Hidupku berjalan monoton.
Ngantor, lembur, sedikit tidur, bangun, besoknya ngantor lagi. Hahh, di usia 24 tahun menjalani kehidupan sebagai wanita karir, aku bahkan tidak memiliki satupun gebetan. Karena hal itu aku sering merasa terasingkan, terutama ketika melihat teman sejawat ku banyak yang sudah menikah dan berkeluarga.
Sedangkan menatap kembali diriku yang masih gini-gini aja, aku menjadi putus asa, dan berpikir apa dalam kehidupan ini diriku memang tidak berjodoh dengan siapapun?!
“Ahhhh! Ayolah! Biarkan aku sekaliii saja dimanja seorang pria !!! “
“Hei bangun!!”
Huh?!
Mengerjapkan mata setelah seseorang membelai lembut pipiku, akupun sadar beberapa guncangan terasa abnormal. Maksudku apa apaan tempat yang kududuki ini, kok kayak naik bajaj!
“Hei! Kita hampir sampai! Ayo siapkan dirimu!! Atau seorang pria tampan takkan memanjakanmu loh. “
“Tidak !” Akhirnya membuka lebar mata, senyum yang awalnya terpaut dibibirku melenyap. Aku terkejut menyaksikan orang-orang bertelinga runcing berada disekitar.
“WOAHHH! SIAPA KALIAN!” Panikku spontan berdiri. Namun dijatuhkan oleh satu guncangan, tubuhku tersungkur didepan seorang gadis cantik yang telinganya juga runcing.
“Ya ampun... Kamu Elf yang ceroboh ya. Duduk yang tenang dong, jangan sampai terluka sebelum dibeli para Werewolf” Tutur gadis itu.
Tapi tunggu! Apa katanya? Elf? Werewolf?
Sontak menyadari aku tidak berada ditempat seharusnya, kakiku melemas. Apa ini? Kereta kuda? Bukankah seharusnya aku berada di rumah sakit?
Aku ingat mengalami kecelakaan karna berusaha menyelamatkan seorang anak yang berlari dilalu lintas hijau. Lalu mengapa sekarang?!
“Hei... Kamu baik baik aja? Kok jadi pucat, padahal beberapa waktu lalu kamu mengigau ingin dimanja seorang pria. Kita kan menuju kesana” ujar seorang lainnya yang sempat duduk disebelahku. Ia membantuku bangun
“Kita mau kemana?” Tanyaku terbalas kekehnya
“Kamu ini kenapa sih, tentu kita mau bertemu para Werewolf di lelang kerajaan Kabut”
“Hah? Lelang?!”
“Iya. Kita para Elf, setelah peperangan besar tidak memiliki banyak hak untuk memilih kehidupan. Kita tidak bisa bebas karena setiap saat terancam perburuan manusia. Hanya bangsa Werewolf lah yang bersedia menyelamatkan kita”
“Maksudmu... Aku Elf, gitu?”
“Ya ampun..” Menarik nafas panjang mendengar pertanyaan ku, gadis berambut pirang itu merogoh sesuatu dari dalam saku
“Lihat!” Ujarnya menyerahkan cermin
“WOAH!”
Dan tak percaya.
Aku terkejut melihat pantulan diriku dicermin itu. Rambut perak, mata biru, hidung mungil dan kulit Langsat bersinar. Apa itu benar-benar diriku?!
“Oh!” Tiba-tiba mendengar beberapa suara dari luar kereta kuda, kusadari telinga runcing ku ikut bergerak.
Astaga! Cute bangetttt!!!
Aku yang tak tahan pun hanya bisa tersenyum memberikan cermin itu kembali pada si pirang.
“Kamu percaya sekarang?! Kamu itu Elf bulan. Jadi bersiaplah menarik perhatian para Werewolf agar kehidupanmu lebih terjamin” pesannya. Namun masih terpukau dengan wujud baruku, aku tidak mendengarkan.
Aku kagum, aku nggak ngerti, tapi aku belum pernah seimut ini... Hahh, rasanya aku bisa mimisan liat wajahku sendiri
*
*
Akhirnya diminta turun oleh kusir kereta, kami yang disebut para Elf di arahkan menuju sebuah aula yang kedengarannya ramai oleh para pria.
Mereka excited banget sih. Batinku.
Memperhatikan semakin kami mendekati ruangan itu, para Elf disekitar semakin bersemangat kecuali aku.
Aku sih lebih takjub melihat megahnya kerajaan Kabut, dan beragamnya jenis makhluk yang hidup berdampingan. Menarik sekali! Aku sampai enggan berkedip.
“Hei! Apa yang kamu lakukan! Ayo kita masuk!”
“E, eh...?”
Menarik tanganku ketika aku sibuk menjelajah pasar kerajaan, si elf berambut pirang membawaku masuk kedalam aula yang ku lupakan adalah tujuan kita. Akupun hanya bisa menurut.
Tapi sesampainya disana yang kulihat adalah gelap. Keramaian yang sempat kudengar bahkan lenyap, membuatku takut hingga menggenggam tangan si pirang lebih erat.
“Tenang saja” bisik si pirang menyadari kegelisahanku.
Dan tak lama setelah kami di bariskan, lampu menyala mewah. Menyorot kami para Elf diatas panggung nan megah, untuk dipertontonkan pada pria-pria bertopeng bertelinga serigala.
“Apa apaan ini?!”
“Baiklah! Saudara Werewolf sekalian! Pelelangan Elf tahun ini dimulai dari harga 2500 koin emas! Kami akan memperlihatkan masing-masing dari mereka! Dimulai dari”
“Eh!!! Aku?!”
Mendadak ditarik oleh seorang pria yang sepertinya MC di acara itu. Aku tak bisa menolak. Iapun menjelaskan beberapa hal yang bahkan tidak ku mengerti seperti jenisku, keunggulan ku, dan hal lainnya. Sampai ia berhenti bicara, banyak dari pria bertopeng disana menaikan papan kecil bertuliskan angka
3000, 4000, 7000, 10... Sampai akhirnya berhenti di angka 55000 koin emas. Pelelangan ku hampir selesai. Kulihat, pria yang hampir membeli ku itupun nampak garang, meski memiliki lesung pipi yang mendalam bahkan ketika ia tak tersenyum.
Si pirang yang berada dibelakang ku juga berbisik kalau aku Sangat beruntung. Katanya itu adalah harga tertinggi yang pernah ia dengar. Tapi maaf-maaf saja!
AKU TIDAK DATANG KEDUNIA INI UNTUK DIPERJUAL BELIKAN!
Bahkan jika itu untuk menjamin kehidupanku kedepannya.
Lantas melirik tajam pria Werewolf tersebut, aku tak segan menendang meja pelelangan yang hampir diketuk palu. Senyumku terukir, bangganya dengan tubuh ringan ini aku berhasil membuat kegaduhan, dan hampir berlari keluar. Namun baru saja merasakan bebas, secepat kilat pria yang hendak membeliku menahan pergerakanku.
Ia sampai didepan pintu keluar sebelum sempat ku lewati.
“Minggir!!” Pintaku mulai marah. Namun dia tak beranjak.
“Apa harga segitu belum cukup membelimu? Berapa yang kamu mau?” Katanya
Alisku pun bertaut “HAH?! SELURUH KEKAYAAN MU BAHKAN TAKKAN CUKUP UNTUK MEMBELIKU! AKU DATANG KESINI BUKAN UNTUK DIJUAL!”
“Kau? Haha.. Naif sekali. Jika kau menolak bekerja sama dengan Werewolf, lalu kenapa kau datang ke pelelangan Elf?... Apa tujuanmu menjual diri?”
“APA?!! KATAKAN SEKALI LAGI AKAN KUBUNUH KA-“
“100.000 koin emas”
TOKK
“Terjual !!!”
“Eh?!”
Sadar sejak tadi aku dibodohi, kemarahanku telah mengabaikan meja pelelangan dan palu yang sudah dibereskan.
Para penonton yang menyaksikan pun tertawa, lalu memuji pria serigala yang baru membeliku itu. Pria itu mendapat banyak perhatian, tak terkecuali diriku yang langsung ditarik kedekatnya.
“Hei! Biarkan aku pergi!!!” Pintaku kala tangannya tak kunjung melepas
“Sshh... Slave harus menurut pada majikannya”
Apa? Slave?!
Tiba-tiba diberi sebuah tepukan dibelakang leher, kesadaranku mulai menurun. Aku tak lagi mendengar riuh penonton yang melanjutkan acara lelang, dan perlahan tak lagi melihat sosok pria yang mengangkat tubuh terkulai ku.
Satu-satunya yang kudengar hanya sebuah kalimat, menyebut
“Selamat datang, Ceena”
*
*
Aku ingat.
Selama mentari duduk di singgasananya, kabut tebal menjadi pemandangan umum di pemukiman kami. Namun lain lagi dimalam hari, ketika bulan bersinar paling terang di atas puncak gunung tertinggi, disanalah sumber kekuatan Elf bulan terpenuhi.
“Hahhh! Hahhh!”
Membelalakkan mata untuk kedua kalinya, aku terbangun dari alam mimpi. Aku tak mengerti, mimpi siapa yang kulihat barusan? Pemukiman Elf? Diatas gunung?
Dan parahnya apa-apaan ini???
Kenapa aku berada diatas kasur empuk berbalut sutra, dalam ruangan mewah yang terhias banyak emerald berharga?? Apa aku masih bermimpi???
Lantas meninggalkan banyaknya pertanyaan yang tidak bisa kujawab, aku kembali memejamkan mata.
“Semoga saat terbangun kali ini, aku berada di rumah sakit.. Kumohon! Tak apa dengan tubuh cacat atau apalah, setidaknya Itu lebih bagus daripada menjadi budak di dunia ini” Lirihku
Namun tidak kunjung mengantuk, aku yang kesal beralih turun membuka pintu besar dikamar itu, tanpa menduga kalau
“Oh... Sudah bangun?”
Akan berpapasan dengan pria Werewolf yang membeliku. Ia datang bersama dua Elf lain berdiri dibelakangnya. Mereka ...
“Asdjklmfgh! Kalian berdua CUANTIKK banget!” Pujiku tak kuasa menahan diri.
Sadar pada sifat dasarku yang menyukai hal-hal imut, melihat dua Elf itu bagai menyaksikan mawar hitam dan putih bermekaran.
Tapi kok bisa?
Bukankah menjadi slave itu harusnya tersiksa? Disuruh bersih-bersih rumah kah, nyangkul sawah kah, kerja paksa, kerja rodi, atau bahkan melayani hasrat majikannya. Lalu mengapa dua Elf ini terlihat sangat bugar ?
“Pfft...”
Eh?
Terkejut kala pria bertopeng itu mengalih muka tertawanya, tubuhku membatu. Tidak menyangka saja ia memiliki sisi itu.
“Hahh, hentikan obsesimu. Kau juga Elf. Sekarang masuk dan gantilah pakaian. Kita akan mengadakan jamuan. Kalian bantulah dia” Titahnya
“Tunggu!!” Tapi menghentikan dua Elf cantik yang hampir mendekatiku, aku berjalan lancang kehadapan pria itu.
“Aku tidak terima ini! Kenapa kau membeliku? Kenapa kau membawaku? Aku datang ke pelelangan bukan untuk menjadi Slave ! Bebaskan aku” Pintaku masih bersikap baik.
“Lakukan Althea, Melinda”
Namun diabaikan begitu saja, pria itu malah menyuruh dua Elf tadi membungkam ku, akupun tak terima.
“HEI! BEBASKAN AKU! DASAR PRIA MESUM PENYUKA ELF !” sindirku sontak menarik kerah kemejanya. Dia pun menghela
“Nampaknya dibesarkan jauh didalam hutan telah menghilangkan tatakrama mu... Kau belum melihat keluar kan? Ini adalah Mansion barat kerajaan Kabut”
“Hah?!”
CTAK
“Althea, Melinda! Urus dia !”
“Baik tuan!”
Tunggu....
Kenapa ini?! Kenapa setelah dihadapkan oleh jentikan jari, tubuhku begitu saja melemah. Aku bahkan hampir terjatuh jika saja Elf bernama Althea dan Melinda itu tidak menangkapku.
Demi apa aku pingsan lagi ???
*
*
Setelah peperangan antar enam bangsa, bangsa Elf yang pertama kali kalah menjadi perburuan utuh manusia. Mereka tak berdaya hingga dipaksa menjadi budak, diperlakukan semena-mena, dan diperalat.
Kemudian saat kondisi kritis itu berada pada puncaknya, uluran tangan Werewolf yang berjanji meminjamkan kekuatan melindungi para Elf, dianggap sebagai dewa penyelamat.
Para Elf yang polos itupun tak menyadari adanya beribu maksud dibalik uluran yang mereka terima. Bahwa sebenarnya berkedok nama Slave, di iming-iming kehidupan lebih baik, masa depan terjamin, dan perlindungan dari perburuan. Kebanyakan Werewolf justru mengambil keuntungan dari mereka.
Hal itupun sudah terjadi selama sepuluh tahun kalender Istana. Namun satu peribahasa menyebut tak semua orang sama, nyatanya berlaku di Mansion ini.
Mansion barat kerajaan Kabut, di kalangan kami bangsa Elf terkenal sebagai Heaven Blue, alias surga bagi para Elf. Alasannya bukan Karena kemegahan, atau letaknya yang berada didekat laut. Tapi karena kebaikan pria Werewolf pemilik mansion tersebut.
Werewolf yang identitasnya belum diketahui. Namun kabar burung mengatakan bahwa Heaven Blue, dibuat oleh anak kedua raja Giovanni (raja Werewolf yang memimpin keenam bangsa setelah kekalahan bangsa Vampir)
Sejauh ini, itulah informasi yang kudapat setelah berbaur dengan para Elf dimalam perjamuan. Sementara sudah seminggu sejak hari kedatanganku, aku belum bertemu lagi dengan pria serigala bertopeng yang membeliku.
Kudengar dia melakukan perjalanan bisnis, tapi aku nggak peduli juga sih...
Soalnya disini aku bebas bermain bersama Elf – Elf imut! Hehe! Aku senang menghabiskan hari mengobrol dan mendengar cerita-cerita mereka. Belum lagi melihat kemampuan istimewa setiap Elf yang mengagumkan. Aku pun mulai beradaptasi dengan lingkungan sekitar, juga beradaptasi dengan anatomi tubuhku yang baru.
Meski belum mempercayai sepenuhnya telah bereinkarnasi, di kehidupan kali ini, aku telah bertekad akan melakukan apapun yang ku mau! Tanpa terjebak jadwal ngantor atau deadline lagi!
“AKU INGIN DIMANJA SEORANG PRIA!!!” Teriakku dibalas tawa teman-teman.
Kami sedang mengadakan piknik di taman belakang Mansion.
“Teruslah bermimpi Alceena. Tuan kita tidak pernah menyentuh para Elf nya” jawab Althea. Dia adalah Elf cahaya
Dan sebagai informasi, aku tidak ingat darimana datangnya nama Alceena. Yang kutahu hanya sebangunnya dari pingsan tiga kali, malam itu teman-teman Elf mulai memanggilku demikian. Alceena.
Yeah, tidak buruk.
“ Lupakan saja harapanmu Alceena. Jujur aku tidak pernah melihat Elf seaneh dirimu. Kamu sudah diselamatkan tapi hampir menyerang tuan imalam itu” Decak Melinda, si Elf hutan.
Aku pun hanya tertawa.
Tentu saja bukan. Jika kubilang aslinya aku ini manusia yang bereinkarnasi kedunia mereka sebagai Elf, siapa yang percaya?!
“Omong-omong aku jadi rindu kampung halamanku. Pemukiman di sana menghadap langsung matahari. Setiap harinya terasa hangat, dan menyenangkan mengobrol bersama para tetua. Kami juga sering mengadakan piknik. Bagaimana denganmu Melinda?” Tanya Althea,
Melinda pun memejamkan mata “Aku tinggal di hutan, bersama para binatang menjaga siklus rantai makanan, dan menjaga kesuburan tanaman. Aku pandai memanah, karena sejak kecil dilatih oleh para tetua. Lalu... Aku juga bisa bicara beberapa bahasa binatang. Hanya itu ”
“Woah! Itu keren!” pujiku spontan bertepuk tangan, dan dibalas tolehan keduanya
“Bagaimana denganmu Alceena? Kau tidak pernah membicarakan tentang kampung halaman atau masa lalumu! Ayolah kita berbagi!” pinta Althea Dan Melinda mengangguk setuju.
Tapi menolak menjawabnya, Aku mengubah topik “Lupakan saja! Tidak ada yang menarik dari kampung halamanku. Lagi pula jika ku ceritakan kalian tidak akan percaya, haha” ujarku
“Daripada itu, boleh aku bertanya? Di tempat ini ada sekitar 200 Elf kan? Semuanya dibeli dengan harga tinggi, lalu kenapa pria itu menahan diri?”
Althea dan Melinda menaut alis “Maksudmu Alceena?”
“Intinya saat ada banyak Werewolf yang memanfaatkan Elf diluar sana, kenapa pria itu nggak melakukan hal yang sama pada kita?” tanyaku terbalas keluh Melinda.
“Anak ini benar-benar deh...”
Althea pun menepuk pipiku “Kamu itu bukannya bersyukur! Sudah bagus tuan tidak memperlakukan kita buruk! Kita jadi bisa fokus melayaninya, tanpa khawatir akan terluka. Kamu lihat kan kita mengurus mansion, memasak, berkebun, dan membantu menjaga semua berada pada tempatnya. Sebagai imbalan tuan akan menjamin keselamatan kita, apa semua itu tidak cukup untukmu?” Ceramah Althea
Akupun menghela nafas “Iya... Nggak gitu juga sih”
“Kamu memang Elf teraneh Alceena.. Padahal diantara Elf yang dibawa kereta kuda itu, kamu elf paling beruntung karena menjadi satu-satunya yang berhasil menginjakkan kaki ditempat ini”
Alisku bertaut “Maksudmu Melinda?”
“Yeah... Hal ini selalu terjadi, karena sebagian besar Elf di pelelangan itu, akan berakhir menjadi slave pemuas hasrat. Kenyataannya ada banyak Werewolf jahat di sanaa, tapi ketidaktahuan kalian membuat kalian buta”
DEG
Mendengarnya, akupun teringat dengan gadis Elf berambut pirang yang akrab denganku di kereta..
Sekarang, bagaimana dengan nasibnya??
Khawatir ku, tiba-tiba suara terompet menggema di langit Mansion.
“Sudah waktunya!” Kata Melinda
“Ayo cepat!” Ajak Althea
Sementara tidak tahu apa-apa, aku yang ditarik Althea hanya pasrah mengikuti langkahnya. Kami berlari menuju halaman depan Mansion.
Tapi berpikir hanya kami bertiga, nyatanya seluruh Elf juga berkumpul disana. Mereka semua begitu antusias memperebutkan barisan paling depan, hingga sempat berselisih dan parahnya Althea – Melinda ikut ikutan.
Hahh...
Aku sih nggak peduli, tapi karena Althea masih menggenggam tanganku, mau tak mau aku jadi terhisap kedalam gerombolan itu. Sungguh Menyebalkan! Terlebih ketika seseorang mendorong kencang bahuku dan membuatku berada dibarisan terdepan bersama Althea.
Ini masalah!
“Aku nggak mau disini, Thea!” pintaku sadar kalau antusiasme mereka ditujukan untuk menyambut kepulangan sosok yang tengah memacu kuda disana.
Itu si Werewolf bertopeng.
“Sstt. Alceena lihatlah! Tuan membawa Elf lain dibelakangnya! Tuan menyelamatkan Elf lagi!” sorak Althea
Lantas baru menyadarinya, aku kembali memperhatikan dan Althea benar! Kuda yang dipacu memasuki gerbang itu juga membawa seorang gadis disana.
“Eh?!”
Tunggu! Apa aku nggak salah lihat?
Itukan...
“Si pirang?!”
*
*
Menjelang malam dihari yang sama. Kami para Elf di mansion Heaven Blue, memberi perhatian lebih pada anggota baru yang dibawa pria Werewolf pulang dari perjalanan bisnis.
Namanya Sherianne, salah satu dari bangsa Elf matahari yang hidup di daerah timur. Dia juga si pirang yang sama, yang akrab denganku dihari pelelangan seminggu lalu.
Lalu kali ini, karena si pirang-
Maksudku...
Karena Sherianne mengalami trauma, ia memohon pada pria Werewolf agar aku (Satu-satunya Elf yang dia kenal) tetap berada disisinya. Pria Werewolf itupun memberi izin dan memintaku menemani si pirang sampai ketakutannya menghilang.
Begitulah..
Tapi sejujurnya yah. Aku tuh seperti melihat sosok berbeda
“Hiks!”
Mengingat betapa hangat dan cerianya dia diacara pelelangan minggu lalu, saat ini jangankan untuk tersenyum, berhenti menangis saja ia belum!
“Hei... Pirang-“
“Hiks! Huhu...Hiks~”
Ia nampak ketakutan, gelisah, dan menutup diri dari teman-teman Elf lain kecuali aku. Membuatku bertanya-tanya apa yang sudah dia alami diluar sana.
“Pirang, kau-“
“Huuuu ! Hiks huuu”
“Hei denger gak-“
“Hiks! Huaa-“
“CENGENG BANGET SIH !”
Ups...
Kesal karena kalimatku terus saja dipotong nya, aku spontan berteriak.
Tak kusangka itu berhasil menghentikan tangis Sherianne. Akupun beranjak meraih kain yang tergantung disudut kamar selagi suasananya tenang.
“Maaf. Tapi kau menangisi apa ?” tanyaku menyerahkan kain itu.
“Kau tidak akan mengerti..”
“Tentang apa ?”
“Semuanya !”
Hah?
Terlihat memilin ujung kain yang kuberikan padanya, Sherianne menatapku tajam
“Aku sudah mengalami banyak hal buruk disana. Aku diperalat! Aku disiksa demi kesenangan! Aku bahkan hampir tiada! KAU TIDAK AKAN MENGERTI!” Teriaknya.
Akupun bersyukur akhirnya dia mau bicara.
“Jadi begitu..”
Lantas ikut duduk disebelahnya, aku merebahkan badan “Lalu kenapa?” Tanyaku menguap kantuk
“Masa-masa sulit itu sudah berlalu kan? Menangisi hal buruk yang terjadi padamu takkan mengubah apapun. Kau harusnya bergerak maju”
“Huh??”
“Lihatlah faktanya. Kau berada dalam kamar mewah terhias emerald, diatas kasur empuk berbalut sutra, dan hangat... Semua fasilitas ini membuktikan kalau kau sudah diselamatkan, bukan ?” Jelasku, namun
“Dengan namamu itu, aku tak percaya pikiranmu sangat pendek!”
Alisku bertaut “Apa hubungannya dengan namaku?”
“Alceena kan? Itu berarti pemikir dan gigih. Tapi yang kulihat disini kau justru terbuai dalam kemewahan. Kau percaya pada Werewolf itu tanpa tau pada akhirnya kita akan berakhir sengsara!”
“Oh!!!”
Menepis cepat rasa kantuk ku, aku beranjak duduk “Heaven Blue!” ujarku
“Entah informasi ini bisa membantumu atau tidak, tapi dari cerita para Elf yang kudengar, Mansion ini adalah salah satu tempat paling aman untuk bangsa Elf!”
“Huh?? Heaven Blue? Maksudmu Mansion Barat kerajaan Kabut?” Sherianne pun nampak terkejut.
“Kau tau?”
“Iya. Beberapa Elf di ruang penyiksaan pernah berkata, jika berkesempatan mereka ingin melarikan diri ke Heaven Blue. Tapi.. Karena letaknya yang tersembunyi, tidak satupun dari mereka mengetahui dimana Heaven Blue sesungguhnya. Pada akhirnya Heaven Blue hanya menjadi bunga tidur bagi Elf disana”
“Kau sudah berada disana sekarang” ujarku
Dan melebarkan mata ketika mendengarnya, Sherianne nampak tak percaya “Aku... Di Heaven Blue? Jadi Werewolf yang membeliku dari Duke Robert adalah.. Pangeran Dethaniell?”
“Hahhh, Inilah mengapa seharusnya kamu tidak menutup diri dari teman-teman Elf ! Kau tau, sejak tadi mereka dengan senang hati menyambutmu. Tapi kau malah menangis dan menutup diri didalam kamarku begitu kau datang”
“A.. aku! Aku tidak tau kalau ini Heaven-“
“Sudahlah! Tidak apa. Aku sudah mengerti kondisimu, dan kurasa jamuan penyambutanmu akan ditunda hingga besok. Jadi lebih baik kita tidur! Ini kamarmu juga sekarang”
“Eh?!”
Meninggalkan Sherianne yang masih tak percaya dirinya berada di Heaven Blue, aku tersenyum menarik selimut dan segera mencari posisi nyaman.
“Oh ya pirang...” Panggilku sebelum memejam mata
“Kurasa terlepas dari kaitan sifat dan namaku, aku bukan berpikiran pendek... Kau tau, sebenarnya aku hanya tak ingin menyia-nyiakan apa yang kumiliki untuk kedua kali..” Ujarku terbalas sendunya
“Alceena, kamu-“
“Hoaam.... Aku mengantuk. Aku tidur ya, selamat malam “
Dan terpaksa mengakhiri secara sepihak obrolan kami. Aku sengaja berpura-pura tidur untuk mengawasi pergerakan Sherianne yang tak lama terlelap pulas disebelahku.
“Maaf yah... Bukan maksudku membiarkanmu tidur sendirian malam ini. Tapi ada yang harus kulakukan. Sweet Dream pirang” Tuturku membenarkan selimut Sherianne, lalu beranjak keluar kamar.
Kuharap aku masih sempat.
*
*
Kini
Berbekal informasi dari Namida, si Elf penjaga lembah. Aku berjalan melewati lorong gelap mansion menuju sebuah ruangan berpintu perak.
Itu adalah ruang kerjanya pria Werewolf, yang Namida bilang akan dihuni pemiliknya hingga pagi menjelang.
“Sekarang aku tahu tidak hanya penampilan, tapi sifat dan kebiasaan Werewolf itu juga sama misteriusnya! Hah... Aku bahkan tak percaya dikalangan Elf yang sudah menetap lama, tak satupun dari mereka pernah melihat wajah aslinya !” Oceh ku
Semua itu berdasarkan bukti dan informasi yang kudapat selama penelusuran seminggu ini. Tentu saja bukan. Aku takkan menghabiskan waktu bermain-main dengan para Elf, tanpa mengorek satupun informasi dari mereka.
Gini-gini aku juga sudah dewasa
Jadi, setelah mengetahui kepulangan pria Werewolf itu hanya berlangsung sementara. Aku berniat menemuinya malam ini juga! Tidak! Aku tidak ingin membuang kesempatan, atau menunda lebih banyak waktu saat banyak pertanyaan dalam benakku tak terjawab karenanya.
“Aku harus menemui nya! Aku harus bertanya padanya! Jadi Kumohon! Kuharap informasi dari piknik tadi siang itu benar. Dia takkan menyentuh Elf nya, kan?” Lirihku mendekati ruangan berpintu perak yang ternyata memiliki celah terbuka.
Loh?
Siapa yang berada diruangan ini selain si Werewolf ? Batinku merasakan beberapa pijakan kaki juga hadir dalam ruangan tersebut.
Hehe! Aku mungkin beruntung dilahirkan kembali sebagai gadis Elf bertelinga runcing. Karena dengan anatomi tubuh yang lebih sensitif, aku dapat mendengar suara berfrekuensi tinggi dan merasakan berbagai pergerakan bahkan dari benda-benda kecil
Lalu kembali pada diriku yang mulai mengintip lewat celah itu. Aku mendapati ruangan bercahaya biru yang terhias jajaran lemari buku. Sangat Aesthetic. Disana juga terdapat sebuah kursi dan meja yang dipenuhi banyak berkas berwarna ungu, namun satu hal yang menarik sorot mataku yaitu.
“Mereka...??”
Ialah kehadiran dua sosok Elf yang ku kenali adalah Althea dan Melinda, tengah sibuk mengobrol bersama pria Werewolf disana.
“Apa yang mereka lakukan malam-malam begini ??” Kaget ku membulatkan mata.
Lantas penasaran karena ketiganya terlihat begitu serius membicarakan suatu hal, aku mendekatkan telinga pada celah.
Mereka pun bicara...
“.... Maaf tuan”
“Tidak satupun informasi berhasil kami dapat. Semua terdengar seperti lelucon tiap kali dia bercerita” kata Melinda
“Itu benar tuan. Dia selalu mengatakan kami takkan mempercayainya jika ia mengatakan kebenarannya. Maaf. Identifikasi kami tak berjalan sesuai rencana” sambung Althea
“Huh? Apa maksudnya takkan mempercayai apa-apa?” Kulihat pria Werewolf itu mengalih muka
“Tidakkah satu hal pun menyangkut pemukiman Elf bulan digunung berkabut pernah dia ceritakan?!”
DEG
Althea menggeleng “Tidak tuan, sekian kali kami mencoba. Tapi Alceena tidak pernah menceritakan apapun tentang masa lalu nya. Bahkan jika itu mengenai tuan Alceen”
Huh ?!
“Alceena hanya mengatakan akhir-akhir ini ia sering bermimpi buruk, tuan. Kalau tidak salah, tentang berburu dan kereta kuda. Mimpi itu meninggalkan banyak pertanyaan untuknya”
“Mimpi??”
~~~NgINGGggNgggggNGG !!
“Ukh !!!”
Merasakan lantai yang ku pijak seakan bergerak. Sebuah dengungan nyaring menyakiti telingaku.
“Hahh.... Hahh! Hahh!” Hal itupun dibarengi sakitnya kepala yang menjalar ke seluruh tubuhku secara tiba-tiba.
Apa ini?!
Aku tak mengerti kenapa hal ini terjadi!
Mengapa Althea dan Melinda memata-mataiku? Kenapa mereka membocorkan curhatanku tentang mimpi buruk semalam? Apa hubungannya dengan pemukiman Elf digunung kabut?
Dan kenapa?!
Kenapa aku merasa pernah berada disana?? Aku bisa mengingatnya! Hampir suasana dan pemukimannya! Tapi kepalaku menjadi korban setelahnya
“Al... Ceen? Siapa..?”
BRAKK
“Huh?!”
“Alceena??”
Merasakan tubuhku diangkat setelah terjatuh mendorong pintu perak, sebagai seorang pengintip, aku mungkin sudah kehilangan tenaga untuk melarikan diri dari hadapan ketiga korbannya.
Tubuhku terasa begitu lemah, bahkan untuk membuka mata. Aku tak bisa.
“Alceena! Sadarlah!”
“Tuan! Alceena!”
“Ceena !!”
Apa ini... Kepanikan mereka terdengar berlebihan.
Sayang meski ingin melihatnya, satu-satunya yang dapat kurasakan hanyalah sentuhan tangan seseorang yang mengangkat tubuhku entah kemana.
DRAP DRAP
Juga pijakan kaki yang tergesa-gesa membawaku pergi seenaknya.
“Bertahanlah Ceena!”
Lalu aroma parfum dari kemeja sutra yang berpadu dengan piyamaku.
Orang ini...
Pria Werewolf... Ya?
“Tolong jangan temui Alceen. Jangan tinggalkan aku seperti dia!” Ujarnya
Membuatku terpikir, bukankah nama Alceen itu sangat dekat dengan namaku. Kebetulan kah?
Aku seperti pernah melihatnya berambut perak dan bermata biru. Alceen itu serupa seperti ku. Ya?
“Ukh!”
Tapi sakit!!
Hatiku sakit kala mengingat sosoknya.
Siapa sebenarnya dia??
*
*
Menarik anak panah menggunakan sebuah busur usang, anak laki-laki itu membidik seekor rusa yang keluar dari kawanan.
Lalu tak lama
SLAB
“Yes!”
Senyumnya terukir manis.
“Kamu lihat? Tak masalah jika benda ini berkarat! Yang penting adalah percaya pada kemampuan, dan yakin saat membidik sasaran!” Ujarnya mengelus puncak kepalaku.
“Dengan begitu mangsa apapun takkan lari dari hadapanmu. Mengerti?”
WUSHHHH
Dan mengangguk mendengarnya
Seakan langit ikut berbangga melihat ketekunan anak laki-laki yang sejak lama mempelajari teknik memanah, Mentari pun tak mau kalah menghias suasana dihutan pagi itu menjadi lebih bermakna.
Tapi tidak berlangsung lama seperti yang kukira.
JDOOR
Burung-burung berterbangan dari balik pohon, mamalia mencari tempat persembunyian, tak terkecuali aku dan anak laki-laki yang mendadak mengangkat tubuhku menjauhi area itu.
“Rusanya?” Kataku terbalas bekapan tangannya menutup mulutku dengan cepat.
“Kita harus kembali ke puncak kabut Alceena. Itu adalah senapan kerajaan. Mereka mungkin datang bersama banyak pasukan mencoba memasuki area ini!” Paniknya berlari menanjak gunung.
Akupun mengalungkan tangan “Apa kerajaan jahat?” Tanyaku, lalu terbalas tawanya
“Sangat! Mereka adalah vampir. Bangsa paling kejam yang berkuasa di negara ini. Kamu lupa ya? Pemukiman kita termasuk kedalam wilayah kerajaan yang belum tersentuh tangan mereka”
“Ohhh”
Jadi begitu...
Mengangguk memahami kalau ekspedisi kerajaan sedang dilancarkan untuk menguasai pemukiman. Anak laki-laki yang menggendongku justru tertawa
“Dasar... Berlagak seakan mengerti topik kita barusan. Alceena adiknya Alceen memang sudah dewasa ya!”
“Huh??”
Alceen?
Hanya satu nama asing yang disebutnya, tapi mampu membuat jantungku berdegup memandang wajah bermata biru, berambut perak, dan berkulit Langsat bercahaya itu.
Mungkinkah, anak ini...
BRAKKK
Tiba-tiba menyaksikan sesuatu terjatuh dari tebing yang hampir kami lewati, anak laki-laki itu menghentikan langkah, lalu menutup mataku secepat ia bisa.
“Jangan lihat! Alceena!” Pintanya
“Hh! Hahh! Urgh- AAAKH!”
Namun terlepas dari wujud yang tidak bisa kulihat, jerit rintihan seseorang masih dapat terdengar, membuatku penasaran dengan apa yang terjadi didepan sana.
“Ada apa??”
“Jangan Alceena! Jika kau melihatnya maka kau akan menjadi saksi terbunuhnya seseorang!”
“Huh??!”
Apa yang coba dia katakan?!
Alhasil enggan berpusing dengan banyaknya teka-teki, aku menepis tangan anak laki-laki itu dan menyaksikan secara langsung tubuh yang terkoyak, tergeletak diatas tanah.
“Alceena! Kau-“
“LIHATLAH !! Dia- dia masih bernapas...” Takutku
“Eh?!”
Saat itu, aku pun baru menyadari mungkin, seharusnya aku tidak memaksa melihat tadi, aku takut! Hatiku tak siap menyaksikan begitu banyaknya darah terhampar diatas tanah. Dan tak percaya
“AAAARRRGHHHHH !!!”
Ketika tiba-tiba tubuh itu beregenerasi membentuk susunan semulanya, dengan banyak paksaan dan jerit keras mengudara
Tapi mengapa wajahnya terlihat tidak asing? Aku seperti mengenalnya..
“Bukankah dia-“
“Kumohon bangunlah...”
*
*
DEG
“Kumohon bangunlah”
Ukh...
Berulang kali mendengar seseorang menyebut kalimat itu, mataku terbuka menatap langsung cahaya rembulan yang terhias kerlipan bintang.
Hahhh...
Nabastala begitu cantik. Tapi selain dari menyaksikan bentangan indahnya, terdapat satu hal lain yang menarik perhatian mataku.
Dialah sosok bertelinga serigala, berlesung pipi, dan bermata indigo, yang membuatku bernapas lega setelah melihatnya baik-baik saja.
“Kau... Masih bernapas, Dethaniell “ Ujarku tiba-tiba.
GRABB
“Syukurlah! Syukurlah Ceena!” Ia mendekapku begitu erat.
Aku pun mengesampingkan tindakan kurang pantasnya, sebab suara parau yang menggelitik telingaku, menyadarkanku pada air mata yang mengalir bersamaan dengan itu
“Terimakasih sudah kembali... Hiks! Terimakasihh.. Kupikir aku akan kehilanganmu juga..”
DEG!
“Kehilangan.. ku-”
“IYA BODOH! Kau sangat bodoh! Kenapa kau tidak berdiam dibawah sinar rembulan selama aku pergi? Apa yang kau lakukan?! Apa kau berniat meninggalkan ku lagi?? Ceena!”
“Hh?”
Lalu tak mengerti pada suasana yang terjadi, atau hubungan apa yang terjalin diantara kami. Berada dalam pelukannya melemahkan hatiku. Seakan hanya satu hal yang kutahu bahwa dia baik-baik saja, dan itu sudah cukup menghilangkan semua kegelisahan ku.
Aku tak mengerti! Aku ingin mendapat jawaban dari semua pertanyaan ku! Tapi untuk sekarang, sedikit saja, bolehkah aku hanya menangis dan meluapkan semua emosi yang selama ini terpendam?
“Alceena?”
“Hiks! Aku melihatmu terkoyak... Hiks.. Kau berteriak kesakitan, kau...! Kau jatuh dari tebing...”
“Kau..? Kau mengingatku?!”
“TIDAK! AKU TIDAK MENGENALMU!! Dengar! Kau hanya manusia serigala yang membeliku di pelelangan itu... Aku hanya tahu itu. Hiks! Aku hanya ingin tahu itu !!” Marahku bersama Isak tertahan.
Dia lalu mengelus puncak kepalaku “Aku mengerti... Kau akan baik-baik saja, kau akan baik-baik saja, kumohon tenanglah..”
Hah?!
“Apa yang kau mengerti !?” Aku melepas dekapnya
“Apa kau tau rasanya dihantui ingatan yang datang silih berganti setiap malam??! Apa yang kau pahami?!” Isak ku kembali meremas kencang kemejanya.
Pria Werewolf itupun memegang kedua bahuku. “Alceena... Lihat, lihat aku sebentar”
Ia mungkin menyadari kalau emosiku tengah terguncang, karenanya perlahan melepas pelukan kami, ia mulai menatapku dengan sorot mata sendu.
“Kau sungguh tidak mengingat apapun, bukan?” tanya pria itu memegang kedua sisi pipiku. Aku pun menggeleng.
“Apa maksudmu? Apa yang harus ku ingat saat aku bukan makhluk dari dunia ini? Rasanya aku ingin mati-“
“ALCEENA !!”
“Huh?”
Terbelalak saat dia meneriaki ku, kulihat Alisnya yang bertaut perlahan menurun. Lalu berubah menjadi sorot sendu yang menatapku seakan iba.
“Kumohon... Hentikan semua itu. Jangan katakan hal seperti itu. Kau adalah Alceena! Ingat?!”
“Bangsa Elf bulan yang membutuhkan cahaya bulan untuk melangsungkan kehidupan. Adik dari Alceen! Anak laki-laki yang telah menyelamatkan hidupku di puncak gunung kabut, sepuluh tahun lalu. Apa kau ingat?” Ujarnya
Sempat mengguncang bahuku agar mempercayai kata-katanya, pria serigala itu kini melepas tangannya. Ia mungkin berharap aku bicara barangkali sepatah kata.
Tapi apa yang harus kukatakan? Saat aku saja baru mengetahui banyak fakta?
Maksudku mungkinkah anak laki-laki yang kulihat terkoyak dalam mimpi, adalah pria serigala yang sekarang berada dihadapanku?
Dan Alceen, mungkinkah dia kakak laki-laki yang selalu menggenggam erat tanganku saat berburu? Semua yang dia katakan, layaknya memperjelas serpihan mimpi yang kulihat setiap malam.
Menjelaskan bahwa aku dengan tubuh ini, di dunia ini, sebelumnya telah mengalami banyak hal yang tidak ku ketahui.
Akhirnya sedikit memahami kondisi tubuh dan masa lalu gadis bernama Alceena, yang tubuh nya berada padaku. Aku melihat pria Werewolf itu nampak terpukul, sambil menutup wajahnya dengan tangan yang gemetar.
“Tolong jelaskan semuanya padaku” pinta ku.
Kini ku tahu tidak ada yang bisa kulakukan selain memahami situasi yang terjadi.
Pria Werewolf itupun membuka mata, lalu memintaku duduk di sebuah sofa yang entah Sejak kapan berada di sana. Kuperhatikan lagi kami berada diatap Mansion rupanya.
“Aku bingung harus darimana memulai. Tapi sejak pertama kita bertemu di acara pelelangan, saat aku melihatmu aku kenal kau adalah Alceena. Tapi sebaliknya ketika kau melihatku, jangankan mengenal, kau bahkan sudah membenciku saat itu juga. Kau tahu alasannya ?” Tanya pria itu
Aku menggeleng “Apa sesuatu terjadi padaku?”
“Kecelakaan. Sehari sebelum acara pelelangan di mulai, aku mendapat kabar dari mata-mata yang ku sebar, bahwa salah satu kereta kuda yang membawa para Elf jatuh ke jurang”
“Kecelakaan??”
“Benar. Itu adalah kecelakaan hebat yang memakan banyak korban, termasuk namamu yang kulihat berada di daftar Elf meninggal”
Mataku terbelalak
Namaku?
“Saat itu, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan! Aku sangat terpukul melihat nama Elf yang selama ini kucari, satu-satunya Elf yang bisa kuberikan rasa terima kasih, tiada sebelum ku temui” Ujarnya merunduk sedih. Lalu menatapku
“Alceen sudah meninggalkanku dimedan perang, lalu sekarang Alceena? Pikirku saat itu. Tapi akhirnya tetap mendatangi acara pelelangan, aku terkejut melihatmu berdiri diatas panggung dengan tubuh bersih tanpa luka. Aku bahagia! Aku berpikir mungkinkah keajaiban sedang terjadi di depan mataku??”
“Tunggu!” Menjeda sebentar ceritanya, alisku bertaut tak percaya
“Maksudmu sebelumnya, aku dengan tubuh ini sudah meninggal dunia?” Tanyaku. Tapi terbalas gelengnya
“Kau selamat. Entah bagaimana caramu keluar dari kecelakaan itu, tapi kau berhasil sampai di kerajaan kabut dengan menumpang kereta kuda yang datang selanjutnya” jelasnya
Hal itupun membuatku bertanya dari mana dia mendapat semua informasi ini.
“Kau menyebar mata-mata? Untuk mencariku? Apa Althea dan Melinda juga termasuk salah satu dari mereka?” Tanyaku
Dia lalu mengangguk.
“Mereka berdua adalah mata-mata yang kutugaskan untuk bertanya, Apa kau mengingat sesuatu tentang masa lalumu? Karena sejak pertama kau datang ke Mansion, aku menyadari sifat dan kepribadianmu berubah, kau bahkan tak mengenaliku. Jadi itu membuatku khawatir, hingga beralasan melakukan perjalanan bisnis, namun sebenarnya aku mencari informasi tentangmu sebelum mendatangi Mansion ini”
“Lalu apa yang kau temukan?”
“Amnesia. Di sana Aku menyimpulkan bahwa kau menderita amnesia karena kecelakaan kereta kuda” Tuturnya.
Kini mengelus puncak kepalaku yang mengebul mendengar ceritanya, sekali lagi dia mendekapku erat.
“Tapi semua sudah berlalu, aku senang melihatmu baik-baik saja. Meski kau tidak mengingat apupun tentang persahabatan kita, tentang kampung halamanmu, atau tentang Alceen mendiang kakakmu. Setidaknya aku bersyukur kita bisa bertemu”
Kini menenggelamkan wajahnya kedalam bahuku. Entah mengapa bukannya menolak, aku malah tidak memiliki kekuatan untuk mendorongnya.
Bukan!
Bukan aku setuju membiarkannya bersikap semena-mena, tapi hatiku seakan iba mendengar kisahnya yang berusaha mencari gadis Elf bulan, bernama Alceena.
Gadis yang sebenarnya sudah tiada, dan tubuhnya berada padaku sekarang.
“Kali ini aku tidak akan melepaskanmu. Hidup yang kumiliki sekarang adalah karena kalian, jadi biarkan aku berterima kasih dengan sepenuh hati. Biarkan aku menjaga permata peninggalan Alceen... Alceena” lirihnya.
Menenggelamkan malam itu dalam perasaan meluap seluas samudra. Aku tak berkutik dari dekapannya, hingga menitikan air mata yang ku anggap sebagai respon tubuhnya Alceena.
Aku sadar ini adalah perasaan seorang gadis yang bahagia bertemu kembali teman lamanya. Dialah anak yang pernah mereka selamatkan sepuluh tahun lalu, dan keduanya saling mencari hingga saat itu.
Kisah mereka membuat terharu, juga takut memikirkan kemungkinan terjadi bila Dethaniell tahu bahwa Alceena yang sedang di dekapnya, bukanlah sosok Alceena sesungguhnya..
Bukan adik dari Alceen atau salah satu dari bangsa elf bulan dipemukiman kabut..
Apa yang akan terjadi?
Jika ku katakan kebenaran, akankah sedikit saja ia mempercayai ku?
*
*
Keesokkan harinya.
Ketika terbangun dipagi hari, aku sudah berada di kamar bersama Sherianne yang masih terlelap, bahkan ketika matahari menyorot terang lewat jendela.
“Ugh... Ya ampun” Keluhku merasakan mata ini sembab, tubuh terasa berat, dan kepala lebih pening dari biasanya.
Hah..
Semalam aku juga tidak bermimpi, tidak satupun tentang masa lalu ku atau masa lalu Alceena. Raga ini hanya terlelap seakan lama tidak beristirahat.
Seperti menjelaskan bahwa sebagian teka-teki telah menemukan jawabannya dimalam itu. Di hadapan Dethaniell, pria Werewolf yang membeliku karena hubungannya dengan Alceena di masa lalu.
Kisah tentang Dethaniell dan dua anak dari bangsa Elf bulan.
Alceen dan Alceena namanya. Mereka adalah sosok yang menyelamatkan hidup Dethaniel sepuluh tahun silam. Keduanya menemukan Dethaniell terjatuh dari atas tebing dengan tubuh terkoyak, dan memutuskan membawanya ke pemukiman kabut untuk mendapatkan pertolongan para tetua.
Tak disangkanya diterima disana. Setelah mendengar kisah dibalik tragedi yang hampir merenggut nyawa Dethaniell, Elf bulan yang memiliki kebencian serupa pada bangsa Vampir memperlakukan anak Werewolf itu sama dengan anak mereka. Dethaniell sendiri senang dapat merasakan hidup damai bersama Alceen dan Alceena.
Sayangnya hanya berlangsung sementara. Dethaniell sadar kehadirannya merupakan bencana besar bagi pemukiman Elf bulan.
Vampir yang saat itu berkuasa sudah melacak keberadaannya, dan tentu takkan melepaskan anak dari musuh bebuyutan bangsa mereka.
Dethaniell pun memilih pergi setelah banyak berunding dengan diri sendiri, tapi terlambat karena bangsa Vampir sudah menyebar di pemukiman Elf. Tidak ada pilihan selain melawan.
Semua elf pun bertarung mempertaruhkan nyawa, termasuk Dethaniell yang tidak tahu kalau peperangan besar enam bangsa tengah terjadi diluar sana. Pikirnya, ia hanya ingin menyelamatkan pemukiman Elf bulan, bersama orang-orang yang sudah menyelamatkan hidupnya.
Akan tetapi kurangnya jumlah pasukan telah menjatuhkan bangsa Elf bulan. Akhir yang tak dapat dielak adalah kekalahan.
Hingga demi menghindari ditangkap kerajaan. Dethaniell, Alceen, dan Alceena yang masih hidup kabur menuruni gunung berkabut. Mereka pun berjuang dengan tubuh penuh luka menghindari puluhan anak panah yang menyerta. Namun sayangnya sekuat mereka berusaha, tak ada jaminan ketiganya selamat sampai di dataran.
SLAB
Kemungkinan terburuk datang ketika Alceen menghalau anak panah yang membidik Dethaniell, dan meninggal kehabisan darah didepan adiknya Alceena.
... Atas tragedi itulah Dethaniell merasa bersalah padaku. Pada Alceena, yang setelah sampai di dataran rendah justru ditinggal pergi olehnya.
Dethaniell tak bisa melawan. Karena itu adalah keputusan sang ayah yang sudah lama mencari keberadaannya sejak kereta mereka diserang setengah tahun lalu.
Akupun tak bisa mengingat apa yang terjadi setelah Dethaniell meninggalkanku di dataran gunung saat itu.
Semua berakhir serupa, karena ingatan ini masih meninggalkan teka-teki yang tak bisa kujawab.
Tapi sebenarnya yah... Bukan itu masalah yang mengangguku sekarang. Melainkan bagaimana aku harus menghadapi Dethaniell setelah semua yang terjadi diantara kami?!
Kemarin malam, kurasa aku tertidur setelah mendengar ceritanya, makanya dia memindahkanku kedalam kamar diam-diam. Yang tidak kupercaya adalah kami menangis! Berpelukan! Bertengkar! Menangis lalu berpelukan lagi!
Persis teletabiz!
“Alceena?”
“Hm? “ Menoleh setelah menghela napas panjang, ku tepati Sherianne terbangun.
Ia sedang menatapku dengan ujung alis bertaut “Kenapa kamu kelihatan frustasi? Apa ada masalah?” katanya
Aku pun tertawa.
BANYAK SHERIANNE! BANYAKKK !
Dan andai bisa ku jawab demikian, tapi hahh...
“Tidak kok! Aku hanya kurang tidur. Kurasa...” jawabku seadanya.
Sebisa mungkin bersikap natural, aku beranjak turun dari tempat tidur, dan berniat membasuh diri dipemandian air panas Mansion pagi ini.
“Oh benar. Hari ini perjamuan menyambut mu bukan? Ayo bersenang senang!” Ajak ku, diikuti langkah Sherianne.
Itu benar.
Biarlah hari ini berlalu seperti biasa, setelah itu barulah kupikirkan apa yang akan kulakukan.
*
*
“HUAAAAA! Alceenaaa! Hiks!!!”
“Huuu! Kami minta maaf Alceena.... Hiks! Aku senang kau! K-kau baik baik saja! Huuuu!”
“Cup! Cup! Teman teman imutku...”
Haha!
Melupakan diriku sempat memergoki Althea dan Melinda melapor pada Dethaniell kemarin malam. Aku tidak tau kalau hal tersebut akan menjadi kekhawatiran besar bagi mereka.
Althea dan Melinda langsung menangis setelah melihatku mendatangi perjamuan beberapa saat lalu. Tanpa kuminta, mereka menjelaskan dengan wajah ingusan alasan memata-mataiku.
Bahwa mereka juga mengetahui masa lalu Dethaniell, dan karena merasa berhutang sudah dibawa ke Heavy Blue, keduanya suka rela melakukan perintah. Aku pun sebetulnya percaya tanpa harus melihat tangis keduanya.
Tapi yeah baguslah!
Setidaknya dengan air mata itu aku bisa yakin kalau mereka benar-benar menganggapku sebagai teman.
Bukan sebagai objek pengamatan.
“Aku! Aku tidak akan mau jadi mata-mata lagi! Hiks! Aku gak mau!!” Isak Althea masih sesenggukan.
Melinda lalu mengangguk setuju “Aku juga tidak! Aku gak mau!!!”
Hal itu mengundang gemasku
“Mana bisa aku tidak memaafkan makhluk seimut kalian?!!! Sudah! Sudah! Aku sudah memaafkan kalian. Jadi berhenti menangis dan nikmati pestanya saja yuk!!” Semangatku menepuk puncak kepala mereka
Hahaha!
Rasanya Seperti memiliki adik!
Dua adik perempuan imut yang merengek didepan kakaknya setelah melakukan kesalahan, tepatnya!
Gemes banget lihat mereka sebut-sebut namaku dengan wajah ingusan dan mata sembab itu. Huhu :’)
“Sudah Beibeh... Duh, berhenti dong nangisnya... Cup! Cup!”
“Cup? Cup?”
“UWAH !”
Menepati pria Werewolf yang ku kenali tiba-tiba muncul dibelakang, jantung hampir melompat keluar.
“Kau pernah mengataiku mesum. Tapi lihatlah siapa yang masih terobsesi dengan jenisnya sendiri” Bisiknya mendekatkan tubuh padaku.
BRRRR !
Aku pun spontan menjauh, dan memilih bersembunyi dibelakang Althea – Melinda yang sibuk membersihkan air mata.
“Tuan. Selamat datang” sapa mereka disambut anggukan wibawa.
Tapi ih!
Idih sok banget!! Ilfeel ku
“Ekhm.. Maaf mengganggu kalian, aku datang untuk melihat apa semua persiapan sudah selesai?” Tanya Dethaniell.
Melinda pun mengangguk “Sudah tuan. Kami tinggal menunggu tuan memulai perjamuan”
“Begitu.. Jadi dimana anggota baru kalian?”
“Uhm, saya rasa bersama Namida dan Elf lainnya di ruang perjamuan tuan” jawab Althea.
Aduh!
Alhasil menyadari tingkahku yang hendak melarikan diri, Dethaniell memanggilku cepat
“Yang disana! Kenapa kau meninggalkan Sherianne? Bukankah aku memerintahkan mu untuk terus bersamanya kemarin?” Ketusnya
Dan inilah sifat pengatur Dethaniell yang sangat ku benci!
“Dia udah baikan. Khawatiran banget sih!”
“Lagian kalau bersamaku terus, pirang tidak bisa beradaptasi nanti! Gimanapun kan dia akan tinggal disini...” Jutek ku
Hah! Aku nggak suka diatur-atur!
“Benar juga...”
Yes!
Akhirnya mengangguk sebagai jawaban, pria Werewolf bernama Dethaniell itu tersenyum simpul pada Althea dan Melinda.
“Kerja bagus. Sekarang kembalilah ke ruang perjamuan. Kami akan menyusul” Ujarnya lagi-lagi mengejutkanku
“Kami? H, hei! Kalian mau kema-“
“Kita bertemu didalam ya!”
“Huh?!”
Namun diabaikan oleh Althea – Melinda yang terlalu senang mendapat pujian, mereka meninggalkanku bersama Dethaniell dilorong mansion begitu saja.
Ukh!
Padahal aku sudah menghindar bertemu dengan Dethaniell sejak pagi!
Aku sudah mengabaikan panggilannya yang menyuruhku datang ke ruang kerja! Juga mengabaikan sapaannya ketika kami bertemu di halaman!
BRAKK
Benar kan...
Ini yang ku khawatirkan!
“Jawab Alceena. Setelah apa yang kita lakukan semalam. Kenapa kau menghindari ku?”
Nah!
Sempat terkekeh karena mengingat kami hanya menangis dan berpelukan semalam, aku mencoba serius
“Jangan bicara omong kosong! Kita tidak melakukan apapun. Kau hanya menceritakan sebagai masa lalu yang tidak ku ingat! Selebihnya tidak terjadi apa-apa” jawabku
“Hah...” Lalu menghela napas mendengarnya, Dethaniell melepas kabedonnya dariku.
“Ada lebih banyak hal yang berubah darimu. Lebih dari yang kutahu” keluhnya
“Kadang aku rindu Alceena yang manja, yang selalu menatapku dengan mata ingin dilindungi! Adikku yang manis Alceena” Tuturnya mendamba
Alisku pun bertaut “Hah?! Jangan kekanakan deh! Setiap orang bisa berubah seiring berjalannya waktu, tau! Jangan berpikir aku masih sama seperti dulu !” Ketusku, tanpa tau kalau
“Hm? Kenapa kau jadi bicara seperti manusia, Ceena?”
“Huh?”
Dethaniell mengangguk pelan
“Satu-satunya bangsa yang memiliki emosi rumit adalah manusia. Sifat mereka bisa berubah seiring berjalannya waktu. Tapi hal itu tidak berlaku bagi bangsa Elf, Werewolf, Vampir dan ketiga bangsa lainnya. Darimana kau mempelajari kalimat itu ?”
DEG !
Oh tidak!
Baru mengetahui fakta lain lagi, aku khawatir apa mungkin identitas ku akan diketahui jika aku terus bersikap seperti ini? Tidak! Tidak! Ini harusnya menjadi kesempatan bagus, bukan?!
Ayo Alceena!
“Hehe” senyumku spontan mengembang simpul “Oi.. Gimana kalau aku bukan Alceena?” Tanyaku terbalas kernyitnya
“Maksudmu?”
“Yeah.. Bagaimana jika aku ini Reinkarnasi manusia yang hidup di tubuh Alceena?”
“Hah?!”
“Ayolah jangan terkejut. Aku hanya ingin bertanya apa kau pernah berpikir perubahan sifat dan kepribadianku disebabkan oleh alasan itu?”
“Bicaramu melantur lagi Ceena. Aku akan memanggil tabib-“
“Aku tidak gila, bodoh!”
“Yaampun! Aku hanya bertanya, bagaimana jika aku bukan Alceena yang kau kenal? Bukan bangsa Elf bulan? Bukan Adik dari Alceen teman lamamu?!” Seruku memandangnya yakin. Dia lalu terdiam tak lama aku kembali bicara
“Apa yang akan kau lakukan jika aku adalah orang asing dari dunia manusia, yang menumpang hidup ditubuh Alceena...? Dapatkah kau mempercayai itu?”
WUSHHHH
Berhembus kencang seiring dengan pertanyaanku, angin layaknya sengaja menerbangkan helaian rambut kami yang saling menatap menanti kepastian.
“Aku...”
Tiupannya lalu menyerta bersama sebuah jawaban keluar dari mulutnya
*
*
KRATAK KRATAK
Suara ranting kayu yang terbakar diperapian, melengkapi suasana musim dingin di seluruh Kerajaan Kabut.
Tak terkecuali di Mansion Heaven Blue, dimana para penghuninya sibuk menyiapkan makanan, ruangan, juga suasana hangat untuk menyambut awal pergantian musim.
“Urgh! Udara sangat dingin bahkan saat salju belum turun! Pakailah Syal Alceena, nanti kau sakit!” Pinta Sherianne menutup kesal jendela kamar.
Ah.. benar, ini sudah sebulan sejak malam perjamuan waktu itu.
“Kau sangat membenci musim dingin ya, pirang?” Tanyaku terkekeh diatas kasur.
“Sangat!!! Aku Elf matahari, terbiasanya dengan cuaca panas. Karena itu saat musim dingin aku kesulitan beradaptasi”
“Oh benar.. Kau seharusnya tinggal di wilayah tropis kan?”
Sherianne mengangguk “Di hutan hujan tepatnya. Disana kampung halamanku, tapi sejak peperangan aku belum pernah kembali kesana, dan terpaksa berkelana di wilayah asing yang tiap tahunnya salju turun. Menyebalkan!”
“Haha! Bersabarlah. Ini tidak akan lama”
Yeah..
Seperti inilah rutinitasku bersama Sherianne. Banyak waktu santai yang kami habiskan mengobrol dikamar, kami juga sering mengadakan piknik bersama Althea – Melinda, membuat pesta makan malam, dan bersantai bersama Elf lain SEHARIAN.
Haha~
Untukku yang selalu mendambakan hidup seperti ini, entah mengapa setelah mendapatkan nya aku malah tertekan.
Jujur, aku suka merindukan aktivitas lamaku dikantor. Di kejar deadline, atau lembur. Lalu besoknya tidak bisa bangun karena kelelahan.
Hidupku yang selalu sibuk hingga tak memiliki waktu menyenangkan diri sendiri. Tapi lihatlah disini! Aku mendapat semuanya! Di mansion Haeven Blue, sebagai salah satu dari bangsa Elf bulan, Alceena.
“Ceena! Sheri! Kami datang!”
“Oh! Kalian...?”
Menoleh kearah pintu dimana Althea dan Melinda hadir bersama banyak rajutan baru, aku membiarkan mereka masuk.
“Kalian membagikan apa lagi sekarang?” Tanya Sherianne mendekati box Melinda
“Ini dari tuan. Baju hangat dan beberapa syal yang bisa kalian pilih sesuka hati. Ambilah !”
“Eh? Apa setiap tahun dia selalu melakukan ini? Kemarin dia baru membagikan selimut baru kan?” Tanyaku memilih beberapa
“Uhn! Tuan memang sangatttt baik hati! Tapi sepertinya tahun ini jadi lebih spesial karena kehadiran seseorang!”
BLUSHH
Tertawa melihat ekspresi memerah ku, kejahilan Althea menciptakan suasana canggung.
“Omong kosong!”
“Haha jangan begitu.. Kami bertiga tahu kok kedekatanmu dengan tuan. Jadi berjuanglah!” Kata Althea
“Akhirnya mimpimu dimanja seorang pria terkabul, bukan?” Sambung Melinda.
Sedang Sherianne terkekeh mendengarnya “Sebenarnya aku sangat terkejut melihat tuan Dethan menarik pinggang Alceena dihari perjamuan... Aku tidak menyangka kehadiranku untuk memanggilmu justru menjadi pengganggu. Maaf yaa. Hihi”
“Apaan sih! Kalian bicara omong kosong!” Bantahku meletakkan kembali rajutan yang ku pilih.
“Kok marah?” -Melinda
“Ehhh! Ceena, aku bercanda” -Sherianne
“Alceena-“
“Sudahlah! Jangan hentikan aku! Aku mau mencari udara segar!” Kesal ku menepis tangan Althea ketika berjalan menuju pintu.
Tapi mungkin aku kelewatan karena setelahnya suasana menghening. Aku yang merasa bersalah lantas menoleh dan
“Tehee. Aku Cuma mau bilang tuan Dethaniell menunggu kamu di ruangannya sekarang” ujar Althea tersenyum usil
WHATS !???
“Ekhem!”
“Lanjutkan Ceena”
Ugh!
Akhirnya meninggalkan mereka bertiga didalam kamar, aku sempat mengutuk diriku sendiri karena terus saja memerah dan merona tiap kali dicomblangi.
Aku kesal!
Sangat kesal!
Karena faktanya seperti yang mereka duga bahwa aku! Nyatanya sudah menaruh hati pada Dethaniell yang bahkan sampai sekarang tidak pernah menganggap serius kata kataku!
Hahhh...
Berulang kali aku bertanya padanya, bagaimana jika aku bukan Alceena? Termasuk dihari perjamuan Sherianne sebulan lalu!
Nah... Tebaklah apa jawabannya
....
Oke, kalian semua salah!
Karena pria itu selalu menjawab..
“Alceena tetap Alceena. Tetap adik manis ku~”
BLERGHHHH!
Begitu...
Dan yang paling menyebalkannya lagi adalah, meski Dethaniell sudah memperjelas hubungan diantara kami (kakak adik), aku tetap baper! Tetap menaruh hati ! Tetap Menaruh rasa padanya !
Perasaan yang sejak zaman SD baru kurasakan lagi kali ini, membuatku susah tidur, gerogi, dan berharap lebih!
Tapi!
Aku beranggapan bahwa perasaan ini, MUNGKIN perasaan Alceena yang sejak lama sudah memendam rasa pada Dethaniell. Karena itulah setelah mereka bertemu, cintanya semakin tumbuh dan menjalar ke saraf-saraf ku.
Aku yakin! Aslinya ini, aku tidak suka sama Dethaniell.
Aku bahkan membencinya! Aku benci sifat mengaturnya!
CKLEK
Membuka pintu perak ruangan kerja, kehadiranku disambut senyum sumringah seorang pria yang berdiri menatap jendela
“Kenapa sih, kau sering banget memanggilku??!” Marahku tanpa menyapanya.
“Eh? Apa itu salah? Aku hanya ingin sesering mungkin menghabiskan waktu bersama adikku”
“Cih! Aku tidak suka!”
“Tapi kau datang, kan?!” Tawanya lalu menghampiri.
Aku pun menepis “Itu karena Althea bilang kau menunggu. Jadi cepat katakan apa mau mu?” Ketusku, walau aslinya menahan mati-matian perasaan yang menggebu.
“Baiklah.. Baik.. Aku tidak akan membuang waktumu nyonya Alceena, jadi kemari dan duduklah sebentar”
“Hah?!”
“Eits! Aku tidak menerima penolakan! Kau mau semuanya berjalan cepat bukan?”
“Ck!”
Akhirnya menyerah setelah mendengarnya, aku tidak memiliki pilihan selain mengikuti langkahnya menuju sebuah kursi yang berada didepan cermin.
“Duduk” pintanya tak lama berjalan mengambil sebuah buku.
Tapi... Apa yang dia lakukan?
Maksudku mencari sesuatu diantara lembaran buku tebal, apa yang coba dia tunjukan hingga menyuruhku duduk disini?
“Ah!”
Memperhatikan senyumnya terukir berbeda, dibalik buku itu, kulihat kilap sebuah kalung terpantul lewat cermin dihadapan ku.
DEG !
Oh Astaga! Jantungku langsung akrobat! Pipiku merona dan Atmosfer diantara kami membuatku salah tingkah!
Jangan bilang kalau itu!
“Peninggalan Alceen, kau ingat?”
“Eh?”
Membelalakkan mata setelah menyadari pemahaman ku salah, aku menahan malu karena berpikir Dethaniell akan memakaikan kalung itu padaku.
“A, aku... Aku tidak ingat” Jujurku mengalih muka. Dia lalu mengangguk
“Begitu ya...?”
“IYA!”
Dan bertindak sesuai nalurinya, pria serigala yang dicintai Alceena itu mengalungkan cepat benda yang baru dia tunjukan, di leherku.
Dia...
“Kenapa?” Tanyaku spontan menoleh padanya
“Bukankah ini peninggalannya untukmu? Kenapa malah memberikannya padaku?”
“Hm.. Itu karena peninggalan Alceen yang lebih berharga dari kalung ini, sudah kudapatkan... Itu kamu, Alceena” Jawabnya.
Lantas melompat terjunkan hatiku dari lantai 100 menara Eiffel !!
“Uhm... Jadi intinya kau ingin menyerahkan tanggung jawab peninggalan kak Alceen padaku, bukan?” Tanyaku merundukan mata malu. Dia lalu mengangguk
“Benar. Sebagai gantinya aku akan menjagamu dengan nyawaku. Keduanya akan ku lindungi sampai titik darah penghabisan... Aku berjanji, kamu dan seluruh Elf di mansion ini takkan tersentuh kejahatan dunia luar”
Ohhh...
“Jadi kau akan mengisolasi dan memanjakan semua Elf di mansion ini sampai kau tua dan tiada. Begitu?”
“Huh?”
“Aku ingin tahu bagaimana reaksimu jika ku bilang aku keberatan dengan hal itu “
Menaut alisnya padaku, Dethaniell beralih duduk “Aoa Maksudmu, Ceena?”
Akupun menatapnya sendu, lalu beranjak dari kursi untuk menutup jendela ruangan yang terbuka
“Kau tidak pernah mempercayaiku, meski ribuan kali ku katakan aku bukan Alceena. Tapi setelah mendengar hal ini aku tidak bisa diam. Jadi biar aku perjelas dimana kecacatan dalam rencanamu untuk melindungi bangsa Elf... Kau mau dengar?”
Memutar matanya menatapku, Dethaniell nampak serius menunggu penjelasan dari apa yang sebenarnya ingin ku sampaikan.
Akupun tersenyum tipis, berjalan mendekatinya dan bicara
“Daripada terus-menerus menjaga dan membiarkan para Elf terbuai dalam kemewahan Heaven Blue. Mengapa tidak kau kembangkan saja kemampuan mereka, agar bisa merebut kembali hak bangsa Elf dimata dunia?” Tanyaku, disambut mata terkejutnya.
Akupun berharap dengan mengatakan ini, Dethaniell bisa mempercayai fakta bahwa aku bukanlah Alceena.
Entah mengapa diantara semua yang kukenal, aku sangat ingin Dethaniell lah sosok yang pertama kali mempercayai nya.
*
*
( Ending )
Memaksa ikut ke perjalanan bisnisnya kali ini, aku Alceena (di dunia enam makhluk, Kerajaan Kabut) berencana menguak kejahatan bangsawan Werewolf yang diam-diam memperlakukan Elf dengan tak terpuji.
Hal ini didorong oleh keinginanku membebaskan bangsa Elf setelah mendengar penyiksaan yang Sherianne alami sebelum datang ke Heaven Blue. Dan, karena aku bosan berada di mansion tanpa kesibukan apapun.
“Jangan khawatirkan kami! Kami disini akan berusaha berlatih sekuat tenaga, dan menjaga mansion tetap aman sampai kalian kembali!” Ujar Althea mewakili 200 Elf yang mengantar kepergian kami.
Itu benar.
Bahwa usul ku mengenai pengembangan kemampuan Elf telah disetujui Dethaniell. Sejak hari itu, Dethaniell mencoba merubah kebiasaan buruk para Elf dan melatih masing masing dari mereka sesuai dengan kemampuannya.
Aku pun ikut membantu. Dan mengeluarkan banyak pendapat yang belum pernah Dethaniell dengar selama hidupnya. Semua itu berkat perbedaan cara berpikir kami, yang mana aku dengan tubuh Elf ini aslinya seorang manusia.
Dia benar bahwa emosiku rumit, cara berpikirku panjang, dan mengenai mengambil keputusan, aku selalu memikirkan banyak konsekuensi kedepannya.
Dan aku bangga!
“Tolong jaga diri kalian. Kudengar perjalanan bisnis kali ini akan lebih lama dari biasanya. Tuan Dethaniell, tolong jaga Alceena untuk kami” Pinta Sherianne, memegang erat tanganku
Aku yang sudah terduduk diatas kuda pun membalas genggaman itu “Jangan Khawatirkan aku. Aku pernah mempelajari teknik bela diri di sekolah!”
“Sekolah?” Tanya Melinda. Aku lalu mengangguk
“Iya! Itu adalah tempat dimana banyak orang menimba ilmu! Sama halnya dengan Heaven Sea sekarang, tempat ini bukan sekadar mansion kerajaan barat yang melindungi para Elf, tapi juga tempat pembelajaran yang akan membentuk diri kalian menjadi lebih kuat!”
“JADI BERJUANGLAH TEMAN-TEMAN! AKU AKAN KEMBALI MEMBAWA LEBIH BANYAK BANGSA KITA, DAN BERBAGI PENGALAMAN DENGAN MEREKA! MARI KITA REBUT KEMBALI APA YANG MENJADI HAK KITA!” Sorakku. Dibalas gemuruh jawaban para Elf yang mengudara.
Hal itupun membangkitkan semangatku untuk memulai perjalanan baru bersama seseorang yang kini berada disisi ku.
Dethaniell diatas kudanya
“Pidato yang bagus. Aku sampai tak sadar sejak kapan kau menggantikan tempatku sebagai tuan, dihati mereka” ujarnya
Akupun tertawa “Jangan di salah artikan. Bagi mereka aku adalah rekan, bukan majikan”
“Huh! Kau membuatku tidak bisa berkata-kata lagi”
“Apa kau keberatan dengan itu?” Sinisku. Namun terbalas senyum manisnya
“Sama sekali tidak! Aku justru lebih suka Alceena yang sekarang. Yang pemberani dan manis disaat yang sama. Alceena ku”
“Hyyaaatt !!”
Menjalankan kuda lebih dulu darinya, aku memacu kecepatannya berlari keluar area Mansion. Sorak dan lambaian teman-teman Elf pun dapat kurasakan bahkan setelah kami melewati gerbang lumayan jauh.
“Hei!” Dethaniell mengejar ku
“Kenapa telingamu memerah?” Ujarnya membuatku lupa. Aku pun tertawa lepas
“Pujianmu! Sial, aku suka! Tapi aku benci saat kau masih menganggapku sebagai Alceena!” Seru ku.
Tak disangkanya dia mensejajarkan laju kuda kami “Alceena tidak akan berani menyebutku mesum disaat pertama! Alceena tidak akan berani mengusulkan suatu hal meski dia ingin!”
“Huh?!” Alisku bertaut “Maksud mu??”
“Dasar lamban! Maksudku katakan! Bagaimana aku harus memanggilmu sekarang?”
DEG
Tak percaya mendengar kalimatnya, kali ini jantungku berdetak dengan perasaan berbeda.
“Hahaha! AKU SANGAT BAHAGIA!” Seruku tanpa sadar kembali memacu kuda lebih cepat. Dethaniell lantas mengejarku dan bedecak dengan wajah gembiranya.
“Cepat katakan!”
“Haha! Baiklah! Dasar tidak sabaran!”
Akhirnya...
Kini...
Di iringi langkah kaki kuda yang berlari didataran penuh pepohonan. Kurasakan angin berhembus menyambut debut keduaku, dengan nama lama yang terasa baru!
Sungguh!
Aku sangat bahagia mendapatkan apa yang ku mau saat memulai awal petualangan baru!
Aku akan menyebutnya sebagai awal dimana banyak hal mungkin terjadi diluar kendaliku, dan awal menemukan lebih banyaknya misteri tentang masa lalu kami bertiga.
Alasan mengapa bangsa Elf kalah begitu mudah. Alasan mengapa bangsa Vampir begitu membenci bangsa Werewolf. Alasan mengapa Elf diperlakukan semena-mena.
Juga Alasan mengapa aku bereinkarnasi ke dunia ini, sebagai Elf bulan, bernama Alceena.
“Hei... Jadi siapa?”
“Namaku kan! Kau bisa memanggilku ....”
*
*
Tamat
(Terimakasih sudah membaca Cerpen ini... )