Aku wanita berusia sembilan belas tahun. Dan aku sudah menikah. Bukan atas kemauan diriku. awalnya aku membiarkannya. Mungkin ini memang yang terbaik. Lagi pula semarah aa pun diriku. Semarah apa aku. Pendapatku tidak akan terdengar. Isakan ku. Juga tidak mungkin didengarkan. Aku sudah memberikan alasan. Sudah kuberi penjelasan. Meski begitu tidak juga mereka dengar. Ya sudah, biarkan saja. Lgi pula jalan yang sudah aku rencanakan sudah aku beritahu. Dan mereka tidak setuju. Dengan tiga Rencana. Lagi lagi mereka tidak setuju. Tanpa mereka batin dan tanpa bantuan pun dari mereka. Mereka tetap tidak setuju.
Hati ku yang begitu Kerasnya yang bahkan dulu tidak dapat ditembus apapun, kini hancur berkeping-keping. kini hancur dan luluh. seperti es yang mencair. Tak lgi peduli. Tak ada lagi yang peduli. disini lah aku tahu betapa aku menjadi beban untuk mereka selama ini. Sebegitu lah au selama ini menjadi alasan terus menerus. Hingga aku lelah mendengarnya.
Dan tanpa mereka sadari aku. Tanpa mereka sadari Mereka tidak pernah mendengar kan diriku. Hingga mereka sadar. Betapa sakit nya diriku. Berapa sakitnya diriku selama ini. Yang hanya dianggap Anak bau kencur yang tak tahu apa apa. Seperti boneka mereka.
Boneka dengan benang dan kayu di teater kecil dijalanan.
'Terkadang hati bisa saja hancur secara bersamaan bersama tenangnya hati
Air mata kesedihan bisa saja jatuh bersamaan dengan ketenangan hati
Semakin diriku tenang
Semakin ku ingin menangis
Hati ini begitu rapuh
Kini
Begitu rapuh
Dulu. Baru dulu
Aku bahkan bisa membuat hatiku sekuat dan setebal baja dan tembok
Aku bisa menjadikan hati ku rawa terdalam bahkan lautan tak terukur dalam nya
Karena itulah. Aku. Aku bisa menenggelamkan batu sedalam dalamnya tanpa menyesali sesuatu
Aku bangga dengan diri ku dulu. Tanpa menyesali satu hal pun
Entah tentang apapun itu
Dengan diriku yang membuat diriku sendiri menjadi diam. Yang bahkan sulit di dekati orang
Aku tak peduli dengan urusan sesulit apapun itu lagi pula akan menghilang
Namun sekarang? Tak lagi sama. Setelah lama berlalu. Waktu membuat hatiku lunak selunak bisa
Yang bahkan di tiup pun akan terbang dan hancur
Bukan namun pecah dan hilang
Bagai mana aku bisa membuat diri ku menjadi yang dulu? Bagai mana aku bisa membuat diriku sekuat dulu?
Apakah bisa? '