"Kenapa jadi begini, Mirabelle! Maafkan aku," lirih Maximus yang saat ini terlihat tengah memeluk erat tubuh seorang wanita yang terlihat melepuh seperti terbakar api. Bahkan rintihan dari wanita yang berada dalam dekapannya tersebut, membuatnya mengutuk kebodohannya karena tidak bisa mengendalikan nafsunya dan bercinta dengan kaum manusia.
Sementara itu, rasa panas yang semakin terasa membakar seluruh tubuh wanita yang tak lain bernama Mirabelle, membuatnya meneteskan air mata saat menahan rasa sakit yang amat menyiksa. Namun, ia tidak ingin membuat pria yang tengah memeluknya itu semakin merasa bersalah.
"Aku tidak menyesali semuanya, karena aku sangat mencintaimu, Dewa Maximus." Mirabelle lama-kelamaan memejamkan kedua matanya setelah beberapa menit tersiksa saat tubuhnya seperti terbakar api.
Maximus menggelengkan kepala saat melihat sosok wanita yang berbeda dunia dengannya itu sudah kehilangan kesadarannya. "Tidak! Aku akan melakukan apapun demi bisa membuatmu kembali, Mirabelle."
********
🍃Satu tahun yang lalu🍃
Sun Kingdom yang berada jauh dari bumi, di mana dunia terbesar di lain dimensi berada. Seorang dewa yang menjadi pemimpin tertinggi dari seluruh kingdom, terlihat berdiri di bawah air terjun berwarna merah seperti darah dan disekitarnya terdapat pohon-pohon raksasa menjulang tinggi.
Hari ini adalah hari terakhir puteranya yang berada di dasar air terjun menyelesaikan kegiatannya. Yaitu, seribu tahun menyempurnakan kekuatan sebagai syarat menjadi penerusnya.
"Puteraku!" Rex Magnum membuka mulut dengan suara lantangnya, "sudah saatnya keluar hari ini!"
Suara teriakan dari sang ayah, berhasil membangunkan pria dari kegiatan yang bersemedi dengan posisi duduk bersila. Pria dengan tubuh tinggi dan rambut panjang tergerai tersebut, bangkit berdiri dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan gelap degan pancaran cahaya mengkilat yang keluar dari iris tajamnya. Dilihatnya, banyak penghuni gua, yaitu aneka binatang melata dan tumbuhan liar.
"Akhirnya." Maximus dengan tersenyum menyeringai, menatap binatang liar di sekitarnya yang menyerupai ular, tetapi mempunyai lima kepala. "Jangan merindukan aku, karena aku tidak akan pernah kembali ke sini."
Maximus berjalan dengan kaki panjangnya meninggalkan bekas telapak kaki berupa api dan membuat para binatang liar tersebut menyingkir dari hadapannya dan memberinya jalan. Tidak hanya itu, makhluk yang merupakan kasta paling rendah di Sun Kingdom tersebut seolah memberikan penghormatan terakhir pada calon pemimpin paling terkuat yang akan menjadi penerus dari Dewa Rex Magnum.
Maximus sudah keluar dari gua gelap di dasar air terjun merah dan terbang dengan kekuatannya untuk mendekati dewa paling tertinggi.
"Ayah!" Memeluk erat tubuh kekar berotot dengan rambut panjang yang tergerai sama sepertinya dan sudah membuka tangan untuk menyambutnya.
Rex Magnum tadinya sudah mengeluarkan kekuatannya untuk menutupi tubuh polos putranya menggunakan jubah khusus yang telah disiapkannya. Yaitu, terbuat dari bulu bintatang yang sudah disihirnya menjadi pakaian terbaik.
"Ayah sengaja datang untuk mengantar kepergianmu ke gerbang Orazio, Puteraku."
Maximus yang sudah memeluk sang ayah, refleks melepaskan tangannya dan menatap penuh pertanyaan. "Gerbang Orazio yang menghubungkan Sun Kingdom dengan bumi? Apa maksud, Ayah?"
"Kamu harus melakukan penyempurnaan sebelum memimpin Sun Kingdom, Puteraku. Yaitu, melakukan seribu kebaikan pada manusia yang tinggal di bumi." Rex Magnum menepuk kuat bahu kokoh puteranya.
"Apa!" teriak Maximus dengan membeliak dan berhasil membuat semua binatang liar menghentikan kegiatannya. "Omong kosong apa yang Ayah bicarakan? Aku harus turun ke bumi untuk melakukan perbuatan gila?"
Rex Magnum bisa mengerti apa yang dirasakan oleh puteranya. "Ini sudah menjadi sebuah syarat, Maximus. Jadi, lakukan hal terakhir yang akan menjadi jembatan untukmu menjadi dewa terkuat di Sun Kingdom.
Merasa sangat marah sekaligus murka, Maximus sudah melampiaskan amarahnya dengan cara menyemburkan api dari kekuatan sihirnya.
"Apa tidak ada jalan lain selain itu, Ayah? Melakukan kebaikan!" Maximum terbahak, saat merasa yang dikatakan sang ayah tidak masuk akal.
Sementara itu, Rex Magnum hanya mengendikkan bahu. "Tidak ada! Kamu harus segera pergi sekarang!" Mengarahkan tangannya dengan mengeluarkan kekuatan sihirnya. Yaitu, mengarahkan angin topan untuk membawa tubuh puteranya ke arah gerbang Orazio yang berada tepat di sebelah kanan air terjun. Tidak ada yang mengetahui gerbang tersebut selain orang yang pernah melewati lorong penghubung antara dunianya dengan dunia manusia.
Sedangkan Maximus yang mencoba untuk menggunakan kekuatan saat tubuhnya terbang terbawa angin kencang, malah gagal dan tidak bisa berbuat apa-apa hingga netra dengan kilatan api bisa melihat pintu gerbang keemasan terbuka dan menariknya.
"Tinuviel!" Rex Magnum bertepuk tangan untuk memanggil burung bulbul yang merupakan binatang kesayangannya.
Beberapa saat kemudian, terlihat burung bulbul yang terbang menghampiri tuannya dan langsung menunjukkan penghormatan dengan cara mengepakkan sayap sebanyak lima kali. "Iya, Dewa Rex Magnum."
Rex Magnum menatap ke arah binatang yang selalu menjadi mata kedua untuknya, "Kau harus menjadi pengawal puteraku dan mencatat setiap kebaikan yang dia lakukan di dunia. Setelah dia selesai melakukan seribu kebaikan, maka Rade Jade yang akan datang padanya. Itu adalah sumber kekuatan yang akan membuatnya menjadi dewa keabadian."
Rex Magnum mengarahkan tangannya untuk membuka tabir tersembunyi dari sebuah bayangan yang menunjukkan bentuk dari Rade Jade, yaitu sejenis giok berwarna merah yang tersembunyi jauh di bawah bumi.
"Baik, Dewa Rex Magnum. Saya akan berangkat sekarang ke dunia untuk menjaga Dewa Maximus." Tinuviel berniat terbang menuju gerbang Orazio, tetapi suara dari sang dewa yang sangat dihormatinya terdengar.
"Tunggu, Tinuviel! Ada satu hal yang aku belum katakan pada puteraku. Selama di dunia, Maximus kehilangan kekuatannya. Akan tetapi, kekuatannya akan muncul saat dia menolong orang yang berada dalam bahaya. Semua itu untuk melatihnya mengendalikan api yang ada dalam jiwanya. Sekarang pergilah!" Rex Magnum kemudian mengeluarkan sihirnya dengan mendorong burung bulbul tersebut ke gerbang Orazio.
Sementara itu, Maximus yang terdorong dari gerbang penghubung dunianya dengan dunia manusia, jatuh di depan rumah tua dengan halaman cukup luas dipenuhi aneka jenis bunga.
Suasana gelap di sekitarnya, membuat Maximus yang baru pertama kali merasakan malam, berniat mengeluarkan cahaya dari bola matanya untuk membuat sekitarnya terang. Karena di Sun Kingdom selalu bersinar terang setiap waktu tanpa ada kegelapan.
Namun, ia yang berkali-kali membeliakkan matanya, tetapi gagal mengeluarkan cahaya dari bola matanya, merasa kebingungan. Ia sangat murka dan kesal.
Maximus menunduk dan menatap kedua telapak tangannya, "Apa yang terjadi padaku?" Dengan menggelengkan kepala berkali-kali, Maximus mencoba untuk menghilangkan pikiran buruknya. "Tidak mungkin!"
Lagi dan lagi, Maximus mencoba mengeluarkan sihirnya, tetapi apa yang ditakutkannya benar-benar terjadi. "Apakah kekuatanku musnah begitu saja? Ini tidak boleh terjadi."
Baru saja Maximus menutup mulut, indera pendengarannya yang sangat tajam, menangkap rintihan dari seorang wanita yang diketahuinya berasal dari dalam rumah tua yang ada di hadapannya. Meskipun ia sudah kehilangan kekuatan sihirnya, tetapi ketajaman indera pendengaran dan penglihatannya masih sama seperti di dunianya.
Saat ini, bola mata tajamnya menembus dinding rumah di hadapannya dan bisa melihat sosok wanita yang saat ini tengah terikat di atas ranjang dengan mulut di bekap menggunakan kain. Sedangkan di hadapan wanita itu ada dua pria yang tertawa menyeringai dan mulai melepaskan pakaiannya.
Tanpa memperdulikan apa yang dilihatnya, Maximus berbalik badan dan melangkah pergi. Namun, baru dua langkah berjalan, suara yang sangat dikenalnya membuat kakinya terhenti.
"Ini adalah kesempatan pertama Anda, Dewa Maximus." Tinuviel sudah mengepakkan sayapnya sebanyak lima kali di hadapan sosok terkuat yang paling ditakuti oleh seluruh penghuni Sun Kingdom.
"Kau? Apa Dewa Rex Magnum yang mengirimmu untuk membuntutiku?" Maximus menunjukkan kedua telapak tangannya, "Lihat ini! Aku sudah tidak mempunyai kekuatan lagi."
Burung bulbul tersebut kini terbang menjauhi Maximus untuk memberikan jalan, yaitu dengan cara mengedipkan mata. Beberapa saat kemudian, pintu kayu berwarna coklat itu terbuka lebar.
"Kekuatan Anda akan kembali setelah melakukan kebaikan. Jadi, tolong orang yang membutuhkan bantuan, Anda."
Maximus yang awalnya merasa ragu dan tidak mempercayai apa yang dikatakan Tinuviel, akhirnya terpaksa menuruti perkataan burung itu dan berjalan cepat ke dalam rumah tua tersebut. Tentu saja langsung menuju ke ruangan kamar.
"Kalian berdua segera pergi dari sini, sebelum aku membuat kalian jadi abu!" Maximus mengarahkan tatapan apinya pada dua pria yang saat ini tengah bertelanjang dada membelakanginya.
Merasa sangat terkejut karena tiba-tiba ada pria asing dengan mengenakan jubah aneh menjuntai ke lantai, membuat dua pria tersebut langsung menghambur dan mengarahkan tinjunya.
Sedangkan Maximus sudah menangkis pukulan bertubi-tubi dari dua pria yang sudah menyerangnya. Namun, karena ia tidak pintar berkelahi, membuatnya berkali-kali merasakan pukulan di wajah dan tubuhnya.
"Sial!" umpat Maximus yang merasakan nyeri di bibirnya yang robek. Sehingga amarahnya kini meluap-luap dan tanpa bisa ditahannya lagi, teriakan sangat keras lolos dari bibirnya. "Aku akan menghabisi para pendosa seperti kalian!"
Maximus sudah mencekik leher kedua pria di hadapannya dan tanpa disadarinya, kekuatan sihirnya telah kembali. Karena dua pria yang ia cekik tersebut langsung melepuh kulitnya seperti terbakar. Tidak hanya itu, lama-kelamaan, tubuh dua pria di hadapannya sudah menjadi abu. Sedangkan abu tersebut langsung hilang tanpa bekas.
Sementara itu, wanita yang tak lain bernama Mirabelle, saat ini menyaksikan kejadian diluar nalar dengan matanya, tidak bisa berteriak untuk mengungkapkan ketakutannya.
"Siapa pria mengerikan itu? Bagaimana mungkin dia bisa melenyapkan dua penjahat yang akan memperkosaku hingga menjadi abu. Apakah dia adalah iblis?" batin Mirabelle dengan ketakutan.
Maximus tersenyum menyeringai penuh kesenangan saat menyadari kekuatan sihirnya telah kembali. Sehingga ia langsung menoleh ke arah sosok wanita yang diam tak berkutik di atas ranjang.
"Ini adalah sebuah anugerah untukmu, karena bisa menyaksikan sendiri kekuatan dari dewa api. Jika kau tidak ingin berakhir seperti dua pria tadi, diam dan menurutlah padaku!" Maximus berjalan mendekati wanita yang diketahuinya sangat ketakutan padanya saat ia membuka penutup mulut dan ikatan tangan.
Maribelle sama sekali belum bisa berpikir dan masih sangat trauma dengan apa yang barusan dilihatnya. Begitu mendengar perkataan dari pria di hadapannya, ia berpikir bahwa semua penjelasan itu sangat tidak masuk akal.
"Konyol sekali. Apakah pria ini dahulu berguru ilmu sesat pada para dukun jahat? Memangnya aku bodoh! Hingga mempercayai omong kosongnya!" gumam Mirabelle yang langsung tersentak begitu mendengar suara bariton dari pria yang baru saja menolongnya tersebut.
"Dasar wanita bodoh! Apa kau mau nasibmu berakhir menjadi abu, karena tidak mempercayai perkataanku! Apa itu dukun jahat?" Maximus yang merasakan amarahnya kembali memuncak, mengarahkan tangannya ke arah meja di hadapannya.
Sebenarnya niatnya adalah untuk membakar meja tersebut, tetapi saat kekuatannya kembali hilang, membuatnya berteriak dengan penuh kemurkaan.
"Ini sangat gila!" Dengan kilatan api yang terpancar dari wajahnya, Maximus mengarahkan tangannya untuk meninju dinding yang berada di hadapannya hingga membuatnya meringis menahan rasa sakit saat darah keluar dari buku-buku tangannya.
Maribelle yang melihat darah keluar dari tangan pria yang telah menolongnya, buru-buru bangkit dari ranjang dan langsung berjalan ke arah laci untuk mengambil obat. Kemudian berjalan mendekati sosok pria yang mempunyai postur tubuh sangat tinggi tersebut.
"Anda terluka, biarkan aku yang mengobatinya." Mirabelle langsung mengoleskan salep di antara buku-buku tangan yang dipegangnya dan meniupnya perlahan.
Maximus yang belum pernah bersentuhan dengan seorang wanita, merasa sangat aneh saat melihat sosok wanita yang saat ini tengah menundukkan kepala di hadapannya.
"Apa kau mau mati! Berani-beraninya kau menyentuh seorang dewa tertinggi!" Maximus berniat melanjutkan ancamannya, tetapi indera pendengarannya menangkap suara dari Tinuviel yang berbicara dengan mengatakan harus memanfaatkan wanita tersebut selama tinggal di dunia untuk melakukan 999 kebaikan lagi.
Sehingga ia mengurungkan niatnya dan hanya diam saja saat wanita di hadapannya masih sibuk meniup luka di tangannya.
"Jadi, wanita ini sangat berguna untukku. Baiklah, aku akan memanfaatkan wanita ini dengan tinggal di sini selama berada di dunia."
Mirabelle mendongak menatap netra dengan iris tajam menyala yang tidak sanggup dilihatnya, seperti menatap sinar matahari. Sehingga ia refleks langsung menundukkan kepala dan tidak lagi berani menatap iris tajam itu.
"Maafkan saya, Dewa api. Terima kasih atas pertolongan, Anda hari ini yang menyelamatkan saya dari dua pria yang mencuri dan berniat memperkosa saya."
"Tunjukkan rasa terima kasihmu padaku dengan membiarkan aku tinggal di sini selama beberapa hari. Saat tugasku selesai, aku akan pergi dari sini." Maximus mengamati suasana rumah yang menurutnya sangat mengenaskan dan tidak pantas untuknya, tetapi karena tidak ada pilihan lain, ia terpaksa menyetujui saran dari Tinuviel.
Berbeda dengan tanggapan dari Mirabelle yang sudah membeliakkan matanya, "A-apa! Tinggal di sini? Saya tidak bisa!"
"Kalau begitu, aku akan membuat kejadian beberapa saat yang lalu benar-benar terjadi. Karena aku bisa memutar waktu di dunia dengan sekali kedipan." Maximus sudah mengedipkan matanya dan jarum jam seketika berhenti. "Lihat waktu pada benda itu. Aku akan mengembalikannya pada waktu dua pria itu datang ke sini."
Meskipun kekuatan sihirnya tiba-tiba hilang, tetapi Maximus baru mendengar suara Tinuviel yang mengatakan bahwa burung bulbul itu akan membantunya dengan menghentikan waktu demi mengubah pendirian wanita itu.
Mirabelle yang sebenarnya adalah seorang wanita penakut, refleks langsung menggelengkan kepalanya. "Jangan, Dewa api. Aku tidak keberatan Anda tinggal di sini!"
Maximus tersenyum menyeringai dan berpura-pura mengedipkan mata untuk mengembalikan waktu. Sehingga ia merasa lega mempunyai tempat tinggal sementara selama di dunia.
"Mulai hari ini, aku akan memberikan sebuah anugerah untukmu. Yaitu, menjadi pelayanku yang harus menyiapkan semua yang aku butuhkan."
Sedangkan Mirabelle yang tidak ada pilihan lain, hanya menganggukkan kepala dan berharap pria tersebut akan segera selesai urusannya, lalu pergi dari rumahnya.
******
Satu tahun kemudian, Maximus telah menyelesaikan tugasnya dengan melakukan seribu kebaikan. Bahkan ia sudah menemukan giok merah yang menjadi sumber penyempurnaannya. Namun, saat ia harus kembali ke Sun Kingdom, hatinya merasa sangat berat. Karena setelah setahun ia tinggal bersama Mirabelle, membuatnya jatuh cinta pada wanita tersebut.
Sehingga ia tidak bisa menahan diri dan terbawa suasana saat pertama kali mencium bibir tipis wanita cantik yang terlihat menangis tersedu-sedu saat mengantarkan kepergiannya. Maximus menenangkan perasaan Mirabelle dengan melumat bibir tipis tersebut dan berakhir bercinta.
Kesalahan yang dilakukannya itu telah membuat Mirabelle terbakar dan sekarat. Sehingga Maximus berteriak pada Tinuviel agar mau membantunya.
"Tinuviel, apa yang harus aku lakukan? Cepat katakan padaku! Aku yakin ada cara untuk menyelamatkan Mirabelle. Aku tidak ingin dia musnah menjadi abu."
Awalnya Tinuviel enggan membuka suaranya, tetapi kemurkaan dari Maximus membuatnya merasa takut. "Ada satu cara, Dewa Maximus. Akan tetapi, itu sangat fatal."
"Cepat katakan padaku! Aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkannya!" Maximus mengarahkan tatapan penuh kilatan api pada burung bulbul yang bertengger di depan pintu kamar.
"Hanya Rade Jade yang mampu menyelamatkan nyawa wanita itu. Anda tidak boleh melakukannya, karena itu akan menyempurnakan kekuatan dan memperpanjang usia saat menjadi pemimpin di Sun Kingdom."
Tanpa memperdulikan apapun, Maximus sudah mengerahkan kekuatannya yang sudah kembali untuk menghancurkan giok merah yang ada dalam kantong jubahnya menjadi serpihan dan menyihirnya ke dalam tubuh wanita yang masih berada di pelukannya.
Beberapa saat kemudian, tubuh yang tadinya melepuh itu berangsur kembali seperti semula dan juga kedua mata dari Mirabelle perlahan terbuka.
"Dewa Maximus."
Maximus yang merasakan kelegaan melihat sosok wanita yang sangat dicintainya itu tidak musnah, memeluk erat tubuh kurus tersebut dengan erat.
"Akhirnya aku bisa menyelamatkanmu, Mirabelle. Aku sangat mencintaimu. Hiduplah dengan berbahagia, karena aku harus pergi!"
Mirabelle yang sudah berlinang air mata, berkali-kali menggelengkan kepala. "Tidak! Kenapa Anda menyelamatkanku. Aku lebih senang mati daripada harus merasakan kesedihan saat Anda pergi. Aku tidak akan pernah bahagia hidup di dunia tanpa Anda, Dewa Maximus."
Maximus yang tidak bisa berbuat apa-apa, hanya diam membisu dan merasakan kekuatan maha dahsyat menarik tubuhnya hingga membuatnya menghilang dari hadapan wanita yang sangat dicintainya. Tubuhnya melesat jauh menuju ke gerbang Orazio dan ia hanya memejamkan kedua matanya saat membayangkan wajah cantik wanita yang menangisi kepergiannya.
"Maafkan aku, Mirabelle! Aku tidak bisa melihatmu mati. Aku akan selalu melihatmu dari duniaku dan itu sudah membuatku merasa bahagia, karena cintaku tidak akan pernah padam hingga ujung waktu."