Seorang lelaki tampak tak sadarkan diri. Tengkurap di atas sebatang pohon. Terbawa arus sungai yang menghanyutkannya semakin masuk ke dalam hutan larangan. Pakaiannya terkoyak ranting-ranting pohon yang menghadangnya. Tak sedikit bagian tubuhnya yang terluka. Malam semakin larut dan semakin gelap. Lolongan serigala terdengar menyebar ke seluruh penjuru hutan. Namun, suara itu tak membuat kesadaran laki-laki itu kembali.
Hingga pagi menjelang. Tiba-tiba batang pohon itu memasuki sebuah terowongan yang sangat gelap. melewati terowongan itu dan tersangkut di ujung terowongan yang lain. Benturan batang pohon dengan bibir sungai membuat kesadaran laki-laki itu perlahan kembali. Mencoba membuka matanya, namun gagal. Kepalanya masih terasa sangat pusing karena tubuhnya terombang-ambing. Tangannya menggapai sesuatu di sekitarnya untuk dijadikan pegangan. Terus meraba tapi kemudian tangannya menyentuh air sungai. Dengan segera ia mengambil air sungai itu untuk membasuh mukanya.
'Manis?' batinnya
Kemudian ia coba untuk meneguk air itu. Beberapa tegukan dan rasa hausnya pun sirna. Perlahan ia mencoba kembali membuka matanya. Dan mulai melihat sekitarnya.
"Rumput yang sangat hijau dan terawat. Bunga-bunga berwarna merah, pink, ungu, kuning dan putih. Di mana ini? Bukankah ini di dalam hutan?" ucapnya penuh tanya.
Dia kembali mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri. Memperhatikan lebih cermat tempat yang ia tempati sekarang. Lalu matanya membola. Mulutnya menganga lebar. Mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Ini ... Apa ini ilusi? Itu bukan bunga, tapi pohon lollypop warna-warni. Dan airnya ... COOOKLAT. Itu pohon permen kapas. Di atas pengunungan ada brownies, opera cake, sacher cake, chocolate mile crepes dan di puncaknya ada lava cake?"
Ia mencubit lengan kiri dengan tangan kanannya
"Aaawww ... sakit," pekiknya.
"Ini bukan mimpi. Tunggu. Itu bukan cake tapi lebih seperti ... rumah. Di mana ini? APA ADA ORANG DI SINI?" teriaknya.
Tak ada jawaban. Hanya terdengar suaranya yang menggema. Kemudian ia memutuskan untuk berjalan menuju cake-cake, em ... bukan, maksudnya rumah-rumah di atas pegunungan yang terlihat seperti cake penuh coklat yang lezat itu.
Ia mengambil satu batang lollypop untuk dijadikannya tongkat. Sambil berjalan menyusuri jalan setapak yang seperti terbuat dari dark choco, ia memetik permen kapas dan memakannya.
"Hmm ... benar-benar bisa dimakan. Blackforest ini enak juga. Di sana banyak sekali rumah. Tapi kenapa tidak ada orang sama sekali? Apa mungkin karena masih terlalu pagi ya? Wah ... aku makan permen karet ini saja," celotehnya sambil terus berjalan.
Ia terus berjalan agar cepat sampai di desa yang seperti kumpulan kue coklat itu. Hingga tinggal beberapa meter lagi tiba di gerbang desa, tiba-tiba sesuatu yang kecil seperti jarum mengenai dahinya. Ia pun segera mencabut dan memperhatikan jarum itu.
"Ini seperti ... anak panah. Tapi kecil sekali?"
Belum selesai dengan kebingungannya, tiba-tiba jarum kedua datang lagi. Lalu ketiga, keempat dan PULUHAN.
"Arrrgh ... tolong ... aku bukan orang jahat. Sungguh ...," teriaknya sambil berlari mencari tameng.
"Siapa pun kalian, dengarkan aku! Aku Wenzel Metterich. Aku hanya anak muda yang tersesat. Tidak punya niat jahat sama sekali. Tolong lepaskan aku!" teriaknya sambil sesekali memakan nata de coco yang sempat ia ambil saat hendak bersembunyi tadi.
Hening. Tak ada panah meluncur. Membuat Wenzel mengintip dari persembunyiannya. Semakin mendongak hingga terlihat kepalanya. Ia melihat sekeliling. Tak ada pergerakan. Ia memutuskan hendak berdiri.
JLEBB ...
Tiba-tiba sebuah panah melesat tepat mengenai ujung hidungnya. Membuat Wenzel kembali menunduk dan bersembunyi.
"Arghh ...," teriaknya saat mencabut panah itu.
"Lebih besar dari yang tadi. Pantas saja lebih sakit. Hei ... ini juga coklat?"
Tiba-tiba dari arah langit ada semacam jaring terbuat dari permen kapas, oh bukan, itu permen karet. Jaring itu jatuh tepat mengenai dirinya. Sekujur tubuhnya terlilit jaring tersebut. Dan seakan jaring itu memiliki kekuatan magic sehingga bisa bergerak sendiri membalut sekujur tubuh Wenzel. Dia sekarang nampak seperti mumi berwarna pink.
Wenzel mencoba melepaskan diri dari jeratan jaring. Namun gagal. Semakin berusaha bergerak, semakin kuat lilitannya. Dia pun pasrah, tak bergerak. Ia merasakan tubuhnya terangkat ke atas. Melayang melewati gerbang desa. Masuk lebih dalam ke desa dan berhenti di tengah tanah lapang. Dan mendarat di tanah dalam posisi berbaring.
"Kau tahu apa kesalahanmu?"
Tiba-tiba terdengar suara yang bertanya padanya. Ia pun hanya bisa menggerakkan bola matanya mencari asal suara itu. Tak menemukan apa pun.
"Hmmmp ... hmm ... hmmmppp ...," suaranya tertahan karena mulutnya terbungkam permen karet.
"Kau masuk ke wilayah kami tanpa izin dan memakan banyak kekuatan magic yang kami hasilkan dengan susah payah," cecar suara itu.
"Mmmmp ... mmmph ... "
KRAKK ...
Permen karet yang menutup mulutnya pun sobek. Dan Wenzel mulai memohon.
"Mohon maafkan aku. Aku pingsan sebelum aku memasuki tempat ini. Aku tidak makan berhari-hari. Jadi, ketika melihat banyak makanan aku langsung makan. Aku akan menggantinya. Tapi tolong lepaskan aku. Keluarga angkatku dalam bahaya," pintanya.
"Jangan banyak alasan. Tidak ada orang yang datang ke tempat ini dengan niat yang baik, apalagi tersesat. Seluruh bagian Choco Island telah diselimuti kekuatan magic dari Suku Sacher. Setiap orang yang bisa menerobos masuk pasti punya kekuatan yang besar. Panah jarum coklat yang menyerangmu itu telah dilumuri racun dan kau tidak terluka sama sekali. Siapa sebenarnya kamu?" ucap suara itu.
"Sungguh. Aku tidak bohong. Aku tidak punya kekuatan magic apapun. Aku hanya yatim piatu yang dibesarkan oleh keluarga angkatku. Mereka dalam bahaya. Ayah menyebut seseorang bernama Kayser menyerang kediaman kami. Lalu menyuruhku lari sejauh mungkin. Dan karena ledakan yang besar itu aku jatuh ke sungai dan terbawa arus," jelas Wenzel.
Kemudian datang buah strawberry berukuran 30 inci, melayang di atas Wenzel. Lalu keluar seorang wanita, bukan, anak kecil. Lebih mirip seperti kurcaci wanita. Tingginya sekitar 15 inci. Ia mengarahkan tangannya pada Wenzel. Perlahan Wenzel terduduk, tetap dalam kondisi terbungkus. Ia melihat sekeliling dan ternyata muncul puluhan kurcaci kecil lainnya di belakang wanita itu. Mereka lebih tinggi sedikit dari kurcaci wanita itu. Lalu dari dalam setiap rumah muncul satu per satu kurcaci lain. Mulai dari yang masih bayi digendong sampai yang terlihat tua berjenggot putih.
"Siapa kalian?Apa kalian manusia?Hei gadis kecil, lepaskan aku!" ucap Wenzel.
"Tunjukkan hormatmu pada Tuan Putri Cherry," bentak salah satu pengawal wanita itu.
Putri Cherry memberi isyarat tangan untuk menyuruh pengawalnya diam. Pengawal itu langsung menunduk patuh.
"Kayser katamu? Siapa keluargamu?" tanya wanita itu.
"Metterich, keluarga Metterich."
"Tunjukkan kemampuan magicmu!"
"Aku tidak punya kemampuan magic seperti itu."
"Bohong! Keluargamu menyembunyikanmu untuk melindungimu. Kau incaran Kayser. Di tubuhmu pasti menyimpan sesuatu," ucap Putri Cherry dengan nada dingin dan tatapan yang tajam.
"Aku tidak tahu," jawab Wenzel.
Putri Cherry mengeluarkan tongkat magicnya dan menusuk tepat di jantung Wenzel.
"Arrghhh ... " teriak Wenzel.
Tongkat Putri Cherry pun ikut terpental dan jatuh. Putri Cherry kaget dan membuka matanya lebar-lebar. Nafasnya tampak tak beraturan setelah mengecek kekuatan tersembunyi Wenzel.
"KAKEK TUA TUKANG TIDUR MOLTEN! CEPAT KELUAAAR!" teriak Putri Cherry.
Lalu kurcaci berjenggot putih panjang langsung muncul di hadapannya.
"Hei Putri, tenanglah! Santai. Aku ini sudah tua. Aku sudah pensiun. Biarkan aku istirahat di masa tuaku. Hal penting apa yang ...?" ucapan kurcaci tua Molten terhenti karena disumpal coklat oleh Putri Cherry.
"Aku bisa diabet nanti," keluhnya. Lalu membuang coklat di mulutnya.
"Kayser mengincarnya. Seseorang menyegel kekuatannya. Dan itu adalah es. Kekuatannya adalah es. Hanya kau yang bisa melepas segel ini di sini. Lakukan!"
Pak tua Molten segera memasang wajah serius dan menatap Wenzel yang tengah kesakitan. Segera Ia mengucapkan mantra magic dan mengarahkan pada segel di tubuh Wenzel. Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya segelnya terlepas. Pakaian Wenzel seketika berubah menjadi pakaian kebesaran kepala Suku Sacher.
"Hormat pada Kepala Suku Sacher selanjutnya, Wenzel Von Sacher," ucap Pak Tua Molten sambil menunduk hormat.
"HORMAT PADA KEPALA SUKU SACHER," semua penduduk ikut memberi hormat.
'Kepala suku apa? Dasar gadis kecil! Gara-gara kau aku harus terjebak lebih lama di sini,' batin Wenzel.
"Jangan mengumpatku dalam hati, Wenzel. Tanggung jawabmu menjaga keturunan terakhir Kerajaan Choco Island, yaitu aku. Jadi jangan mengumpat di belakangku. Aku mendengarnya," ucap Putri Cherry.
'Jadi dia bisa membaca pikiranku?' Wenzel kaget.
"Tentu saja bisa. Kekuatan kita terhubung."
"Maafkan aku, Putri!"
"Berlatihlah dengan Kakek Molten selama beberapa hari untuk mengontrol kekuatanmu. Lava Cake akan erupsi beberapa hari lagi. Kita harus perkuat pelindung kita dan bersiap jika Kayser tiba-tiba menyerang."
Putri Cherry pun kembali masuk dalam kereta strawberry dan kereta itu menghilang. Sementara Wenzel mengikuti Kakek Molten untuk berlatih.
*****
5 hari kemudian.
"Cepat evakuasi anak-anak dan orang tua. Lindungi mereka. Beberapa menit lagi lava cake akan menyemburkan lava panasnya," Wenzel mengarahkan semua penduduk untuk menuju benteng black forest.
Semua kurcaci segera masuk ke benteng. Kemudian Putri Sacher, Pak Tua Molten, dan Wenzel menciptakan perisai pelindung menyelimuti benteng. Dilanjutkan mengontrol arah muntahan lava yang sudah keluar.
Tiba-tiba ...
KRAKK ... KRAKK ... PYARRR ...
"Gawat! Pelindung luar Choco Island pecah," ucap Pak Tua Molten.
"Wenzel! Perbaiki pelindungnya!" perintah Putri Cherry pada Wenzel.
"Baik," jawab Wenzel. Wenzel berbalik badan hendak memperbaiki pelindung. "Oow ... terlambat. Kayser! Di mana keluargaku?"
"Halo, Wenzel! Mereka yang tidak menurut padaku. Jangan salahkan aku jika mereka menyusul ayah ibumu. Hahaha ...," jawab Kayser. Membuat Wenzel sangat terluka.
"Putri Cherry! Menikahlah denganku dan kau tidak perlu melindungi Choco Island lagi. Aku yang akan melindungimu," ucap Kayser.
"Dalam mimpimu pun aku tak mau menikah dengan orang sepertimu," jawab Putri Sacher.
Putri Sacher yang melihat Wenzel diam tak bergerak dalam kesedihannya pun bergerak maju dan hendak menyerang Kayser. Namun, dengan cepat Wenzel menahan Putri Cherry.
"Biar aku saja. Kau, kendalikan lavanya," ucap Wenzel.
Wenzel yang tersulut emosi langsung menyerang Kayser. Keduanya beradu kekuatan. Sangat cepat. Sangat kuat. Benturan kekuatan keduanya membentuk cahaya putih yang menyilaukan mata. Membuat siapa pun tak dapat melihat apa yang terjadi di dalam kilatan cahaya itu.
Sementara itu, Putri Cherry menyuruh semua pengawal menghadapi pengikut Kayser.
"Hancurkan mereka tanpa sisa!" perintah Putri Cherry.
Pertarungan pun terus terjadi di antara letusan-letusan lava cake. Sementara PutriCherry dan Pak Tua Molten terus mengendalikan aliran lava yang keluar.
Setelah beberapa waktu, tampak Wenzel menuju ke pusat lava cake dan melemparkan Kayser yang terbungkus es krim beku. Bersamaan dengan itu erupsi lava cake mencapai puncaknya. Dan ...
BOOM ...
Terjadi ledakan yang sangat besar. Wenzel segera membekukan semburan lava itu. Kemudian memecahkannya di udara. Diremukkan menjadi butiran salju. Sehingga salju turun di mana-mana. Memberi kesan seperti es krim yang dijadikan topping kue-kue coklat.
"Putri! Aku berhasil membunuh Kayser. A-ku ...," ucapan Wenzel terhenti ketika berbalik badan dan mendapati para kurcaci di belakangnya menghilang dan berganti ... manusia?
"Kalian siapa?" tanya Wenzel waspada.
"Kami adalah penduduk Suku Sacher dan juga pengawal Putri Cherry. Kayser menyihir kami menjadi kurcaci. Sihirnya hilang ketika dia sudah mati," jelas salah satu penduduk.
"Lalu Putri?"
Manik matanya menyapu segala arah mencari keberadaan Putri Cherry. Dan dia tersenyum, terpesona dengan kecantikan Putri Cherry. Terus menatap Putri Cherry tanpa sadar lagi bahwa masih banyak pengikut Kayser yang masih menyerang.
"Wenzel! Di belakangmu," Putri Cherry mengingatkan Wenzel.
Wenzel tetap menatap Putri Cherry. Tangannya menangkap tangan musuh yang menyerangnya. Dengan santai terus berjalan mendekati Putri Cherry. Kemudian membekukan tubuh musuh-musuhnya sekali gerakan. Meremukkan musuh-musuhnya dengan masih tersenyum menatap Putri Cherry.
"Arghh ... "
Semua musuh musnah.
Wenzel terus berjalan mendekati Putri Cherry. Lalu tiba-tiba berlutut di hadapan sang putri. Dengan tangan kiri berada di belakang punggungnya dan tangan kanan memegang cincin es putih yang indah. Entah sejak kapan dia membawa cincin itu. Hanya dia yang tahu.
"Putri Cherry! Menikahlah denganku. Hanya aku yang bisa melindungimu. Jadi, jangan ada penolakan."
"Kau itu melamar atau memaksa?" Putri Cherry balik bertanya tanpa menjawab.
Putri berjalan berlalu melewati Wenzel. Wenzel menunduk lesu.
'Apakah aku baru saja ditolak? Mungkin dia masih benci padaku karena aku pernah memanggilnya anak kecil,' batin Wenzel.
Tiba-tiba Putri Cherry kembali dan mengambil cicin itu lalu memakainya sendiri.
"Siapa yang menolak? Apa ini? Sungguh tidak romantis. Melamar di saat selesai perang. Tidak ada kejutan, bunga, lilin, atau apa pun itu. Dan aku harus mengambil sendiri cincinnya dan memakai sendiri. Sungguh keterlaluan," gerutu Putri Cherry sambil berlalu meninggalkan Wenzel yang masih terpaku.
"Selamat putri! Selamat ketua!" sorak sorai semua penduduk.
Tepuk tangan mereka menyadarkan Wenzel.
"AKU DITERIMA. PUTRI ... TUNGGU AKU!"
~THE END
***
Terima kasih sudah mau membaca. Maaf kalau kurang menghibur.
Masih dalam tahap pemula, baru belajar.