11.25 P.M
Di malam hari yang terlihat agak mendung, seorang gadis terlihat sedang berkutat dengan banyak buku. Dia adalah Auristella Ryujinnia. Ia ternyata sedang belajar untuk ujian yang akan diadakan besok di sekolahnya. Tiba-tiba...
Would you know my name?
If I saw you in heaven
Would it be the same?
If I saw you in heaven
Terdengar suara seseorang bernyanyi.
'Siapa yang bernyanyi di tengah malam seperti ini? Apakah apartemen ini memiliki penyewa lain?' Pikir Stella.
I must be strong
And carry on
'Cause I know I don't belong
Here in heaven
Suara tersebut terdengar lagi. Bahkan lebih jelas dari yang sebelumnya. Suara itu terdengar sangat lembut dan merdu, namun penuh kesedihan. Dan mungkin saja, setiap orang yang mendengarnya akan ikut menangis karena merasakan kesedihan si penyanyi.
Would you hold my hand?
If I saw you in heaven
Would you help me stand?
If I saw you in heaven
(Tears In Heaven - Eric Clapton)
Stella yang mendengarkan nyanyian itu sedari tadi pun terlihat ikut merasakan kesedihan si penyanyi tersebut. Dia mendengarkannya dengan serius. Hingga tanpa sadar, kakinya mulai berjalan mendekati asal suara dari nyanyian yang ia dengarkan itu.
Ternyata, ada seorang perempuan yang sedang duduk di depan piano tua di apartemennya. Stella tidak tau sejak kapan piano tersebut ada. Tapi yang jelas, perempuan yang ada di depan piano tersebut sangatlah cantik.
Perempuan itu tidak melakukan apapun di depan piano tersebut. Ia hanya duduk dan bernyanyi di depan piano tua itu tanpa membuka penutupnya apalagi memainkannya. Sepertinya dia tidak sadar ada seseorang yang memerhatikannya sedari tadi. Jadi, dia terus bernyanyi tanpa merasa terganggu sedikit pun.
Stella tidak berjalan mendekati perempuan itu. Ia hanya memandanginya dari kejauhan sambil terus mendengarkan nyanyian perempuan tersebut. Ia berniat mendatangi perempuan itu saat lagu yang dinyanyikannya sudah selesai.
Setelah beberapa saat, suara itu tidak terdengar lagi. Berarti lagu yang dinyanyikan perempuan itu sudah selesai. Stella pun akhirnya berjalan mendekati perempuan itu sambil mempersiapkan beberapa kalimat perkenalan dan pertanyaan yang akan ia ajukan kepada perempuan tersebut.
"Permisi, selamat malam. Aku Auristella Ryujinnia, panggilannya Stella. Usia 17 tahun. Ini tahun terakhir aku sekolah dan aku memang penyewa baru di apartemen ini. Kamu siapa? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Apa kamu salah satu penyewa apartemen ini? Boleh kenalan?," Kata Stella memperkenalkan dirinya sekaligus memberikan beberapa pertanyaan kepada perempuan tersebut. Dia juga menyodorkan tangannya bermaksud mengajak berkenalan kepada perempuan itu.
"Ha? Aku? Aku Clarasetta Julia, kamu bisa panggil aku Lia. Aku udah kuliah semester 2. Dan aku bukan penyewa baru apartemen ini. Aku udah lama ada disini, kalo kamu mau tau. Tentang usia, usia aku 18 tahun," jawab perempuan yang diketahui bernama Lia dengan tenangnya.
'18 tahun? Berarti hanya beda setahun dengan usiaku, kan? Tapi dia terlihat lebih dewasa daripada usianya' kata Stella dalam hati.
"Oh, udah lama disini. Udah dari kapan? Berarti kamu penyewa lama dong, ya. Ada orang lain lagi gak selain kita disini? Soalnya kan aku masih baru, jadi siapa tau masih ada yang lain lagi disini," tanya Stella kepada perempuan bernama Lia itu.
"Iya, aku emang udah lama disini. Sekitar 2 tahun yang lalu. Orang lain, ya? Selain kita? Hmmm... Setau aku gak ada sih," jawab Lia.
"Oh, gitu ya. Oke deh, kalo gitu. Dan satu lagi, kamu di kamar berapa? Kalo aku di kamar 103. Ehm, by the way, maaf nih jadi banyak nanya. Aku baru pertama kali ngeliat orang lain disini, selain si pemilik apartemen," kata Stella memberikan sebuah pertanyaan kepada Lia. Ia terlihat excited terhadap perempuan itu.
"Eh- gitu ya. Aku di 107, aku juga pertama kalinya liat kamu. Dan ini kan udah malem banget, gimana kalo kamu ke kamar kamu terus tidur, deh. Bukan bermaksud ngusir, ya. Tapi, tidur terlalu malam juga tidak baik untuk kesehatan, begitu. Gih sana, masuk kamar. Aku juga udah mau tidur," kata Lia dengan sedikit menyuruh kepada Stella.
"Ah... Iya juga ya. Yaudah deh kalo gitu. Sampai ketemu besok kak Lia," respon Stella singkat sambil melambaikan tangannya kepada Lia dan berjalan menuju kamarnya kembali.
'Semoga kita masih bisa bertemu besok, Stella' pikir Lia.
.
.
.
Keesokan harinya...
Stella sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Dia juga tidak sabar bertemu dengan Lia, perempuan yang ia temui kemarin. Semalam juga dia sudah belajar untuk ujian, jadi dia sudah sangat yakin kalau dirinya bisa mengerjakan ujian di sekolahnya dengan baik.
Ia pun berjalan menuju kamar 107, kamar dimana Lia tinggal.
Tok tok tok
Stella mengetuk pintu kamar itu sebanyak 3 kali. Tapi, ia tidak mendengar satu pun jawaban dari dalam.
'Apa kak Lia masih tidur ya? Masih jam segini juga. Atau udah berangkat kuliah? Kan dia udah kuliah. Yaudah deh. Pas pulang aja nanti, siapa tau pas aku pulang orangnya udah ada' pikir Stella.
Ya, semoga saja begitu.
Ditengah perjalanan pulang dari sekolah, Stella mampir terlebih dahulu ke sebuah warung nasi untuk membeli makan siang. Dia belum makan siang saat di sekolah. Tanpa sengaja, ia mendengar percakapan 3 orang pemudi yang ada di sebelahnya. Ia pun segera menajamkan pendengarannya.
"Na, tau gak? Katanya arwah orang yang bunuh diri di apartemen Jingga 2 tahun yang lalu sering gentayangan loh di sekitar sini," kata seorang yang bermata paling sipit diantara mereka.
'Ha? Apa aku gak salah denger? Tadi dia nyebut apartemen Jingga, kan? Bunuh diri? Siapa yang bunuh diri? Kok aku gak pernah denger tentang itu.' batin Stella dipenuhi dengan berbagai pertanyaan.
"Oh, iya. Aku pernah denger kok gosip itu. Apartemen itu juga, kenapa sih masih dibuka? Harusnya ya, kalo udah ada kasus yang kayak gitu mah, ditutup aja. Ya ga, Chaer?," jawab seorang yang dipanggil Na tadi.
"Iya, Yun. Menurutku juga gitu sih, daripada jadi jadi kayak sekarang. Ada yang nempatin tapi katanya cuma 1 orang. Dia juga cewek, masih sekolah pula. Kalo dia ikutan digentayagin gimana? Kan dia gak tau apa-apa...," kata seorang yang berambut merah.
"Hmm... Maaf nih sebelumnya. Aku Stella, penghuni baru apartemen Jingga. Bukan bermaksud ikut campur atau nguping. Tapi, tadi kalian beneran bilang apartemen Jingga? Terus bunuh diri? Siapa yang bunuh diri 2 tahun yang lalu? Boleh tolong ceritain gak?," tanya Stella tidak sabaran kepada ketiga pemudi tersebut.
"Oh, jadi kamu penghuni baru disitu? Iya, 2 tahun lalu ada perempuan yang bunuh diri di apartemen itu. Katanya sih, namanya ehm- Li- Li apa gitu, kalo gak salah Lia gak sih Yun?," jawab wanita berambut merah tersebut.
"Iya, namanya Lia. Nah, dengar-dengar dia mahasiswi semester 2 gitu di salah satu universitas. Dan katanya juga, dia bunuh diri karena ditinggal meninggal sama tunangannya karena kecelakaan. Begitu, Stella," jelas Yuna panjang lebar kepada Stella.
Stella yang mendengar penjelasan dari Yuna pun sangat terkejut. Jadi, yang bernyanyi dan juga ia temui tadi malam itu....
End