Namaku Adela, seperti mimpi bisa mendapatkannya. Tapi apa kita yang satu amin beda iman bisa bersatu untuk selamanya, hanya dia yang selalu ada di doaku, dia hanya dia.
Disuatu hari aku sedang belajar bersama temanku, di kamarnya kumelihat dia yang sedang menonton sesuatu, aku pun bertanya kepadanya.
"Lagi nonton apa?" tanya aku kepadanya.
"Ini, grup band korea namanya EXO. Enak-enak tau lagunya, mau nyoba dengerin gak kamu?" ucap temanku.
Aku pun mengangguk.
Ternyata benar lagu-lagunya sangat bagus sekali, kubenar-benar menyukainya. Tidak hanya menyukai lagu-lagunya, kujuga menyukai bahkan mencintai salah satu anggota dari member EXO, rasanya kuingin sekali bertemu dengannya, tapi apakah bisa aku bertemu dengannya. Walaupun cukup mustahil, apa masalah jika kita mencobanya, karena dia kujadi giat belajar, bahkan giat untuk menabung.
Aku menabung cukup lama, mungkin sudah 4 tahun kumenabung, sekarang umurku 20 tahun. Akahkah kubisa untuk menggapainya dan menjadi miliknya, aku mengambil semua uang tabunganku dan menyiapkan segala keperluanku di sana nanti.
"Kamu baik-baik ya di sana," ucap mamah.
"Jaga diri jangan lupa," ucap ayah
Aku mengangguk, setelah mengangguk kumelambaikan tangan kepada kedua orang tuaku lalu pergi ke bandara.
Sesampainya di Korea Selatan.
Aku sangat takjub sekali melihat indahnya pemandangan di Korea, benar ternyata apa kata orang-orang bahwa udara di Korea itu sangatlah dingin. Kuberjalan sambil melihat langit, lalu tiba-tiba saja.
Brakkk.
"Duh, maaf," ucapku sambil mencoba berdiri.
"Gwaenchana," jawab dia sambil membantu kuberdiri.
Aku melihat ke arah depan dan ternyata yang berada di depanku saat ini adalah Park Chanyeol, Idolaku sejak 5 tahun yang lalu, tidak kusangka akan bertemu dengannya.
Aku melihat sekeliling dan ternyata saat ini kuberada di gedung SM Entertainment sekarang.
"Yaampun pantesan aja bisa bertemu sama dia, ternyata kusudah sampai di depan gedung SM Entertainment," batinku.
Chanyeol yang melihatku melamun pun menggoyang-goyangkan badanku sambil berkata.
"Nuna ssi, neo gwaenchanayo?" tanyanya kepadaku.
"Nee, joneun gwaenchanayo," jawabku sambil melihat ke arahnya.
Dia yang mendengar kuberkata gwaenchanayo pun langsung lari, mungkin dia takut di sana, di tempat kejadian aku dan Chanyeol jatuh bersama dilihat oleh Dispatch.
Aku yang melihat Chanyeol sudah tidak kelihatan, langsung pergi ke apartemen tempat tinggal aku di Korea. Kupulang ke apartemen dengan muka yang memerah bahkan kumenjadi salah tingkah. Yaampun tidak kusangka ternyata Chanyeol seganteng itu, mimpi apa aku sampai-sampai bisa bertemu dengan Chanyeol.
Keesokan harinya kumencoba pergi ke gedung SM Entertaiment tetapi kutidak melihat dia datang ke gedung SM Entertainment.
"Yasudah, mending tunggu konsernya mereka aja deh," sambil menghela napas.
Akupun ke luar dari gedung SM Entertaiment, tapi apa ini mengapa hari sudah gelap. Kumencoba memberanikan diri untuk pulang ke apartemen sendirian, di tengah perjalanan tiba-tiba saja dari arah belakang ada yang mengikutiku, aku pun lari, lari dan terus berlari sampai pada akhirnya kuberada di jalan buntu, kubingung harus bagaimana lagi, salah satu dari mereka membalikkan badanku, sambil memegang pipiku lalu berkata.
"Ramyeon meokgo gallae?"
"Hajima, jebal," ucapku dengan suara ketakutan.
Dari kejauhan terlihat ada seorang laki-laki, siapa dia bukankah ini sudah sangat malam. Dia mendekat ke arahku lalu melawan semua laki-laki yang mengikutiku bahkan menggodaku, ternyata yang menolongku adalah Chanyeol.
Mereka semua pun kabur setelah melawan Chanyeol, Chanyeol mengajakku kesuatu tempat, ternyata dia sedang bermain bola basket sendirian di malam hari. Chanyeol mengambil tasnya lalu mengantarkanku pulang ke apartemen, tidak hanya itu kujuga mengobrol dengannya di malam itu.
Sesampainya di apartemen kumelambaikan tangan kepadanya begitu juga dengan dia, pikiranku sampai tidak karuan belum lagi Chanyeol yang mengingatkanku kalau besok malam akan ada konser EXO, dia mengingatkan aku untuk menontonnya di televisi.
Dia belum tau kalau sebenarnya kutidak menontonnya di televisi melainkan nontonnya secara langsung. Aku masuk ke dalam apartemen dan membuka kertas yang jatuh dari tasnya Chanyeol, ternyata itu adalah nomor handphonenya. Belum tau juga sih itu nomor handphonenya atau bukan, apa kucoba saja meneleponnya sebentar, aku pun memberanikan diri untuk meneleponnya.
"Yeoboseyo," ucapku di telepon.
"Nee, yeoboseyo. Igeo nuguseyo?" tanyanya kepadaku.
"Na, Adela imnida," sambil tertawa kecil.
Chanyeol yang mendengar kalau aku yang meneleponnya adalah aku pun langsung memencet video call, semalamanku video call dengan Chanyeol.
Keesokan harinya, di malam hari kubersiap-siap untuk nonton konser. Kusangat bersyukur karena kubisa mendapat tempat paling depan, bisa melihat Chanyeol dengan jarak dekat, kira-kira bagaimana ya reaksinya kalau tau kumenonton konsernya bukan dari televisi tetapi secara langsung.
Beberapa jam kemudian, EXO pun naik ke atas panggung, Chanyeol melihat sekitar tiba-tiba dia berhasil menemukanku, dia pun tertawa kecil karena melihatku yang memegang lightstik sambil berkata.
"Hwaiting-!" ucapku.
Setelah konsernya selesai aku pun pulang ke apartemen tanpa diduga ternyata Chanyeol berada di depan apartemenku dengan membawa sesuatu, kumendekat ke arahnya. Dia yang mengetahui kalau aku mendekatinya pun langsung menjatuhkan dirinya ke lantai sambil berkata.
"Urinen Sagwija," ucap dia kepadaku.
Aku yang mendengar Chanyeol berkata seperti itu langsung terkejut, tanpa basa-basi kumengatakan.
"Nee oppa,"
Chanyeol langsung berdiri dan memelukku, aku pun memeluknya tetapi tak lama kemudian Chanyeol melepaskan pelukannya lalu memasangkanku sebuah kalung, setelah memasangkan kalung tersebut ke leherku Chanyeol pun berkata.
"Yeuppeuda," sambil tersenyum.
"Gomawoyo," sambil membalas senyumannya juga.
Aku dan Chanyeol berlanjut hingga dua tahun, bahkan kusering ke gedung SM Entertainment untuk melihat Chanyeol latihan, dia juga udah sedikit-sedikit bisa bahasa indonesia. Terkadang kuberpikir apa ini bukan mimpi, kalau benar ini memang mimpi kuberharap untuk tidak dibangunkan dari mimpiku, tetapi jika ini bukan mimpi beruntung sekali aku bisa mendapatkannya.
Di saat Chanyeol memiliki waktu senggang, dia pun ikut kupulang ke negara tercinta aku yaitu negara Indonesia, tetapi di Indonesia Chanyeol tidak tinggal di rumahku melainkan di hotel.
Di siang hari kumengajak Chanyeol ke rumah, ayah sangat kaget sekali karenaku yang membawa Chanyeol ke rumah, awalnya ayah sangat senang tetapi setelah ayah tau kalau dia non Islam muka ayah seketika berubah, ayah menarikku ke dalam dapur. Di dalam dapur ayah berkata.
"Dulu kan ayah pernah bilang Del, kamu jangan pernah jatuh cinta dengan orang yang tidak seiman sama kita," ucap ayah
"Tapi bisa aja kan ayah, dia pindah agama terus dia belajar agama Islam,"
"Terus gimana sama keluarganya dan orang tuanya? kamu mau anak itu dimusuhin sama keluarganya besarnya sama orang tuanya juga??" ucap ayah sambil melihat ke arahku
"Pikir Del, jangan pikirin kamu sendiri," ucap ayah kembali.
Mendengar ayah berkata seperti itu aku langsung pergi dari dapur dan meninggalkan ayah sendirian, kumenarik Chanyeol ke luar rumah dan menceritakan tentang ayahnya yang berkata kalau kutidak boleh menikah dengan laki-laki yang tidak seiman, Chanyeol pun menunduk.
"Aku gak mau kamu dimusuhin sama keluarga kamu Chanyeol," ucapku sambil menunduk.
Chanyeol yang melihatku menunduk tiba-tiba berkata.
"Orang tuaku bolehin aku untuk menikah dengan siapa aja Del," ucap Chanyeol kepadaku.
Di saat yang bersamaan Chanyeol mendapat telepon, katanya Chanyeol disuruh balik ke Korea, Chanyeol pun memberanikan diri untuk mencium tangan kedua orang tuaku serta pamit untuk pergi ke Korea, mamah tersenyum tetapi ayah.
Hari demi hari berlalu, aku tidak mendengar lagi tentang Chanyeol yang akan ke Indonesia, bahkan selama beberapa hari ini Chanyeol tidak sekalipun memberikan pesan kepadaku, menelepon pun tidak.
Kini kuhanya berserah diri kepada tuhan tetapi sebuah mobil tiba-tiba saja datang ke rumahku, aku dan keluargaku berdiri melihat mobil tersebut. Ada yang turun dari mobil, dan ternyata itu adalah Chanyeol, dan bukankah itu keluarganya.
Chanyeol mendekatiku dan keluargaku sambil berkata.
"Om, izinkan saya untuk menikahi putri om, saya sangat mencintainya, om tidak perlu khawatir tentang saya yang akan dimusuhin sama keluarga saya apabila saya menjadi Islam," ucap Chanyeol sambil melihat ke arah ayah.
"Semua keluarga saya mengizinkan saya menjadi Islam. Sekarang saya sudah menjadi Islam, saya berjanji akan melindungi, menjaga anak om dengan baik, bahkan akan menjadi suami yang menuntunnya masuk ke dalam surga," ucapnya kembali.
Ayah yang melihat Chanyeol yang begitu niat dan ingin menikahi aku pun langsung mengangguk dan mengizinkanku untuk menikah dengan Chanyeol.
Aku dan Chanyeol menyiapkan semua kebutuhan pernikahan kita berdua, mulai dari gaun pernikahan, pelaminan, dan lain-lainnya sudah kita persiapkan semua. Dan pada hari pernikahan kusangat terkejut melihat calon suamiku Chanyeol yang sangat tampan, Chanyeol juga terkejut melihatku bahkan takjub akan aku yang cantik di saat pernikahan kita berdua dilaksanakan, semua tamu berdatangan. Mulai dari grup boy band bahkan girl band SM Entertainment yaitu SHINEE, SUPER JUNIOR, EXO, RED VELVET, NCT, bahkan AESPA datang menghadiri pernikahanku dan Chanyeol. Semua warga di kampungku yang berada di acara pernikahanku bahkan teman-teman sekolahku pada terkejut dan tidak menyangka tentangku yang bisa mewujudkan impianku.
"Hebat ya Adela impiannya untuk mendapatkan Chanyeol terwujud,"
"Iya bener hebat banget, bahkan nih ya tamu mereka artis SM Entertainment dan nggak hanya itu. Pak Lee soo man pun datang ke pernikahan mereka, hebat parah sih ini mah,"
Note : Jika kita ada keinginan cobalah untuk menggapainya, jangan lupa dibarengin dengan usaha dan doa. Jangan pernah takut untuk gagal, karena kita tidak akan tau bagaimana selanjutnya bisa saja keinginan kita dapat terwujud jika kita memang benar-benar giat untuk mencapainya.
Ingatlah terus kata-kata ini "Semangat semangat semangat, aku bisa aku pasti bisa untuk mewujudkan impianku, cita-citaku, keinginan untuk pergi ke Korea, keinginan untuk pergi ke Mekkah, keinginan untuk menaikkan haji kedua orang tuaku dan lain sebagainya,"
~Tamat~