Sebuah tayangan televisi memperlihatkan seorang pria muda mengangkat tropi kemenangan dari acara royale battle yang diadakan sebuah sekolah militer di Batam.
Dua wanita menonton tayangan itu dengan ekspresi yang berbeda, yang berambut merah, terlihat biasa saja sambil tangannya keluar masuk antara mulut dan kantong snack, sementara wanita dengan rambut hitam dikuncir terlihat begitu antusias seolah jika dia berkedip, dia akan kehilangan nilai saham di pasar modal.
"Dia menjadi pria yang luar biasa dalam waktu singkat." Si rambut merah berkomentar.
"Yah, padahal baru satu tahun berlalu tapi dia sudah tumbuh sebanyak itu." Dengan senyum dibibirnya, si rambut hitam membalas.
"Bagaimana perasaanmu?"
"Perasaan apa?"
"Aku tahu janji yang kalian buat, jangan mencoba membodohiku."
si rambut hitam cemberut tidak senang.
"Kamu punya hobi mengintip orang, huh?" Tuduhnya.
"Kalian bermesraan tepat di depan rumahku." Kata si rambut merah.
"O oh! Aku tidak menyadarinya." Si rambut hitam memerah karena malu.
"Yah, sebenarnya aku agak khawatir. Kami memang berjanji untuk saling bertemu ketika dia sudah menjadi seseorang yang mampu, tapi melihatnya sekarang, aku bertanya-tanya, apakah dia sudi menemui wanita tua sepertiku? dia dikelilingi wanita muda dengan prospek masa depan cerah, dibandingkan denganku, pria normal jelas memilih yang lebih muda, kan?" Kata si rambut hitam menceritakan kekhawatirannya.
"Kamu kelihatan pesimis." Cibir si rambut merah.
"Farah, aku akan berusia tiga puluh tiga tahun sebentar lagi. Kulitku masih bagus, dan belum ada keriput diwajahku, tapi berapa lama aku akan terlihat seperti ini? Lima tahun? Sepuluh tahun? Sementara berapa usia anak itu? itu baru delapan belas tahun. Jika dia memilihku, dia hanya memiliki waktu paling banyak sepuluh tahun, lebih dari itu, kami akan terlihat seperti anak dan ibu daripada sepasang kekasih."
Itu pahit, tapi si rambut hitam tidak berniat melarikan diri dari kenyataan.
"Tamara, kamulah yang memberinya harapan, jadi mengapa kamu yang menyerah sendiri?"
"......" Tamara tidak menjawab.
Farah melirik Tamara yang mengatupkan mulutnya dengan rapat, kemudian dia bercerita,
"Setelah kamu pergi, anak itu benar-benar bekerja keras untuk mengejar punggungmu, kemudian dia memasuki sekolah militer Batam dan aku mendapat undangan sebagai pengajar disana disaat hampir bersamaan. Di tempat itu aku tidak pernah mendengar dia terlibat dengan gadis manapun, lebih tepatnya, dia seperti nerd yang hanya melatih diri seperti sedang dikejar setan. Memang, jika gadis-gadis yang mencoba mendekatinya termasuk dalan kategori hubungan, maka kamu harus memasukkan semua 70 persen wanita termasuk tenaga pengajar dan staf terlibat hubungan dengannya, namun pada akhirnya dia tidak pernah goyah dan hanya fokus berlatih."
"......"
"Tamara, kamu tidak menyangkal bahwa kamu juga mencintainya dan kamu juga membuat janji masa depan dengannya, kan?"
"Ya." Tamara menyahut pelan.
"Tapi, bukankah kamu terlalu pasif dalam hubungan ini? Apa? kamu malu bertindak terbuka karena usiamu? takut dengan sentimen publik? Hei, kita tinggal di dunia yang kita tidak tahu kapan kita akan mati dimakan monster, atau mungkin saja besok dunia kiamat, dan kamu masih terjebak memikirkan sentimen publik?"
"....."
"Jangan biarkan dia berjuang sendirian. Jika kamu tidak cukup percaya diri untuk menemuinya sekarang, setidaknya kamu harus yakin dan percaya padanya, bukankah dulu kamu mengatakan bahwa dia anak yang dewasa dan bertanggung jawab? Yang berarti, dia akan setia pada janjinya. Atau kamu berpikir dia berubah seiring berjalannya waktu?"
"....."
"Yakinlah, dia masih sama." Farah menegaskan.
"....." Tamara menggigit bibirnya.
Tayangan televisi berganti dengan sesi wawancara, seorang reporter mewawancarai juara tiga, dua, hingga akhirnya juara satu.
sorakan keras terdengar begitu reporter mendatangi si juara satu, setelah berhasil menenangkan penonton, reporter itu memulai wawancaranya,
《Kamu adalah satu-satunya kadet dari kelas satu yang lolos seleksi untuk mengikuti royale battle dan kamu juga berhasil menjadi juara, bisakah kamu mengatakan rahasiamu?》
Pria itu berpikir sesaat lalu menjawab,
《Dedikasi, kerja keras, fokus pada tujuan》
Reporter itu menjadi tertarik pada kalimat terakhir dari pria itu, jadi dia bertanya,
《Jika boleh tahu, apa tujuanmu?》
Pria itu mengangguk dan menjawab,
《Itu adalah keluarga, dan janjiku pada seseon.》
《Oh oh!! seseorang ini, apakah dia kebetulan perempuan? Maaf jika pertanyaanya terlalu dalam, tapi seperti yang kamu lihat, publik menggila disini, mereka seperti akan mengamuk karena panasaran, jadi jika mungkin bisakah kamu memberi sedikit bocoran?》 Reporter nampak sama emosional nya dengan penonton ketika dia muncoba mengorek-ngorek kehidupan pribadi pria tersebut.
《Jika itu sedikit.》 pria itu mengangguk.
Publik menggila dengan sorak-sorai penonton.
《Jadi siapa orang ini?》 Suara reporter terdengar lagi setelah sorakan sedikit reda.
Pria itu tersenyum.
Jantung Tamara mulai menggila karena senyum itu, dia merasa pria tersebut sedang tersenyum padanya.
《Dia wanita yang spesial dan kupikir kalian semua pasti paling tidak pernah melihatnya satu kali di televisi.》 Ungkap pria itu.
Dan tanpa di duga, pria itu mengangkat jeri kelingkingnya di depan kamera. Matanya menatap lurus kedepan dan penampilan percaya dirinya mendadak terlihat canggung.
Tamara merasa tenggorokannya tercekat pada tatapan canggung pria itu yang selalu dia tunjukkan hanya disekitar Tamara.
Mendadak pandangannya kabur karena air mata menggenang di pipinya. Tamara tidak bisa menahan senyumnya melebar pada saat yang sama, sebuah beban berat baru saja diangkat dari hatinya.
Pria itu masih sama, dia masih menyusuri jalan, tapi Tamara yakin pria itu pasti akan sampai ketempatnya tidak akan lama lagi.
"Sudah kubilang, dia masih sama." Suara Farah terdengar dari sampingnya.
"......Iya." Tamara hampir tidak bisa menjawab karena dia sibuk menghapus air matanya dengan tisue.
Pria itu adalah jenis manusia yang hanya tahu cara berjalan lurus. Jika Tamara tidak menunggunya maka pria itu akan terus berjalan tanpa henti sampai akhirnya menghilang dalam pencariannya sendiri.