Hai, namaku cintya alexander aku berumur 17 tahun. Sekarang aku bersekolah jenjang SMA kelas 3. Aku akan bercerita tentang 2 idola tampan disekolahku. Dia bernama Leon dan Calvin.
Dulu aku sekolah smp di busan, tapi karena ibuku ada urusan pekerjaan, jadi ibuku memutuskan untuk pindah di seoul. Ayah? Ayahku sudah tiada saat aku berumur 5 tahun.
Aku bersahabat dengan Leon, dan sekarang bukan hanya sahabat tetapi mungkin bisa dibilang sepasang kekasih.
Aku suka dengan Leon, karena sifatnya yang ramah, murah senyum, dan sopan pada wanita.
"hey kau Cintya! Jauhi Leon! Leon itu hanya milikku kau tau!".
"Leon itu tidak pantas denganmu, pantasnya denganku, hahahaha".
Begitulah kata beberapa murid disekolahku. Memang masih ada beberapa murid yang tidak suka aku dekat dengan Leon.
Suatu hari, aku sedang menuju sekolahku. Aku berangkat ke sekolah menggunakan sepeda kesayanganku. Waktu itu aku bersepeda sambil menelpone temanku, ya dia teman smpku.
Saat aku sudah memarkirkan sepedaku diparkiran sekolah, aku melihat ada sebuah mobil sport yang akan memarkir di sebelah sepedaku.
"yak tolong menjauh dari sepedaku, kau akan menabraknya!" kataku .
Semenjak mobil itu muncul, tiba-tiba banyak murid-murid yang berkumpul di sekitar mobil sport itu. Aku bingung, siapa orang yang ada didalam mobil itu? Apa dia artist? Kenapa sepertinya murid-murid disini terkagum-kagum melihat kedatangan orang ini.
Tiba-tiba orang yang menyetir mobil itu menurunkan jendela mobilnya. Aku terkejut, "siapa pria ini? Kenapa tampan sekali", Batinku.
"hey, bisakah kau menyingkirkan sepeda rongsokan kau itu?" kata pria tampan itu.
Aku mematung, tidak pernah aku melihat laki-laki setampan dia, dia terlihat seperti bukan manusia.
"hey apa kau mendengar? Apa kau tuli?" kata pria itu lagi.
Aku tersadar, aku kesal dengannya kenapa dia bilang sepedaku rongsokan? Jelas-jelas dia yang memarkir mobilnya ditempat yang salah.
"apa kau bilang? Sepeda rongsokan? Kau ini mentang-mentang orang kaya dan dengan seenak jidatmu itu kau bilang sepedaku rongsokan? Apa kau menghinaku!?" , marahku.
Semua orang terkejut dengan marahku, ya..mereka tidak pernah mendengar marahku. Tapi aku tidak peduli dengan mereka, yang aku pentingkan sekarang hanya aku dan pria sombong ini."ya aku menghinamu,apa sepedamu ini mau aku tabrak saja? Baiklah lebih baik aku menabrak sepedamu ini, dan selesai." kata pria sombong itu.
Aku sangat kesal dengan kelakuan pria itu, tapi daripada aku membuat suatu keributan, lebih baik aku memindahkan sepedaku ke parkiran luar sekolah.
Setelah mobil tersebut diparkir, keluarlah 2 pria tampan dari mobil mewah itu. Ketika 2 pria tampan itu keluar, banyak sekali wanita-wanita disini yang kagum dengan ketampanan pria itu.
"waw, cintya mereka tampan sekali ya" , kata luna sahabatku.
"mereka memang tampan, tapi aku tidak suka dengan sifatnya", Kataku.
"memangnya kenapa?", tanya luna sambil menoleh ke arahku .
"tadi dia hampir saja menabrak sepedaku, lalu dia mengatakan kalau sepedaku itu sepeda rongsokan". Kesalku.
"ternyata mereka tidak sebaik yang aku harapkan", sadar luna.Kring....
Bel sekolah sudah berbunyi tanda aku akan mulai belajar, hari ini jadwal pertamaku adalah matematika, jujur menurutku pelajaran yang paling aku suka adalah matematika, dulu di smp aku termasuk murid yang nilai ujian matematikanya paling tinggi. Aku bangga terhadap diriku sendiri, bisa melakukan apapun yang aku harapkan.
Kelas 3-1
"baik, hari ini kita kedatangan 2 murid baru", kata wali kelasku.
"wah kira-kira siapa ya?"
"jangan-jangan 2 pria idaman itu"
"semoga saja 2 pria itu"
Begitulah harapan teman-temanku di kelas.
Harapanku? Tentu saja aku tidak mengharapkan mereka. Tapi terserah saja jika mereka dapat kelasku, aku tidak perduli .
"silahkan masuk", kata wali kelasku.
Dan benar saja, murid baru yang masuk ke kelasku adalah 2 pria tampan tadi . Aku terkejut, kenapa mereka masuk ke kelasku, seperti tidak ada kelas lain saja."tolong perkenalkan dirimu", perintah guruku.
"nama saya Calvin Auberon panggil saja vin", kata pria yang menghinaku.
"nama saya Leon dergantara, panggil saja leon", kata pria satu lagi.
Calvin mengenalkan diri nya dengan ekspresi yang sangat datar, sudah jelas dia memiliki sifat dingin,cuek,dan sombong.
Berbeda dengan Leon, leon mengenalkan dirinya dengan penuh senyuman. Menurutku Leon sangat tampan dan manis. Aku suka sekali dengan senyumannya.
"baiklah kalian berdua bisa memilih tempat duduk secara acak", kata guruku.
"saya ingin duduk disamping wanita itu", kata leon sambil menunjukku.
"a-aku? Dia ingin duduk denganku? Apa aku baru saja bermimpi? Ada pria tampan yang ingin duduk denganku", batinku.
"baik, calvin kau ingin duduk dimana?", tanya guruku.
"saya duduk sendiri saja di belakang", kata calvin
"baiklah, sekarang kalian boleh duduk".Calvin dan Leon menuju tempat duduknya.
"boleh aku duduk disini?", tanya Leon dengan sopan.
"bo-boleh, silahkan", kataku dengan senyuman.
Akhirnya pelajaran pun dimulai,
"waw cintya beruntung sekali kau bisa duduk dengannya, aku juga ingin", kata salah satu murid dikelasku.
"bagaimana bisa leon ingin duduk disampingnya?, sepertinya leon di pelet oleh cintya" , kata murid kelas sebelah yang tidak suka padaku."siapa namamu?", tanya leon padaku.
"na-namaku?", jawabku.
"ya,namamu", jelasnya.
"namaku cintya alexander", jawabku dengan senyuman.
"cintya? Nama yang cantik", pujinya.
Apa?! Dia memujiku? A-ada apa ini? Kenapa aku terbawa perasaan seperti ini? Tapi..baru kali ini ada laki-laki yang memuji namaku.
"te-terimakasih", kataku .
"ya, tidak masalah", jawabnya.
Istirahat pun tiba..aku dan luna sedang dikelas menuju kantin.
"cintya, kau ingin makan apa?" , tanya luna.
"aku i-" , kataku terpotong.
Tiba-tiba ada sekelompok wanita menghampiriku.
BRUUKK!
Cintya! Kenapa kau sudah berani mendekati leon!! Dasar kau!", bentaknya padaku
Aku bingung,
"sejak kapan aku mendekatinya? Sudah jelas leon dulu yang mendekatiku", batinku.
"kenapa kau hanya diam hah!!", bentaknya lagi.
"mendekati? Sejak kapan aku mendekati leon?", jawabku.
"jadi kau masih bertanya!? Dasar tidak berguna!",marahnya sambil mendorongku.
Aku ingin sekali melawannya tapi aku belum menyiapkan apapun saat itu, luna? Dia hanya menatapku, karena luna tidak berani dengan mereka."dasar kau-", katanya yang ingin menamparku tapi terpotong.
"apa yang kau lakukan." tanya seseorang.
Aku terkejut ternyata yang baru saja menyelamatkanku adalah Leon, ya..Leon yang menolongku.
Sontak semua yang ada dikelas itu menoleh ke arah asal suara.
"L-leon?", kataku gugup.
"apa kau tidak punya tatak ramah hah! Enak sekali kau mendorongnya dan nyaris menamparnya", marah leon ke sekelompok wanita itu .
"a-aku tidak melakukan apapun", kata wanita yang ingin menamparku.
"ck, kau tidak mau mengakuinya!",marah leon.
"sudah-sudah Leon, tidak apa-apa aku baik-baik saja", kataku.Akhirnya sekelompok wanita itu pergi dari kelasku. Aku terkejut, ternyata dia yang menolongku, Leon memang lelaki yang baik .
"kau tidak apa-apa?", kata Leon.
"ah tidak, aku baik-baik saja", jawabku.
"maaf cintya tadi aku tidak menolongmu, kau tau kan aku orangnya penakut", kata luna menggampiriku.
"tidak apa-apa, aku baik-baik saja", jawabku lagi .
Akhirnya Leon membawaku ke kantin, daritadi aku tidak melihat Calvin, dimana dia? . Setelah aku sampai di kantin, ternyata Calvin makan bersama Leon, awalnya Leon pergi ke kelas untuk mengambil sesuatu, tapi karena tadi ada keributan dikelas, jadi dia menolongku. Leon membawaku dan luna duduk bersamanya dan Calvin.
"untuk apa kau membawa wanita ini?", kata Calvin.
"tentu saja untuk makan bersama", jawab Leon.
"apa kau bercanda? Kau ingin duduk dengan wanita ini dan sekarang kau ingin makan bersamanya? Kau ini kenapa?", bingung Calvin.
"kenapa? Aku tidak apa-apa, aku hanya ingin berteman denganya, apa itu salah?", kata Leon.
"tidak apa-apa jika Calvin tidak ingin kita makan bersama, lebih baik aku dan luna makan dikelas saja, ya kan luna?", kataku."ah iya lebih baik kalian makan berdua saja, kami juga akan makan dikelas", jawab luna .
"apa aku bilang, lebih baik kalian makan dikelas saja, merepotkan", kata Calvin.
"ta-tapi cintya..", kata Leon.
"kami permisi", kataku lalu pergi.
"arrgghh baru saja aku ingin kenal lebih dekat dengannya, kenapa kau malah mengacaukannya? Membuat nafsu makanku hilang", kesal Leon.
"apa?? Kau ingin lebih dekat dengannya? Leon kita itu idola di sekolah ini, kenapa seleramu serendah itu?", kata Calvin.
"serendah apapun seleraku itu juga bukan urusanmu, lebih baik aku makan dikelas juga sekarang", kata Leon.
Leon pun pergi dari hadapan Calvin.Kring...kring...kring..
Bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi, aku dan luna sudah didepan sekolah menuju parkiran luar.
"cintya!", panggil seseorang.
Aku dan luna yang mendengar panggilan itu, sontak langsung menoleh. Ternyata yang memanggilku adalah Leon, setelah aku menoleh lalu dia menghampiriku.
"aku ingin minta maaf atas kesalahan Calvin tadi, dia orangnya memang begitu suka sekali mencari keributan", jelas Leon.
"ah tidak apa-apa, itu juga bukan salahnya", jawabku pada Leon.
"kau pulang naik apa?", kata Leon.
"aku pulang dengan sepedaku", jawabku dengan senyuman."apa ingin aku antar saja?", kata Leon.
"ah tidak usah, aku bisa pulang sendiri lagipula, rumahku tidak begitu jauh dari sekolah ini", jelasku.
"baiklah kalau begitu aku pulang duluan ya", kata Leon.
"i-iya terimakasih Leon", jawabku.
"tidak masalah", kata Leon.
"oh iya sebelum itu, apa kita boleh berteman?", kata Leon.
"o-ah tentu saja boleh", jawabku.
"baiklah mulai sekarang kita adalah teman", kata Leon dengan senyumnya.
"i-iya", jawabku.