💖💖💖💖💖
Waktu menunjukan pukul sepuluh malam, namun aku dan para pekerja lainnya masih sibuk dengan pekerjaan lemburan yang diharuskan selesai malam itu juga, karena banyak sekali roti pesanan yang harus segera siap sedia dipagi harinya untuk segera diangkut ke luar kota.
Namaku Ayu Azzahra, usiaku baru menginjak 18 tahun dan kini bekerja disebuah pabrik roti yang tempatnya sangat jauh dari tempat tinggalku. Untungnya para karyawan disediakan rumah besar oleh pemilik Pabrik yang bisa ditempati oleh para pekerja yang kebanyakan memang berasal dari luar daerah.
Dengan diadakannya rumah tinggal gratis membuat gaji bulananku setidaknya tidak habis terpotong untuk ongkos pulang-pergi dari rumah ke tempat kerja yang jaraknya lumayan cukup jauh karena sampai tiga kali naik kendaraan umum yang berbeda.
Rumah yang kami huni lumayan besar dan mewah. Para pekerja lama yang lain banyak menceritakan cerita seram dan menakutkan yang pernah terjadi dirumah itu, namun bagi orang penakut sepertiku, aku selalu pura-pura tak mendengar dan selalu kuanggap angin lalu agar aku bisa betah dan tetap bertahan bekerja disana.
Aku sangat betah bekerja disana, walau gajinya tak cukup besar, tapi lumayanlah untuk gadis single sepertiku yang masih mencari-cari pengalaman kerja. Daripada bengong dirumah kemudian dipaksa cepat-cepat menikah oleh orang tua.
"Yu, cepetan kerjanya biar segera beres, aku udah ngantuk inih!" teguran Dewi temanku membuyarkan lamunanku yang tengah bengong dan termenung.
Roti yang kupegang tak segera kumasukan dalam plastik bening bertuliskan nama Pabrik tempatku bekerja. Pabrik rumahan yang hanya mempekerjakan dua puluh orang yang dibagi-bagi sesuai tugasnya. Karyawan perempuan hanya bertugas membungkus roti-roti itu kedalam plastik.
"Bengong aja kamu, awas ntar kesambet!" celetuk Eli temanku yang satunya. Aku cuma merengut tak menjawab. Malas sekali untuk berbicara.
Pikiranku kalut sepulang dari rumahku kemarin siang. Tiap hari minggu saat off bekerja, aku memang selalu menyempatkan pulang dulu ke rumah karena rindu kepada Ibu. Tapi, pembicaraan Ibu yang menyuruhku segera menikah, membuat suasana hatiku berubah kacau.
Kenapa ibu selalu saja menyuruhku untuk cepat menikah, padahal aku masih ingin bekerja dan mencari pengalaman. Usiaku juga baru 18 tahun. Aku hanya bisa menggerutu kesal.
"Ibu sudah bicara pada Budi pacarmu. Dan Budi bersedia bulan depan melamarmu dan setelah itu kalian akan menikah," ucapan ibu tentu saja membuatku tersentak.
Bisa-bisanya ibu menentukan sesuatu tanpa lebih bertanya dulu terhadapku. Walau aku tahu, Budi statusnya adalah kekasihku tapi aku sama sekali tak pernah mencintai dia. Aku menerima cintanya karena terpaksa. Aku hanya bisa menggerutu dalam hati.
"Aku gak bisa, Buk ... Apalagi harus menikah sama ka Budi, aku sama sekali tidak mencintainya, karena aku mencintai Dery ...." Aku coba memberi penjelasan yang membuat Ibu terkaget.
"Jadi Dery itu, teman kerja kamu yang sering mengantar kamu pulang itu pacar kamu juga! Kamu apa-apaan sih, Ayu! Kamu sedang menjalin hubungan sama Budi, tapi kamu pacaran juga sama Dery! Kamu mau mempermainkan perasaan orang!" sentak Ibuku tak suka dengan penjelasanku.
"Bukan begitu, Bu ... aku menerima ka Budi karena merasa tak enak hati pada Tami sahabatku yang mengenalkan aku pada ka Budi. Dan sekarang, aku mengenal Dery ... aku merasa lebih nyaman bersamanya, Bu ...," jelasku berharap Ibu memahaminya.
"Terserah kamu, tapi selesaikan masalahmu dengan segera. Jangan suka mempermainkan perasaan seseorang. Kalau Dery serius sama kamu, minta Dery bawa orangtuanya kemari untuk melamarmu! Ibu hanya tidak mau kamu dipermainkan oleh laki-laki lagi!" ucapan Ibu membuat kepalaku rasanya seperti tertimpa beban yang berat.
Menikah dan menikah! Itu yang terus menerus dibahas Ibu tiap aku pulang! Sejak hubunganku kandas dengan Rio pacar pertamaku yang hampir membuatku frustasi dulu, ibu selalu menekanku untuk segera menikah saja setelah aku lulus sekolah. Itu yang rasanya membuatku pusing dan tak ingin pulang.
Gebrakan tangan Renita diatas meja yang baru datang dari belakang benar-benar membuatku tersentak kaget. Lamunanku buyar kembali.
"Barusan aku ke kamar mandi, kok nyium bau anyir tau. Aku sampe bergidik takut, karena ku ingat omongan Roy yang bilang kalau dikamar mandi dibelakang kita ini ada kuntilanaknya," ucap Renita teman yang lainnya angkat bicara.
"Akh jangan suka mengada- ngada," gerutuku sambil berdiri dan berniat ke kamar mandi karena tak tahan rasanya menahan rasa ingin buang air kecil sedari tadi. Dewi bertanya dan aku menjelaskan akan ke kamar mandi.
Sempat aku merasa bulu kudukku berdiri saat sudah berada di kamar mandi, apalagi mengingat ucapan Renita tadi. Tapi iya, aku juga merasakan sedikit mencium bau anyir yang entah sumbernya dari mana. Akupun segera bergegas keluar dan kembali melanjutkan pekerjaan.
Entah kenapa kepalaku serasa berputar. Keringat dingin kurasa keluar dari tubuhku. Aku merasa tubuhku rasanya yang tidak beres.
Kebetulan Om Agus datang menghampiri, dia adalah adik Bos pemilik pabrik tersebut yang tugasnya sesekali mengawasi pekerjaan kami. Dia seorang duda muda tanpa anak.Usianya 10 tahun diatasku. Aku tahu dia menyimpan perasaan terhadapku, tapi aku tak pernah menanggapinya.
Entah aku terkadang merasa risih dengan sikap genitnya terhadapku. Tapi terkadang aku berterimakasih juga atas kebaikannya memperlakukanku dengan sangat special yang selalu memberiku makanan dan jajanan enak hampir setiap harinya. Awalnya aku enggan menerimanya, tapi atas usul teman-teman yang selalu mengomporiku untuk memanfaatkan pemberiannya karena bisa dimakan beramai-ramai dengan teman lainnya. Mau tidak mau aku menerima makanannya. Tapi tidak dengan cintanya.
Status dudanya bagi perempuan belia sepertiku rasanya membuatku berpikir berulang kali, apalagi aku illfeel melihat tato disebelah tangan dan kaki kirinya yang bergambar naga, membuat aku sedikit ketakutan jangan-jangan dia bekas preman🙈
Om Agus bertanya khawatir saat melihat wajahku terlihat pucat, begitu juga teman-temanku. Akhirnya Om Agus menyarankan agar aku beristirahat saja. Om Aguspun mengantarkan aku ke rumah besar yang berada disebelah pabrik yang biasa aku tempati.
Sesampainya dikamar aku merasa tubuhku semakin tak nyaman. Akupun berpesan pada Om Agus agar salah seorang teman perempuanku suruh datang menemaniku. Om Aguspun segera pergi. Ingin rasanya aku menyuruh Om Agus agar meminta Derry yang datang kemari. Tapi Om Agus selalu bersikap kesal dan kasar jika aku mulai bersinggungan dengan nama Derry. Mungkin Om Agus cemburu atau apapun itu aku tak tahu.
Aku merasa kepalaku berdenyut denyut. Aku berdiri dan pergi ke kamar mandi, membasahi rambut kepalaku yang rasanya tak bisa aku jelaskan. Saat berjalan tertatih ke kamar, aku merasa tubuhku sempoyongan. Aku segera merebahkan diri. Rasanya tubuhku merasakan hawa yang tak bisa aku jelaskan. Aku seperti tak bisa menguasai tubuhku sendiri.
Samar aku mendengar suara beberapa teman-temanku yang memanggil namaku. Aku tak bisa menjelaskan apa yang ku rasa, aku rasanya ingin teriak. Antara sadar dan tidak napasku kian memburu. Aku hanya ingat dua temanku memegang kedua tanganku yang mulai meronta ronta tak bisa ku kendalikan.
Mataku terpejam tapi telingaku masih bisa mendengar. Aku ingin berteriak memanggil nama temanku tapi lidahku kelu. Terdengar Om Agus panik dan suaranya tak terdengar lagi.
Tangan dan kakiku terus meronta dan mulutku berteriak-teriak kasar. Terdengar temanku menyuruhku untuk beristighfar. Hatiku terus menyebut nama Allah dan meminta pertolongan. Namun anehnya tubuhku seperti ada yang mengendalikan. Aku seperti kerasukan. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku.
Bersambung dulu ya, karena cerita ini lumayan panjang jadi dibagi 2 Part ya. Nantikan kelanjutannya. Terimakasih atas dukungannya🙏