bahkan saat sudah berbaring di daratan.
"Hehe, maaf Eru. Saat terbang tadi, aroma tubuhmu membuatku merasa aneh. Aku tiba-tiba saja berakselerasi tanpa sadar." ucap Anya sambil duduk disampingku
Saat menenangkan diri, aku melihat seorang anak kecil yang melihat dari kejauhan. Anak tersebut terlihat sangat ketakutan saat melihat Anya. Wajar saja, anya merupakan Malaikat yang super kuat, makhluk yang belum pernah melihatnya pasti akan takut saat merasakan aura yang dikeluarkan oleh Anya.
Dia mulai memandang kami dengan tatapan curiga, aku juga melihatnya membawa keranjang berisi buah-buahan dari hutan. Aku penasaran dengan anak kecil itu, aku bangun dan mendekati anak tersebut. Dia berlari dariku, aku mencoba mengejarnya. Dia menuju ke gerbang desa, seorang pria dari dalam desa muncul dan melihatku sedang mengejar seorang anak kecil. Tatapan dari pria itu sangat mematikan, aku harap dia tidak akan salah paham atas kejadian ini.
"Tolong!!! aku dikejar seorang bandit!!" teriak anak kecil itu.
"Hah, apa maksudmu?! Tunggu, aku bisa jelaskan… aku bukanlah bandit!" ucapku sambil berhenti mengejar
beberapa pria lainnya keluar dari balik tembok, salah satu dari nya meneriaki ku. Mereka mendekatiku, aku dikepung oleh sekelompok lelaki desa yang terlihat sangat kuat. Mereka menatapku sinis, salah satu dari mereka tiba-tiba menendangku di perut. Aku terjatuh karena tendangannya yang sangat kuat, perutku terasa sangat sakit. Saat aku terjatuh, Penjaga lainnya ikut memukulku. Aku melihat wajah jahat anak kecil itu saat sedang dipukuli.
"Apa maumu bandit?! kamu ingin menculik anak kecil yang polos ini?!" teriaknya sambil memukul kepalaku.
"Ahh-tolong hentikan! aku bisa jelaskan!"
"Dia mengejarku dari hutan, aku sangat takut karena aku melihatnya sedang membunuh seseorang di dalam hutan!" teriak anak kecil itu.
"T-tunggu, aku bisa jelas-"
Mereka mulai murka, pukulan dan tendangan yang mereka berikan menjadi sangat brutal. Kepalaku ditendang, aku hampir kehilangan kesadaran karena itu. Gigi ku rontok dan mereka tetap tidak mau berhenti. Mereka mulai memakai kayu, bahkan salah satu dari mereka menusukku dengan pisau.
Aku sekarat, apakah aku akan mati karena difitnah oleh seorang anak kecil? mereka terus menganiaya ku walau aku sudah sekarat. Tubuhku mengeluarkan banyak sekali darah, penglihatanku sudah mulai memudar. Di akhir kesadaranku, aku melihat ke arah anak kecil tersebut, dia tersenyum, aku sedang sekarat karena fitnahnya dan dia tersenyum.
"Haha, rasakan itu!" teriak anak kecil itu.
Aku sudah tidak dapat menahannya, aku mulai kehabisan darah.
"Eru!" teriak Anya dari kejauhan.
Sepertinya sudah tidak sempat, aku sudah mulai kehilangan kesadaran. Ah… Aku mati dihadapan orang yang ku cintai, maafkan aku Anya, aku akan menemuimu di surga nanti.
"kamu tidak akan pergi ke surga, Eru." ucap seseorang dari dalam kegelapan
"Apa maksudmu? siapa kamu?" tanyaku sambil berbaring lemas di tanah.
"Aku adalah salah satu tuhan yang harus kamu kalahkan nanti. Aku tidak mungkin membiarkanmu mati ditangan manusia yang lemah. kamu memiliki potensi untuk menjadi Sang Pencipta, apa kamu ingin menyerah sampai sini saja? apa kamu tidak memperdulikan Maria yang sekarang sangat bersedih atas kematianmu?"
Dia kemudian memperlihatkanku kemarahan Anya yang sangat dahsyat, dia meneteskan air mata saat melihatku dibunuh oleh orang desa. Dia kemudian membombardir desa tersebut sampai hancur tak tersisa. Anya melakukan itu semua dan kemudian menangis di depan mayat ku. "Eru, maafkan aku, jika saja aku datang lebih cepat." ucapnya. Dia terus menangis histeris, dia mulai kehilangan kendali, dia membawa mayatku dan terbang menuju kerajaan dengan kecepatan cahaya. Dia mulai membunuh semua manusia di kerajaan itu, menyalahkan manusia atas kematianku. Amarahnya terhadap manusia sangat berkobar, dia menghancurkan satu negara dengan sihirnya. Dia menciptakan lingkaran sihir yang sangat besar, kemudian lingkaran sihir yang sangat besar, kemegahan dari lingkaran sihir itu membentang tinggi di langit. Lingkaran sihir tersebut mencapai ketinggian 64 km dan mengeluarkan ledakan yang sangat dahsyat. titik tengah ledakan mencapai radius 10 km, bahkan dampak ledakan dapat terasa sampai radius 100 km. Gelombang kejut yang dihasilkan dari ledakan itu memecah awan dan mengitari dunia sampai 3x, benua tersebut mengalami gempa yang sangat parah. Aku tak menyangka Anya memiliki kekuatan yang sangat besar di wujud terlemah nya. Dia menjadi seperti itu karena perbuatanku yang teledor.
"Apa ini yang kamu mau, Eru? akibat keteledoranmu mengejar seorang anak kecil sampai jauh dari jangkauan Anya. Kamu membuatnya merasa sangat bersalah karena tidak dapat melindungimu."
"Tidak… Aku tidak bermaksud seperti itu… Jika aku mendapat kesempatan kedua, aku ingin berusaha lagi dan hidup bahagia bersama Anya." balasku
"Apa kamu yakin akan berusaha sekuat tenaga? atau kamu hanya ingin hidup kembali agar bisa bersikap manja di hadapan Anya?" tanya Tuhan itu.
"Tidak, aku ingin berusaha sekuat tenaga dan berlatih agar bisa membahagiakan Anya." Ucapku bersemangat
"Baiklah kalau begitu, aku akan menghidupkanmu kembali. Setelah kamu hidup, kamu harus menenangkan Anya dan kabur dari benua itu. Semua kerajaan di dunia mengincar mu dan Anya, kamu harus melawan semua kerajaan di dunia, mereka mengincar kepalamu dan Anya."
Dia menurunkanku kembali ke dunia, aku turun seperti malaikat yang datang ke dunia tersebut. Cahaya mengelilingi tubuhku dan sepasang sayap yang indah menurunkanku perlahan.
Anya melihatku dari daratan, wajahnya dipenuhi dengan emosi, bahkan sayapnya yang indah sekarang berubah menjadi merah seperti dilumuri darah. Anya menangkapku dan langsung membawaku terbang ke bagian dunia yang lain.
"Eru! Eru! Aku sangat bersyukur kamu bisa hidup kembali!!!" ucapnya dengan nada bahagia. Anya kemudian memelukku dan meneteskan air mata di bahu ku.
"M-maafkan aku Anya, aku telah membuatmu khawatir." ucapku meminta maaf.
"Eru, kamu jangan pernah melakukan hal itu lagi!. Aku sangat takut karena dirimu hanyalah seorang manusia yang lemah, aku belum melatihmu untuk menggunakan tiara tuhan." ucapnya dengan nada kesal.
"I-iya Anya, aku minta maaf. Sebagai gantinya, aku akan menuruti perintahmu dan tidak akan manja lagi. Aku akan melakukan semua yang kamu suruh sampai bisa menguasai Tiara Tuhan ini."
Anya terbang ke bagian dunia yang sangat gelap, aku bahkan tidak dapat melihat satupun pohon atau bangunan di sekitar. Segalanya terlihat tandus, namun, udara disini sangat dingin. Anya hanya duduk di sampingku sambil bersandar di bahuku. Suhu yang sangat dingin, diikuti dengan kehangatan dari tubuh Anya, aku mulai mengantuk dan tertidur bersama dengan Anya.
Aku bermimpi tentang sesuatu yang sangat aneh dan abstrak, sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Rasanya informasi asing terus mengalir ke dalam otakku. Aku melihat diriku sendiri di dalam mimpi, diriku sedang menghancurkan sebuah semesta dengan ledakan yang sangat dahsyat yang keluar dari Tiara Tuhan milikku. Di sana aku melihat sebuah akhir, saat dimana aku dan Anya bertarung mati-matian di Luar Semesta. Sungguh mimpi buruk yang menyeramkan, bagaimana mungkin aku dapat melawan orang yang ku cintai dan sayangi, aku akan membahagiakan Anya dan mendapatkan status Sang Pencipta.
Setelah melalui malam yang panjang, segala nya mulai terlihat jelas. Aku berada di alam tempat iblis tinggal. Saat terbangun, banyak iblis yang menemukan kami, mereka mengepung kami berdua, namun, Anya masih tertidur di bahuku. Aku tidak ingin mengganggu waktu istirahat Anya, aku harus melindunginya.
Aku berdiri melawan Iblis-iblis itu. Tadi malam Anya sempat mengajariku cara dasar menggunakan Tiara Tuhanku, dia juga mengajariku sedikit sihir untuk melindungi diri. Aku mengamati sekitar dan mendapati bahwa ada sekitar 30 iblis yang mengepungku dan sekitar 100 iblis yang bersembunyi di bawah tanah. Mereka mulai menyerang, sebagian dari mereka juga mulai merapalkan sihir. Anya bilang bahwa untuk mengeluarkan sihir, aku harus membayangkannya di dalam otakku. Aku mulai membayangkan sebuah zona yang tidak dapat ditembus oleh apapun. Setelah membayangkannya secara detail, zona tersebut muncul dan melindungiku, lalu aku membayangkan sebuah sihir ledakan yang dapat menghabisi semua iblis ini. Lingkaran sihir muncul di sekitarku dan sebuah sihir ledakan terjadi di luar zona aman ku.
Iblis yang ada di permukaan sudah habis tak tersisa, sekarang waktunya membunuh semua yang ada di dalam tanah. Aku menciptakan gempa agar iblis itu keluar dari tanah, kemudian aku membakar mereka dengan sihir apiku. Walau tidak langsung mati, mereka semua terbakar secara perlahan di atas api abadiku. Api itu akan membakar mangsa nya sampai hangus tak tersisa.
Setelah membereskan semua iblis yang mengepungku, aku menggendong Anya ke tempat yang lebih layak. Walah aku belum diajari sihir terbang oleh Anya, aku dapat terbang menggunakan sayapku sendiri. Aku terbang ke arah timur untuk mencari pemukiman manusia, setelah terbang selama satu jam, aku menemui kota kecil di kaki gunung. Aku mendarat tidak jauh dari gerbang masuk, aku kemudian menciptakan sebuah gerobak berisi makanan untuk menyembunyikan Anya dari penglihatan manusia. Aku sampai di depan gerbang dan seorang penjaga menyapaku
"Hi dek, selamat siang. Apa kamu memiliki kartu anggota guild?" tanya orang tersebut.
"Um… aku tidak memilikinya, aku baru saja datang dari desa untuk menjual makanan." ucapku
"Hmm… boleh aku lihat isi daganganmu?" ucapnya curiga
Aku memperbolehkannya mengecek isi gerobak yang ku bawa. Dia melihat-lihat kentang dan jagung yang ku bawa, dia sangat penasaran dengan sebuah kentang, sepertinya dia jarang melihat kentang.
"Makanan apa ini?" tanya penjaga itu
"Itu adalah hasil tanah dari desa ku. Aku yakin orang kota akan suka dengan bahan makanan yang berbeda dari biasanya." ucapku
walau aku tidak tahu makanan yang biasa dimakan manusia di dunia ini, aku yakin kentang bukan salah satunya.
"Hmm… Baiklah kalau begitu, kamu diperbolehkan masuk"
"Terimakasih pak" ucapku sambil tersenyum
Penjaga itu tidak menyadari lingkaran cahaya ataupun sayapku, aku menyembunyikannya dengan teknik yang diajari oleh Anya tadi malam. Aku kemudian masuk ke kota, di dalam terlihat banyak sekali bangunan lawas yang masih berdiri kokoh. Di pinggir jalan utama terdapat banyak sekali pedagang, di tengah kota terdapat sebuah air terjun yang cukup besar, di sekelilingnya banyak sekali toko buah dan sayuran, toko baju dan toko-toko lainnya juga ada disana. Tengah kota sangat sempit, namun tidak ada yang berani terlalu dekat dengan air terjun itu. Aku menjual kentang dan jagung ke suatu toko di tengah kota.
"Aku tidak pernah melihat ini sebelumnya, kamu dapat dari mana?" ucap penjual itu.
"Ini adalah hasil tanah dari desaku, ini dapat dijadikan makanan yang lezat." ucapku meyakinkan pemilik toko untuk membeli daganganku.
"Hmm… baiklah, aku akan membelinya seharga 10 koin perak per kilogram."
Aku menjual semuanya dan mendapatkan satu koin emas. Aku kemudian membawa gerobak itu ke gang yang kosong, aku menggendong Anya dan membakar gerobak itu disana.
Aku membawa Anya ke penginapan yang layak, walau begitu, banyak penginapan yang tidak menerimaku karena tidak memiliki Adventurer Card. Aku datang ke puluhan tempat penginapan, namun tidak ada satupun yang menerimaku. Aku menuju ke pinggir kota dan menemukan penginapan yang sangat buruk. Aku masuk dan mencoba menyewa kamar.
"Halo, selamat datang." ucap seorang gadis muda menyambutku masuk.
"Um… apakah ada kamar yang kosong?" tanya ku
Pelayan itu terlihat sangat muda, bahkan lebih muda dariku.
"Ada, harga satu kamar adalah satu koin perak per malam." ucap gadis itu.
Penginapan ini terlihat sangat tua, gadis itu mengelola tempat ini sendirian. Aku kasihan dengannya, penginapan ini sangat sepi pengunjung.
"Apakah satu kamar cukup untuk dua orang?" tanyaku
"Sepertinya cukup, aku akan memberikanmu kamar dengan kasur double." jawabnya
"Oke, totalnya jadi berapa untuk menginap satu malam? apakah ada biaya tambahan?" ucapku
"Tidak kak, satu malam hanya satu koin perak saja, tidak ada ongkos tambahan."
Aku membayarnya dan pergi ke kamarku. Kamar nya lumayan luas, ada kamar mandi pribadi di dalam kamar, dengan harga semurah ini, aku mendapat kenyamanan yang ekstra. Anya terbangun saat aku menurunkannya ke kasur
"Eru, kita dimana?" ucap Anya sambil mengusap mata.
"Kita berada di kota kecil yang kutemukan, kamu tertidur sangat pulas, aku tidak tega membangunkanmu."
"H-hah, aku tertidur? seberapa lama aku tidur?" ucapnya kaget.
Aku menceritakan segalanya saat Anya tertidur, dia kaget karena aku dapat melindunginya saat dia tertidur.
"Lalu Eru, apa kamu sudah menguasai sihir?" ucap Anya penasaran.
"A-aku sudah mulai menguasai sihir, namun aku masih tidak dapat menggunakan Tiara Tuhan ku. Bisakah kamu mengajariku cara menguasai Tiara Tuhan?" jawabku
"Apa maksudmu Eru? yang tadi kamu ceritakan bukanlah sihir, itu adalah kekuatan dari Tiara Tuhan."
"Oh… Aku mengerti, lalu bagaimana caranya menggunakan sihir?"
"Sini, mendekatlah"
Aku duduk dipangkuan Anya dan dia mengajariku cara menggunakan sihir.
"Kamu harus memfokuskan Mana yang ada di dalam dirimu, kapasitas Mana mu akan meningkat seiring berjalannya waktu. Semakin sering kamu menggunakan sihir, maka kapasitas Mana mu akan cepat membesar. Tingkat kehancuran sihir tergantung dengan kapasitas mana, jika kapasitas Mana mu kecil, maka kamu hanya dapat mengeluarkan sihir yang sangat lemah." ucapnya
"Lalu, apa perbedaan Sihir dengan Tiara Tuhan?" tanyaku
"Tiara Tuhan milikmu adalah pemberian dari Sang Pencipta, Tiara itu memiliki 0,001 persen dari kekuatan sang pencipta jika kamu berhasil menguasainya." jawab Anya
"Tunggu, di bawah 1 persen? apa Yang bisa dilakukan dengan itu?"
"Eru, kekuatan sang pencipta sangatlah besar, terlalu besar untuk dapat dimasukkan dalam imajinasi ciptaanya. 0,0000001 persen saja dari kekuatannya dapat membunuh seorang malaikat perang secara instan. 0,001 persen kekuatan Sang Pencipta tidak dapat dibandingkan dengan kekuatanku dan seluruh malaikat perang digabung." ucapnya
"Tunggu, berarti Tiara Tuhan ini dapat membunuhmu secara instan?"
"Iya, Kamu dapat melenyapkan seluruh malaikat perang jika berhasil menguasai penuh Tiara Tuhan itu."
"Aku memiliki kekuatan yang sangat mengerikan, padahal aku hanya seorang manusia biasa." ucapku kagum.
"Walau begitu Eru, kamu tidak dapat menghancurkan sistem yang telah dibuat oleh Sang Pencipta. Sistem Random Infinite Probability, Universe Infinite Generator, Law of Life and Death, dan sistem lainnya masih dapat membunuhmu jika mereka mau."
"Jadi Malaikat Perang bukanlah Eksistensi yang terkuat yang diciptakan Sang Pencipta?" tanyaku kebingungan
"Sang Pencipta telah menciptakan banyak sekali eksistensi yang lebih kuat dari Malaikat Perang. Malaikat Perang adalah ciptaan Sang Pencipta yang sangat lemah jika dibandingkan dengan ciptaannya yang ditempatkan di Outer-Dimension. Malaikat Perang tidak dapat menembus Outer-Dimension, Mereka hanya dapat menembus Outverse dan mereka merupakan yang terlemah di Outverse." Jawabnya
"Hm… Baiklah Anya, Aku sudah mengerti"
Anya menjelaskan lebih mendalam tentang kekuasaan Sang Pencipta yang Agung sampai larut malam. Aku mulai mengantuk dan tertidur di bahu Anya.
(Sementara itu di bagian dunia lain)
Namaku adalah Menhera Istilda von Abydos. Aku adalah seorang Ksatria Wanita dari Kerajaan Istilda, aku diperintahkan oleh Ayahku yang merupakan seorang Raja untuk menelusuri penyebab getaran tanah yang dahsyat kemarin sore. Ayah mencurigai adanya sesuatu di Kekaisaran yang berada di tengah benua, kekaisaran yang memimpin semua. Ia mencurigai kekaisaran karena mereka tidak mengirimkan surat untuk Ayahku yang menjelaskan penyebab getaran dahsyat. Aku sedang berkuda kesana bersama 2 Ksatria lainnya.
Perasaanku sudah tidak enak, banyak sekali burung yang bermigrasi dari kekaisaran, bahkan hutan-hutan di sekitar terbakar tanpa sebab. Tanah kekaisaran yang subur menjadi kering dan tandus. Setelah sampai, aku sangat terkejut saat melihat kekaisaran yang dulunya megah sekarang hanya tersisa debu, Terdapat kawah yang sangat besar di tempat yang sebelumnya kekaisaran yang besar. Siapakah yang berani membantai kekaisaran, siapakah penyihir yang dapat menghancurkan kekaisaran sampai habis tak tersisa?!.
Semua saudara dan keluarga besarku tinggal di kekaisaran, hanya ayahku dan aku yang mengatur kerajaan. Mereka semua, orang yang kusayang mati karena ulah penyihir kejam itu. Aku bersumpah akan membunuhnya saat mengetahui pelaku dibalik kejadian ini!. Aku sangat murka, kamu kembali ke kerajaan membawa bulu yang berada di dalam kawah, bulu ini sangat berbeda dengan bulu burung yang pernah ku temui.
Saat aku sampai di kerajaan, aku langsung bergegas ke ruangan ayahku dan melaporkan kejadiannya. Ayahku shock, dia tak mengira getaran dahsyat yang terjadi kemarin merupakan hasil dari sebuah ledakan yang meluluhlantakkan sebuah kekaisaran yang sangat kuat.
Ayah mengerahkan pasukan intel untuk mencari tahu tentang pelaku genosida kekaisaran. Ia mengirim surat ke seluruh dunia untuk memburu semua penyihir yang masuk ke negaranya dan melakukan tes kekuatan menggunakan Sakajitsu untuk hasil murni yang tidak dapat dimanipulasi.
"Huft… aku sangat lelah setelah mengurusi seorang bajingan yang membantai kekaisaran. Pelayan! tolong berikan aku minuman yang menyegarkan ya." ucapku memanggil pelayan kerajaan.
Aku menunggu pelayan itu sambil membaca buku, buku yang menceritakan tentang percintaan antara dua wanita. Aku tahu bahwa ini adalah hal yang salah, buku ini juga ilegal di kerajaan. Aku membeli buku ini melalui distributor rahasia. Sebuah kisah cinta yang sangat menarik, walau di akhir sang author membunuh karakter utamanya, namun kekasihnya tetap mencintainya dan tidak berganti pasangan sampai dia mati.
Aku adalah seorang Putri, dulunya aku memang mempunyai seorang tunangan yang dipasangkan oleh orang tuaku. Namun sayangnya dia mati di kekaisaran saat dia bertugas di sana. Aku tidak menyukainya, aku hanya dipaksa oleh orang tuaku untuk meneruskan generasi keluarga. Aku lebih tertarik kepada gadis yang imut, walau aku tidak sepenuhnya suka dengan sesama wanita, namun mereka lebih menarik perhatianku daripada laki-laki.
Ayah tiba-tiba masuk ke kantorku. Aku bergegas menyembunyikan buku itu dan menyapa Ayah. Aku sedang bersantai tanpa memikirkan etika bangsawan, aku dimarahi oleh Ayah.
"Hera! kamu tidak boleh seperti itu. Jika saja seorang bangsawan lain melihatmu tanpa etika, itu bisa menurunkan harga diri keluarga kita!" ucapnya geram.
"Baik ayah, aku tidak akan mengulangi nya." ucapku bernada tegas
Ayah duduk di sofa dan memanggilku kesana, dia memasang muka serius dan mulai membicarakan sesuatu.
"Hera, ada sesuatu yang aku ingin bicarakan kepadamu. kamu tahu, karena kekaisaran adalah sumber keuangan kita, kita sedang berada di masalah yang cukup besar." ucap ayah sambil meminum minumanku.
"A-ayahanda, itu minuman- Ehm, maafkan aku, silahkan lanjutkan ayahanda." ucapku
"Hera, sepertinya kita akan jatuh dan menjadi negara yang sangat miskin, semua harta negara dan aset kita serahkan ke kaisar dan yang tersisa hanya cukup untuk satu bulan saja."
"Tunggu, apa maksud ayahanda? ayahanda tidak pernah membicarakan ini denganku, aku tidak pernah tahu bahwa harta kita berada di kekaisaran."
"Maafkan ayah, Hera. Ayah tidak ingin kamu hidup menderita, karena itulah kamu harus lari dari kerajaan ini. Sebentar lagi para bangsawan akan mengetahui tentang masalah ini." ucap ayah sambil memberikan aku sekantong uang yang berisi 100 koin emas.
"Bawalah ini dan kabur ke Kerajaan Avires, disana biaya hidup sangat murah, kamu dapat memulai hidup baru disana." ucap Ayahanda
"T-tapi, bagaimana dengan Ayahanda?" ucapku
"Ayah akan tetap di Istilda sampai akhir nanti, Ayah tidak ingin kamu mati mengenaskan, maka dari itu bawalah kuda kesayanganmu dan pergi ke Avires, aku telah menyiapkan penginapan yang murah untukmu disana. Kamu bisa menjadi petualang atau apapun yang kamu mau. Yang terpenting kamu harus hidup demi Ayah."
"Baiklah Ayahanda"
Aku berkemas dan berangkat ke Avires, Aku berangkat saat malam hari agar tidak ada warga yang melihatku kabur. Aku sampai di Avires saat malam hari, memang memakan waktu 2 hari 3 malam, namun aku sampai dengan selamat.
Aku menuju ke penginapan yang Ayah berikan. Disana sangatlah kumuh, temboknya terlihat sudah sangat lawas. Aku tidak boleh mengeluh, ini adalah lembaran baru dari hidupku, aku hidup bebas tanpa orangtua yang mengatur, dan tanpa harus memperhatikan etika bangsawan yang sangat ketat. Penjaga penginapan adalah seorang gadis kecil, walau begitu, dia terlihat sangat terampil dalam melakukan pekerjaannya. Dia berkata bahwa penginapan ini sangat sepi, hanya ada 2 pengunjung yang sedang menginap disini. Dia menanyakan kamar yang aku mau, namun karena aku terlalu mengantuk untuk memilih kamar, aku menyuruhnya untuk memberikanku kamar yang nyaman.
Saat sampai di kamar, aku menaruh semua barang bawaan dan bersantai di kasur. Aku memikirkan tentang pekerjaan yang akan ku ambil. Aku masih bingung, aku ingin menjadi seorang petualang, namun tidak ada yang ingin berpetualang bersamaku. Aku juga ingin berdagang, namun, aku tidak memiliki koneksi sama-sekali dengan pedagang lain. Aku mulai pusing memikirkannya sampai aku tidak jadi tidur. Namun tiba-tiba aku mendengar suara dari kamar sebelah, suara desahan yang sangat nyaring terdengar. Aku mendengar suara 2 wanita, aku sangat penasaran dengan kamar sebelah, aku sangat terangsang mendengarkan mereka dari balik tembok. Setelah semuanya menjadi sunyi, aku berusaha tertidur karena harus bangun pagi besok. Walau begitu, aku tidak dapat berhenti memikirkan mereka berdua. Aku membulatkan tekad untuk berkenalan dengan mereka berdua dan mengajak mereka masuk ke Party ku, namun sebelum itu, aku akan tidur terlebih dahulu.
(Kembali ke Eruru)
Aku bermimpi berduaan dengan Anya di sebuah tempat yang sangat indah. Berdiri di sampingku seorang malaikat yang sangat cantik. Anya memakai gaun yang indah menggunakan cincin yang sama denganku. Mimpi yang sangat indah, aku duduk berdampingan dengan Anya, minum bersama dan makan bersama, kami menghabiskan waktu berduaan dan bermesraan di pinggir laut. Aku juga bermimpi saat Anya tidur bersamaku, sensasi nya terasa sangat nyata, aku sampai tidak mau bangun dari mimpi itu, namun seperti ada yang membangunkanku.
Aku terbangun menyadari diriku tidak memakai baju, aku juga melihat Anya tanpa busana disampingku. Tunggu, apa yang aku lakukan semalam dengan Anya, aku sama sekali tidak mengingatnya. Apakah semua yang ku alami di mimpi terasa sangat nyata karena aku memang melakukannya. Aku sangat bingung, namun aku terpaku akan kecantikan Anya, sayapnya sangat indah, kulitnya mulus, dan wajah nya saat tidur sangat imut. Sungguh eksistensi yang merepresentasi malaikat sepenuhnya!.
Anya terbangun dari tidurnya, mungkin karena aku terlalu banyak menyentuh kulitnya. Dia mengusap mata dan melihatku sambil tersenyum.
"Semalam sangat menyenangkan ya, Eru." ucapnya
"Anya! M-m-maafkan aku jika aku memaksamu, a-aku tidak ingat sama sekali kejadian tadi malam." ucapku terbata-bata
Wajahku merah padam, aku sangat malu karena sepertinya semua ini karena paksaan dariku. Bagaimana tidak, aku hanya mencintai Anya sepihak, aku bahkan tidak tahu jika Anya bisa merasakan cinta atau tidak. Aku kemudian meminta maaf kepada Anya.
"Hehe, wajahmu yang merah padam itu sangat imut Eru. Tidak apa Eru, kamu tidak bersalah, aku juga menikmatinya tadi malam"
"Anya, sekali lagi maafkan aku. Bisakah kamu menceritakan kejadian tadi malam sampai bisa berakhir seperti ini?" ucapku
"Saat kamu tertidur, aku ingin menurunkanmu ke kasur. Aku kemudian mencium keningmu dan mengucapkan selamat malam. Namun saat aku bangun dari kasur, kamu menarik tanganku dan berkata "Tidak Anya, jangan tinggalkan aku". Setelah itu kamu tiba-tiba menyerangku dan memelukku erat-erat, kamu setengah sadar dan berakhir melakukannya denganku sampai 4 kali." ucap Anya
Aku sangat malu, aku tidak menyangka aku bisa melakukan itu kepada Anya.
"Kamu tahu, Eru? aku tidak memiliki kelamin, namun avatar ini mempunyainya. Wujud asliku adalah abstrak dan ini hanyalah Avatar yang kupakai untuk berinteraksi denganmu" ucap Anya
Anya kemudian memegang tanganku.
"Apakah kamu mencintaiku Eru? kamu berteriak "Anya, aku sangat mencintaimu" saat melakukannya tadi malam" ucapnya
"A-aku memang mencintaimu, tapi, aku tahu bahwa ini hanyalah perasaan cinta sepihak." Ucapku
Anya memelukku dan mencium rambutku, dia kemudian berbisik di kupingku.
"Aku juga mencintaimu, Eru." bisiknya dengan suara yang lembut.
Tubuhku menggelenyar, aku merasa seperti disetrum oleh listrik bertegangan tinggi saat Anya mengatakan itu. Aku sangat bahagia, aku merasakan euforia menyelimutiku. Aku sangat bersemangat dan menanyakan Anya sekali lagi.
"Benarkah? Aku sangat bahagia! Anya menjawab cintaku! Ini adalah hari paling bahagia dalam hidupku!" teriakku bersemangat
"Hehe, aku benar-benar mencintaimu Eru." ucap Anya sambil tersenyum
"K-k-kalau begitu, a-apakah kamu mau menjadi pacarku?" ucapku sambil memegang tangan Anya
Muka Anya memerah, dia kemudian menarik tanganku dan menciumku.
"Aku mau kok, tapi kamu harus berjanji satu hal. Kamu tidak boleh melupakan tujuan awal petualangan kita." Ucapnya
"Aku akan bersemangat dalam menguasai Tiara Tuhan ini." ucapku dengan nada yang sangat bersemangat.
"Baiklah, aku akan menjadi pacarmu"
Ditengah kegembiraanku, seseorang datang mengetuk pintu kamar. Aku bergegas memakai baju dan membuka menyapa orang itu.
"Hai, selamat pagi" ucap gadis itu.
Dia terlihat sangat muda, rambutnya merah dan memakai kalung yang mewah.
"Iya, ada apa ya?" ucapku
"Aku adalah seorang putri dari kerajaan Istilda, aku ingin berkenalan denganmu wahai orang biasa." ucap gadis itu
"Hei! apa maksudmu memanggilku dengan panggilan "orang biasa", aku tidak peduli dengan gelarmu sebagai "Putri Kerajaan", aku bahkan tidak mengenalmu" ucapku kesal
"Bukan itu maksudku, um… maaf. Aku tidak terbiasa berbicara dengan orang lain, maafkan aku." ucapnya sambil menundukan kepala
"Lalu, apa maumu? kamu mau berkenalan dengan orang asing?"
"Iya, namaku Menhera, kamu bisa memanggilku Hera jika mau. Aku adalah mantan Putri dari kerajaan Istilda, senang bisa bertemu"
"Namaku Eruru, kamu bisa memanggilku Eru." ucapku singkat.
"Um… Aku ingin mengajakmu masuk kedalam Party ku, apakah kamu mau?" ucap Hera sambil menunjukan Adventurer Card nya
Nama: Menhera
Umur: 14
Tanggal Lahir: 31 Daggis
Status: Petualang Pemula
Kekuatan: Ksatria Amatir
Telah menjadi petualang selama: 1 Hari
Hm… aku tidak menyangka bahwa gadis ini ternyata 3 tahun lebih muda dari ku. Tunggu, Daggis? bulan apa itu? aku tidak mengetahui sama sekali bahasa disini, namun otakku seperti menerjemahkannya secara otomatis.
Aku menerimanya karena ingin mempunyai teman yang lebih muda dariku. Sifat Menhera juga menarik, dia tidak dapat bersosialisasi dengan mudah, mungkin jika aku menjadi teman Menhera, dia akan mudah untuk berbicara dengan orang lain.
"Baiklah, kami akan ikut Party mu." ucapku
"Benarkah? Terimakasih!" ucapnya sambil tersenyum
Walau aku belum mempunyai Adventurer Card, aku pikir akan bisa mendapatkannya dengan mudah jika bertanya dengan Menhera. Aku mengintip kedalam kamar dan melihat Anya sudah kembali memakai baju nya. Aku memanggil Anya untuk keluar, kita akan berjalan menuju Guild dan mendaftarkan diri disana.
Kami bertiga keluar dari penginapan dan pergi ke tengah kota untuk membeli sarapan. Aku dan Anya membeli Roti untuk kami berdua, 2 buah apel, dan sebotol susu.
"Eru, apa yang kamu beli?" ucap Menhera
"Aku membeli roti dan susu, apa kamu mau?" ucapku menawarkan roti dan apel.
"Apa ini? Aku tidak pernah memakan makanan kelas bawah, jadi aku tidak tertarik dengan itu. Kelihatannya saja sudah tidak enak dilihat." ucapnya menolak Rotiku
"Yasudah, apa kamu mau apel ini?" ucapku
"Hm… buah ini tidak asing bagiku, aku akan memakan ini saja." ucap Hera mengambil satu apel ku
"Kamu tidak ingin apel Eru?" ucap Anya
"Ah… tidak, makan saja Anya, aku cukup memakan roti ini saja"
"Tidak apa Eru, aku tidak butuh makan, kamu boleh memakan jatahku" ucap menhera memberikan semua makanannya kepadaku.
Kami makan tanpa berbicara satu sama lain, suasana sangat canggung tanpa ada satupun yang berbicara. Aku memulai pembicaraan mengenai "Adventurer Card"
"Hera, apa aku boleh menanyakan sesuatu?" ucapku
"Boleh, apa yang ingin kamu tanyakan?" jawabnya
"Bisakah kamu jelaskan Adventurer Card milikmu? bagaimana cara mendapatkannya dan seperti apa prosedur yang harus aku jalani untuk mendapatkan itu?" ucapku
"Adventurer Card itu didapatkan saat kamu mendaftar di Guild, kartu itu membuatmu bebas memasuki negara manapun di benua ini, aku tidak tahu dengan ketentuan Adventurer Card di benua lain. Untuk mendapatkannya, kamu cukup memberikan identitas mu dan meletakkan tanganmu di Artefak Guild yang dapat membaca potensi kekuatanmu." Jawab Hera
Saat aku sedang berbicara dengan Hera, Anya melihatku dengan wajah tidak senang.
"Lalu, apakah ada ongkos untuk mendaftar?" tanyaku
"Kamu harus menyiapkan 1 Koin Emas per orang untuk membuat Adventurer Card" Jawab Hera
"Aku tidak memiliki uang yang cukup, bagaimana jika kita menciptakannya saja, Anya? bolehkah?" ucapku meminta izin dari Anya
"Tidak boleh, kamu harus bekerja untuk mendapatkannya" ucap Anya tegas
"Baiklah, aku akan bekerja untuk mendapatkan uang agar bisa mendaftar ke guild" ucapku
Anya kemudian menepuk pundakku dan berkata
"Aku akan memilih pekerjaan untukmu, kita akan membagi dua hasilnya nanti." ucap hera
"Woahh, terimakasih Hera" ucapku sambil tersenyum
Hera pergi ke Guild Hall untuk mengambil pekerjaan, sedangkan aku dan Anya menunggu di depan gerbang. Aku berbicara dengan Penjaga tentang monster di sekitar.
"Pak, aku ingin bertanya tentang monster yang ada di sekitar sini, apakah mereka kuat atau lemah? atau ada yang mematikan di antara mereka?" ucapku
Penjaga itu menoleh ke arahku dan menjawab pertanyaan ku.
"Di sekitar sini para monster rata-rata berlevel rendah, namun jika kamu masuk ke hutan yang lebih dalam, kamu akan mulai menemukan monster level menengah sampai level tinggi. Jika kamu ingin menaikkan level, daerah hutan sekitar sangat cocok karena monsternya mudah dibunuh." ucap penjaga itu
"Oke pak, terimakasih atas saran nya" ucapku sambil menunduk tanda berterima kasih
"Eru! Aku mendapatkan pekerjaan dengan upah yang besar!" teriak Hera dari kejauhan.
Dia berlari ke arahku, dia kemudian memberikanku selembar kertas yang berisi detail pekerjaan.
Level pekerjaan: Very-hard
Hadiah penyelesaian: 15 Koin Emas
Detail pekerjaan: Di dalam hutan sihir di dekat Avires, terdapat sebuah gua yang berisi banyak sekali Hewan Sihir dan Goblin yang berbahaya. Mereka sering keluar di malam hari dan menyerang pedagang yang lewat. Adventurer harus mengalahkan mereka semua agar jalan menuju Avires kembali aman.
Quest Giver: Anonim
Aku berpikir bahwa itu adalah pekerjaan yang mudah, lagipula aku bisa membunuh puluhan iblis dalam waktu singkat, apa bedanya dengan "Hewan Sihir".
"Baiklah, aku akan menerima pekerjaan ini, kamu akan mendapatkan 5 Koin emas dan aku akan mengambil 10 Koin Emas." ucapku kepada Hera
"Baiklah, ayo kita berangkat!" Ucap Hera bersemangat
Kami berjalan kaki menuju lokasi, tempatnya lumayan jauh dari gerbang utama Avires. Di perjalanan, Menhera menceritakan sedikit masa lalunya sembari berjalan ke lokasi.
"Eru, kamu tahu? aku kesini karena kerajaan ku, Istilda sedang berada dalam masalah yang serius" ucapnya
"Masalah apa? apakah karena kamu tidak suka dengan pertunangan dan akhirnya kamu memutuskan untuk kabur dari Kerajaan yang mengakibatkan hubungan diplomatik antar-bangsawan menjadi runyam?" ucapku menebak-nebak
Saat aku masih di bumi, aku sangat suka membaca cerita bertema kerajaan-kerajaan kuno yang masih memakai status seperti bangsawan. Salah satu buku yang kubaca menceritakan tentang seorang putri kerajaan yang kabur dari kerajaannya. Dia tidak menyukai pertunangan yang direncanakan oleh orangtuanya dan berakhir memberontak. Karena kepergiannya dan membatalkan pertunangan secara sepihak tanpa hormat, Kerajaan tempat lahirnya mendapatkan pandangan buruk dimata bangsawan lain.
"Tidak, bukan itu! aku memang membenci pertunangan, namun tunanganku sudah mati karena penyihir kejam yang sangat menjijikan meratakan Kekaisaran tanpa alasan. Karena kehancuran kekaisaran yang mendadak, negaraku yang sangat bergantung dengan Kaisar menjadi terancam miskin. Aku disini malah berlari dari kerajaan, walau itu permintaan dari Ayahku, namun aku tetap merasa menyesal meninggalkan rakyatku begitu saja" ucap Hera
Tunggu, menghancurkan kekaisaran dan penyihir kejam? aku curiga dia menyinggung tentang Anya.
"Anya, yang kamu hancurkan hanya kerajaan kecil kan?" bisikku ke Anya
"Aku tidak terlalu mengingat karena saat itu aku terlalu termakan amarah" jawabnya
"Namun kamu meratakan satu kekaisaran? bagaimana bisa?" bisikku
"Eru, aku adalah seorang mantan malaikat perang terkuat, menghancurkan satu kekaisaran semudah membalikkan telapak tangan bagiku." ucap Anya.
"Tapi Anya, kamu tidak boleh melakukan itu, kamu membantai jutaan manusia tidak bersalah" ucapku
"Maafkan aku, saat itu aku termakan api amarah karena kematianmu, jika kamu mau, aku bisa membalikkan waktu dan menghidupkan kembali kekaisaran itu." ucapnya
"Tunggu, kamu bisa melakukan itu? lalu mengapa kamu tidak melakukannya dari awal?!" ucapku geram
"Ehe" ucap Anya sambil tersenyum
Menhera menatap kami berdua dengan wajah kebingungan.
"Eru, kamu dari tadi berbicara dengan siapa?" ucap Hera.
"Anya, kamu memakai wujud empat dimensi mu?!" ucapku geram
"Hehe, maafkan aku Eru. Aku hanya tidak ingin orang lain melihat wujud asliku" Ucap hera sambil merubah level dimensinya.
"Woah, dia tiba-tiba muncul dari udara kosong. Bagaimana kamu melakukan itu?" Ucap Hera.
"Ini adalah Sihir rahasiaku" ucap Anya kepada Hera
Menhera terlihat sangat kagum dengan Anya, dia terus mendekati Anya dan menanyakan hal yang terus berulang. Dia terus menanyakan "Hei, bagaimana caramu melakukan hal tadi? ajari aku!" dan "Tolong ajari aku sihir, aku siap menjadi muridmu".
Api cemburu berkobar di dalam hatiku, dia terlalu dekat dengan Anya, aku tidak menyukai itu!.
"Hei, kamu tidak boleh memaksanya seperti itu, Hera!" ucapku sambil memisahkan mereka berdua.
"Kenapa? aku hanya ingin dia menjadikanku muridnya." ucap Hera
"Tidak boleh! Anya adalah milikku seorang, tidak ada yang boleh mendekati Anya selain aku." Ucapku sambil memegang tangan Anya.
"Memangnya kamu siapa? dia bahkan terlihat tidak peduli kepadamu, Eru!" ucap Hera sambil mendorongku
"Aku adalah pacarnya, kamu hanya orang asing, tidak boleh mendekati Anya!" ucapku tegas
Anya terlihat sangat bahagia, wajahnya merah padam dan dia tidak dapat berhenti tersenyum.
"Biarkanlah, Eru. Lagipula dia hanya memintaku mengajarinya. Aku akan mengajarimu sedikit tentang sihir setelah kita pulang dari quest ini." ucap Anya melerai kami berdua
Setelah berjalan cukup lama, kami akhirnya menemukan gua yang dimaksud di dalam quest itu.
"Kita sudah sampai, Eru. Ini seharusnya gua yang dimaksud oleh sang pemberi quest." Ucap Anya
"Baiklah Eru, aku akan menyiapkan perlengkapan ku dulu" ucap hera sambil menyiapkan pedangnya dan merapalkan sihir, pedangnya kemudian berubah menjadi pedang api karena sihir nya.
"Wow, aku tidak tahu kamu bisa melakukan itu" ucapku kagum
"Ini adalah teknik sihir untuk seni berpedang, aku tidak bisa menggunakan selain sihir Magic Blade" ucap Hera
"Hm… baiklah Hera, aku bukan bermaksud menjelekkan mu, namun kamu harus menjauh dari gua itu." ucapku sambil merapalkan sihir
Hera berlari ke belakang ku, aku menggunakan sihir ledakan tingkat atas dan sedikit kekuatan dari Tiara Tuhan untuk menghancurkan gua itu.
"Magic: Catalyst Destruction!"
Gua itu kemudian meledak dan menghabisi semua monster yang ada di dalamnya. Sisa-sisa gua tersebut juga hilang tak tersisa, Menhera sangat ketakutan saat melihat sihirku.
"Huft, kita berjalan 20 menit dan misi ini selesai dalam beberapa detik. Ayo kita kembali, Hera" ucapku sambil menenangkan Hera yang bersembunyi dibalik pohon.
Tubuh Hera menggigil, dia muka nya pucat dan dia tidak mau aku mendekat. Setelah 5 menit berlalu, dia kembali tenang dan mendekatiku.
"Maaf Eru, sepertinya tadi trauma ku kembali. Aku tidak terbiasa melihat sihir dengan tingkat destruktif sebesar itu. Biarkan aku menenangkan diri sebentar" ucap Hera
"Tidak apa-apa, aku dan Anya akan menunggumu sampai kamu tenang." ucapku sembari memberikan Menhera air.
"Eru, sepertinya sihir mu naik drastis dari sebelumnya. Kamu hanya bisa mengeluarkan api kecil, tapi dalam waktu sehari, kamu dapat menggunakan sihir dengan skala yang besar. Apakah kamu berlatih diam-diam?" ucap Anya curiga
"E-ehehe, aku mengeluarkan sihir ku di lautan, aku selalu menggunakannya sampai kapasitas manaku membesar seperti yang kamu bilang"
"Kamu benar benar bisa melampaui ekspektasiku, Eru." ucap Anya sambil mengelus kepalaku.
"Hehe, terimakasih pujiannya, Anya."
Sebuah ledakan besar keluar dari puing puing gua itu. Di tengah ledakan, terdapat sebuah monster yang sangat mengerikan.
"Hera! kamu sudah bisa berdiri?" teriakku sambil melihat kondisi Hera
Dia ternyata sedang di hipnotis oleh hewan sihir, aku bergegas menggendongnya dan terbang keluar hutan
"Hera, bangunlah!" ucapku
Dia membuka matanya, Menhera terlihat sangat lemas karena energi nya dihisap oleh hewan sihir itu.
"Eru, kita dimana?" ucapnya dengan nada lemas
"Aku akan membawamu kembali ke penginapan, minumlah ini, kamu akan merasa lebih baik setelah meminumnya" ucapku sambil memberikan obat ke Hera
Aku menuju kembali ke penginapan, monster itu terus mengejarku sampai ke kota. Tidak ada pilihan, aku menurunkan eru di dekat gerbang kota. Para penjaga ketakutan akan Monster yang sangat besar itu. Monster itu awalnya hanya sebesar pohon, namun dia menyerap batu-batuan dan puing puing sisa gua yang aku hancurkan. Sekarang, monster itu berukuran lebih besar dari tembok kota. Tingginya sekitar 45 meter dan besarnya 25 meter.
Kepanikan terjadi di dalam kota, semuanya berlarian mengungsi keluar kota karena takut kota hancur karena monster itu. Pasukan penyihir dari kerajaan mulai berdatangan, mereka merapalkan sihir yang sangat tidak efektif ke monster itu. Monster itu mulai bertindak sangat agresif, dia melemparkan batu yang sangat besar ke arah para penyihir. Sekitar 20 orang tewas tertimpa batu. Aku mencoba menggunakan Magic: Catalyst Destruction untuk menumbangkan monster tersebut, namun, dia malah menyerap ledakan itu dan mengembalikannya ke arahku. Aku terkena sedikit ledakan, namun aku terpental sangat jauh dari monster itu.
Aku hampir mati karena ledakan dari sihir ku sendiri. Aku menyembuhkan diriku sendiri dan berusaha berdiri, aku kemudian terbang kembali ke arah monster itu. Dia sedang menyerang Hera dan Anya, Anya sedang menahan serangan monster itu dengan barier yang sangat tebal. Aku mendekati mereka dan masuk ke dalam Barier.
"Anya, kamu tidak terluka kan?" ucapku sambil menyembuhkan Menhera yang terluka cukup parah
"Aku menggunakan wujud empat dimensi, makhluk 3 dimensi tidak bisa melukai ku di wujud ini." ucapnya
"Bisakah kamu menahan barrier ini? aku akan mencoba mengalahkan monster itu." ucapku
"Ini adalah barrier 4D, barrier ini tidak dapat ditembus oleh nya"
"Baiklah Anya, aku akan menunjukan sisi keren ku" ucapku sambil terbang ke arah monster itu.
Hm… Monster ini sepertinya menyerap serangan yang diterimanya, aku akan mencoba memakai kekuatan Tiara Tuhanku untuk menyerangnya. Aku mulai menggambarkannya di otakku, sebuah ledakan yang sangat besar yang dapat menghancurkan monster itu dalam satu serangan. Lingkaran sihir muncul di sekitar monster itu, semua nya lalu memunculkan ledakan yang sangat besar. Monster itu tertutupi oleh ledakan, aku menyelimuti monster itu dengan barier untuk mencegah kerusakan yang tidak diinginkan, namun, barrier milikku pecah karena menahan ledakan dari Tiara Tuhan.
Asap menutupi bekas monster itu berdiri, kemudian sesuatu mulai keluar dari dalam asap. Monster itu menahan ledakan tadi, dia kemudian bertambah besar. Tinggi nya hampir 235 meter dan besarnya 170 meter. Dia bisa saja menjadi lebih besar dan menghancurkan kerajaan jika aku tidak membunuhnya langsung.
"Hancurkan jantungnya!" Teriak penyihir kerajaan dari jauh.
Aku mencari cari letak jantungnya, tubuhnya sangat besar dan abstrak, aku tidak dapat menemukan letak jantungnya. Bekas ledakan membantuku mencari jantung monster itu, sebuah cahaya merah muncul di dada sebelah kanan monster itu. Itu pasti letak jantungnya, aku harus mencari cara agar bisa masuk ke area jantung monster itu. Saat aku sedang berpikir, monster itu terus menginjak-injak barrier Anya. Dia sepertinya tidak memperdulikanku, dia hanya mengincar Anya dan Menhera.
Aku berpikir lebih keras, tubuh monster itu terbuat dari batu yang sangat tebal dan keras. Jika aku meledakkannya, aku akan membuat monster itu menjadi lebih besar. Aku kemudian mengingat teknik yang Hera pakai saat kita sampai di dekat gua. Aku kemudian menciptakan sebuah panah dari Tiara Tuhan itu. Anak panahnya ku buat dengan material paling kuat yang ku ketahui.
Aku menambahkan kekuatan Tiara Tuhan ke dalam panah itu, aku meningkatkan kekuatan serangan dan kecepatan panah. Aku mulai membidik ke arah jantung monster itu, aku membuat anak panah ini bisa menembus segala objek yang dilewatinya. Aku melepas tembakan, tembakan yang sangat kuat, aku bahkan sampai terpental karena tembakan itu. Anak panah itu melesat sangat cepat, membelah udara dan menembus jantung monster itu.
Ledakan tidak tercipta, monster itu menghilang dari realitas sesaat setelah anak panah itu mengenainya. Tidak ada yang tersisa dari monster itu, segalanya menghilang setelah melakukan kontak dengan anak panah. Pertarungan ini sepertinya mutlak menjadi kemenanganku.
10% kota hancur karena dampak area dari monster itu, walau begitu, tidak ada korban jiwa saat pertarungan tadi. Aku kembali ke tempat Anya dan Menhera berada, mereka selamat tanpa adanya luka.
"Eru, kamu sangat keren! kamu mulai bisa menggunakan potensi sebenarnya dari Tiara Tuhan. Aku bangga sama kamu, Eru" ucap Anya tersenyum.
"Hehe, terimakasih Anya" balasku
Hera masih tidak sadarkan diri, aku menyerahkan Hera di tangan Anya. Aku terbang melihat keadaan kota, aku pergi ke daerah yang terkena dampak serangan monster tadi dan mencoba memperbaikinya.
"Tiara Tuhan, tolong berikan aku kekuatan untuk memutar waktu!" ucapku berdoa kepada Tiara Tuhan.
Aku mulai membayangkan suasana kota sebelum hancur, mencoba mengimajinasikannya di dalam otakku dengan sangat rinci. Saat aku membuka mata, kota mulai kembali dengan perlahan. Aku memutar balikkan waktu dan memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh monster tadi. Aku kembali ke tempat Anya, sepertinya Hera sudah bangun.
"Eru, kamu menyelamatkan kota?" ucap Hera kebingungan
"Kamu baru bangun setelah pertarungan 'ku dengan monster yang sangat besar, kamu melewatkan kejadian yang sangat seru!" ucapku
Aku kemudian menceritakan semua nya yang terjadi kepada Menhera, dia merasa kagum dan memujiku berlebihan. Masyarakat kota juga mulai kembali ke dalam kota, mereka berterima kasih kepadaku dan memberikanku hadiah yang sangat banyak. Aku kemudian dipanggil untuk menghadap Raja, aku akan diberikan hadiah langsung oleh raja karena telah menyelamatkan kerajaan.
つづく (Bersambung)