*Lanjutan cerita "Menjadi Permaisuri Sehari"*
Sebelumnya__
"Jadi yang tadi aku lewati hanya mimpi?" Batin Cyntia.
"Tapi kenapa wajah pramugara ini sangat mirip dengan kaisar ku." Ucapnya lagi dalam hati.
Lalu Cyntia memperhatikan papan nama yang tertempel di baju pria itu tertulis dengan nama Ares.
Sekarang__
"Emm maaf-maaf, saya akan keluar segera dari pesawat ini." Ucap Cyntia sambil berdiri kemudian berjalan menuju pintu keluar.
Pramugara yang bernama Ares itu hanya berdiri, dia memperhatikan punggung Cyntia yang sedang berjalan melewati kursi-kursi penumpang itu. Kemudian tak lupa ia memeriksa kabin yang masih terbuka untuk di tutup. Dilihatnya ada tas ransel yang masih tertinggal.
"Hei wanita, apakah kau tidak sedang meninggalkan sesuatu?" Teriak Ares sambil mengambil tas ransel itu.
Langkah Cyntia terhenti saat mendengar teriakan Ares, Ia pun menoleh.
"Astaga tasku." Keluh Cyntia sambil menepuk jidatnya lalu berjalan lagi mendekati Ares.
"Ini tasmu." Sebuah tas ransel berwarna moccha itu seketika melayang ke arah Cyntia yang hendak maju mendekat ke arah Ares.
Dengan cepat kedua tangan Cyntia bersiap untuk menangkap tas yang sedang melayang itu.
"Astaga, ini loh didalamnya ada laptop! Berat tau." Batin Cyntia.
Buk.. Tas itu mendarat dengan tepat di pelukan Cyntia, tapi tubuh kecilnya tidak cukup kuat untuk menahannya.
"Gak bener ini, apa aku akan jatuh?" Batin Cyntia.
Kaki Cyntia tidak bisa lagi menahan untuk tidak jatuh, tubuhnya sebentar lagi akan ambruk ke lantai pesawat itu.
"Duh malu banget jatuh di depan pria tampan." Batin Cyntia sambil memejamkan mata.
"Kamu gapapa?" Tanya Ares yang sudah menangkap tubuh Cyntia dengan kedua tangannya.
Cyntia mencoba untuk membuka kedua matanya lalu Ia pun berkata, "Ares!" ucapnya sambil menatap kedua bola mata nan coklat milik Ares.
Ares pun menatap balik mata Cyntia. "Bagaimana bisa kamu tau namaku?" Tanyanya heran.
Cyntia menunjuk papan nama yang tertempel di saku Ares sambil berkata, "Itu."
"Oh.. Ehem.." Ares memalingkan pandangannya lalu mencoba untuk membantu Cyntia berdiri dan melepaskan tangannya dari Cyntia.
"Makasih udah bantuin aku." Ucap Cyntia canggung.
Ares hanya menganggukkan kepalanya. Setelah itu Cyntia pun berlalu dari hadapan Ares.
"Kenapa jantungku berdegup kencang saat perempuan itu menatap mataku? Dan kenapa aku seperti pernah dekat dengannya? Apakah ada sesuatu yang salah dengan diriku? Dan yang lebih parahnya kenapa hatiku sangat bahagia saat pertama kali aku melihatnya tadi?" Gumam Ares dalam hati sambil menatap kepergian Cyntia.
*2 hari kemudian*
Kring.. kring.. kring.. Bunyi alarm yang terus-terusan berdering. Cyntia yang masih terlelap nyenyak di atas kasurnya tak mendengar suara alarm itu sama sekali.
*Didalam mimpi Cyntia*
Ia kembali pada mimpinya sebelumnya, Ia bergandeng tangan dengan Ares sambil mengelilingi danau di bawah pohon sakura yang sedang bermekaran itu.
"Permaisuri Ku jika kita bertemu lagi di kehidupan selanjutnya, izinkan aku untuk tetap berada di sampingmu." Ucap Kaisar Ares sambil menatap wajah Cyntia.
Kring.. kring.. kring..
Cyntia mendengar sebuah bunyi yang tak asing baginya, Ia menoleh kiri kanan.
"Bunyi apa ini?" Tanya Cyntia.
Ares merasa heran dengan pertanyaan Cyntia.
"Gak ada bunyi apa-apa." Jawab Ares menatap bingung Cyntia.
"Masa?" Teriak Cyntia lalu membuka kedua matanya.
Ia terkejut saat melihat langit-langit kamar kosnya. "Astaga! Mimpi itu lagi?" Keluh Cyntia kemudian menatap jam kecil miliknya yang ada di atas meja.
"What jam setengah dua belas ?" Teriak Cyntia.
Dengan segera Ia bangkit dari kasur lalu menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi. Ia pun mengganti pakaian dengan sembarang dan langsung berlari menuju kampus karena dekat dari kosannya.
Sambil berlari Cyntia terus-terusan memikirkan kesalahannya.
"Huh, hari ini kan pendaftaran ulang dimulai jam 7 pagi. Gimana bisa aku kesiangan gini?" Keluh Cyntia.
*Tiba di depan ruang pendaftaran ulang*
Cyntia melihat sedih tulisan yang tertempel pada daun pintu itu dengan tulisan "Tutup"
Tanpa disadari cairan bening mengalir begitu saja dari ujung pelupuk matanya. Ia pun terduduk dan tersenduh-senduh dalam isaknya.
"Bagaimana mungkin aku melewatkannya? Hiks.. hiks.. hiks.."
*Satu minggu setelah kejadian itu*
Cyntia masih mengurung diri di dalam kosannya, ia terus-terusan menyalahkan dirinya.
"Aku belum bilang ke Mama kalau aku gak bisa masuk kampus favoritku itu karena kesalahanku. Gimana ini?" Gumam Cyntia sendiri.
"Huh! Bagaimana pun Mama harus tau mengenai ini, sudah satu minggu ini berlalu." Gumamnya lagi.
Trut... trut.. trut... Bunyi panggilan yang sedang memanggil.
"Hallo, kenapa nak?" Tanya Mamanya Cyntia dengan santai.
"Ma, aku.. aku.." Cyntia tak bisa melanjutkan ucapannya karena cairan bening di ujung matanya kini kembali mengalir dengan deras.
"Kenapa sayang? ada masalah di sana?" Tanya Mama.
Dengan berat hati Cyntia pun menceritakan kalau dia telat untuk mendaftar ulang dan dia sudah tak bisa masuk kampus itu di tahun ini. Ia harus mengikuti gelombang tahun depan jika mau masuk lagi ke kampus favoritnya itu.
"Yaudah, gapapa nak. Jadi kamu mau balik lagi ke sini atau masih mau di sana?"
*Dua Minggu kemudian*
Cyntia memutuskan untuk tetap berada di kota Jakarta dan sekarang Ia sedang mengikuti tes wawancara di maskapai Xxx sebagai pramugari.
Berbagai macam tes telah Ia lewati dengan lancar dan bahkan wawancaranya ini berlangsung dengan baik menurut Cyntia.
"Akhirnya selesai, tamatlah riwayat." Gumam Cyntia keluar dari ruang wawancara tadi.
Ia berjalan menuruni anak tangga dan keluar menuju parkiran. Banyak dari kandidat pramugari dan pramugara yang datang menggunakan mobil mewah sedangkan Cyntia hanya datang menggunakan motor metik.
Ia berjalan ke parkiran dan..
"Ahhh... Aku gak lulus.." Teriak Cyntia kesal.
"Mungkin belum rejeki." Sahut seorang pria dengan entengnya.
Cyntia pun menoleh, Ia mendapati wajah seorang pria yang tak asing baginya.
"Cih.." Ucap Cyntia spontan.
Pria itu berjalan mendekati Cyntia.
"Apa kata lu? Coba ulang." Ucap pria itu.
"Cih.." Ucap Cyntia dengan kencang sambil mendongakkan kepalanya.
Pria yang sedang berhadapan dengannya tidak lain adalah Ares.
"Pantas saja gak diterima, orang perilaku lu aja gini." Gerutu Ares.
"Suka-suka aku lah, hidup-hidupku." Balas Cyntia.
"Gua juga sedang sial kok hari ini." Ucap Ares kemudian duduk di kursi yang ada dekat parkiran.
Mendengar hal itu entah mengapa Cyntia pun merasa senasib dengan Ares. Ia pun ikut duduk di kursi itu.
"Bukannya kamu, udah jadi pramugara? kenapa bisa jadi sial." Tanya Cyntia heran.
"Gua di pecat gara-gara kesalahan teman, tapi yang disalahkan mala gua." Curhat Ares.
Dengan gercep tangan Cyntia menepuk bahu Ares sambil berkata, "Sabar ya!"
Ares menatap dalam mata Cyntia. "Sudah lama gua gak ngomong pake aku kamu. Padahal dulu aku komitmen untuk terus pakai aku kamu pada siapapun." Batin Ares.
"Iya, kamu juga sabar ya? Oh ya nama kamu siapa?"
"Kenalin aku Cyntia Olivia, boleh dipanggil Cyntia atau Olivia." Jawab Cyntia dengan senyum menawannya.
"Olivia?" Tanya Ares dalam hati.
*Sepintas gambaran dalam ingatan Ares*
"Permaisuri Ku Olivia, jika kita bertemu di kehidupan lain, pastikan kamu selalu di sampingku." Sedikit perkataan yang Ia ucapkan terbayang jelas diingatkannya.
Namun wajah perempuan yang sedang Ia gandeng tangannya itu sedikit buram dan tidak jelas.
"Aduh." Ucap Ares sambil memegang kepalanya.
"Kenapa Res?" Tanya Cyntia heran.
"Siapa perempuan yang ada dalam ingatanku itu? dan kenapa namanya sama dengan perempuan yang ada di sampingku ini?" Gumam Ares dalam hati.