Anda begitu cocok dengan profesi Anda, begitupun dengan cinta Anda, bergerak dengan kecepatan tinggi sehingga aku sulit mengejarnya.
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•==•=•=•=•=•
Namaku Ivanya, usiaku delapan belas tahun kurang sebulan. Aku baru saja selesai live streaming race untuk kelas MotoGP. Ya, sejak kecil aku suka menonton acara-acara seperti itu. Seru sekali. Apalagi jika rider yang dijagokan bisa menang dan naik podium.
Aku menantikan dua pekan lagi, di mana race akan dilaksanakan di negaraku tercinta, tepatnya di sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat. Andaikan saja aku bisa kesana. Tapi, untuk saat ini aku tak bisa berjalan. Aku sedang menjalani pemulihan setelah kaki kananku patah akibat jatuh dari tangga.
Siapa yang aku idolakan dan selalu aku dukung? Dia adalah rider bernomor 30. Takaaki Nakagami, satu-satunya rider dari Asia yang sampai ke kelas MotoGP, dia juga berasal dari negara Jepang.
Aku mempunyai semua merchandisenya. Mulai dari baju, jaket, topi, dan aku juga pernah mengirim kartu pos untuknya, dan dia membalasnya! Aku senang sekali. Aku sampai hampir lupa segalanya ketika itu.
Aku menatap sekeliling kamarku yang berwarna merah dan biru. Merah adalah dia dan biru adalah aku. Aku suka kedua warna itu. Menurutku, merah membuatku semangat, dan biru membuatku tenang. Semangat dalam tenang.
Dua pekan lagi, inginku pergi kesana. Tapi, aku kan masih menjalani pemulihan kurang lebih selama empat bulan. Cukup lama kan. Jadi, mungkin saja aku tak pergi ke sana. Tapi, hal itu juga kesempatan emasku untuk bertemu dengannya secara langsung.
Aku menatap ponselku yang casenya bergambar dia. Wallpaperku bergambar dia, keyboard, stiker, dan background chatku juga sama.
Tidak lama kemudian, pintu kamarku terbuka. Ibuku datang sambil membawa obat yang harus aku minum secara rutin. Obat untuk mempercepat proses pemulihanku.
Ibuku memintaku untuk segera meminum obatnya, kemudian aku harus segera tidur. Aku pun menuruti perkataannya. Sebenarnya saat ini masih ada live race untuk kelas Moto3. Tapi, aku tak terlalu suka. Tidak ada rider yang aku jagokan di kelas tersebut.
Aku berbaring di ranjangku yang lebar dan juga empuk. Perlahan-lahan, aku memejamkan mataku dan segera pergi ke alam mimpi.
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
Keesokan harinya, aku mendapati diriku yang sudah bisa berjalan! Apa ini serius!
"Ibu! Ayah! Aku sudah bisa berjalan!" ucapku sambil berjalan turun dari tangga. Kaki kananku memang masih diperban, tapi aku sudah bisa berjalan dan tidak sakit sama sekali. Ya, aku memang sedikit kekanakan sih. Tapi aku senang sekali!
"Apa?! Ivanya kau serius sudah bisa berjalan?!" tanya ayahku tak percaya. Pasalnya, baru tiga hari yang lalu kakiku cedera.
"Iya, ayah. Jadi, apakah boleh besok aku mau menonton di sirkuit?" tanyaku meminta izin.
"Hmm iya, tapi ayah dan ibu tak bisa menemanimu. Jadi, kau pergi sendiri berani kan?"
"Tentu saja ayah. Yeey! Terima kasih banyak ayah dan ibu!" ucapku sambil sedikit melompat kegirangan. Hari ini aku benar-benar senang.
Mungkin karena senang dan semangatku yang terus membara, kedua hal tadi berhasil membangkitkan energi positif dalam diriku, sehingga mempercepat proses pemulihanku. Haha, hanya teori dariku.
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=
Dua Minggu setelahnya, aku sudah berada di sirkuit Mandalika! Sangat ramai, banyak penonton dari dalam dan luar negeri. Sirkuit yang dibangun pada tahun 2020 sampai 2021 ini berhasil menjadi salah satu sirkuit kebanggaan negara Indonesia. Selain itu, pemandangan alam di sekitar sirkuit ini juga sangat indah sekali.
Race MotoGP sudah selesai sejak sepuluh menit yang lalu. Aku tak menceritakannya sebab aku sedang menonton dengan serius. Benar-benar menegangkan, apalagi jika menontonnya secara langsung. Suara banyak motor yang digeber secara bersamaan, suara riuh penonton, dan juga suara helikopter yang merekam pertandingan dari udara. Kebahagiaan dunia bagiku akhirnya terwujud.
Hasil race lumayan memuaskan dan aku pun senang. Taka-san berhasil masuk lima besar. Kini dia berada di posisi ketujuh di klasemen sementara MotoGP musim 2022.
=•=•=•=•=•=•=•=•==•=•=•=•=•=•=•
Beberapa menit kemudian, semua race sudah selesai. Sekarang hari sudah sore. Aku hendak kembali ke hotel tempat aku menginap. Tapi, sama sekali tak kuduga, ketika aku baru mau keluar dari kawasan sirkuit.
"Maaf," ucap seseorang yang tak sengaja menyenggol lenganku dari arah belakang. Tampak, dia sedikit terburu-buru dan menjatuhkan sesuatu. Dia memakai baju berwarna putih dan hitam dengan tulisan LCR Honda Idemitsu. Benda yang dia jatuhkan adalah salah satu perlengkapan keselamatan saat race, yaitu glove alias sarung tangan. Aku pun mengambil benda yang terjatuh itu, kemudian segera berlari mengejarnya.
"Permisi, anda menjatuhkan ini." ucapku ketika aku berhasil mengejarnya, kemudian memberikan glove miliknya. Kemampuan lariku memang cukup cepat.
"Ah terima kasih! Saya hampir kehilangan benda itu." seperti itulah yang dia katakan, dia bisa bahasa Indonesia meskipun belum terlalu lancar. Tunggu, suara yang familiar. Taka-san! Aku benar-benar bertemu dengannya.
"Taka-san!" ucapku dengan mata berbinar setelah melihat wajahnya. Dia pun tersenyum padaku.
"Taka-san, aku sangat ingin bertemu dengan anda, dan sekarang benar-benar terwujud. Apakah ini mimpi?" ucapku sambil menepuk pipiku. Aku jadi seperti orang aneh saja. Terasa sakit.
"Tidak mimpi." balas Taka-san setelah melihat tingkah ku yang sedikit aneh, mungkin.
"Taka-san, bisa anda pukul saya? Saya masih belum dapat mempercayainya.." astaga apa yang aku katakan? Memalukan sekali!
Kemudian, Taka pun mengoper glove yang aku berikan tadi dengan tangan kirinya. Tangan kanannya sudah tak membawa apa-apa. Kembali lain dari dugaanku. Aku kira Taka-san memang mau menyadarkan aku dari mimpi, tapi dia malah mengelus lembut pipiku.
Tentu saja hal itu membuatku blush! Aku langsung mundur dua langkah sementara dia masih tersenyum padaku. Kemudian,
"Baiklah, aku masih ada urusan, tapi aku masih ingin berbicara denganmu. Bagaimana kalau kita besok bertemu di kafe dekat sini jam sepuluh pagi?" tanyanya meminta persetujuan dariku. Aku pun mengangguk antusias.
"Baiklah, Taka-san, aku tidak akan lupa." balasku sambil membalas senyumannya. Apa? Yang benar saja? Dia ingin ketemuan denganku besok!
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
Keesokan harinya, aku sampai di tempat yang dijanjikan. Kafe yang tak jauh dari tempat kami bertemu kemarin. Aestetic sekali. Aku datang lima belas menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan, tapi..
Ketika aku masuk ke ruangan, di dekat dengan jendela, ada seorang laki-laki yang memakai jaket berwarna hitam dan memakai masker penutup wajah. Dia melambaikan tangan ke arahku.
Aku pun menemuinya, setelah aku sampai, dia pun membuka maskernya. Taka-san!
"Anda sudah sampai duluan?" tanyaku sambil duduk di hadapannya.
"Sebentar-sebentar!" cegahnya sebelum aku duduk. Kemudian dia pun berdiri juga.
"Aku sudah memesan tempat khusus di sini. Hanya kita berdua." ucapnya untuk membalas pertanyaanku yang belum tersampaikan.
"Apa?! Tempat khusus berdua?! Apa ini serius?!" dalam hati, aku teriak-teriak. Aku kembali dibuat terkejut oleh sifat dan perkataannya.
"Hmm hmm.." aku bergumam sambil mengangguk, meskipun aku malu.
Setelah itu, Taka-san mengajakku ke suatu tempat. Ruangan minimalis yang tidak terlalu sempit, namun aestetic. Di ruangan itu, hanya ada dua kursi yang saling berhadapan dan satu meja. Kami pun duduk di kursi itu.
"Kenapa.. kenapa di sini, Taka-san?" tanyaku padanya.
"Tidak apa-apa, supaya penggemarku yang lain tidak mengikutiku." balasnya santai. Kemudian dia bertanya padaku.
"Ah iya, siapa namamu?"
"Aku.. aku Ivanya." balasku sedikit gugup.
"Ivanya? Nama yang bagus."
"A.. arigatou gozhaimasu." ucapku sambil menundukkan kepalaku.
"Kau bisa bahasa Jepang?"
"I.. iya. Sedikit-sedikit."
"Kamu tinggal di mana, Ivanya?"
"Di provinsi L bagian Utara."
"Oh iya, kalau boleh tau, berapa usiamu?"
"Delapan belas tahun." jawabku. Usiaku memang belum genap delapan belas tahun, tapi dua pekan lagi baru genap delapan belas tahun.
"Hey, kenapa kau canggung sekali? Tidak apa-apa, di sini kan hanya ada kita." ucap Taka-san setelah aku menjawab beberapa pertanyaan yang dia berikan padaku.
"Justru itu yang membuatku canggung, Taka-san. Aku sangat malu." ucapku dalam hati. Jantungku berdetak tidak karuan. Berdetak cepat layaknya suara langkah kaki kuda yang sedang dipacu untuk berlari.
Tak lama kemudian, makanan sudah datang. Banyak sekali. Siapa yang akan menghabiskan semua ini? Satu meja sudah penuh.
"A.. Ano, Taka-san, anda memesan makanan?" aku masih terlalu malu untuk bertanya.
"Ada apa? Tak perlu sungkan. Aku mentraktirmu. Jadi tinggal makan saja sepuasnya. Itadakimasu!" ucapnya, kemudian segera menyantap makanannya.
Saat dia makan, aku tetap memperhatikannya. Nikmat sekali dia makan dan dia makan cukup banyak. FYI, bagi rider sepertinya, satu kali race itu bisa membakar cukup banyak kalori. Saking banyaknya, dalam sekali balapan, berat badan bisa berkurang hingga empat kilogram. Apalagi jika cuaca sedang panas atau memang race diselenggarakan di negara tropis yang bersuhu tinggi, ditambah suhu motor juga bisa sampai ratusan derajat Celcius. Maka dari itu, ban motor harus dibungkus ketika tak digunakan. Makanya, motor dapat cepat terbakar jika ada yang crash dan motornya bergesekan dengan aspal.
"Hey, kenapa kau tidak makan? Tak perlu malu." ucapnya setelah menyadari bahwa aku memperhatikannya sedari tadi.
"H.. haik." ucapku singkat, kemudian aku mulai makan dengan tenang.
Tak lama kemudian, setelah kami berdua selesai makan.
"Terima kasih sudah mentraktir, Taka-san." ucapku berterima kasih. Aku jadi merasa tidak enak.
"Sama-sama." balasnya sambil tersenyum tipis. Lagi-lagi dia membuatkan blush. Aku pun menundukkan kepalaku. Hingga, aku teringat akan sesuatu.
Aku pun membuka tas ranselku untuk mencari sesuatu. Topi dan juga spidol permanen. Kemudian..
"Ano, Taka-san. B.. boleh aku meminta tanda tangan?" tanyaku sambil memegang topi dan spidol tadi.
"Tentu saja." Balasnya sambil mengangguk. Aku pun memberikan topi dan spidol ku padanya untuk diberi tanda tangan.
Tanpa aku sadari, tanganku bergetar hebat. Aku menggigit bibirku untuk menahan malu, saat Taka sedang menandatangani topi milikku. Topi berwarna merah hitam dengan lambang 'Sayap tunggal' dan juga angka 30.
"Nah, sudah selesai." ucapnya sambil memulangkan dua benda itu padaku.
"Terima kasih banyak, Taka-san." ucapku sambil menerima. Tanganku kembali bergetar. Dia menatapku dengan tatapan bertanya.
"Ada apa dengan tanganmu? Kenapa sedari tadi bergetar terus?" tanyanya, dia belum tau perasaanku padanya. Tanpa aku duga, dia memegang pergelangan tanganku.
Tak lama kemudian,
Kling!
Muncul notifikasi pada ponselku yang tadi aku letakkan di atas meja, berhasil mengalihkan perhatian kami berdua. Layarnya menyala dan menampilkan notifikasi dari aplikasi pembelian tiket online. Tapi bukan hanya itu, wallpaper layar kunci ponselku juga terlihat jelas! Gambar Taka-san.
"Aah, aku mengerti sekarang." ucap Taka-san, apakah dia sudah mengerti kalau aku adalah penggemar beratnya? Aku jadi sangat malu.
"Mm.. Taka-san, aku.. aku harus segera pulang ke kota L. Tak lama lagi, pesawatnya akan segera berangkat." ucapku mengalihkan topik sekaligus memberitahu yang sebenarnya. Taka menundukkan kepalanya.
"Secepat itu kah?" ucapnya lirih.
"Iya, tidak lama lagi aku harus segera kembali sekolah. Apalagi aku sudah mau kelulusan." jelasku. Sebenarnya aku juga belum mau untuk pulang. Tapi, bagaimana aku sudah memesan tiketnya untuk pulang hari ini.
"Baiklah, untuk yang terakhir kalinya mungkin, aku ingin mengantarkan kamu ke bandara, bagaimana?" Taka menawarkan, apakah aku harus menerima?
"Apakah boleh? Tapi, anda tak perlu mengantarkan saya. Saya bisa sendiri." aku menolak dengan halus.
"Tidak apa-apa. Untuk penggemar terbaikku, aku rela. Lagipula belum tentu kita bisa bertemu secara langsung lagi kan?"
"B.. Baiklah kalau itu mau anda."
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
Dan pada akhirnya, Taka-san mengantarkan aku ke hotel terlebih dahulu untuk mengambil barang-barangku yang sudah aku siapkan semalam. Tidak banyak, hanya beberapa setel pakaian. Aku kan tak lama di sini. Sekitar tiga hari. Sabtu berangkat dan Senin pulang. Kenapa secepat itu? Aku tak punya siapa-siapa di sini. Jadi dari pada aku bosan, lebih baik aku pulang saja kan?
Aku telah mengemasi barang-barangku dalam tas ranselku yang lebih besar. Tasku yang tadi, aku kemasi sekalian. Saat ini, aku.. maksudku kami, kami sedang dalam perjalanan ke bandara.
Aku sedang terburu-buru saat ini, jadi Taka-san sedikit melajukan mobilnya dengan cepat. Tapi, menurutku ini bukan hanya cepat. Aku tak terbiasa. Jika aku yang mengemudikannya, aku hanya berani sampai kecepatan lima puluh kilometer per jam. Itu saja jika jalanan sepi. Dan saat ini, dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan hampir seratus kilometer per jam. Aku menggenggam sabuk pengaman dengan erat. Baru seperti ini saja, aku sudah takut. Bagaimana jika aku diboncengnya dengan motor RC213V yang dapat dipacu hingga kecepatan tiga ratus lima puluh kilometer per jam. Mungkin aku tak akan melepas pelukanku darinya sambil memejamkan mataku.
Lima menit kemudian, kami telah sampai di bandara. Bandara yang lumayan ramai, sebab sekarang sedang banyak orang yang berwisata untuk menonton race kemarin.
"Terima kasih banyak, Taka-san untuk hari ini." ucapku sambil melepas sabuk pengaman yang aku gunakan tadi.
"Tidak masalah, kan aku yang mau." jawabnya sambil tersenyum dan mengangguk pelan. Tanpa aku sadari, dia menggenggam tangan kananku.
"Ini," ucapnya sambil memberikan selembar kartu yang sepertinya adalah kartu kontak.
"Untuk apa?"
"Untuk kita berkomunikasi. Aku pasti akan merindukanmu. Fans terbaikku." ucapnya dengan santai, tapi terkesan serius. Aku dibuat bingung olehnya.
"Kenapa, anda akan merindukan saya?"
"Karena.. Aishitemasu!"
Aku sedikit membelalakkan mataku, tak percaya dengan apa yang baru saja dia katakan. Rider berusia tiga puluh tahun itu menyatakan perasaannya padaku? Tapi, kalau soal usia, aku tak menghiraukannya. Cinta tak terbatas usia.
"Aku harus bagaimana? Terima atau tidak ya?" tanyaku dalam hati. Kalau tidak diterima, aku takut kalau dia jadi kepikiran terus sewaktu balapan. Apalagi, kali ini dia menatapku dengan penuh harap. Yang aku lihat kali ini adalah wajah baby face yang tertampang di wajahnya.
"Hmm iya. Aku terima." ucapku pelan, tapi dia mampu mendengar suaraku.
"Arigatou." ucapnya padaku. Aku mengangguk, kemudian memasukkan kartu kontak yang dia berikan tadi ke dalam tasku daripada hilang kalau aku masukkan ke dalam saku.
"Taka-san, aku harus berangkat sekarang." aku berucap. Kami akan segera berpisah. Ada pertemuan, pasti ada perpisahan.
"Iya, hati-hati di jalan ya. Jangan lupa hubungi aku. Dan ini, hadiah dariku." ucapnya sambil memakaikan topi berwarna hitam yang couple dengannya. Sama persis.
"Jangan lupa di pakai saat kau menonton balapan ya. Hehe.." ucapnya sambil tertawa kecil.
"Terima kasih Taka-san. Aku berangkat." ucapku sambil membuka pintu mobil.
"Hati-hati, jangan lupakan aku ya."
"Aku tidak akan melupakanmu."
Setelah aku turun dari mobil, aku diam sebentar di dekat sana. Tak lama kemudian, aku pun kembali berjalan ke arah pintu masuk bandara. Di sana, aku melambaikan tanganku ke arahnya. Terlihat, dia juga balas melambai.
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
Aku membuka mataku, mengerjap untuk menyesuaikan dengan pencahayaan kamarku. Apakah ini hanya mimpi? Yang benar saja?
Aku menggerakkan kaki kananku, terasa sakit. Kemudian, aku melihat ponselku. Sangat aneh. Apakah keajaiban baru saja terjadi?
"Kapan foto ini di ambil?" tanyaku dalam hati setelah melihat postingan di media sosial milik Taka. Dia berfoto dengan seorang perempuan yang mengenakan hoodie berwarna hitam merah yang merupakan merchandise TN30. Perempuan itu adalah aku?! Mereka saling merangkul. Aku tak percaya dengan hal ini, kemudian aku membaca deskripsi postingannya.
"Terima kasih @ivanya_03 atas kunjungan dan pengalamannya. Aku mengharapkan kehadiranmu lagi. Selalu tersenyum ya!" itulah isi deskripsi postingannya. Dia tag akunku, dia follback juga. Dan beberapa orang lain juga mulai follow akunku.
Aku membuka galeri, apakah pengalaman ini benar-benar terjadi? Ternyata iya! Di galeriku, juga terdapat foto yang sama. Aku bingung sekali. Sepertinya aku baru saja bangun tidur kan?
Aku melihat ke arah meja belajarku. Masih seperti semula. Aku melihat ke arah meja yang tepat berada di sebelah tempat tidurku. Ada topi yang sama persis dengan yang dia berikan. Sebenarnya apa yang terjadi?
APAKAH AKU HILANG INGATAN?
----------------------------
Terima kasih sudah membaca cerita ini^^
Cerpen karya otakku yang suka traveling.
Jangan lupa like dan komen setelah membaca.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Ivanya? Jawab teka-tekinya ya!
Note :
-Hanya fiksi.
-Tidak bermaksud apapun.
-Cover : Instagram
-Jangan lupa baca yang part 2 ya!