Beberapa orang yg ada di dunia ini,biasanya memiliki ketakutan berlebih terhadap sesuatu atau yg biasa disebut fobia.Dan dari sekian banyaknya jenis-jenis fobia yg ada,salah satunya bernama Automysophobia yg merupakan fobia terhadap hal-hal yg dianggapnya kotor.Orang-orang yg mengidap Automysophobia akan berusaha sekuat tenaga untuk terhindar dari kemungkinan terkena hal-hal kotor di sekitarnya.Dan beberapa diantaranya akan sampai menarik diri dari lingkungan sosialnya.
Naomi Everlee,adalah nama dari seorang remaja perempuan yg mengidap Automysophobia.Fobia ini diidapnya ketika ia mencapai usia 7 tahun.Kala itu,ia seperti biasanya berjalan-jalan dengan kedua orangtuanya hingga ia tak sengaja menginjak sesuatu yg baginya benar-benar menjijikkan dan semacamnya.Sejak saat itulah,Naomi mengidap Automysophobia.Alasan ini memang terdengar sepele,tapi bagi Naomi,hal itu benar-benar menyerang keadaan mentalnya.
"Oh,jadi itu si anak baru yg katanya selalu merasa jijik kalau dekat dengan seseorang?"
"Namanya Naomi Everlee kan?Haha,benar-benar anak yg sok cantik!"
"Katanya dia mengidap auto apalah itu,haha!"
Hari itu adalah hari pertama Naomi di sekolah barunya setelah ayahnya dipindah tugaskan ke kota/daerah tersebut.Ia bahkan belum melakukan apa-apa disana,tapi rumornya tentangnya yg mengidap Automysophobia sudah menyebar luas.Naomi sudah menduga kalau respon orang-orang terhadapnya akan menjadi demikian.Jadi ia tidak kaget lagi dengan respon mereka.Sudah pasti Naomi tidak akan mendapatkan satupun teman seperti dia di sekolah sebelumnya,dan semua itu karena fobianya.
"Walaupun aku tidak punya teman,setidaknya kehidupanku menjadi agak damai.Walau tidak setiap saat"Gumam Naomi sambil berdiri di depan pembatas yg ada di atap sekolah.
Setelah menjelajahi seluruh sudut sekolah dengan HATI-HATI,Naomi akhirnya menemukan tempat,yakni atap sekolah yg cocok untuknya bersantai dari perundung yg selalu mencari masalah dengannya.Setelah berdiri beberapa saat disana,Naomi kemudian membalikkan badannya lalu berjalan kembali ke kelas.Saat sedang berjalan di koridor menuju kelasnya,ia secara tak sengaja menabrak seorang remaja perempuan yg tampak seumuran dengannya sampai ia terjatuh ke lantai.
Naomi terkejut melihat perempuan yg ditabraknya itu,"Oh tidak,ini adalah hari pertamaku tapi aku sudah mengacau dengan menabrak seorang nona bangsawan!"Batinnya.
"Cepatlah meminta maaf kepada Erin!"Bentak seorang perempuan di sebelahnya.
Karena kerumunan orang-orang di sekitarnya,Automysophobia yg diidap oleh Naomi langsung kambuh.Ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak bersentuhan langsung dengan orang lain karena takut akan adanya hal kotor yg menempel di tubuhnya.Pupil matanya bergetar begitu juga dengan tubuhnya karena fobianya yg kambuh itu.
"Enyahlah kalian semua!!"Dalam satu gertakan dari Erin,semua orang yg berkerumun langsung mundur dan beberapa di antaranya kembali ke kelas mereka masing-masing karena takut pada Erin yg merupakan seorang nona dari keluarga bangsawan di masa modern ini.
Erin kemudian berdiri dari posisinya yg sebelumnya dan menatap Naomi dengan tatapan kasihan dan khawatir.
"Maafkan aku,Naomi.."
Orang-orang di sekitar mereka bahkan Naomi yg masih dalam keadaan panik terkejut akan perkataan Erin.Nona dari keluarga bangsawan terhormat meminta maaf kepada seorang rakyat biasa seperti Naomi?
"T-tidak..seharusnya saya yg meminta maaf,nona Erin.Baju anda pasti menjadi kotor gara-gara saya..menabrak anda tadi"Dengan pandangan yg masih agak kabur dan masih dalam lingkup kambuhnya fobianya,Naomi berusaha untuk tetap berdiri tegak di hadapan Erin.
"Kenapa jadi kau yg meminta maaf kepada perempuan berfobia aneh itu?!"Ucap perempuan yg tadi memaksa Naomi untuk meminta maaf kepada Erin.
*PLAK*
"Eh..?"Kagetnya ketika tamparan Erin yg begitu keras menampar wajahnya yg bisa dibilang cantik dan juga mulus.
Erin membuka kedua sarung tangannya tersebut,tapi ketika ingin menggantinya dengan yg baru..
"Aku..lupa membawa sarung tangan cadangan..?"Batin Erin kemudian memasukkan sarung tangannya tadi ke saku roknya sambil menghela napas.Ia lalu mengalihkan pandangannya ke perempuan yg baru saja ditamparnya.
"Cecilia Quenz,tinggikan lagi nada bicaramu kepadaku dan mungkin aku akan memberimu hukuman yg jauh lebih parah dari sekadar tamparan di wajahmu"Ancam Erin sambil menatap tajam Cecilia.
Alasan Erin menampar Cecilia bukan hanya karena nada bicaranya yg ditinggikan olehnya,tapi juga karena kata-katanya yg menyebut Naomi sebagai 'perempuan berfobia aneh'.Erin sangat tersinggung akan perkataannya itu karena Cecilia seakan-akan menyindirnya juga sebagai seorang perempuan yg juga memiliki fobia.
Erin menghela napas sambil menggelengkan kepalanya,"Minta maaflah kepada Naomi sekarang"Perintahnya kepada Cecilia yg berujung dibalas anggukkan pelan Cecilia yg tidak terima dirinya diminta untuk meminta maaf kepada seorang rakyat biasa.
Mau tidak mau,Cecilia harus melangkah ke depan Naomi dan meminta maaf kepadanya."Maafkan aku"Ucapnya singkat.
"A-ah tidak apa-apa..saya tidak masalah"Jawab Naomi seraya mundur 1 langkah dari posisinya.
Erin membuka lebar matanya sambil tersenyum kemudian mulai berjalan ke arah Naomi..
"Apakah permintaan maaf dari Cecilia kurang untukmu?Atau apakah kau masih gemetaran karena fobiamu?"Ia melontarkan 2 pertanyaan kepada Naomi secara beruntun sampai Naomi belum sempat menjawab salah satu pertanyaannya.
Karena kondisi mentalnya akibat fobianya yg kambuh belum kembali normal,Tubuh Naomi langsung linglung dan hampir terjatuh tapi untungnya Erin menggenggam tangannya sebelum dia jatuh tanpa SARUNG TANGAN.Hal tersebut menimbulkan kegaduhan di antara mereka,begitu juga dengan Cecilia yg melihat kejadian itu.Ia merasa begitu senang karenanya.Alasannya?Fobia Erin,yakni Haphephobia.
Haphephobia adalah kondisi kecemasan yg ditandai dengan rasa takut akan sentuhan fisik dengan seseorang.Itulah alasan kenapa Erin mengenakan sarung tangan yg tidak lain karena fobianya bersentuhan langsung dengan orang lain.Tapi karena sekarang ia menggenggam tangan Naomi tanpa sarung tangan,Cecilia berpikir kalau Erin akan langsung melepaskan tangan Naomi dan ia akan terjatuh dengan keras ke lantai.Tapi nyatanya...
"Kemari,biar aku bawa kau ke uks"Ucap Erin sambil memapah Naomi menuju uks yg untungnya letaknya tak jauh darisana.
Keadaan semakin gaduh saat fobia Erin tampak tak terlihat sedikitpun ketika memegang tubuh Naomi tanpa kedua sarung tangannya.Di uks..
"Saya berterima kasih kepada anda karena membawa saya kesini,nona Erin.Tapi ada satu hal yg membuat saya bingung"Ucap Naomi kepada Erin.
"Apakah itu soal fobiamu?"Tebak Erin sambil tersenyum yg mana tepat mengenai sasaran.
Naomi agak terkejut karena tebakan Erin bisa tepat seperti itu,"B-benar,nona.Saya bingung kenapa saat anda memapah saya kesini tadi,saya tidak merasakan sedikitpun gejala fobia saya kambuh lagi.Biasanya ketika saya bersentuhan dengan orang lain,keadaan saya akan mulai memburuk apalagi tadi fobia saya sempat kambuh lagi.Yg mana itu..cukup aneh"Jelas Naomi seraya mengalihkan pandangannya dari Erin yg terus menatapnya dari jarak yg cukup dekat.
Erin terkekeh mendengarnya lalu berkata,"Kau mau tahu kenapa?"
Dengan cepat,Naomi langsung menganggukkan kepalanya.
"Itu karena kita adalah saudari.."Ucap Erin singkat yg ditanggapi dengan ekspresi kebingungan Naomi.
"Hah?Tapi ibu dan ayah saya tidak pernah mengatakan apapun tentang saya yg memiliki saudari.Apalagi,anda adalah seorang bangsawan keluarga terhormat-
"Benar.Dan keluarga terhormat itu adalah keluarga aslimu"Erin memotong perkataan Naomi dengan menaruh jari telunjuknya di bibir Naomi.
"Jadi maksud anda,Pasangan Everlee bukanlah orangtua kandung saya?"
Pertanyaannya itu dijawab dengan anggukkan pelan Erin.
Erin menggenggam kedua tangan Naomi dan menaruhnya di pipi kanannya,"Senang bertemu denganmu lagi..saudariku."
Naomi benar-benar tidak bisa berkata apa-apa saking manipulatifnya Erin di setiap kata-kata yg dipakainya.Ia bahkan bingung akan semua yg terjadi disini tapi tak berani menanyakannya kepada Erin.Naomi terlalu takut..
Para siswa-siswi lainnya yg memperhatikan dari luar ruangan,tercengang akan pemandangan langka itu.Bagaimana bisa seorang pengidap Haphephobia dengan nyamannya menggenggam tangan sampai memeluk orang lain sedemikian rupa seolah fobia itu bukanlah apapun lagi?Bahkan Cecilia sangat kesal melihat hal itu,"Naomi Everlee,aku bersumpah akan membuat hidupmu menderita atau namaku bukanlah Cecilia Quenz!"Ia menggigit ibu jarinya saking kesalnya.
"N-nona-
"Kakak."Tegas Erin.
Naomi memiringkan kepalanya sambil berkata,"Kakak?"Yg kemudian dibalas anggukkan Erin yg bersifat senang/gembira karena walaupun masih canggung dan bingung,Naomi mau memanggilnya kakak.
"Kakak,sekarang..sudah waktunya kelas.Apakah kakak tidak mau pergi?"Tanya Naomi dengan perasaan yg masih canggung.
"Tentu aku akan pergi.Kau tetaplah disini saja karena efek dari fobiamu yg kambuh belum sepenuhnya hilang.Aku akan mengirimkan seseorang untuk mengurusmu selama aku di kelas.Dan karena kelas kita sama,aku akan memberikanmu catatan pelajarannya.Oleh karena itu,tetaplah disini ya?"Jelas Erin sambil tersenyum menyeringai.
Naomi baru saja akan membuka mulutnya tapi Erin tiba-tiba saja berkata,"Aku tidak mau mendengar kata penolakan keluar dari mulutmu,saudariku."
"B-baik"Jawabnya gugup karena Erin menatapnya dengan jarak yg jauh lebih dekat dari sebelumnya.
Erin tersenyum kemudian berdiri dari posisinya yg sebelumnya duduk,setelah itu ia mengusap kepala Naomi sampai ia menjadi sedikit merona karena perlakuannya.
"Sampai jumpa nanti,saudariku"Ucapnya lalu meninggalkan Naomi sendirian di uks.
Beberapa saat setelah Erin meninggalkan Naomi,seseorang mengetuk pintu uks kemudian langsung membukanya sebelum Naomi sempat menjawabnya.
"Jadi anda adalah nona Naomi,saudari dari nona Erin?"Tanya orang itu sambil tersenyum lekat.
"Begitu kata..kakak"Orang itu terkekeh melihat Naomi yg sedikit merona karena menyebut Erin sebagai kakak.Di matanya,sosok Naomi itu adalah orang yg benar-benar manis,lugu,dan cantik tentunya.
Naomi kemudian menatap orang itu dan tentunya dengan perasaan sedikit panik karena fobianya.
"Tolong berdiri disitu saja.Saya agak kurang nyaman kalau ada seseorang di dekat saya.."Jelas Naomi dengan keadaan tubuh yg mulai gemetar.
Orang itu tersenyum polos dengan wajahnya yg begitu tampan,"Nona Erin sudah mengatakan kepada saya soal kondisi anda,nona Naomi."Seketika itu juga,Naomi langsung merasa malu sampai kedua pipinya menjadi seperti tomat yg begitu merah.
"Perkenalkan,nama saya adalah Aiden Alastair.Orang yg akan merawat anda sekarang sampai nona Erin menyelesaikan pelajaran beliau di kelas.Nona Erin meminta saya untuk menemani anda disini dan anda tidak diperbolehkan untuk keluar dari ruangan ini 1 cm saja.Begitu kata beliau"Jelas Aiden sambil terus tersenyum kepada Naomi.
Naomi tidak bisa sedikitpun membantah perkataannya yg disampaikan dari Erin melaluinya,ia tidak tahu apakah ia harus senang karena ternyata dia adalah nona bangsawan sekaligus saudari Erin Delvaux atau malah sedih karena pergerakannya tiba-tiba saja dibatasi oleh Erin?Semua hal ini membuat kepala Naomi rasanya akan pecah sebentar lagi.
"Apa anda merasa tidak nyaman?"Tanya Aiden kepada Naomi yg duduk agak jauh di ujung sisi kasur uks.
Ia langsung panik begitu ditanya demikian oleh Aiden,"Ah,bukan begitu.Saya memang selalu seperti ini saat berdekatan dengan orang lain,kecuali kakak.Entah kenapa rasanya fobia saya tidak akan kambuh sekalipun bersentuhan dengan kakak,padahal biasanya walau hanya menyentuh sedikit bagian tubuh orang lain,saya akan..kambuh lagi."
Aiden mengedipkan matanya beberapa kali lalu tersenyum sambil menahan tawanya,"Apakah anda tahu?Seorang pengidap Automysophobia bukanlah takut bersentuhan dengan orang lain,tapi takut tubuhnya menjadi kotor.Berbeda dengan Haphephobia.Salah satu cara menghilangkan fobia adalah dengan menghadapi fobia itu sendiri.Nah,coba anda sentuh tangan saya atau kalau memungkinkan,anda boleh menggenggamnya"Jelas Aiden sambil mengulurkan telapak tangannya kepada Naomi.
Ia menarik napas dalam-dalam dan menutup kedua matanya saat hendak menyentuh telapak tangan Aiden.Tubuhnya mulai gemetaran,dan detak jantungnya berpacu dengan cepat tanda fobianya mulai kambuh lagi.Tapi Naomi berusaha untuk melawan ketakutannya itu dan memegang telapak tangan Aiden sampai menggenggam erat tangannya.
Tubuhnya tiba-tiba saja berhenti gemetar setelah beberapa saat menggenggam tangan Aiden yg mengenakan 2 sarung tangan hitam.Naomi menatap ke arah tangan Aiden yg digenggam olehnya dan mengedipkan matanya beberapa kali saking tak percayanya.
"Ternyata anda benar.Fobia saya akan menghilang kalau melawan ketakutan saya ini"Ucap Naomi sambil merekahkan senyuman sehangat sinar mentari di musim panas.
"Tapi anda tidak boleh terlalu senang,nona Naomi.Fobia anda ini belum hilang secara sepenuhnya tapi masih dalam proses pemulihan sama halnya dengan nona Erin yg mengidap Haphephobia sejak kecil.Nona Erin juga belum sepenuhnya terlepas dari fobianya tapi setidaknya,beliau tak akan menunjukkan reaksi berlebihan ketika seseorang bersentuhan dengannya berkat sarung tangan yg beliau pakai"Jelas Aiden kemudian mengelus tangan Naomi.
*TOK TOK TOK*
Tampak di ambang pintu uks,Erin sudah berdiri menatap kedua orang itu dengan tatapan tajam karena tidak senang,"Aiden Alastair,aku sudah memperingatkanmu untuk tidak..mendekati saudariku."
Entah apa yg merasuki pikiran dan hati Naomi ketika ia melihat Erin,ia langsung melepaskan genggaman tangannya dan berlari ke arahnya lalu memeluk erat dirinya.Kemarahan Erin kepada Aiden yg mengambil kesempatan ketika ia tidak ada,seketika itu sirna karena Naomi.Wajah bahagianya itu benar-benar seperti sinar hangat yg menghangatkan hatinya.
"Hmm..Kelihatannya kau sudah terbiasa dengan menganggapku sebagai saudarimu ya?"Bisik Erin di telinga Naomi sambil mengelus-elus kepalanya lagi.
Naomi menundukkan kepalanya dan mengetukkan kedua jari telunjuknya antar satu sama lain,"Apakah kakak merasa tak nyaman?Kakak kan pengidap Haphephobia?"Tanyanya dengan perasaan sedih dan khawatir.
"Tidak,tentu saja tidak,Naomi.Kau adalah saudariku dan mana mungkin aku sebagai kakak merasa tak nyaman di dekatmu?Dan untukmu,Aiden.Sekalipun kau adalah sepupu kami,jangan coba-coba untuk melakukan 'sesuatu'!"Ia menyipitkan matanya kala melihat ke arah Aiden yg hanya berdiri sambil menatapnya.
Aiden terkekeh sambil memutar bola matanya mendengar ceramah singkat Erin."Kan anda sendiri yg menyuruh saya untuk menemani nona Naomi ketika anda sedang di kelas.Jadi saya dengan sukarela meninggalkan kelas tercinta saya untuk menemani beliau atas suruhan anda.Lagipula,saya meminta nona Naomi untuk memegang tangan saya supaya bisa membantu beliau dalam terapi kecil supaya Automysophobia beliau hilang sedikit demi sedikit.Lalu anda menceramahi saya setelah semua yg saya lakukan?Saya benar-benar sakit hati loh~"Dia berakting seolah-olah sedang terisak karena perlakuan kejam Erin.
Kakak sepupu perempuan Aiden itu tersenyum dengan raut wajah dingin,"Kelihatannya kau sudah berani ya sekarang?Very well,Aiden.Aku akan meminta paman untuk mengirimmu ke pelosok besok.Kau tahu kan kalau paman tidak bisa menolak permintaanku?"Ia langsung mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor pamannya dan disaat itu juga,Aiden langsung berlari ke arah Erin dan memegang kakinya.
"Lepaskan..kakiku"Mata Erin melotot ketika tangan Aiden memegang kakinya.Dia berusaha sekuat tenaga agar fobianya itu tidak kambuh lagi dengan metode yg dilakukan oleh psikolog pribadinya.
Aiden sesaat lupa akan fobia Erin dan setelah sadar,ia langsung melepaskan tangannya dan bersujud di hadapan Erin."Saya benar-benar tidak sengaja,nona Erin.Jadi,tolong jangan minta ayah saya mengirim saya yg menyedihkan ini ke pelosok ya?"Dia mengangkat kepalanya dan menatapnya.Erin rasanya ingin sekali menginjak kepala Aiden itu karena sebelumnya sudah berani mendekati Naomi.
"Jika kau melakukannya lagi,kupastikan kau akan tinggal di pelosok negeri sampai akhir hayatmu..SENDIRIAN"Erin pun menarik Naomi yg masih melongo setelah melihat kejadian itu pergi darisana.
"Haishh..benar-benar seorang kakak sepupu yg nggak punya hati,hiks.."
Erin menarik Naomi menyusuri koridor sekolah menuju ke kelas mereka dengan tujuan untuk memberikannya catatan tadi.Disana..
"Salinlah di bukumu,atau kalau perlu foto saja karena aku tak punya banyak waktu,Naomi.Setelah hari ini,kau harus menemuiku di Mansion Alation besok dan.."Ucapnya kemudian,"Jangan lupa bawa beberapa barangmu"Sambung Erin sambil berbisik di telinga Naomi yg lalu dibalas anggukkan mengerti.
Erin tersenyum lebar seraya menatap Naomi kemudian mengusap kepalanya lagi "Aku senang bertemu denganmu lagi."
Semua orang dikelas hanya bisa melongo melihat hal tak terduga seperti itu.Yg dibicarakan disini adalah ERIN! ERIN DELVAUX!!
Sepanjang hari itu,Erin terus bersama dengan Naomi sampai terkadang saudarinya itu merasa risih karena selalu disorot oleh mata-mata siswa/i lainnya yg benar-benar membuat punggungnya jadi panas.Ia bukanlah orang yg suka menjadi sorot perhatian,apalagi dengan Automysophobia yg diidapnya.Rasanya ia ingin muntah disaat itu juga tapi terus ditahan olehnya.
Hari itu pun berakhir dan Erin mengantarkan Naomi kembali ke rumah yg sudah ditinggalinya sejak kecil.
"Kalau begitu sampai jumpa besok,saudariku"Erin hendak berjalan pergi darisana menuju mobilnya tapi tangannya ditahan oleh Naomi.
Ia tampak hampir menangis saat memegang tangan Erin saat itu."Tidakkah kakak ingin masuk sebentar?"Ucap Naomi seraya menahan tangisnya dengan senyuman manis.
"Begitu saja dan kau hampir menangis?Saudariku ini ternyata sangat emosional ya?"Erin terkekeh lalu mengiyakan ajakan Naomi untuk masuk ke dalam rumahnya.
Rumah Naomi walau kecil tapi terlihat sangat layak untuk ditinggali,sehingga Erin menarik kata-katanya untuk menghukum pasangan Everlee kalau rumah yg ditinggali Naomi tidak layak.Dia senang karena pasangan itu tetap menjalankan tugasnya untuk mengasuh Naomi sebagai anak mereka sendiri seperti yg sudah ditugaskan oleh kakeknya,Gavin Delvaux.
"Maaf kalau rumah ini sangat kecil kalau dibandingkan dengan Mansion Alation yg kakak tinggali,"Ujar Naomi sambil berjalan ke dapur untuk menyiapkan sesuatu untuk Erin yg saat ini sedang melihat-melihat rumah itu."Walaupun demikian,rumah ini memiliki banyak kenangan antara saya dengan pasangan Everlee yg begitu baik itu.Saya senang bisa diasuh oleh mereka..kakak."Sambungnya atas perkataannya yg sebelumnya.
Erin menganggukkan perkataan Naomi seraya duduk di kursi yg ada di dekat dapur minimalis rumah tersebut.Ia benar-benar terkesan akan desain rumah yg begitu minimalis itu,langit-langit rumahnya diwarnai dengan warna biru gelap dengan tambahan sedikit detil awan dan bulan yg bersingguhan.Gorden yg dipasang pada jendela pun menggunakan kain satin berwarna biru yg teramat serasi dengan warna langit-langit rumahnya.Dan sebagainya yg juga serasi dengan kedua hal tersebut.
"Pasangan Everlee membesarkanmu dengan sangat baik,saudariku.Aku akan memberikan imbalan atas perbuatan mereka sebagai balasannya"Ucap Erin sambil menghubungi salah satu orangnya.
Ponsel Erin yg hendak menghubungi salah satu orangnya itu berdering sebentar kemudian langsung diangkat olehnya yg lalu berucap,"Sore,nona Erin.Apa ada yg bisa saya bantu di sore yg indah ini?"Tanya orang di sambungan telfon itu pada Erin.
"Berikan imbalan kepada Pasangan Everlee sesuai dengan perlakuan mereka yg baik karena telah mengurus saudariku,Emma"Perintah Erin kepada Emma yg bicara dengannya di telfon.
Tak ada sedikitpun jawaban keluar dari mulut Emma dan Erin tahu betul kalau asistennya yg setia itu sedang kebingungan dengan kata "Saudariku" yg baru ia ucapkan saat menjelaskan perintahnya.Dan juga,hari ini Emma sedang ada sedikit urusan sehingga tidak bisa menyertai Erin di sekolah jika saja ada suatu hal yg ia inginkan,seperti sarung tangan.
"Maafkan saya,nona.Tapi apa maksud anda dengan..saudari?"Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Emma juga.
Erin tertawa senang sambil menatap bagian belakang Naomi dari sudut matanya kemudian menjawab,"Saudariku,Naomi Delvaux sudah ditemukan..Emma"Singkatnya.
"Begitu ya?Baik,akan saya laksanakan perintah anda sebelumnya.Sampai jumpa nanti,nona Erin"Ia langsung memutus sambungan telfon antara dia dan Erin disaat itu juga.Walaupun Emma seperti bahagia dengan kabar itu,tapi entah kenapa Erin merasakan hawa dingin ketika Emma berucap demikian.Dia seperti marah?
Erin menggelengkan kepalanya tak percaya akan intuisinya dan tersenyum pada adiknya yg sudah selesai mempersiapkan teh dan beberapa kukis untuknya.Ia lalu meneguk teh mawar buatan Naomi dan langsung terdiam saat merasakan rasanya yg begitu..SEMPURNA! Padahal Naomi tidak pernah mengenal Erin,tapi dengan dia yg mengetahui selera Erin ketika minum teh,benar-benar akan membuat orang beranggapan kalau mereka sudah tinggal lama bersama-sama.
Sudut pipinya memperlihatkan sedikit rona merah tanda Erin yg sangat-sangat senang di saat itu.
"A-ah sepertinya rasa sangat buruk ya?Maafkan saya,kakak.Soalnya,pasangan Everlee baru mengajari saya cara menyeduh teh 2 minggu lalu"Naomi langsung gelagapan karena panik akan rasa tehnya yg diduganya sangat buruk padahal sebaliknya.
Kakaknya itu tersenyum menyeringai melihat reaksi Naomi yg seperti itu,"Rasakan saja sendiri,lalu beritahu aku akan bagaimana rasanya."
Ucapan Erin itu semakin membuat Naomi panik dan akhirnya mau tak mau mengikuti perkataannya.Satu hal yg paling ditakutinya adalah RASANYA.
Setelah meneguk tehnya sendiri,Naomi seketika itu juga dipenuhi rasa kebingungan."Aneh,rasa teh ini cukup pas kalau menurut saya,kakak.Rasa manisnya langsung terasa begitu tehnya menyentuh lidah saya.Tidak ada sedikitpun rasa pahit di dalamnya"Jelas Naomi sambil menatap bingung Erin.
"Itulah yg kurasakan ketika meminum tehmu"Erin terkekeh karena reaksi Naomi setelahnya yg langsung mengembungkan pipinya dan menatap kesal dirinya.
*TOK TOK TOK*
Dari arah luar tiba-tiba saja terdengar suara seseorang yg mengetuk pintu rumah Naomi.
"Sepertinya ada tetangga yg ingin meminta bantuan.Aku akan pergi mengecek tetangga mana yg sedang mengetuk,kakak."
Ia melangkah maju ke depan pintu dan membukakan pintunya untuk orang yg tak diketahui itu.Naomi menatap beberapa orang tersebut kemudian bertanya,"Maaf tapi anda semua ada keperluan apa ya?Melihat wajah asing anda semua,pasti anda bukan dari daerah sini"Ucap Naomi kepada mereka semua.
Erin melirik sedikit ke arah pintu dan agak kaget melihat orang-orang itu yg tidak lain adalah bawahan Cecilia yg bertugas untuk mengeksekusi atau lebih tepatnya membuat target yg diminta Cecilia jadi tidak berani menampakkan wajahnya di depan Cecilia.
*TAP TAP TAP*
Dia berjalan dengan cepat ke arah pintu dan menarik Naomi ke belakangnya kemudian menatap tajam semua orang tersebut.
"Apa tujuan kalian?!"Tanya Erin.
"Yg mana di antara kalian adalah Naomi Everlee?"Tanya orang yg paling depan dengan tatapan bengis mengarah kepada mereka.Bukannya mendapatkan jawaban yg mereka inginkan,wajah dari orang yg tadi bertanya itu langsung terkena kepalan tangan Erin yg melayang dengan sempurna ke pipi kirinya.
Erin lalu mundur sedikit dari posisinya bersamaan dengan Naomi yg mengikuti langkahnya.Ia sedikitpun tidak mengalihkan pandangannya dari para bawahan Cecilia itu.Erin di saat itu langsung membisikkan sesuatu,"Bersembunyilah di balik meja dapur.Hal ini biar aku saja yg urus..saudariku."Ucapan Erin tersebut dengan cepat langsung di anggukkan oleh Naomi yg kemudian langsung berlari menuju meja dapur panjang yg berada tak jauh darinya.
Erin menghela napas lega karena sekarang Naomi sudah ada di tempat yg setidaknya memiliki keamanan sedang karena dirinya yg berhaga tepat di depannya menghalau para bawahan Cecilia.
"Cepat ringkus mereka berdua!!"Perintah orang yg tadi dipukul wajahnya oleh Erin.
Ia tersenyum menyeringai kemudian menghajar orang-orang itu satu persatu sampai darah mereka menetes kemana-mana.Orang mungkin akan berpikiran,'Kemana perginya fobia itu?' walaupun kondisi Erin dari luar tampak baik-baik saja,tetapi dari dalam rasa mual dan pusing bercampur aduk karena harus bertarung melawan mereka/bersentuhan dengan mereka.
"Tunggu saja,Cecilia.Aku tak akan memaafkanmu karena sudah berani menargetkan saudariku!"Batin Erin kemudian dalam sekejap menjatuhkan mereka semua sampai tak bisa bangkit kembali.
Kondisi rumah Naomi menjadi begitu berantakan dengan tambahan darah orang-orang tersebut akibat kebrutalan dari amarah Erin yg sudah memuncak karena dalangnya,yakni Cecilia.Tentu saja kondisi tersebut membuat fobia Naomi kambuh kembali dan ia langsung cepat-cepat berlari menuju kamar mandi karena perutnya yg sudah bergejolak.Saat sampai di dalam kamar mandi,Naomi langsung mengunci pintunya dan memuntahkan isi perutnya saking mualnya dia.Setelahnya,ia mengambil obat yg diberikan psikolog untuknya lalu meminumnya demi meredakan efek kambuhnya fobianya.
Selesai menjatuhkan mereka semua,Erin kemudian pergi mencuci tangannya,membasuh wajahnya,dan juga berkumur untuk sedikitnya menghilangkan efek dari Haphephobia-nya.Ia menarik napas dalam-dalam lalu berjalan menuju kamar mandi dengan pintu yg terkunci dari dalam karena Naomi.Erin mengetuk pintunya pelan-pelan agar tidak mengejutkan Naomi yg ada di dalam.
"Naomi,semuanya sudah selesai sekarang.Tapi alangkah baiknya kalau kau tetap di dalam sampai Emma dan yg lainnya datang membersihkan..semua kekacauan di dalam rumahmu ini.Kau bisa saja pingsan kalau melihatnya"Jelas Erin dengan suara yg begitu halus.
Tidak ada satupun jawaban dari dalam kamar mandi sehingga membuat Erin sedikit khawatir akan kondisinya."Naomi?"Ucapnya dari luar.
Sesaat setelah menyebut nama Naomi,dari dalam kamar mandi terdengar suara isak tangisnya yg sudah pasti berasal dari Naomi.'Dia pasti ketakutan' begitu anggapan Erin setelah mendengar isak tangisnya itu.
"Aku minta maaf kalau tindakanku membuatmu ketakutan bahkan membuat fobiamu kambuh.Tapi aku tidak memiliki pilihan lain demi..melindungimu,saudariku"Erin kemudian duduk di depan pintu kamar mandi sambil menunggu kedatangan Emma dan yg lainnya.
"T-tidak,kakak.Saya memaklumi tujuan kakak untuk melindungi saya.Semua ini terjadi karena saya yg lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa.Apalagi dengan kondisi saya yg masih mengidap Automysophobia"Naomi benar-benar menyalahkan dirinya sendiri atas semuanya yg terjadi.
Keduanya saling diam selama beberapa waktu sampai Emma dan timnya datang karena panggilan Erin sebelumnya.Mereka semua melongo melihat kekacauan yg diperbuat Erin yg bahkan tidak bisa dibayangkan oleh siapapun.Walau para bawahan Cecilia itu tidak mati,tapi darah yg menetes kemana-mana membuat keadaannya terlihat kalau mereka sedang di ambang kematian.
"Bersihkan jalan yg akan dilalui oleh saudariku,Emma"Perintahnya kepada Emma yg sudah berada di depan matanya.
"Tentu saja,nona"Jawab Emma yg kemudian membuat Naomi yg berada di dalam kamar mandi menjadi agak kaget karena suaranya.
"Suara..pria?"Gumam Naomi di tengah isak tangisnya.
Selang beberapa saat,seseorang membuka pintu kamar mandi itu dari luar menggunakan kunci cadangan yg diletakkan di bawah sebuah vas bunga tulip.Dan orang itu adalah..
"Senang bertemu dengan anda,nona Naomi.Saya adalah Emmanuel Andreus dan saya sekarang akan membawa anda keluar darisini.Jadi,tolong kenakan penutup mata hitam ini karena kondisi di luar belum sepenuhnya bersih"Jelas Emma sambil memberikan sebuah penutup mata hitam kepada Naomi.
"Wanita lemah.."Gumamnya saat sudah memberikan penutup matanya kepada Naomi.
Walaupun pria yg dipanggil sebagai 'Emma' oleh Erin berkata demikian,Naomi tak ambil pusing karena itu memang kenyataannya.Dan lagi,ia terlalu lelah untuk berdebat dengan Emma dan langsung mengenakan saja penutup matanya.Emma lalu menuntun Naomi menuju pintu keluar kemudian membawanya masuk ke dalam mobil di bagian belakang bersama dengan Erin yg sudah mengganti bajunya dengan baju bersih.
Tanpa berkata terlalu banyak,Emma langsung menutup pintu mobilnya dan duduk di bagian depan setelah itu menjalankan mobilnya menuju Mansion Alation/Alate.Sesampainya disana..
"Tuntun Naomi ke kamarnya,Emma.Setelah itu temui aku di ruang belajarku"Tidak biasanya Erin tidak menatap Emma ketika memberikannya perintah sehingga membuat Emma/Emmanuel menjadi khawatir.
"Baik,nona"Jawabnya singkat kemudian sesuai dengan perintah Erin,ia membawa Naomi menuju kamarnya.
*CKLEK*
Emma menarik gagang pintu sebuah kamar yg disiapkan khusus untuk Naomi dari lama.
"Selamat menikmati waktu anda disini,nona Naomi."
Ia benar-benar menunjukkan sikap tidak sukanya kepada Naomi dengan sangat jelas sampai-sampai menuntup pintu kamar Naomi dengan keras.Dalam perjalanan menuju ruang belajar Erin,Emma melangkah dengan langkah kaki berat layaknya seseorang yg teramat marah/tidak suka akan sesuatu.
"Apa yg ingin anda bicarakan dengan saya sampai memanggil saya kesini,nona Erin?"Tanya Emma kepada Erin sambil berdiri tegak tepat di hadapannya.
Sambil merapikan beberapa hal yg ada di atas mejanya,Erin berkata,"Akui kesalahanmu."Emma langsung kaget disaat itu karena tak tahu apa kesalahannya kepada Erin sampai-sampai ia diminta untuk mengaku.
"Cepatlah,Emma.Aku tak memiliki banyak waktu sekarang"Ia menatap tajam Emma sampai bulu kuduk asistennya itu berdiri/merinding karenanya.
"Tapi apa kesalahan saya?!"Emma bertanya balik karena benar-benar tak tahu akan kesalahan apa yg telah diperbuatnya.
Erin tersenyum sinis melihat Emma,"Emmanuel Andreus,jangan berpikir kalau aku tidak tahu kalau kau menyebut saudariku dengan sebutan 'Wanita Lemah'.Lily sudah melaporkannya kepadaku dan dia bilang kalau kau berkata demikian ketika kau berdua dengan Naomi.Menurutmu,apa yg akan aku lakukan atas kesalahanmu ini,Emma?"Tegasnya kepada Emma.
Emma yg hendak membuka mulutnya untuk mengatakan pembelaan atas dirinya langsung dipotong oleh Erin."Aku tahu kau ingin memberikan pembelaan atas perkataanmu kepada Naomi,Emma.Coba katakan kepadaku."
"Saya mengatakan itu karena nona NAOMI hanya menjadi beban bagi anda saja! Bahkan melihat darah sedikit saja sampai seperti itu,apakah beliau pantas menjadi saudari anda?! Dan juga,memangnya sudah pasti kalau nona Naomi adalah saudari anda!?"Emma menaikkan nada bicaranya pada Erin.
"Emma,dari dulu kau itu adalah seorang pria bangsawan Baron yg sangat pintar bahkan mendapatkan pujian dan hormat dari bangsawan lain yg masih ada sampai sekarang.Aku pun mengakui kepintaranmu sampai merekrutmu sebagai asistenku.Tapi hari ini,kau sama sekali tidak MENCERMINKANNYA"Erin benar-benar marah karena Emma sudah mengatai saudarinya dengan kata menyakitkan seperti itu dan masih saja menghinanya dari belakang.
"N-nona!"Ucap Emma berniat untuk melanjutkan pembelaannya.
"Keluar."
"Y-ya?"Kagetnya saat mendengar perintah singkat Erin.
"ENYAHLAH DARI HADAPANKU!"Erin yg merupakan wanita bangsawan dari keluarga Duke yg terhormat itu bahkan sampai menaikkan nada bicaranya sudah pasti amarahnya sudah memuncak,Emma..pun tahu akan hal itu.Dia langsung menutup mulutnya dan berjalan keluar sesuai dengan perintah Erin.
*KLEK*
Emma menutup pelan pintu ruang belajar Erin kemudian berdiri dengan kaki gemetaran di depannya.
*TES TES TES*
Pria bangsawan yg selama hidupnya tidak pernah menangis hari ini dibuat menangis oleh nona yg sudah dia layani sejak masih berusia 18 tahun yg saat itu Erin sudah debut di pergaulan kelas atas.
"Aku telah salah menghina,nona Naomi.Aku tidak tahu kalau nona Erin akan semarah itu ketika tahu.Aku..aku harus meminta maaf sekarang.."Batin Emma sambil mengusap air matanya kemudian berjalan menuju kamar yg ditempati Naomi.
Disana..
*TOK TOK TOK*
Dengan rasa bersalah tinggi,Emma mengetuk pelan pintu kamar Naomi.
"Nona,ini saya..Emmanuel"Ucap Emma dari luar yg kemudian langsung dibukakan pintunya oleh Naomi.
"Iya?"Naomi menjawab panggilan Emma dengan rekahan senyuman manis di wajahnya.Emma semakin merasa bersalah karena sebelumnya telah berkata seperti itu.
Ia menundukkan kepalanya di hadapan Naomi dan tidak menjawab perkataannya sedikitpun.
"Saya sama sekali tidak mempermasalahkan perkataan anda yg sebelumnya kok.Perkataan anda sama sekali tidak salah karena memang saya adalah seorang yg lemah"Jelas Naomi seraya tersenyum canggung.
Emma menatap mata Naomi dengan air mata yg sudah memenuhi mata birunya itu dan langsung memegang tangan kanan Naomi dan mengecupnya.Bulir air matanya itu menetes ke tangan Naomi yg begitu halus sehalus bulu.
"Saya berterima kasih karena anda mau memaafkan saya yg sudah melakukan kesalahan fatal ini"Ucap Emma sambil terus menatap tangan Naomi yg dipegangnya.
"Tidak apa-apa.Tapi bisakah anda melepaskan tangan saya?Saya merasa kurang nyaman"Ia masih saja tersenyum kepada Emma walaupun tubuhnya sudah mulai menunjukkan reaksi lagi.
Emma dengan segera langsung melepaskan tangannya setelah mendengar perkataan Naomi tadi.
"Tahukah anda kenapa saya tidak bisa berjalan melalui bagian tengah rumah saya tanpa penutup mata waktu itu?Itu karena saya memiliki Automysophobia yg akan kambuh kalau melihat sesuatu yg kotor,contohnya darah."
Asisten Erin itu merasa malu akan dirinya sendiri yg sudah menghakimi Naomi secara sepihak tanpa mengetahui/mengerti alasan Naomi yg benar-benar lemah disaat itu.Pertama,ia dibesarkan tanpa pendidikan fisik atau lebih tepatnya beladiri.Dan kedua,Naomi mengidap Automysophobia yg sampai saat ini belum sembuh sepenuhnya.
Setelah perbincangan singkat keduanya,Emma pamit undur diri dari hadapan Naomi kemudian berjalan pergi.Tadinya ia akan pergi menuju kamarnya yg berada di lantai 1 Mansion Alate tapi ketika di perjalanan menuju kesana,Erin sudah berdiri tepat di depan pintu kamarnya.
Ia menatap tajam Emma seraya melihatnya dari atas sampai bawah"Habis darimana kau?Jangan bilang padaku kalau kau memarahi Naomi karena aku yg marah kepadamu?"Tanya Erin dengan tatapan curiga.
"Saya memang pergi mendatangi nona Naomi,tapi bukan dengan tujuan memarahi beliau,nona"Jawab Emma singkat.
Erin memiringkan kepalanya mendengar pernyataan singkat Emma tersebut,"Lalu?"Tanyanya lagi.
"Saya meminta maaf kepada beliau,nona.Saya bersumpah atas nama kehormatan saya,nona Erin"Emma berlutut di hadapan Erin setelah menyampaikan semuanya.
Erin hanya menghela napas berat sambil memijat-mijat bagian atas hidungnya karena Emma langsung berlutut di hadapannya.
"Beritakan soal kehadiran Naomi di Keluarga Duke Delvaux ke media.Aku ingin supaya Naomi dikenal sebagai nona kedua Delvaux dan bukan sebagai seorang rakyat biasa,Emma"Dia yg sedang berlutut di hadapan Erin itu kemudian melirik wajah Erin dan melihat wajahnya yg sedang tersenyum lebar padanya.
Bagaimanapun,perintah Erin itu membuat Emma menjadi senang karena dia bisa melakukan perintahnya dan tidak digantikan oleh orang lain.Ia menerima perintahnya itu dengan senyuman lebar karena senang,"Akan saya lakukan,nona Erin."
Setelah hari yg begitu panjang itu,Emma meminta bibi Erin (kepala keluarga sementara) supaya seluruh anggota Keluarga Delvaux untuk datang ke Mansion Alate.Baik yg sedang berada di luar negeri ataupun dalam negeri,semuanya langsung berkumpul sesuai dengan permintaan kepala keluarga sementara,yakni bibi dari Erin Delvaux yg bernama Miya Delvaux.Total seluruh anggota keluarga mereka sekiranya 14 orang dan kemudian ditambah Naomi menjadi 15 orang.Mereka dikumpulkan di aula Mansion Alate dengan tujuan..
"Apa yg sedang terjadi disini sampai seluruh anggota keluarga kita dikumpulkan begini?"Tanya salah satu anggota Keluarga Delvaux.
Emma berjalan ke depan semua anggota Keluarga Delvaux itu,"Maafkan saya sudah meminta seluruh anggota Keluarga Delvaux datang kesini melalui nyonya Miya padahal anda semua sedang sibuk dengan urusan masing-masing"Ia membungkuk meminta dirinya dimaafkan karena berbuat demikian.
Anggota keluarga yg tadi bertanya itu lalu tersenyum karena Emma malah meminta maaf."Daripada itu,kami bertanya-tanya akan siapa yg berdiri di samping kepala keluarga selanjutnya itu?"Wanita itu mengarahkan telapak tangannya ke arah Naomi yg berdiri di sebelah Erin.
"Beliau adalah alasan kami memanggil anda semua kemari.Perkenalkan,beliau adalah nona Naomi Delvaux.Putri kedua dari mendiang tuan besar Zander Delvaux"Jelas Emma sambil menarik pelan tangan Naomi agar para anggota Keluarga Delvaux itu bisa melihat Naomi dengan jelas.
Semuanya yg melihat Naomi langsung melongo dan seolah tak percaya akan kenyataan yg dihadapkan pada mereka.Tapi hal itu tidak berlangsung lama karena wanita tadi langsung angkat bicara..
"Namamu Naomi kan?Haha,senang bertemu denganmu.Aku adalah Lailani Delvaux,bibimu.Kau benar-benar seorang wanita yg cantik sama halnya dengan ibu dan kakakmu"Puji Lailani dengan mata berbinar-binar ketika menatap wajah Naomi.
Naomi tersenyum lebar sambil berkata,"Senang bertemu dengan anda juga"Ucapnya.
Kekhawatiran Erin akan keluarganya yg mungkin tidak akan menyukai Naomi seketika sirna karena jika melihat dari reaksi mereka,tidak ada sedikitpun rasa ketidaksukaan terhadap Naomi.Malah,mereka tampak sangat senang dengan kehadirannya yg tiba-tiba itu.
Setelah perkenalan singkat mereka,Emma meminta semuanya untuk berdiri di tempat yg sama begitu juga dengan Naomi.Ia dan Erin duduk di bagian paling depan sedangkan anggota keluarga lainnya berdiri di samping dan belakang mereka.Potret keluarga,itulah yg ingin dilakukan oleh Emma untuk mengekspos kehadiran Naomi di Keluarga Duke Delvaux.
Potret semuanya itu kemudian selesai dan langsung disebarkan ke media.Sesuai dengan pemikiran Erin,respon orang-orang akan kehadiran Naomi lumayan bagus.Mereka menyambut dengan senang hati kehadirannya tersebut.Tapi tidak dengan Cecilia,setelah mengetahui akan hal ini,ia diselimuti rasa takut karena sebelumnya sudah berniat untuk membunuh Naomi.Tentu saja,berita soal Naomi langsung menjadi trending nomor 1 di dunia.Sedangkan Cecilia Quenz diambil gelar kebangsawanan keluarganya,yakni Count oleh keluarga kerajaan dan kini ia harus hidup sebagai rakyat biasa dan bukan seorang wanita yg berasal dari keluarga berdarah biru lagi.
4 tahun berlalu sudah sejak dimasukkannya nama Naomi kedalam Keluarga Delvaux dan kini ia hidup selayaknya seorang wanita bangsawan yg sempurna setelah melalui banyaknya pelajaran mengenai etiket,dansa,dan lain sebagainya.Naomi bahkan sudah menikah dengan seorang pria yg juga berdarah biru yg tidak lain adalah..
"Selena!"Panggil seorang anak laki-laki dari kejauhan sambil berlari ke arah anak perempuan yg bernama Selena itu.Ia melambaikan tangannya saat anak laki-laki tersebut sedang berlari ke arahnya.
"Aku sudah bilang berkali-kali agar kau tak berlari seperti itu kan?"Ucap Selena ketika anak laki-laki itu terjatuh tepat di depannya dan untungnya tidak terluka sedikitpun karena ia jatuh di hamparan rumput di bagian belakang Mansion Alate.
"Haha iya maafkan aku."
*TAP TAP TAP*
2 orang wanita yg memakai gaun panjang berjalan ke arah mereka sambil bersenda gurau.Salah satunya mengenakan gaun berwarna ungu lembut dengan perhiasan yg cukup mendukung dengan gaunnya.Dan yg lainnya mengenakan gaun hitam bermotif bunga lotus yg juga menggunakan perhiasan mendukung.
"Kyllian,pesta dansa akan segera dimulai tapi kau malah berbaring di rumput begitu"Wanita yg mengenakan gaun ungu lembut yg tidak lain adalah Naomi itu menjitak kepala Kyllian karena telah membuat pakaiannya sedikit kotor.
"Mama!"Selena langsung berdiri dan memeluk wanita di sebelah Naomi dengan sangat erat.
"Sudahlah,Naomi.Bawa saja Kyllian ke kamarnya lalu ganti pakaiannya dengan cadangannya.Untung saja pakaian itu bukanlah pakaian utama untuk pesta dansanya"Jelas Erin sambil tersenyum kemudian menggendong Selena.
"Baik,kak"Jawab Naomi lalu membawa Kyllian darisana.
Di hari itu,diadakan pesta dansa untuk merayakan ulang tahun dari Selena yg merupakan putri dari Erin dan Emma/Emmanuel.Sedangkan Kyllian adalah putra dari Naomi dan Aiden.Sebelum dilangsungkannya pernikahan Naomi dan suaminya itu,Erin menolak keras pernikahan mereka karena takut adiknya itu akan lepas dari pelukannya.Tapi setelah Aiden yg benar-benar melakukan segalanya untuk mendapatkan restu kakak sepupu yg akan menjadi iparnya itu,akhirnya Erin merestui mereka dengan syarat mereka harus tetap tinggal di Mansion Alate.Di kamar Kyllian..
Selagi Naomi menyisir rambut Kyllian,ia sesekali mendengus kesal karenanya."Aku bersyukur karena pakaian yg kau buat kotor itu bukanlah pakaian utama untuk pesta dansanya,Kyllian"Ucap Naomi dengan marahnya.
"Ibu"Ucap Kyllian.
"Apa?"Jawab Naomi sambil terus menyisir rambut Kyllian.
"Bibi Erin pernah bilang kalau ibu itu orang yg sangat lembut pada siapapun tapi kelihatannya tidak tuh?"Kyllian bergumam di akhir kalimatnya dan Naomi hanya tersenyum sambil melihat cermin.
Ia langsung terkekeh melihat putranya dan Aiden itu mulai khawatir kalau dia akan dimarahi olehnya.Demi membuat kekhawatiran Kyllian itu menghilang,Naomi mengelus kepalanya sambil tersenyum lebar."Kakak yg mengajariku untuk tegas kepada siapapun tapi tetap tidak boleh menghilangkan sifatku yg daridulu sudah ada,Kyllian.Aku memarahimu pun adalah salah satu bentuk ketegasanku sekaligus rasa sayangku.Kau tahu kan kalau malam ini adalah hari yg spesial bagi sepupumu,Selena kan?Oleh karena itu,kau harus tampil dengan baik di depan semua orang supaya Selena tidak sedih.Aku bukannya memaksamu untuk memenuhi ekspektasi seseorang,tapi disaat kau mampu kenapa tidak?Aku tak pernah memaksamu melakukan sesuatu yg kau tak bisa lakukan,Kyllian"Ucapnya dengan suara yg begitu lembut.
"Maaf,ibu"Kyllian menatap wajah ibunya melalui cermin di hadapannya dengan wajah bersalah dan juga sedih.
"Tidak apa-apa.Sepertinya aku saja yg terlalu keras kepadamu.Nah,ayo kita pergi ke aula sekarang."
Suara sebuah alunan musik klasik khas abad pertengahan mulai terdengar di luar aula tempat pesta dansa diadakan.Erin,Naomi,kedua putra dan putri mereka,serta pasangan mereka sudah berdiri tepat di depan pintu yg menghubungkan antara koridor Mansion Alate dengan aula pesta.Kedua penjaga pintu kemudian membukakan pintunya untuk mereka berenam sambil mengumumkan kedatangan mereka kepada para hadirin yg datang.
"Nyonya Erin Delvaux,Nyonya Naomi Delvaux,Tuan Kyllian Delvaux dan Nona Selena,serta Tuan Emmanuel Andreus dan Tuan Aiden Alastair,memasuki aula!!"Ucap seorang penjaga pintu mengumumkan kedatangan mereka semua.
Seperti biasanya,mata orang-orang termasuk anggota Keluarga Delvaux menatap saat-saat kedatangan mereka yg begitu sempurna seperti keluarga kerajaan tapi bedanya,tingkatan mereka adalah Duke.Glamor,kata yg cocok bagi mereka berenam yg tampil dengan setelan pakaian yg senada dengan pasangan mereka masing-masing.
Akhir yg benar-benar bahagia bagi mereka semua tapi tidak dengan Cecilia yg harus hidup dalam kemiskinan karena bukan hanya gelar kebangsawanannya yg diambil,tapi juga dengan seluruh harta kekayaannya.Semua relasi bisnis Keluarga Count Quenz juga meninggalkan mereka dan membiarkan mereka bernasib demikian.
~The End~