" kenapa aku harus menemanimu latihan? "
"park jimin" teriakku.
Sebenarnya ku tak bosan melihatnya menari terus-menerus, hanya saja aku khawatir padanya jika ia nanti jatuh sakit karena kelelahan berlatih, ia juga tengah menjalani diet.
Jimin menghampiriku dengan tubuh yang sudah dibasahi keringat lalu tersenyum padaku.
" ada apa?" tanyanya, mengambil air dan handuk kecil yang sedari tadi ku sodorkan.
Aku hanya menghela nafas, sesekali memasang muka yang menunjukan betapa bosan menunggunya berlatih.
" kenapa? " tanyanya lagi.
"aku lapar" jawabku pelan, alasan yang tak sengaja keluar dari mulutku begitu saja. Aku hanya ingin ia selesai lebih awal dan beristirahat.
" ayo kita makan, aku ganti baju dulu" jawabnya, aku hanya mengangguk.
" aku tunggu dimobil" lalu meninggalkannya begitu saja.
⭐⭐⭐⭐
Ia datang dengan raut wajah yang terlihat begitu lelah. Bagaimana tidak, ia latihan lebih dari 5 jam tanpa henti.
" aku yang nyetir, istirahatlah" ucapku, sambil memakaikannya sabuk pengaman.
" kenapa tak pakai sendiri sih" gerutuku.
" gomawo, aku sangat lelah sudah tak ada tenaga" jawabnya pelan, aku tahu betul dia akan langsung tidur karna kelelahan.
Aku sesekali memperhatikannya, ia tampak begitu kurus menurutku. Ya meski badannya tetap terlihat bagus. Jimin pasti sangat lelah sampai tertidur begitu nyenyak.
"jiminaa, kau takan bangun? Kita sudah sampai" sambil menepuk pipi kurusnya itu.
" aish, kenapa kau harus diet, pipi mochi kesayanganku sudah lenyap"
" tenang saja aku masih mencintaimu" gerutuku yang tanpa sadar terus menerus mengusap-usap pipinya.
Ia memegang tanganku lalu menatapku tanpa suara.
" ah,miane " mencoba melepaskan tanganku dari genggamannya. Ia tersenyum, mungkin melihat wajahku yang memerah.
" kita sudah sampai?" ucapku sedikit berteriak, ia lantas bergegas keluar dari mobil.
" aku mengajakmu ke rumahku, mau ikut ayo. Kalo tak mau bawa sendiri mobil dan pulang sana" pungkasku, melemparkan kunci mobil padanya.Aku tahu betul dia takan mau menginap ditempatku.
☀☀☀
Keesokan harinya, ia datang ke rumahku dengan senyum yang begitu manis, menenteng dua tas penuh buah-buahan segar. Dia begitu tahu aku sangat suka buah.
" kau libur? " tanyaku sambil memotong beberapa buah yang tadi ia bawa.
" ya, aku ada kencan" jawabnya dengan ekspresi yang masih biasa saja.
Aku hanya diam tak mengatakan apapun, menatap matanya memastikan bahwa itu bukan candaan.
" kau serius? " tanyaku melebarkan kedua bola mataku, memastikan jika perkataanya itu serius.
" kau tak percaya padaku" ia terkekeh,
" bagaimana bisa kau punya pacar" ledekku santai, ya meski sebenarnya hatiku begitu tak karuan mendengar pernyataannya itu.
" memangnya aku tak laku, aku juga ingin pacaran seperti hyungku" jawabnya, lalu memakan beberapa potong buah.
" ya kau benar, siapa yang tak mau dengan seorang park jimin" jawabku, dengan wajah yang sedikit meledek padanya.
" hanya kau yang tak tertarik padaku" jawabnya sambil menyodorkan gelas kosong padaku.
Aku lantas beranjak mengambil gelas itu sambil menggerutu.
" kau bodoh, kau saja yang tak tau. Aku sudah jatuh cinta padamu lebih dari 10 tahun" gerutuku dengan suara yang begitu pelan.
" benarkah " tanyanya.
" apa? " tanyaku balik sambil menyodorkan segelas air.
"ayo kita pacaran" jawabnya.
" a..apaa pacaran? Kau tak bercanda kan " aku yang begitu kaget dengan ucapannya itu.
" aku serius " jawabnya, aku memang melihat keseriusannya itu lantas bergegas menuju kamar dengan paniknya.
Jantungku terus berdebar kencang, bagaimana tidak aku sudah jatuh cinta padanya sedari SMA, mustahil jika tak ada rasa suka yang tumbuh. Aku lantas menghela nafas dalam, mencoba menghampirinya yang ternyata ia sudah berdiri di depan pintu kamarku.
" tunggu... kau benar-benar bercanda kan? Kau sedang latihan untuk kencanmu kan? " Tanyaku, perasaanku begitu senang sekaligus bingung.
" aku serius, aku tau kau juga mencintaiku kan?" ia tersenyum padaku begitu manis, membuatku menjadi makin salah tingkah.
" kapan aku bilang begitu?"
" kemarin, semalam dan tadi. Sepertinya setiap hari, aku berpura-pura tak mendengarnya" ia lantas menghampiriku namun aku beranjak menuju tempat tidur menarik selimut lalu menutupi diriku sendiri.
" ya tuhan kenapa aku tak bisa menahan ini, aku tak bisa mengontrol diriku seperti biasanya" gumamku.
" kau baik-baik saja kan? " tanyanya sambil menarik selimutku.
" aku malu" , aku masih menutup kedua wajahku dengan selimut.
" aku mencintaimu... Aku sangat mencintaimu" ucapnya, aku tau dia sedang menggodaku.
Aku melepaskan selimutku, lalu mendaratkan satu ciuman dibibirnya. Ia tak berkata apapun, ia hanya langsung memelukku.
" aku mencintaimu, sangat amat mencintaimu" bisiknya dengan lembut.
" aku juga mencintaimu " entah mengapa air mataku mengalir begitu saja, rasanya begitu lega saat tahu ia juga mencintaiku.
Jimin menghapus air mata dipipiku, tersenyum padaku begitu manis. Ia mencium bibirku dengan lembut tanpa aba-aba, menyelusupkan lidah kedalam mulutku. Kami sesekali saling memandang lalu tersenyum, ciuman pertamaku denganya.
" sekarang kau pacarku, jangan terlalu dekat dengan para hyung ku ya " pintanya.
" kau cemburu? " tanya ku lalu tertawa kecil.
" kau tak lihat kecemburuan dalam diriku saat itu? Kau tak peka ya. Pantas saja kita baru bersama sekarang" jawabnya sambil menggelengkan kepala.
Kami melemparkan candaan satu sama lain, menghabiskan waktu bersama seharian penuh. Aku dan jimin tahu betul jika akan ada resiko di keputusan kami saat ini, namun aku maupun dia tak ingin terlalu memikirkan itu, apalagi ini baru awal. Awal untukku berpacaran dengan idola sekaligus sahabatku park jimin.