Aku menunggu pada privat room yang sudah Jimin pesan. Duduk di depan meja yang sudah tersaji beberapa makanan, dipesan khusus oleh Jimin. Katanya di kencan pertama kami diluar, harus spesial. Padahal nyatanya aku merasa sama saja. Kami tidak pernah bebas memadu kasih.
Tak lama sampai Jimin datang dengan pakaian serba hitam, sangat tertutup dengan masker dan topi padahal sedang musim panas diluar. "Kau menunggu lama Zi?" Tanya nya padaku. Aku hanya menggeleng samar, walaupun kenyataannya aku sudah menunggu Jimin hampir satu jam.
"Maafkan aku, aku baru bisa keluar, jadwal ku padat sekali." Aku menghela napas, marah pun tidak bisa. Pada kenyataannya aku harus kembali memaklumi sebab kekasihku adalah seorang selebriti. Publik figur yang sering wara-wiri di layar televisi. Memiliki penggemar yang tentunya bukan hanya di dalam negeri, banyak sekali sampai pengikut nya di media sosial mencapai angka jutaan.
Nama ku Zia, gadis biasa yang kebetulan beruntung mendapatkan hati seorang idola seperti Jimin. Awalnya menyenangkan, aku merasa paling beruntung sebab Jimin mencintai ku. Sampai hubungan kami menemui tantangan tiada henti. Jimin sibuk, sedangkan aku adalah tipe gadis yang selalu ingin dikabari.
Terkadang aku mudah sekali merasa cemburu melihat Jimin beradu akting bersama gadis lain yang jauh lebih cantik dariku, hingga membuatku benar-benar tidak selera menjalani hari. Atau terkadang kesal sebab Jimin tak memiliki waktu untuk kencan kami.
Kami sudah berhubungan sekitar lima bulan, dan baru kali ini kami dapat berkencan sungguhan, walaupun hanya makan siang diluar. Itupun Jimin memesan privat room. Sebelumnya kencan kami hanya sebatas di apartemen ku saja. Tidak berani keluar sebab hubungan kami memang tidak dipublikasikan. Masih dirahasiakan karena akan sangat beresiko mengumumkan hubungan disaat Jimin sedang berada pada puncak popularitas.
Jimin duduk di depanku dengan senyuman yang mengambang, aku membalasnya. Entah kenapa semakin kesini Jimin semakin tampan, membuatku benar-benar takut tersingkir. Aku bukannya berfikir negatif, tapi jika melihat penampilan ku sekarang aku bahkan tidak ada apa-apanya daripada aktris-aktris yang pernah bermain film bersama Jimin. Aku tidak munafik, terkadang aku merasa kecil saat bersama Jimin.
"Mari makan." Ucapnya, aku pun sama. Mulai meraih sendok dan garpu yang ada di depan ku. Belum sempat aku menyuapkan makanan, dering telepon Jimin sudah berbunyi. Jimin melihat ku sekilas seakan meminta izin untuk mengangkat telepon. Aku pun mengangguk kecil.
Jimin lantas mengangkat telepon tersebut, agak jauh dari tempat aku duduk. Kira-kira di sudut ruangan. Aku mendengarnya samar, tidak jelas. Tapi satu yang pasti. Itu pasti panggilan dari manager Jimin. Terlihat Jimin seperti menahan kesal, sesekali melirik ke arah ku.
Tak lama kemudian Jimin telah selesai, ia kembali duduk dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu.
"Pergi saja Jim, aku tidak apa-apa." Ucapku, Aku mencoba tersenyum walaupun dalam batin ingin menangis. Ini kencan pertama kami diluar, tapi dari ekspresi Jimin aku tahu dia pasti harus kembali bekerja.
Jimin menatapku lama. "Maafkan aku." Ucapnya kemudian.
"Lain kali masih bisa kok." Aku tersenyum walaupun nyatanya terlihat jelas jika senyuman ku terkesan terpaksa. Tapi tidak mungkin aku menahan Jimin. Pada kenyataannya aku berkencan dengan seseorang yang waktu dan hidupnya sudah diatur sedemikian rupa agar tidak ada celah.
Jimin terdiam sejenak. Sesaat kemudian ia menggeleng cepat. "Tidak-tidak, ini kencan pertama kita diluar, tidak boleh batal." Jimin lantas membuka kembali ponselnya, seperti mengetikkan sesuatu kemudian menyodorkan ponselnya ke arahku.
"Ini ponsel ku, kau saja yang pegang." Ujar Jimin.
Aku masih terdiam kebingungan dengan sikap Jimin. Merasa lama menunggu respon ku Jimin kemudian meraih tanganku, meletakkan ponselnya pada telapak tangan ku.
Ia menatapku teduh, tersenyum lebar hingga tercipta lekungan sabit pada matanya. Ia menggenggam tangan ku lembut. Menyalurkan rasa hangat dan kepercayaan satu sama lain.
"Zia, hari ini aku milikmu, jadi manfaatkanlah aku semau mu."