Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan.
Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta.
Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan,
“Halo teman-teman, maaf ya telat”
“Iya memang kamu Ratu Telat dari dulu!” tegur Rendi bercanda
“Yaudah, yuk, kita masuk gerbong!” ajakku.
Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut.
Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan.
Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik.
Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar.