Namaku, Erna. Aku ceritakan bagaimana rasanya pacaran dulu. Memang benar, banyak tak enaknya. Aku punya mantan bernama Asbi. Dulu, kami sempat jadian lewat dirinya yang menyanyikan lagu band Peterpan yang berjudul menghapus jejakmu. Karena itu adalah lagu paling favoritku. Ia menyanyikannya sambil memainkan gitarnya.
Suatu hari, aku dengar ada anak cewek kelas 2 A SMP (karena aku dan Asbi kelas 2 B SMP) yang menyukainya juga. Namanya Marina. Dia anaknya sama sepertiku. Cantik juga, tapi sayang orangnya tidak cerdas. Biasa saja, seperti anak sekolah lainnya. Dan hal itu membuat Asbi ketagihan rupanya. Dia pun minta putus padaku dengan mengatakan bahwa dia lebih cantik daripada aku.
Setelah dua bulan putus, aku dengar kabar kalau ternyata Asbi dan Marina resmi putus. Tapi, aku tak mau memberikannya kesempatan lagi, karena aku sudah tak tahan dengan kata-kata pedasnya yang sepedas 10 cengek itu.
Hingga suatu hari sepulang sekolah, aku berpapasan dengan Asbi. Ia berkata, "Maafkan aku, Erna! Aku mau balikan sama kamu. Kasih aku kesempatan sekali lagi. Kamu mau, ya?"
Aku hanya terdiam. Aku pun meninggalkan dirinya. Semuanya sudah berlalu dan sangat sakit bagiku untuk mengingat dirinya putus dariku hanya karena Marina lebih cantik daripada aku. Dan aku segera berjalan cuek menuju keluar sekolah.
Tapi gilanya, Asbi ternyata mengikutiku dari belakang. Gila abisnya lagi, sesuai dengan video klip lagu yang kusukai dari band Peterpan itu. Ia mengikuti kemanapun aku pergi. Aku jajan minuman teh, dia juga jajan minum teh. Aku jajan bakso, dia juga begitu. Hingga aku mempunyai ide, kalau aku akan berkunjung ke rumahnya Roni, teman sekelas kami. Aku akan berpura-pura jadi pacarnya Roni supaya Asbi merasakan apa yang aku rasakan.
Dan sampailah kami di depan rumahnya Roni. Aku bergaya memeluk Roni, walau Roni tidak mengerti kenapa aku begitu. Aku jelaskan padanya. Setelah kujelaskan, akhirnya ia paham dan menuruti apa yang kuinginkan. Aku pun masuk ke rumahnya. Kulihat di jendela rumah Roni, Asbi terduduk di teras rumah Roni. Dan benar saja, hujan turun meski tidak terlalu deras.
Setelah Asbi pergi, aku pamit dari rumah Roni dan berterima kasih padanya karena sudah membantuku. Sejak saat itulah, aku lebih memilih berteman jika dengan laki-laki ketimbang pacaran. Sungguh, aku masih trauma untuk hal seperti itu, bahkan sampai saat ini.
~ Tamat ~